Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 87.


__ADS_3

Malam panjang pun telah berlalu, berganti pagi dengan cuaca dingin yang mendominasi, Arini masih merebahkan diri di ranjang di temani Seto yang memeluknya dari belakang. 


Arini mengelus perutnya yang mulai membesar, usia kandungan Arini genap menginjak empat bulan hari ini. Kalau hari ini Arini melakukan USG, tentunya ia akan tahu jenis kelamin dari buah cintanya itu.


Badan Arini juga mulai gemoy,  ia sama sekali tidak merasakan mual, muntah, pusing, seperti yang ia alami ketika mengandung Alana waktu lalu, karena semua itu telah di borong oleh Seto, ya. Suaminya itu yang merasakan mual dan muntah. Arini sangat kasihan karena selera makan Seto yang memburuk.


Arini juga mulai mengganti pakaiannya dengan baju yang longgar, mengingat berat badannya yang naik membuat tubuhnya pun mekar jika ia memaksakan memakai baju biasanya, itu akan menyiksanya sendiri.


"Pagi, sayang..kalau sudah bangun harusnya cepetan beranjak jangan malah ngelamun." entah sejak kapan Seto bangun, ia sepertinya menyadari saat ini Arini tengah melamun.


" Pagi mas, hmm bagaimana aku mau bangun badanku saja kamu peluk erat begini." balas Arini dengan tersenyum, lalu Seto melonggarkan pelukannya.


"Soalnya tubuh kamu enak banget kalau di jadiin guling, kayak ada empuk-empuknya gitu." kata Seto dengan tidur telentang, matanya juga terpejam namun senyuman manis mengiringi ucapannya tadi.


Arini yang menyadari tubuhnya mengembang itu, ikutan tertawa, Seto sedang menyindirnya secara halus, sejak Arini menjadi gemuk Seto memang senang memeluknya bak guling yang sangat sayang sekali kalau tidak di himpit.


"Tetaplah seperti itu mah," 


"Apanya mas?" tanya Arini dengan menggulung asal rambutnya.


"Ada empuk-empuknya gitu." 


"Ya. Ya. Ya." jawab Arini lalu ia bergegas menuju kamar mandi.


Saat hendak melangkah, langkah Arini tiba-tiba tertahan, Seto saat ini sedang menangkap tangannya lalu ikut beranjak dan mendekap Arini dari belakang. Melingkarkan tangannya ke perut Arini yang mulai terlihat sedikit buncit itu.


"Sayang..perutmu sudah mulai sedikit gemuk, apa ini hanya perasaanku saja?" tanya Seto dengan mengelus rata perut Arini.

__ADS_1


"Seperti katamu tadi, badanku ada empuk-empuknya. salah satunya perutku juga mulai kembung di kehamilanku yang sekarang sangatlah berbeda saat aku mengandung Alana. Aku doyan makan, itulah yang menyebabkan berat badanku cepat naik dan hmmm..baju seksoy yang selalu kamu inginkan untuk ku pakai di malam hari tidak muat lagi mas." ucap Arini lesu, ia sangat takut kalau-kalau Seto kecewa dengan kondisi tubuhnya saat ini yang tidak dapat mengenakan pakaian seksoy lagi untuk meningkatkan gairah di ranjang.


"Ini kode apa bagaimana, minta di beliin baju baru?" bisik Seto, lalu Arini memegang pipinya dan menganggukkan kepalanya samar seraya tersenyum.


"Lah, ternyata peka juga mas Seto." kilah Arini, sebenarnya memang itu salah satu cara Arini memberikan kode, lagian walaupun dia minta beberapa baju itu tidak akan menguras black card milik suaminya kan, pikir Arini.


"Ok, sayang. Nggak perlu sedih kalau kamu nggak bisa pakai baju seksoy lagi untukku. Yang terpenting kamu nyaman dan anak kita aman, perlu kamu tahu kamu lebih menggoda ketika tidak memakai busana." kata Seto dengan mengelus perut Arini lembut dengan senyuman jahilnya.


Perkataan Seto tadi membuat mata Arini membulat, apa-apaan ini. Apakah Seto juga sedang mengkodenya sekarang.  "Akh..mas, sepertinya ini sudah siang, nanti Alana keburu bangun." Arini mengalihkan pembicaraan, lalu dengan cepat ia menyingkirkan tangan Seto yang melingkar di perutnya dengan lembut. Seto tertawa saat Arini berhasil masuk ke kamar mandi dengan muka malunya.


"Mah..setelah selesai mandi buatkan aku kopi ya?." teriak Seto. Arini menyahuti ya dalam kamar mandi.


Di tempat lain.


Kruyuk…..kruyuk…


Rico mengambil dompet di atas nakas, ia lalu membukanya,  kedua tatapan matanya getir saat memandang isi dompetnya itu.


"Tinggal 40.500, makan apa hari ini? Masak mie instan lagi." Rico sangat frustasi, sampai kapan ia akan bertahan dalam situasi seperti ini.


Rico mengambil uang di dalam dompetnya itu dua puluh ribu, ia akan membeli nasi bungkus dengan lauk alakadarnya, yang terpenting perutnya terisi agar ia memiliki tenaga untuk mencari pekerjaan nantinya.


Rico segera bergegas untuk ke warung, jalan menuju ke warung itu agak jauh, sekarang Rico sudah terbiasa berjalan kaki. Beberapa tetangga menyapanya, dan menanyakan mengapa Rico berjalan kaki, tak luput juga para tetangga, bertanya dimana istrinya Bu Clara yang beberapa bulan ini tidak nampak. Untuk menutupi semuanya, Rico beralasan bahwa mobilnya sedang di bawa Clara yang saat ini sedang pulang kampung. 


Setelah selesai bercakap-cakap dengan tetangganya, Rico kembali melanjutkan tujuannya tadi untuk membeli nasi bungkus, setengah jam kemudian ia telah sampai di warung kecil di pinggir jalan yang bertuliskan warteg dengan spanduk berwarna kuning yang telah usang itu.


Ia menghela nafas, kehidupannya benar-benar berubah drastis, sebelumnya ia tidak pernah mampir dan sekedar makan di warung sederhana seperti ini. Namun kali ini ia  harus membiasakan diri, toh..uangnya tidak akan cukup untuk membeli makanan dari restoran.

__ADS_1


Setelah memesan satu bungkus nasi dengan lauk telur dadar di sertai sedikit mie goreng di atasnya, tak selang beberapa lama pesanannya telah siap. Ia segera memberikan uang dua puluh tadi yang ia bawa lalu pergi meninggalkan warung itu untuk kembali pulang.


Sepanjang perjalanan, Rico sambil melihat sekitar barang kali ada lowongan pekerjaan untuknya. Namun sepertinya hari ini tetap sama tidak ada lowongan pekerjaan untuknya.


Bibirnya juga terasa kecut, beberapa hari ini dia tidak merokok. Lengkaplah sudah penderitaannya saat ini.


Sesampainya di rumah, ia segera mengambil sendok dan membuka nasi bungkusnya tadi, melahapnya tanpa sisa lalu di akhiri dengan meminum segelas air putih. Ia menatap sisa air di galon, kemudian ia menghela nafas panjang, airnya tinggal sedikit, Rico harus mengisi ulang di supermarket terdekat. 


Ia mengambil ponselnya, lalu melihat jumlah saldo di akunnya. Melihatnya membuat Rico meratap lagi, sisa saldonya juga tidak cukup untuknya membeli paket data. Bagaimana Rico menjalani keadaan yang semakin terasa rumit sekali baginya?.


Sementara itu, di kantor Seto.


"Huek..huek.." Seto segera berlari ke dalam toilet, Bimo segera mengikutinya lalu menepuk punggung bosnya itu dengan canggung. 


"Inilah salah satu alasan aku betah menjomblo, istri yang hamil suami yang ngalamin mual nggak banget." Ledek Bimo dengan tersenyum kecil, ia lupa ucapannya barusan bisa saja membuat Seto menyumpal mulut lemesnya itu menggunakan tissu toilet.


"Ngomong sekali lagi aku sumpal mulutmu dengan tissu toilet, huek..huek..," sialnya setelah mengancam Bimo Seto kembali muntah.


Padahal usia kandungan Arini sudah empat bulan, masih saja Seto mengalami mual seperti ini. untung saja mual saat ini masih berada di dalam ruangannya sendiri, kalau sedang rapat bisa-bisa, wajah tampan dan Kharisma yang di miliki Seto tidak akan populer lagi di kalangan karyawan.


Pasti para karyawan nyinyir akan menggosipkan Seto. Dengan ribuan caption yang selalu mengundang rasa penasaran para kaum-kaum julidah.


Bimo tertawa, setidaknya beberapa bulan ini ia puas meledek bosnya yang menyebalkan itu.


Bersambung...


LIKE, RATE, KOMEN, DAN VOTE.

__ADS_1


bagi yang bilang ceritanya kelamaan, bertele-tele.. hmm.. aku hanya nulis sesuai apa yang aku mau fan yang telah aku rencanakan. jadi mohon maaf ya 🙂


__ADS_2