
Ternyata yang mengetuk pintu ruangan Seto adalah Dio, setelah Bimo membukanya lelaki itupun masuk.
Dio selalu kagum saat berkunjung ke kantor Seto, semuanya tertata begitu rapi.
Para pegawainya juga benar-benar menghormati pimpinan mereka. sebelum bisa sampai ke ruangan ini tentu saja Dio melewati beberapa proses yang harus Ia lewati, seperti peraturan pada umumnya tidak dapat bertemu dengan atasan mereka tanpa memiliki janji terlebih dahulu.
Karena Seto adalah direktur utama PT. Permana group.
"Panjang umur sekali, baru saja di ghibahin udah nongol aja," celetuk Seto.
"…," Dio bingung.
Bimo pun terbahak, "Dio kau ini gila sekali, bisa-bisanya Alana kau bohongi dengan memfitnah harimau." ucapanya dengan tertawa terbahak memegangi perutnya.
Dio pun baru koneksi, " haha, aku hanya mencari alasan yang cepat saja," kata Dio dengan duduk di hadapan Seto.
"Angin apa yang membawamu sampai kemari? Biasanya kalau ada sesuatu langsung ke rumah saja?!" tanya Seto.
Dio malah fokus dengan boneka harimau yang berada di hadapannya, matanya tak berkedip memperhatikan boneka itu.
" jangan bertanya, semua ini karenamu." Seolah tahu Seto mencegat Dio untuk bertanya.
"Haha, sialan! Aku kesini ingin meminta pendapatmu?" ucap Dio.
"Pendapat? Tentang apa?" Kening Seto berkerut.
" Bagaimana pendapatmu tentang cinta beda usia?"
" Tanya saja Mbah Google! Dia lebih berpengalaman." celetuk Seto.
" Bedebah! Aku seriusan," Kata Dio lagi.
Kring…kring… tiba-tiba ponsel Seto berdering, itu adalah panggilan dari maminya, sejenak Seto berkata kepada Dio bahwa ia akan mengangkat telepon dari maminya dulu dan Dio pun mengangguk mengerti.
Di sisi lain.
Rico terbujur kaku di atas bangsal, dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya. Karena berada di ruang perawatan kelas bawah, aroma rumah sakit tercium begitu pekat.
Nampak seorang wanita menangis terisak-isak.
"Rico..aku sangat membencimu," ucap Dea sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"Dasar bodoh, tidak berguna." Dea mengutuki Rico yang masih tak sadarkan diri.
Dea menatap asal ke seluruh ruangan, dia tidak mengerti dengan dirinya, ia begitu membenci Rico namun melihat Rico yang sekarat seperti ini tanpa ada yang menjenguknya ia pun sedikit iba.
Ia juga telah memberi tahu kepada Arini, jika mantan suaminya berada di rumah sakit dengan keadaan mengenaskan, karena tidak bisa membayar hutang sesuai apa yang telah di tentukan oleh preman sebelumnya, Rico pun di hajar habis-habisan, jika saja tidak di bubarkan oleh tetangga, mungkin Rico sudah mati sekarang.
" Pria ini, pandangan ini begitu sangat menjengkelkan." gumam Dea dalam hati.
Saat melihat Rico seperti ini, sebagian hatinya ada yang bersorak gembira, namun selang beberapa detik perasaan itu berubah iba, Jika saja dirinya tidak di hubungi pihak rumah sakit tadi mungkin ia tidak akan mengetahui nasib Rico sekarang.
Bagaimana pihak rumah sakit memilih menghubunginya? Itu karena di panggilan terakhir nama Dea yang berada di daftar panggilan ponsel Rico, selain itu pihak rumah sakit telah menghubungi beberapa kontak di ponsel Rico namun mereka semua berucap tidak mengenal Rico.
Kadang-kadang, Dea jijik menatap Rico, namun melihat kondisinya yang kritis, ia bingung harus berbuat apa. Seperti biasanya wanita selalu menggunakan perasaan dalam melakukan apapun.
Dea memutuskan untuk keluar dari ruangan Rico, perasaannya sungguh dilema.
Duk..
Kaki Dea tidak sengaja mengenai kaki ranjang Rico, "uh…" Dea merintih kesakitan.
Beberapa saat kemudian pintu kamar rawat terbuka, dokter datang dengan beberapa suster untuk mengecek keadaan Rico, selain itu dokter juga akan mengganti perban baru untuk membalut luka Rico.
"Dia belum sadarkan diri dari semenjak aku datang, tapi demamnya sudah mulai turun sekarang. Nafasnya juga terlihat sangat susah apakah pasien begitu kritis dok?" Dea memberikan rincian tentang pengamatannya pada Rico beberapa saat lalu, dan bertanya apa yang ingin dia ketahui.
"Ah, tidak." Dea sedikit gugup.
"Ah. Maafkan saya nona, saya pikir pasien adalah suami nona karena kalian terlihat cocok sekali."
"Apa??" Dea terkejut dengan penuturan dokter.
Dokter itu menyiapkan obat sementara salah seorang suster membantu memotong kain kasa di dada dan kaki Rico.
Tanpa sengaja Dea menyaksikan semuanya, dia menahan nafas, meskipun ia juga merasakan luka yang ia dapatkan dari kecelakaan mobil beberapa saat lalu, melihat luka seperti ini masih saja mengerikan baginya.
Suster memotong kain kasa dan sepenuhnya luka Rico terlihat. Dea yang merasa tidak tahan melihatnya ia pun memutuskan untuk mengalihkan pandangannya.
"Dia mendapatkan luka yang sangat serius dai preman penagih hutang itu pasti sangat menyakitkan!" gumam Dea dalam hati.
Dea merasa bahwa hatinya sepertinya hancur berkeping-keping, ketegangan mencengkeram bagian dalam hati Dea.
__ADS_1
Pagi menjelang di kediaman Seto.
"Pagi sayang.." ucap Arini mesra.
Seto menelan ludah, sikap Arini tak seperti biasa baginya. pagi ini Arini begitu sensual, ia mendapatkan serangan mendadak di bibirnya, Seto tertegun tapi ia sangat menyukainya. Ia suka perubahan sikap Arini yang tiba-tiba, ia pun memperdalam ciumannya dan merapatkan tubuhnya.
Arini mencengkram kuat rambut Seto, dan memijat kuat bahunya. Kedua tangan Seto pun refleks memeluknya dan memijat punggung Arini.
Keduanya sama-sama terbuai, Arini menyusuri leher Seto dengan kecupan lembut dan ******* lirih sesaat setelah mereka berdua melepaskan ciumannya.
Arini melepaskan selimut yang membungkus piton suaminya, karena saat tidur Seto lebih suka bertelanjang dada dan hanya memakai ****** ***** saja jadi memudahkan Arini dan tidak repot-repot melepaskan baju suaminya.
Arini merabanya dan mengelusnya lembut, Arini merangkak ke atas tubuh Seto dan kembali mencium bibirnya. dengan tangannya yang sudah menggenggam piton dan kocoknya lembut.
Seto menggeliat, ia semakin dalam mencium Arini, keduanya semakin bergairah namun Arini tersentak ketika kepala mungil piton Seto sedikit basah dan licin. Arini senang karena berhasil membuat Seto demikian ia pun meledeknya " emph.. sayang, basah ya?"
" Tanganmu nakal sayang.." jawabnya lirih dan kini sudah menciumi leher jenjang Arini.
Arini masih mengelus piton itu yang kini makin padat dan makin tegang. Arini juga sudah basah ia tidak tahan dengan cumbuan suaminya.
"Mas, aku mau sekarang."
ucap Arini yang sudah ingin merasakan miliknya di telusuri oleh piton Seto. dengan sigap Seto mulai melepaskan piyama tipis Arini dan membuangnya begitu saja. Seto melihat dua semangka super yang masih di dalam bungkusan menggemaskan itu.
Seto dengan sigap mengeluarkan semangka itu, ia hanya mengelusnya perlahan tidak berniat menghisapnya, karena saat ini semangkanya hanya milik Galang putranya, karena Arini masih dalam fase menyusui.
"mas jangan siksa aku, aku sudah ingin sekali." Arini sudah mulai meronta.
Seto tersenyum, tak ingin lama-lama ia pun melepaskan celana yang membalut donat nikmat yang selalu membuatnya candu. Donat yang selalu ia inginkan.
Seto sudah menghadapkan posisi Pitonnya ke lubang donat itu, Arini pun melebarkan kakinya agar piton itu segera masuk ke dalam kandang.
Arini memejamkan mata dan mendesah lirih, Seto menikmati wajah Arini yang begitu sensual ketika bercinta dengannya dan Slup.
Bunyi apakah itu??
Bersambung...
Wkwkkw hayo jangan nakal ya..nggak mungkin otor lihatin adegan selanjutnya, takut dosa otor mah wkwkkwkw
Author mau ngucapin Happy new year buat para readers tercinta, semoga apa yang kalian cita-citakan di awal tahun ini tercapai dan semoga kesehatan selalu menyertai kalian semua.
__ADS_1
Sedikit mengingatkan mau minta like komen rate dan vote ya besok biar kisah ini berlanjut. Salangheyo 😘