
Pagi harinya, Arini tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Rico nanti, jika lelaki itu pulang menepati janjinya. Suaminya itu berjanji akan pulang pagi-pagi ya, mungkin hanya untuk sekedar sarapan. Clara istri barunya tidak pandai memasak jadi sudah pasti Rico memilih sarapan di rumah istri pertamanya itu. Seolah Arini adalah alat penanak nasi yang di butuhkan Rico untuk memenuhi kebutuhan perutnya.
Arini sudah bisa menduga, Rico akan datang hanya untuk sekedar makan saja, setelahnya Rico akan berpamitan untuk berangkat bekerja, sungguh alasan yang monoton. Ternyata selama ini alasan rico tidak betah di rumah karena memiliki istri lain.
Sosok yang sedang ia pikirkan telah tiba, Rico masuk ke dalam rumah, dengan raut wajah yang berbinar bahagia, mungkin saja semalaman tadi ia meneguk manisnya pesona istri muda, tidak biasanya lelaki itu memeluk Arini dari belakang yang membuat gerakannya terhenti karena saat ini wanita itu sedang menata makanannya di meja.
Arini heran sekali akan sikap Rico yang mendadak manis kepadanya, " kelihatannya kamu sedang bahagia, ada apa memangnya?" tanya Arini dengan nada yang tidak selembut biasanya.
Rico mengecup bibir Arini sekilas, " sebentar lagi…Alana akan memiliki adik, dan kamu akan memiliki dua anak."
Arini berpikir keras, "hah.. maksudnya?"
Clara sepertinya hamil.. pagi ini ia mual-mual aku sudah menyuruhnya untuk cek up ke dokter, tapi aku yakin dia hamil." Jelas Rico.
Bak petir menyambar di siang bolong, hati Arini begitu perih mendengarnya dia menatap wajah bahagia Rico, suaminya itu sungguh durjana, dengan mudah ia mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaan Arini.
"Selamat untuk kalian berdua,"
Arini langsung duduk di kursi seraya mengoleskan selai ke dalam rotinya, Rico memperhatikan wajah Arini yang terlihat kecewa dan tidak bahagia. Mana ada wanita bahagia setelah mendengar suaminya dengan bahagianya telah menghamili wanita lain. Meski yang di hamili adalah istri keduanya rasanya ini sungguh menyakitkan.
Rasa sakit hati begitu nyata, rasa kecewanya tidak bisa terlukiskan. Rasa tidak terima sedang bersorak lantang di hatinya, Rico menggenggam tangan Arini lalu ia mengecup tangan itu.
"Kamu tidak bahagia, mendengar pernyataan ku?" tanya Rico.
"Lalu aku harus bagaimana, mengadakan acara besar-besaran untuk mengumumkan keberhasilan suamiku yang telah mampu membuat wanita lain hamil? Meskipun dia adalah istrinya juga." kecam Arini.
Rico mendelik mendengarnya, " sejak kapan kamu bisa bicara keras begini kepadaku?" nada suara Rico terdengar marah.
Arini memutar bola matanya malas, " Setiap orang bisa berubah, kau sendiri telah membuktikannya, mungkin untuk sekarang giliran ku!"
__ADS_1
"Rin..aku minta maaf, mungkin ini terdengar menyakitkan untukmu. Tapi mengertilah, terima atau tidak Clara juga istriku sekarang jadi kau harusnya ikut serta bahagia!" tutur Rico.
Braak…!
Arini menggebrak meja makan. Ia mengepal geram akan penuturan Rico barusan, Arini memberikan tatapan tajam kepada suaminya yang keterlaluan itu.
Arini menunjuk wajah Rico, "kamu ingin aku ikut berbahagia atas pengkhianatan mu? Arini berkilat marah.
"Setelah kamu meyuruhku menerima segalanya, atas apa yang telah kau lakukan padaku, memintaku agar memahami segalanya, sekarang dengan entengnya mengatakan aku akan memiliki anak lagi, begitu juga Alana yang akan memiliki adik dari rahim J*l*ngmu.. sungguh kamu manusia tidak tahu diri mas!" hardik Arini
Rico menggelengkan kepala, Arini telah berubah membuatnya tidak mengenali sifat istrinya yang sekarang, ia hanya mencoba berterus terang, tidak ingin menyembunyikan sesuatu lagi, namun niatnya itu di salah artikan oleh Arini.
"Rin..bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin ada kebohongan di antara kita." ucap Rico lembut.
"Cukup… Kau lelaki yang sangat menjijikan." bentak Arini.
Sesampainya di kamar, ia segera menutup pintu dan menguncinya hatinya begitu hancur, Arini menangis tersedu-sedu wanita itu meratapi nasib yang menimpanya, jika benar madunya itu hamil sudah pasti ia akan semakin jauh dari suaminya. Arini memikirkan nasib Alana yang pasti akan kekurangan kasih sayang dari papanya.
Dari semenjak kelahiran putrinya ia sudah merasa tersingkir karena Rico mempunyai wanita idaman lain yang sama sekali tak ia ketahui. Apalagi jika benar Clara hamil sudah pasti Rico akan melupakannya.
Arini menghapus air matanya, Ia tak boleh lemah. Dia harus kuat untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini, Arini memukul dadanya berkali-kali, mencoba mengurangi sesak yang sedang ia rasakan.
"Aku menyesal telah mencintaimu mas." ucap Arini dengan sesenggukan.
Arini membiarkan Rico yang sedari tadi menggedor pintu kamar. Wanita itu tak peduli lagi dan muak dengan wajah lelaki tak berperasaan itu. Mungkin ini adalah salah satu cara mengurangi kekesalannya dengan bersikap acuh.
"Rin..jangan bersikap kekanakan begini," teriak Rico di balik pintu.
Merasa Arini tak menanggapi, Rico memutuskan untuk pergi dari sana, ia membiarkan Arini untuk sementara. Mungkin saat ini Arini membutuhkan waktu sendiri pikir Rico.
__ADS_1
Saat ini Arini tak peduli apapun, ia tak menyadari jika Rico sudah melenggang meninggalkan rumahnya.
Di dalam kamar bernuansa gelap, sinar matahari bahkan tak mampu masuk kedalamnya karena kamar itu begitu rapat dan seolah tak ada udara yang masuk.
Seto sedang tidur dengan tengkurap. Di sampingnya ada Bimo yang sedari tadi mengumpat karena bosnya itu begitu menyusahkan dirinya malam tadi. Bagaimana tidak karena suasana hati Seto yang bahagia ia memutuskan untuk berpesta ria dengan meminum sampanye sepuasnya tentu saja dengan mengajak Bimo asistennya.
Bimo begitu heran, Seto telah banyak berubah tadi malam ia mengamati bosnya itu. Biasanya sang Casanova itu selalu membawa wanita setiap kali meminum sampanye, namun tidak dengan malam tadi ia hanya meminta Bimo menemaninya, sebelum-sebelumnya, lelaki itu tak pernah menolak saat di tawari wanita untuk bermain di atas ranjang, namun demikian belum ada satupun wanita yang mampu memikat hati Seto kecuali Arini.
Bimo menyesap rokok dan membuang asapnya, Dia tertegun lalu sedetik kemudian ia tertawa " Dasar bucin. Budak cinta,"
Bimo terlonjak kaget, saat seseorang yang sedang ia bicarakan menyahuti perkataannya, seketika bulu kuduk Bimo meremang karena suara Seto begitu penuh ancaman.
"Bicara sekali lagi, ku patahkan lehermu!" ucap Seto dengan berpindah posisi tidur miring.
"Bim..tetap amati keadaan Arini, aku tidak mau kehilangan satu beritapun tentang dirinya!" Setelah mengatakan itu Seto kembali memejamkan matanya.
Bimo mengumpat dalam hati, bosnya itu sungguh merepotkan setelah menjadi budak cinta. "Menggelikan .." kata Bimo dalam hati.
Sementara Bimo beranjak untuk memenuhi perintah Seto. Bosnya itu kini sedang menikmati alam mimpi yang begitu indah karena dalam khayalannya ia sedang mencumbu Arini.
Bersambung....
mas Rico enaknya di apain ya?
yuk tulis di kolom komentar
like komen dan vote ya gengs 🥳🥳🥳
__ADS_1