Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 128.


__ADS_3

Dea segera menggelengkan kepalanya, agar berhenti memikirkan hal-hal yang tidak berguna yang hanya membuatnya sakit hati.


Malam kian larut, Dea merasa lelah akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat. tiba-tiba Ia mendapatkan pesan dari Rico yang memintanya untuk mengunjunginya besok ada hal yang ingin ia bicarakan.


Membaca pesan itu, Dea tersenyum ia tidak sabar untuk melihat sekaligus memaki pria bajingan itu!.


Jadi setelah kejadian itu, secara sengaja ia akan membuat Rico menyesal.


Pagi harinya.


Hari-hari yang di tunggu pun tiba, yaitu hari kelulusan Tiara. 


Tiara sudah berdandan cantik dengan mengepang rambutnya, serta tak lupa memakai seragam putih abu-abu dan tak lupa menyiapkan pewarna untuk coret-coretan nanti.


Tiara sangat senang sekali, tak terasa hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, ia di temani oleh beberapa teman dan berniat merayakan kelulusan.


Sesampainya di sekolah, ternyata keadaan sudah ramai di penuhi oleh para siswa yang kebanyakan dari kelas 9 SMA.


Kedua mata Tiara sedang mencari-cari seseorang yang telah berjanji padanya semalam untuk datang ke acara kelulusannya.


Tiara merasa terkucilkan di situ, karena Tiara melihat suasana yang sangat bahagia terpancar dari wajah para siswa yang hadir, di dampingi kekasihnya, kedua orang tuanya, maupun kerabat lainnya.


Wajah para orang tua di situ sangat bangga melihat anaknya lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, tak lupa budaya berfoto ria untuk mengabadikan momen bersejarah.


"Kak Dio, di mana kamu? Apa kamu lupa dengan hari pentingku ini? semalam kakak sudah berjanji untuk datang, aku berharap kakak tidak melupakannya, Mama masih berada di luar kota jadi beliau tidak bisa hadir, hanya kakak yang Tiara harapkan, memberi semangat Tiara," batin Tiara merasa sangat sedih.


Hasil telah di bagikan, Tiara mendapatkan peringkat kedua dengan nilai tertinggi di kelasnya. Tiara berjalan mengambil fotocopy ijazah dan bersalaman dengan para guru. wajah Tiara begitu haru karena mendapatkan peringkat kedua.


Tiara pun kembali mengerucutkan bibirnya, saat kedua matanya belum juga melihat Dio hadir.


Tak lama acara penyerahan ijazah pun berakhir, semua orang tua menghampiri anak-anaknya yang sudah selesai menempuh pendidikan SMA itu. suasana penuh dengan kebahagiaan.


"Hei !! Maaf, aku datang terlambat," Dio mendekati Tiara.


"Selamat ya atas kelulusanmu."  sambungnya sambil tersenyum lebar.


"Ayo tersenyum!" 


Cekrek!!  Dio pun berselfi dengan Tiara.


"Kakak dari mana saja, sih? Aku pikir kakak tidak akan datang, apa kakak tahu disini hanya aku yang sendirian tanpa di temani keluarga."  Tiara mengerucutkan bibirnya.


" Maaf, tadi ada pekerjaan sebentar yang tidak bisa kakak tinggal, sudah jangan bersedih aku sudah di sini kan?" ucap Dio seraya mengusap kepala Tiara.

__ADS_1


Dio merasa iba, ia langsung memeluk erat tubuh Tiara memberikan rasa kedamaian, kenyaman dan kehangatan.


Di rumah sakit.


Rico sudah mulai pulih, namun ia belum di perbolehkan pulang, saat ini Dea tengah berada di ruangan Rico, "apa?" kata Dea.


" Tolong untuk kali ini bantulah aku," Rico memohon.


Dea tercengang.


"Kamu mungkin berpikir aku pasti jahat dan tidak tahu malu, tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain saat ini, hanya kamu, Dea hanya kamu saat ini yang aku harapkan,"


Pengakuan Rico benar-benar di luar dugaannya. Dea terkejut.


" Kamu sadar sekarang? kamu tidak lebih dari seonggok sampah yang menjijikkan!!" 


Dea dapat melihat Rico menahan amarahnya.


Rico menatapnya kecewa, tetapi tiba-tiba ia meraih tangan Dea dan menciumnya.


Mata Dea melebar, karena ia terkejut tangannya di cium, dia segera menarik tangannya agar lepas dari genggaman Rico.


"Jangan marah," Rico menatapnya dengan eksepsi sedih di wajahnya. Lalu dia tersenyum pahit " aku hanya ingin meminta maaf, atas semua kesalahanku."


Seto bersandar di dinding yang tak jauh darinya, dalam diam, ia memperhatikan Dea yang tengah berbincang dengan Rico, Seto terlihat sangat dingin dan sombong karena tiada senyuman di wajahnya.


Kejutan dan kegembiraan di hati Dea, hanya berlangsung beberapa detik.


"Kenapa Seto berada disini?" tanya Dea dalam hati.


"Seto.." Dea menyapanya dalam suara rendah, tanpa kata-kata lain, ia menundukkan kepalanya Seto selalu mengabaikannya, seolah-olah dia orang asing dan tak saling mengenal.


"Bisa kau keluar sebentar De?" 


Terkejut dengan kata-katanya, Dea mendongak menatap Seto dengan mata yang berkabut. Aura Seto seperti harimau ganas dan dia hanyalah kelinci kecil yang berada di bawah tekanannya.


"Keluarlah!" Perintah Rico, sebenarnya lelaki ini juga tak kalah terkejutnya.


Dea mengkerutkan kening, Seto memelototinya dan berbalik ke Rico dan bertanya, " Bisakah menyuruh pacarmu keluar dulu?" Seto sengaja menyebutkan kata pacar.


Dea tidak ingin berdebat dengannya lagi, pada akhirnya mau tidak mau ia harus keluar dari kamar rawat Rico.


" Jangan khawatir, aku tidak akan memukuli pacarmu kali ini jadi tinggalkanlah kami untuk sementara!" bisik Seto saat Dea hendak menerobosnya yang menghalangi pintu.

__ADS_1


Suaranya begitu rendah dan dalam, sehingga hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya.


Kemudian tanpa ingin berbicara lebih lanjut, Seto masuk dan mengunci ruangan itu.


Seto berjalan mendekati Rico yang masih terbaring di bangsal, " kau salah paham," Rico tersenyum getir. " Dea bukanlah pacarku, diantara kami tidak ada keterikatan!"


Seto hanya diam, dan duduk di kursi yang tadi di duduki Dea, Menatapnya dingin dengan kakinya tumpang tindih.


" Itu bukan urusanku!" 


"...." Rico menatapnya, dan semakin kesal.


Setelah itu hanya ada keheningan.


Setelah beberapa saat, Seto tersenyum dan berkata kepada Rico, berpura-pura santai " bahkan kau sudah merasainya, dan membiarkan anakmu mati dan bangsatnya lagi kau tidak mengakuinya!" 


"Rico, meskipun kau sakit parah, kau masih cukup energik ketika merayu wanita, tidakkah kau malu dengan burungmu?" 


Seto berbicara tiba-tiba, dan suaranya yang mengejek terdengar panas di telinga Rico.


Rico menatapnya dengan tatapan tidak suka dan bertanya " apa tujuanmu kemari?"


"Bukankah kamu pasien? Aku hanya mengunjungimu saja bukankah itu hal yang wajar?" 


"Omong kosong!" decak Rico.


Rico menyerah, " baik, aku tidak akan bertengkar denganmu, aku tidak punya kekuatan sekarang."


"Kenapa masih saja merengek pada wanita, bahkan memintanya untuk membiayaimu, kau ini sangat murah!" Seto sengaja menekan kata "murah."


Rico bangun dari bangsal dengan marah. " Ini adalah hidupku, jadi suka-sukaku melakukan apapun!" Rico menggertakkan giginya, " urusanmu itu apa?" 


Mendengar Rico masih saja mengoceh, Seto sangat kesal.


"Mengapa kau menjadi marah? Jika yang aku katakan tadi tidak benar?" 


" Itu urusanku sendiri, silahkan keluar!" 


"Dia benar-benar, suka ikut campur dengan urusan orang lain." batin Rico.


Seto mendengus, " aku belum selesai dengan urusanku jadi aku tidak akan keluar!" 


Bersambung.....

__ADS_1


minta like dan vote dong biar aku makin giat update 🥳


__ADS_2