Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 108.


__ADS_3

Rupanya suara yang memanggilnya barusan adalah Dea, terlihat wanita itu berjalan mendekati dimana Seto sedang berdiri di depan ruang operasi. Seto hanya diam, ia tak ingin berbicara apapun.


"Dea.." Mami Septi memanggilnya, ia melihat kantong plastik yang berisi obat-obatan sedang di pegangnya, " sedang apa kau di sini?" 


Dea nampak gelagapan, "ah.." ia lalu memasukkan plastik itu ke dalam tas, "hanya vitamin Tante." Lalu Septi pun menganggukkan kepalanya mendengar Jawa Dea.


"Lalu sedang apa Seto dan Tante disini?" Dea menatap ruang operasi yang lampu indikatornya masih menyala, pertanda masih ada kegiatan medis di dalam.


" Arini sedang melakukan operasi di dalam," jawab wanita paruh baya itu.


"Apa ada masalah Tante sehingga harus operasi?" 


"Dea??" suara seseorang memanggilnya, lalu "maaf Tante.. saya permisi, dan semoga Arini beserta bayinya sehat dan selamat." Mami Septi pun mengangguk, kemudian Dea berpamitan ia juga berpamitan kepada Seto namun lelaki itu masih diam tanpa ada niatan menjawab.


Hampir setengah jam lebih berlalu, akhirnya lampu indikator yang semula menyala kini telah padam, menandakan kegiatan medis di dalam telah selesai, di susul suara tangisan bayi yang memecah dari dalam. Membuat kedua ibu dan anak itu yang sedang menunggu mendengarnya dengan bahagia dan sangat bersyukur terutama Seto.


"Mami suara anakku.." Seto memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dan menciumi pipinya berulang kali, tak terasa air mata kebahagiaan mengalir lolos dari netra coklatnya, mami Septi pun membalas dengan menepuk-nepuk punggung putranya itu dan mengucapkan selamat karena ia telah menjadi ayah biologis dari keturunannya sendiri.


Pintu ruangan operasi terbuka. Kemudian seorang dokter wanita yang masih mengenakan pakaian operasi lengkap,  berdiri di ambang pintu tersebut, membuat Seto dan ibunya segera menghampiri dokter itu.


"Bapak Seto… selamat anak anda sudah lahir dan berjenis kelamin laki-laki." tutur dokter itu, senyuman di wajahnya mengembang dan matanya berkaca-kaca.


"Alhamdullilah…lalu bagaimana keadaan istri saya dok?" 


"Bu Arini selamat, karena tekanan Bu Arini sangat rendah, jadi saya sarankan untuk mengkonsumsi banyak sayuran ya pak, dan untuk saat ini Bu Arini masih dalam pengaruh obat bius."

__ADS_1


Satu jam kemudian..


Dari kejauhan, Seto hanya mampu memandangi bayinya dari luar ruangan, karena saat ini bayinya sedang di masukan ke alat incubator, mengingat kelahirannya yang belum pada waktunya, tidak ada masalah yang serius, hanya saja dokter menginginkan kondisi bayi itu semakin stabil.


Kemudian setelah puas memandangi putra mungilnya, ia bergegas menuju ruang rawat yang di huni istrinya setelah beberapa saat keluar dari ruang operasi tadi.


Kedua mata wanita itu masih menyesuaikan cahaya di sekitar ruangan, bersamaan dengan itu Seto masuk dan berdiri di samping maminya yang saat ini menunggu menantunya yang masih terbaring di ranjang pasien.


"Sayang…." dengan lembut Seto meraih tangan Arini yang tidak di masuki jarum infus, lalu menciumi buku tangannya.


"Mas.." jawab Arini dengan suara yang masih lemas.


"Anak kita..?" Arini bertanya dengan meraba perutnya yang kini sudah datar.


"Anak kita sedang di ruangannya, kamu tenang saja, dia lahir dengan keadaan sehat dan utuh, hanya karena dia lahir pada bulan yang belum semestinya, sementara di tempatkan dulu di inkubator." Seto mencoba memberikan pengertian kepada istrinya itu.


"Anak kita berjenis kelamin laki-laki, aku akan memberi nama Galang Permana yang artinya Galang adalah memiliki semangat tinggi dan permana adalah marga papa." 


"Galang? Artinya sungguh luar biasa aku setuju mas.." Seto dan maminya tersenyum mereka semua sangat bersyukur atas nikmat dan Rahmat Tuhan yang di berikan untuk keluarganya.


Kabar bahagia itu telah sampai di telinga ayah Arini serta sahabat ayahnya yang telah Arini anggap sebagai ayah kedua yang tak lain adalah om Atmojo beserta sang istri. Mereka bertiga akan datang nanti sore untuk menjenguk malaikat kecil yang kini mengisi kelengkapan rumah tangga Seto dan Arini.


Di dalam kamar..


Beberapa bulan telah berlalu, Dea tak lagi bertemu ataupun berurusan dengan Rico, ia menghindari lelaki yang pernah menyetubuhinya itu pada saat di hotel beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Saat di rumah sakit tadi, rupanya ia sedang memeriksakan kehamilan, ia tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak ingin memiliki pasangan seperti Rico yang sudah pasti akan menyusahkanya, untuk itu ia menyembunyikan kehamilannya ini agar lelaki itu tidak tahu.


Semenjak ia mengetahui dalam perutnya ada benih lelaki yang sama sekali tidak di cintainya itu, hidup Dea semakin merana, ia seolah tidak memiliki semangat hidup, tetapi ia juga tidak mau melakukan dosa kedua kali dengan mengugurkan janin yang tidak berdosa ini.


"Bagaimana aku bisa sebodoh ini?" gumam Dea " aku hanya melakukan sekali pembuatan, tetapi mengapa benih lelaki sialan itu top cer." Dea sangat menyesali ini semua.


Dea pun masih memandangi kertas yang tadi di berikan oleh dokter kandungan, mata wanita itu terus menatap print cetak hasil USG tadi siang, matanya berkaca-kaca antara sedih dan senang. sedih bagaimana ia akan menutupi aibnya ini, dan senang karena ia akan merasakan menjadi ibu.


Dea tidak berdaya, tetapi ia juga tidak mungkin meminta pertanggung jawaban Rico, selain ia tidak mencintainya, ia juga tidak ingin di susahkan oleh lelaki yang tidak memiliki pekerjaan tetap. 


Dea menghembuskan nafas kasar, dan menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang dalam kamarnya, "aku harus bagaimana?" desahnya bingung.


Dea semakin frustasi, ia menyesal telah melakukan hubungan terlarang pada malam itu, karena stress tidak mampu bersanding dengan Seto ia malah tersesat dalam lubang kemaksiatan, ia juga menyesal menyia-nyiakan lelaki sebaik Dio. 


Namun nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin ia panaskan untuk menjadi rengginang kan?  Ia turun dari ranjang, Dea mondar-mandir seperti setrikaan.  padahal hari sudah menjelang malam, tetapi ia belum ada niatan untuk mengistirahatkan mata dan tubuhnya itu, ia masih belum menemukan jalan keluar untuk masalahnya.


"Masa iya aku harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada Rico?" Dea  bergumam dan mengigit jari kukunya.


"Kalau dia mau bertanggung jawab, bagaimana ia menghidupiku?" Dea mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi berat.


Dea pun akhirnya mengistirahatkan diri setelah kelelahan berpikir, tapi belum memejamkan matanya " andaikan saja, aku tidak khilaf malam itu, mungkin saat ini dalam rahimku tidak ada yang menempati." 


"Dan bodohnya lagi, ayah biologis dari anakku ini dia tidak begitu tampan, dan sialnya lagi dia miskin, andai saja Dio ayah biologisnya itu akan jauh lebih baik, tetapi sudahlah aku akan memikirkannya ini besok lagi." gumamnya lalu Dea benar-benar tidur.


Sedangkan lelaki yang memanggil Dea waktu di rumah sakit tadi adalah temannya yang saat ini telah membeli toko bunganya.

__ADS_1


Bersambung....


jangan lupa like komen rate dan vote 🥰


__ADS_2