Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 52.


__ADS_3

Pak Hadi menatap Seto, melihat itu Seto segera mengerti mungkin ada sesuatu hal yang ingin beliau sampaikan padanya.


Seto lebih mendekat, ia menyentuh dan mengelus telapak tangan calon mertuanya itu. Pak Hadi tersenyum, ia kembali menatap Seto "Te-ri-ma-asih." ucap pak Hadi dengan terbata. Seto mengangguk kemudian..


"Selamat malam pak Hadi?" 


Dokter dan beberapa perawat menghampiri, "mohon maaf, waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan kunjungan harus segera di akhiri karena pasien harus beristirahat."


Seto tersenyum melihat raut wajah pak Hadi yang berubah masam, "tidak apa-apa pak, besok kami kesini lagi." ucap Seto memberikan angin segar pada Hadi.


"Saya pamit pulang dulu ya pak, sekalian mengantarkan Arini, nanti biar asisten saya yang menjaga bapak," ia raih tangan dan menempelkan hidungnya di punggung tangan Hadi.


"Arini pulang ya yah..?" Ia juga meraih tangan ayahnya itu.


Seto dan Arini berjalan keluar beriringan, setelah pak Hadi mengangguk.


Hari berganti hari, malam berganti pagi dua hari telah berlalu, tanpa di duga keajaiban Tuhan memang ada, pak hadi telah kembali pulih, lebih baik dari yang kemarin hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu. 


Kesehatan pak Hadi sungguh anugrah terindah dari Tuhan, Arini sangat bersyukur, di hari pernikahannya dengan Seto ayahnya telah kembali sehat.


Pernikahan di lakukan di kediaman pak Hadi ayah kandung Arini, rumah yang biasanya tenang, kini berubah menjadi sedikit riuh, tak banyak kerabat yang datang, karena Arini bukan berasal dari kota yang ia tempati sekarang, ia juga tak banyak mengundang tamu, hanya RT dan RW dan beberapa tetangga, bahkan tidak ada teman Arini satupun yang ada di sana.


Sedangkan keluarga dari Seto, hanya maminya, Bimo, Dio, dan beberapa pengawal keluarga.


Arini menunggu di dalam kamarnya, yang letaknya berada di pojok, menunggu Seto mengucapkan kalimat ijab qobul, samar-samar Arini mendengar suara Seto mengucapkan kalimat suci itu. tak terasa air mata mengalir begitu saja di pipinya.


"Aku harap ini menjadi pernikahan terakhirku." ucap Arini lirih sambil menatap foto Alana yang berada di dinding kamarnya.


Alana saat ini di asuh oleh nyonya Atmojo, yang saat ini berada di ruangan yang sama dengan Seto mengucapkan ijab qobul.


"tok tok." 


Suara ketukan pintu kamar Arini, bunda Atmojo membuka pintu kamar, "nak, sudah selesai, ayo keluar!" 


Arini berdiri melingkarkan tangannya ke lengan bundanya. 

__ADS_1


Seluruh tamu yang hadir menatap kehadiran Arini, wanita bertubuh ramping itu keluar dari kamar perlahan. Kebaya putih yang elegan membalut tubuh rampingnya. Rambutnya yang panjang ia sanggul dengan poni rambutnya ia sisir rapi, ke samping telinga kanannya.


Wajahnya yang biasa tanpa make up, kini terlihat lebih fresh dengan  make up simple dan glowing.  terlihat sendu di wajahnya namun semua orang masih bisa menikmati wajah manisnya.


Arini duduk di samping kiri Seto. Kotak cincin yang berada di meja akad di buka Bimo. Penghulu mempersilahkan mereka berdua bertukar cincin. hingga berakhir dengan Arini harus mencium tangan Seto.


Arini terharu, pernikahan keduanya ia berharap lebih baik dari yang pertama.


Akad nikah dan sesi-sesi foto sudah selesai, di lanjutkan dengan ramah tamah, para tamu di persilahkan menikmati hidangan yang telah di sediakan tuan rumah.


Setelah semua acara selesai, kini giliran Arini yang akan di boyong ke rumah baru yang telah di sediakan Seto jauh-jauh hari. Sungguh ini adalah kebahagiaan bagi Hadi, ia tak menyangka putrinya akan mendapatkan lelaki yang begitu baik dan mau menerima Alana.


Hampir satu jam lebih berada di dalam mobil, kini akhirnya Arini telah sampai di rumah mewah dengan halaman yang sangat luas. Arini sedikit tertegun, benarkah ini rumah barunya.


"Mari sayang?" Ajak Seto dengan meraih tangan Arini yang saat ini sedang memangku Alana.


"Ini Serius rumah kita mas?" tanya Arini yang belum menerima uluran tangan Seto.


Seto mengangguk, kemudian ia mengambil alih Alana untuk di gendongnya. akhirnya Arini pun turun dengan rasa kagum yang ia sembunyikan ia takut jika terlihat norak di depan suaminya itu.


Ini adalah awal perjalanan rumah tangga Arini dan Seto, semua mendoakan agar Tuhan senantiasa memberkati.


Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam rumah, sebelumnya Seto telah mempersiapkan segalanya, dari pengasuh untuk Putrinya, pembantu yang akan membantu Arini nanti, bisa di katakan sudah komplit semuanya.


"Mandilah. biar Alana bersamaku dulu." ucap Seto Arini mengangguk dan segera membersihkan diri. Ya tadi Seto telah menunjukkan kamarnya.


Malam harinya,Seto dan Arini makan malam bersama, sesekali Alana di suapi oleh Seto, melihat keakraban Seto kepada Alana membuat Arini begitu bahagia, bapak sambung putrinya itu terlihat tulus mengasuhnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Seto dengan masih menyuapi Alana.


"Terimakasih." ucap Arini dengan tersenyum.


"Aku melakukan ini semua tidak gratis, nanti kamu harus membayarnya." ucap Seto.


Deg.

__ADS_1


Arini terkejut, " membayarnya? Maksud mas Seto?" raut wajah Arini berubah Serius.


"Iya nanti kau harus membayarnya." 


"Membayar bagaimana maksud mas Seto?" Arini semakin bingung.


Seto menyelesaikan suapan terakhir untuk putrinya, kemudian ia meminta pengasuh untuk mengajak Alana masuk ke dalam kamar. kini hanya tinggal Seto dan Arini yang berada di ruangan itu. "Iya kau harus membayarnya, di dunia ini tidak ada yang gratis." ucap Seto dengan menahan senyum, ia melihat raut wajah Arini yang kecewa.


"Kau tidak tulus padaku mas?" ucap Arini dengan sedikit bergetar.


"Astaga sayang..kau ini bicara apa?" 


"Itu tadi.aku harus membayarnya." 


"Iya kau harus membayarnya dengan.." ucap Seto dengan menatap genit ke arah Arini. wanita itu menjadi canggung, suaminya ini sulit di tebak.


Seto berdiri, dan memeluk Arini dari belakang dengan posisi Arini yang masih duduk. "Malam ini kau harus membayarnya." 


Bulu kuduk Arini meremang, bisikan Seto di telinganya membuat ia begidik, "iya..aku bingung harus membayarnya bagaimana?" Tanya Arini polos.


"Nanti akan aku kasih tahu. Sekarang makanlah karena nanti kau akan lelah, aku akan menyuruhmu bekerja cukup keras malam ini." ucap Seto dengan kembali lagi ke tempatnya.


Arini semakin tidak paham, "baiklah mas." ucap Arini dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Seto menahan senyum, ini Arini yang polos apa dirinya yang terlalu lolos? malam ini akan menjadi malam penentuan siapa yang polos di sini dirinya atau Arini.


"Jangan harap malam ini aku akan mengampunimu, aku telah menunggu begitu lama." ucap Seto dalam hati.


namun berita bahagia pernikahan Arini telah sampai di telinga Rico, lelaki itu sangat murka dan akan memberikan perhitungan kepada mantan istrinya itu. karena ia telah berani menceraikannya dan menikah dengan lelaki lain.


bersambung..


maaf kalau part-nya terbilang terlalu cepat di sini author hanya ingin menulis yang tidak bertele-tele karena sehabis ini adalah problem yang sebenarnya.


ayo dukung karyaku jika kalian suka dengan cara banyak like komen dan vote 😘

__ADS_1


__ADS_2