Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 98.


__ADS_3

"Dea?" Arini melihat nama Dea tertera dalam layar ponsel dengan perasaan yang sedikit was-was.


"Aku tidak harus mengangkat panggilan ini kan? rasanya sangat tidak sopan sembarangan menerima panggilan di ponsel mas Seto." gumam Arini.


Tak lama kemudian, Seto keluar dari kamar mandi, Arini mendadak panik karena ia belum menyiapkan apa yang suaminya perintahkan tadi dan malah terpaku pada ponsel Seto, dengan gugup Arini berjalan cepat masuk ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian yang di minta Seto tadi.


"Dari tadi belum mah?" tanya Seto heran.


"Ah, tadi aku fokus membereskan kasur, aku akan segera menyiapkannya," ucap Arini dengan setengah berteriak.


"Di ponselmu ada seseorang yang menelepon tadi mas," ucap Arini dari dalam ruang ganti, lalu Seto menyautnya, ia terduduk di pinggiran ranjang dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, ia melihat ponselnya nama Dea berada di deretan panggilan tak terjawab.


Merasa tidak penting, Seto pun mengabaikannya lalu tak selang beberapa lama Arini kembali seraya membawa pakaian yang di minta Seto tadi.


"Kenapa tadi kau tak mengangkatnya saja?" Tanya Seto di sela memakai kemejanya.


"Aku tadi sibuk membereskan tempat tidur." ucap Arini berbohong dengan tangannya yang sibuk membantu mengancingkan kemeja Seto.


Kini Seto dan Arini berjalan menuju ruang makan, hari ini Arini tidak memasak malam tadi ia telah menyuruh asistennya untuk menyiapkan sarapan besok pagi. sementara itu Alana masih tertidur dengan lelapnya tadinya Seto hendak membangunkan putrinya itu, namun di cegah oleh Arini karena anaknya sedikit meriang jadi ia menyuruh Seto untuk tidak mengganggunya.


Tok...tok..tok..


Suara ketukan pintu yang bising terdengar dari luar rumah, Arini hendak beranjak namun Seto menahannya untuk menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu itu semakin lama, semakin mengeras. hingga membuat kegaduhan di pagi itu Seto segera menyelesaikan sarapannya dan bangkit untuk melihat siapa tamu yang sangat menyebalkan itu.


"Siapa mas?" Tanya Arini dengan penasaran.


"Entahlah." Seto berdecak dan menggaruk-garuk rambutnya dengan kesal.


Ceklek, (suara pintu terbuka).


"Bos.."

__ADS_1


Seto terkejut bukan main, saat melihat Bimo dan Dio berdiri di depan pintu rumahnya dengan melebarkan senyumnya seolah tak memiliki dosa.


"Kalian?" 


"Ngapain kalian kemari? nanti kan kita ketemu di kantor." ujar Seto.


"Justru itu, sebelum ke kantor kami ingin menemui bos dulu,"


Seto melihat sekeliling, "perasaan ulang tahunku sudah lewat, kalau kalian mau memberikan kejutan aku rasa kejutan yang kalian berikan sangat payah." 


" Sama siapa lagi kalian kemari?" tanya Seto, ia sedikit curiga akan sosok yang sedang berada di dalam mobil seliutnya terlihat dari kaca walaupun sangat samar.


"Bersama Dea Bos," Jawab Bimo.


"Kau mengajak dia kemari, untuk berdemo? tanya Seto dengan mengerutkan dahinya dengan kesal.


"Sembarangan, kami ngajak Dea kemari karena tadi dia meneleponmu tidak kau angkat, dia hanya ingin meminta maaf secara langsung padamu." ujar Dio.


"Astaga." decak Seto seraya memijat pelipisnya.


Arini merasa tidak enak dengan kedua tamu yang saat ini masih saja berdiri di depan pintu. Ia mencoba menggerakkan tangannya ingin memberi tahu kepada Seto, bahwa ada tamu di hadapannya ia merasa tidak enak.


"Sepertinya kita bertamu di jam yang salah Bim," Dio melirik Bimo.


Seolah mengerti kemalangan sahabatnya, Bimo pun ikut menimpali, " oh, ayolah bos jangan pamerkan keuwuan kalian di hadapan para jomblo ini, tolong hargailah kami" keluh Bimo, Dio hanya tertawa mendengar keluhan dari sahabatnya itu.


"Makannya kalian cepetan nikah," ledek Seto, namun tak sengaja ia melihat Dea yang baru saja turun dari mobil, Arini begitu waspada akan wanita itu.


Hampir setengah jam berlalu, akhirnya Dio mengantarkan Dea pulang, setelah melalui drama meminta maaf kepada Seto beserta Arini, Dea berjanji tidak akan menggangu ketenangan rumah tangganya lagi.


Sementara itu, Bimo berdiri di luar rumah untuk menunggu, Seto keluar dari dalam rumah dengan berjalan santai. dan melewati Bimo begitu saja, Seto terlihat keren keluar dengan memasukkan tangannya di saku celananya.


Bimo segera mengikuti Seto dengan canggung di belakang, sepertinya suasana hati bosnya mendadak tidak baik, apa dia salah menuruti ajakan Dio yang memintanya untuk menemani dirinya mengantarkan Dea meminta maaf kepada bos-nya itu?.


Saat hendak membuka pintu mobil, Seto menoleh ke arah Bimo yang masih tertinggal jauh di belakangnya. " Apa kakimu berubah menjadi kaki seorang perawan? lamban sekali," ujar Seto dengan berdecak kesal.

__ADS_1


"Maaf bos," lalu dengan setengah berlari, Bimo menuju kemudi mobil.


Seto menganggap tidak ada yang baik, dengan kedatangan Dea ke rumahnya. Kemarin secara terang-terangan ia mendengar Dio mengatakan bahwa Dea bekerjasama dengan Rico untuk mengacaukan rumah tangganya, hal ini yang membuat Seto tidak bisa begitu saja percaya dengan Dea, terlebih permintaan maafnya terkesan mendadak sekali.


Seto terfokus memandang ke depan dengan wajahnya tampak buruk,  setelah melirik Bimo ia fokus kembali menatap jalanan.


Matanya suram dan dingin berkilau dengan cahaya yang menakutkan.


Bimo merasa pagi ini dia telah menyinggung ketenangan bosnya, jadi ia tidak berani menatap langsung ke arah Seto.


Seto mengambil satu batang rokok kemudian membakarnya, menyesapnya sesekali kemudian bertanya kepada Bimo " Apakah kau tau bagaimana berurusan dengan a*j*ng liar yang terkadang terlihat patuh padahal itu hanyalah tipuan sesaat sebelum ia menggigit mu secara acak?" 


Jantung Bimo berdetak begitu kencang, ucapan dari Seto barusan seperti sebuah pertanyaan simalakama yang jika di jawab ia akan mati, jika tidak di jawab akan mati juga.


Dengan ragu Bimo menjawabnya, " menghadapi anjing seperti itu, kita hanya perlu menarik giginya, maka anjing tidak akan mengigit, secara alami anjing itu tidak akan mengigit dan menggonggong lagi."


"Otakmu masih bisa berpikir dengan baik, aku rasa kau tidak akan melakukan kecerobohan di masa mendatang." ucap Seto dengan dingin lalu membuang puntung rokoknya ke jalanan.


Bimo mengangguk, ternyata benar kehadirannya dengan memenuhi ajakan Dio dengan Dea membuat suasana hati bosnya menjadi buruk, ia kemudian mempercepat laju mobilnya agar segera sampai ke tempat tujuan, dan ia berjanji dalam hati akan lebih berhati-hati lain kali.


Sementara itu..


Dio menggenggam tangannya di setir, jejak kemuraman muncul di bagian bawah wajahnya. Tetapi perasaan kompleks itu hanya sementara, selanjutnya ia Mencoba bertindak setenang mungkin saat menghadapi ucapan dari Dea yang mempertanyakan perasaannya saat di tinggal oleh wanita itu secara mendadak ke luar negeri kala itu.


"Aku sudah melupakannya, jadi di masa mendatang aku berharap kita bisa menjadi teman seperti sebelumnya. tidak ada perasaan yang mengikat satu di antara lain."


ungkapan "teman sebelumnya tidak ada perasaan yang mengikat satu sama lain" menubruknya seperti batu. Dea sangat terkejut sehingga wajahnya mendadak menjadi datar.


Sedangkan Dio masih fokus menyetir, ia tidak menyadari bahwa Dea saat ini sedang menyeka air matanya.


Bersambung....


"Aku masih saja mengharapkan kehadiranmu menghapus air mataku, walaupun aku tahu kamulah penyebab kesedihanku."


Nadira_inder_927.

__ADS_1


jangan lupa like komen rate dan vote ya sahabat istrimu Adalah Pilihanku 🥰


__ADS_2