Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 41.


__ADS_3

Arini merasa kesakitan saat tangannya di tarik paksa oleh Rico, sesampainya di kamar lelaki itu menghempaskan tangan Arini dengan kasar hingga Arini mendesis kesakitan. Arini mengelus tangannya yang memerah, cengkraman tangan Rico begitu kuat hingga meninggalkan tanda merah di tangannya.


Arini hanya menatap wajah suaminya dengan tatapan sinis, ia benar-benar muak dengan sikap Rico yang seperti ini, seenaknya sendiri dan semena-mena. keputusan Arini untuk mengakhiri rumah tangganya ia rasa sangatlah tepat, siapa yang tahan hidup terus begini Arini sungguh tak sanggup lagi mendampingi Rico.


"Layani aku sekarang, kau juga butuh belaian kan!" ucap Rico merendahkan Arini.


Perkataan itu membuat telapak tangan Arini menampar pipi Rico dengan sangat keras hingga suaranya terdengar menggema di sana.


"Jaga bicaramu!" Arini berteriak penuh amarah, wanita itu begitu murka karena Rico telah merendahkannya.


Rico di buat terkejut karena Arini tak selemah biasanya, kesabaran Arini sepertinya benar-benar habis. Rico seolah tak mengenali wanita yang berada di hadapannya kini.


"Kau berani menamparku?" Rico memegangi pipinya yang terasa panas. bertanya dengan tidak terima.


"Aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini, untuk membungkam mulut busukmu itu." Arini semakin menajamkan suaranya dengan penuh ancaman.


"Lalu aku harus mengatakan apa? kau kan memang wanita yang jarang ku beri kehangatan, hingga kau meminta lelaki lain menghangatkan mu, apa itu yang dinamakan tidak kesepian?" sekali lagi ucapan Rico mendapatkan tamparan keras dari tangan Arini yang kini terasa panas karena begitu kerasnya ia mengayunkan tangan.


"Mungkin kemarin aku terlalu mencintaimu, terlalu takut kehilanganmu, terlalu memikirkan Alana tanpamu, asal kau tahu lelaki seperti dirimu sepantasnya bersanding dengan j*l*ng itu. tiada alasan lagi untukku mempertahankan mu! lelaki pecundang!!"  Arini menegaskan jari telunjuknya kepada Rico dengan penuh ancaman, dah berlalu pergi dari sana, meninggalkan Rico yang mematung karena tercengang dengan ucapan Arini.


Arini masuk kedalam kamar, menguncinya ia bergegas mengganti pakaiannya kesabarannya sudah di ambang batas ia tak bisa menahan lagi. setelah mengenakan baju yang ia pilih wanita itu segera keluar dari kamar dan mencari keberadaan Alana. Ia meminta kepada pengasuh Alana untuk pulang saja hari ini, Arini berasalan mendadak ia harus mengunjungi keluarga.


Setelah pengasuh itu mengerti ia pun berpamitan kepada Arini, tak selang berapa lama Arini keluar dari rumahnya dengan menggendong Alana.


Sementara itu Seto dan Bimo telah siap menuju kantor, kedua lelaki itu telah keluar dari hotel, Bimo yang rapi dengan setelan jasnya yang telah melekat di badan, sedangkan Seto hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing yang di biarkan tak terpasang.


"Bim..setelah pulang ngantor nanti, kamu ke rumah mami dulu ya. kemarin beliau sempat pesan sesuatu udah ku siapkan."  ucap Seto saat mobil mereka telah melaju membelah jalanan.


Seto menunjuk pada satu kotak besar, sebuah alat kesehatan modern yang ia pesan langsung dari Tokyo.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Seto berdering, Seto mengambil haedset nya dan segera menjawab panggilan.


"Bro, aku sudah menunggumu di kantor hampir setengah jam ini." suara Dio 


"Tunggu setengah jam lagi, akan genap satu jam." ucap Seto di iringi gelak tawa. Kemudian ia mematikan ponselnya dan menyuruh Bimo untuk sedikit menambahi kecepatan.


Pagi ini ada janji temu dengan Dio pastinya membicarakan soal proyek mall yang akan di danainya.


"Sepertinya untuk urusan pembangunan mall ini aku serahkan semuanya padamu Bim"  ucap Seto dengan memasukkan ponselnya ke saku jas.


Bimo menoleh, kenapa semuanya di serahkan padanya, memang bosnya itu mau kemana apakah hanya karena Arini, masa sampai mengabaikan proyek sebesar ini, pikir Bimo.


" Besok sepertinya aku ada perjalanan bisnis ke luar kota," 


"Kenapa mendadak sekali bos Se?" 


"Entahlah clientku ini orang Chinese, dia rekan bisnis Dio. seharusnya masih tiga harian lagi aku pergi keluar kota tapi baru saja Dio menelfon pasti untuk mempercepat pertemuannya besok." ujar Seto tanpa menatap wajah Bimo.


"Aku bekerja bukan liburan!" Seru Seto seraya menatap kesal wajah Bimo.


"Aku kan hanya bertanya, kenapa bos Se sewot." gumam Bimo 


Hampir satu jam berlalu Rico menutup matanya sejenak, ia merasa perubahan Arini karena sengaja ingin membalasnya. sungguh membuatnya bingung bagaimana menjinakkan wanita itu lagi, tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut.


Kelompok mata itu terbuka, ia beranjak turun ke lantai bawah untuk mengajak Arini berbicara lagi, namun ia tak menemukan batang hidung dari istrinya itu.


Ia menyadari Arini sangat marah, kata-kata yang terucap dari mulut Arini seolah menjadi cambuk baginya, Arini pergi dari kamarnya tadi dalam keadaan murka, dan sebelum itu ia mengeluarkan isi hatinya, yang membuatnya tak bisa menerima pemberontakan istrinya itu. Egois satu kata yang pantas di sandang Rico Bagaskara.


Rico mencari lagi, ia menaiki tangga dan menuju ke kamar Arini, memastikan Arini ada di dalam sana. Rico mencari di sekeliling kamar itu tak nampak Arini disana.  Rico hanya menemukan cincin pernikahan yang ia berikan dulu tergeletak di meja rias. Istrinya itu benar-benar ingin mengakhiri rumah tangga dengannya.

__ADS_1


Ia juga melihat foto pernikahan mereka sudah tidak terpajang lagi, bahkan foto yang berada di atas nakas pun terlepas dari tempatnya dan tersobek.


"Apakah sesakit ini perasaanmu?" ucap Rico dalam hatinya.


Perasaan Rico hancur namun rasa takut kehilangan Clara membuatnya bertidak bodoh. Ia mengingat kata demi kata yang Arini tulis tadi di dalamnya menyatakan dengan sadar bahwa ia ingin segera mengakhiri hubungan dengannya, ia sudah tidak bisa hidup bersamanya lagi. Sungguh hal ini tak pernah di pikiran Rico sebelumnya. Ia tak tahu kalau Arini akan memberontak terhadap dirinya.


Setelah kepergiannya dari rumah tadi ternyata Arini menemui om Atmojo pengacara yang Arini tunjuk untuk membantunya mengurus perceraian dengan Rico.


Memang awalnya ia ingin bertemu Seto, namun ia mengurungkan niatnya karena om Atmojo mendadak menelfonnya, untuk bertemu.


Om Atmojo adalah sahabat dekat ayah Arini jadi dengan senang hati pria paruh baya itu akan siap  membantu Arini.


Dengan menggendong Alana, Arini menuju kantor om Atmojo. disana Arini mengutarakan niatannya untuk segera mengakhiri rumah tangganya bersama Rico.


"Apa niat kamu sudah benar-benar bulat Rin?" tanya om Atmojo pelan.


"Sangat om. Apalagi atas penghianatannya tidak ada alasan lagi bagiku untuk mempertahankan rumah tangga ini. Dia sudah menikah lagi tanpa sepengetahuanku. Apa yang ingin aku harapkan lagi darinya?" ucap Arini yakin.


Om Atmojo menatap ke arah Arini kemudian mengelus kepala Alana, gadis mungil itu terlelap dalam gendongan mamanya. Om Atmojo juga telah mengaggap Arini adalah putrinya sendiri. Yang berartikan Alana adalah cucunya.


"Baik putriku, Om akan membantu kasusmu ini," ucap Atmojo dengan tersenyum.


Arini merasa lega, karena om Atmojo mau membantu dirinya. terlepas dari itu ayah dari Arini juga sebenarnya tidak begitu respect kepada Rico karena sikap kasarnya.


"Terimakasih om," Ucap Arini dengan tersenyum.


Selepas itu Arini dan om Atmojo datang ke pengadilan untuk mengajukan gugatan cerainya.


dan mas Seto meminta bantuan kepada para readers setia untuk like komen rate dan vote pastinya agar perceraian Arini di perlancar jalannya.🤣🥳

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2