
"jadi kau khianati dia? Lalu dia menceraikanmu dan menikah dengan Seto?" ucap Dea menyimpulkan.
Malam ini Rico bertemu dengan Dea, wanita ini telah menyelidiki Seto yang ternyata telah menikah dengan mantan pegawainya yaitu Arini. Membuat ia tidak senang, fikirnya Seto menolak dan bersikap dingin rupanya hanya karena Arini? Mantan pegawainya sendiri, apalagi terlihat Seto sangatlah menyayanginya.
Dea yang terus mencoba mendekati Seto namun selalu di tolak oleh lelaki itu, membuatnya geram apalagi dengan Bimo, lelaki itu selalu ikut campur dalam urusannya.
Karena ia mengetahui bahwa Arini lah yang menjadi istri Seto sekarang, ia mencari tahu tentang masalalunya dan memutuskan untuk bekerjasama dengan mantan suami dari Arini.
Melihat penuturan Rico barusan, Dea menyimpulkan bahwa lelaki di hadapannya kini, masih mengharapkan Arini.
"Lalu anakmu?" tanya Dea
"Ikut bersama Arini, aku sangat tidak senang saat semalam ia menghalangiku bertemu dengan putriku sendiri, bagaimanapun aku ini bapak kandungnya."
Mendengar itu Dea serasa mendapatkan angin segar.
"Kau tidak bahagia, melihat putrimu hidup dalam berkecukupan sekarang, ayah sambungnya mampu memenuhi kebutuhan apapun yang di inginkan putrimu loh."
"Jelas saja aku tidak bahagia, dia putriku! Aku akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, walaupun aku harus bersusah payah sekalipun." ucap Rico.
"Itu tidak akan menjadi masalah, jika kita bekerja sama."
"Maksud nona?" Rico mengerutkan kening.
"Ok aku jelasin, kamu sudah tau..aku mantan bos Arini, lalu Seto adalah temanku dan telah lama aku menginginkannya, awalnya Seto begitu sayang padaku, tetapi mantan istrimu itu ternyata yang menjadi racun dalam kisah asmaraku."
"Oh..jadi ini alasan kamu mengajakku bertemu untuk kedua kalinya?"
Ya. Sebelum menemui Arini malam kemarin, ternyata sore harinya, Rico telah bertemu dengan Dea, saat itu Rico hanya di berikan uang dan memintanya untuk menjenguk anaknya saja, Rico tidak tahu maksud dan tujuan Dea sebenarnya adalah seperti ini.
Namun Dea sepertinya menganggap Rico remeh, dalam hati Rico, ia akan memanfaatkan Dea untuk kepentingan pribadi.
"Ok. Aku paham sekarang, lalu kelanjutannya gimana?"
__ADS_1
"Intinya kamu masih mengharapkan Arini kan?"
"Tentu saja." ucap Rico antusias.
"Jalan satu-satunya hanyalah memisahkan mereka." Dea angkat bicara lagi.
Dea tampak berpikir, " buat Seto marah karena Arini selalu bertemu denganmu, hingga Seto mengira Arini masih ada main di belakang denganmu!" imbuh Dea lagi.
" Em… sepertinya itu ide yang tidak buruk." balas Rico.
"Ok. Mulai hari ini kita kerja sama." ucap Dea memastikan.
Rico mengangguk, kemudian meneguk sampanye di hadapannya hingga tandas.
Rico menyunggingkan senyum tanpa Dea menyadari, insting bejadnya menguasai otak lelaki itu, Rico adalah lelaki normal melihat lekukan tubuh Dea yang bohai membuat tubuhnya panas, sesungguhnya Rico tidak ingin mengusik kehidupan Arini lagi, namun karena Dea menawarkan kerja sama dan pastinya akan menghasilkan uang, Rico akan melakukannya, tetapi hanya untuk mendapatkan uang saja, selebihnya ia tidak akan bertindak melebihi batas.
Dea juga meminum sampanye di hadapannya, selama tinggal di luar negeri, pola dan gaya kehidupan berubah drastis, ia menjadi wanita liar dan melakukan segalanya tanpa pikir panjang. Melihat Dea yang sudah mabok, Rico semakin menyunggingkan senyum.
"Nona. Sepertinya kau terlalu banyak minum." Rico mencoba menghentikan Dea yang hendak menuangkan air haram itu lagi ke dalam gelas, hingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.
"Tidak apa-apa, aku sudah biasa."
Rico kemudian mengangguk, ia berpamitan kepada Dea untuk ke toilet sebentar, setelah Dea mengiyakan, Rico segera bergegas.
Beberapa saat kemudian Rico kembali dengan membawa satu botol minuman.
"Nih, minumlah! tubuhmu butuh cairan ini agar tidak tumbang dalam keadaan minum sampaye banyak seperti sekarang." kata Rico menyerahkan botol itu kepada Dea dengan senyuman penuh arti, lalu ia mengambil satu batang rokok dari dalam bungkus dan membakarnya.
Dea mengambilnya dengan tersenyum, " wah. Kau sangat perhatian sekali ric, makasih." ucap Dea kemudian mengambil botol itu.
Melihat air minum di tangannya, dahaga Dea meronta kehausan, Dea lalu membukanya dan tak tanggung-tanggung menghabiskannya dengan beberapa tegukan.
Rico duduk, dan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Wah.. rasanya sedikit aneh, tapi no problem. Pikiranku jadi agak sedikit fresh sekarang, tapi..kau menjadi sedikit tampan sekarang ric." oceh Dea.
"Menyebalkan." ucap Rico dengan tertawa dengan di ikuti oleh Dea.
Perlahan tawa Dea menyusut, bibirnya menjadi datar, lalu keningnya mengkerut seolah memikirkan sesuatu terlalu dalam.
Dea menjatuhkan botol bekas tadi ke lantai, lalu ia menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Hiks…hiks… sebenarnya aku sangat lelah hidup seperti ini, mencintai seseorang itu sangatlah melelahkan. Aku telah mencoba membuka hatiku pada yang lain, tetapi tetap saja Seto yang menjadi tujuanku." gumamnya sambil terus menangis terisak-isak di hadapan Rico.
Lalu dengan inisiatif, Rico berjalan menghampiri Dea lalu memeluknya dengan lembut. sebenarnya ia telah menduga adegan ini akan terjadi, Dea merasakan pelukan ini seolah menyiratkan, tenanglah..tidak apa-apa jika malam ini kamu menangis, kau boleh menangis aku ada di sini bersamamu.
Semakin lama pelukan itu semakin membuat Dea terlena, suhu badannya juga berubah, pelukan yang di berikan Rico sangatlah meredakan kesedihannya. namun semakin lama suhu badan Dea makin tidak terkendali, pipinya merona Dea mengusap air matanya dan memikirkan sesuatu.
"Huh.. sepertinya minuman yang di berikan Rico bukan minuman biasa, sepertinya ia menambahkan obat perangsang di dalamnya, namun itu bukan masalah, artinya aku juga bisa bersenang-senang saat tidak sadar sepenuhnya seperti sekarang."
Semakin lama, reaksi obat perangsang itu semakin menjalar, dan menggerogoti birahi Dea. Dea tampak gelisah, ia mengibaskan tangannya untuk mengurangi rasa gerah yang ia rasakan.
Bruk.
Melihat Dea yang sudah kelimpungan, Rico segera membawanya masuk ke dalam kamar hotel.
Sementara itu dari kejauhan tanpa mereka sadari ada seseorang yang telah menyaksikan semuanya, lelaki itu hanya meletakkan jarinya di dagu dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku kira, kepergianmu akan mengajarkan hal lebih baik dalam hidupmu, rupanya malah kau semakin liar." gumam pria misterius itu.
Lalu ia tidak mengikuti Dea dan Rico lagi, ia telah bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh anak titisan Dajjal seperti mereka berdua, apalagi kalau bukan adu gabrut dan ngaduk semen.
Di dalam kamar hotel Dea sudah tepar, Rico menyunggingkan senyum karena malam ini timunnya tidak akan mengandalkan sabun mandi lagi.
Bersambung...
wow bagaimana episode hari ini?
beri aku like komen rate dan vote jika kalian suka karyaku ini 😘
__ADS_1