
Langkah kaki Arini sudah sampai di pintu rumahnya yang berwarna putih itu, tangannya tergerak memutar kenop pintu dan terlihat sosok lelaki asing berdiri di baliknya.
"Maaf..siapa ya?" tanya Arini yang tak mengenali tamunya.
"Maaf mbak, apa benar ini kediaman bapak Rico?"
"Benar..ada apa ya pak?"
"Saya hanya mengantarkan paket, mohon di terima mbak, dan tolong isi tanda buktinya."
Arini meraih pena yang di berikan pak kurir, setelah ia mengisi tanda terima, kurir itu berpamitan pergi, Arini kembali menutup pintu seraya membawa kotak kecil yang katanya paket milik suaminya itu.
"Apa ya isinya? tumben sekali mas Rico membeli barang di online shop." gumam Arini dengan di penuhi rasa penasaran, namun sedikit pun ia tak memiliki hasrat untuk membuka kotak itu.
Ia kembali menaiki anak tangga menuju kamar untuk membaringkan Alana, anaknya itu tertidur pulas, jadi ia memiliki kesempatan untuk membersihkan dirinya sebelum Alana terbangun.
Ia meletakkan kotak itu di atas nakas, kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama, Seto telah sampai di hotel, lelaki itu memilih menginap di hotel daripada pulang ke rumah mamanya, ia merasa lebih bebas melakukan apapun, ia menaruh barang belanjaan di atas meja, lelaki itu membuka bajunya, hingga kini ia bertelanjang dada.
Seto merebahkan dirinya di kasur, membolak-balikkan tubuhnya. Ia mencoba memejamkan mata, namun pikirannya selalu terganggu oleh Arini. Bayangan wanita itu bermain liar di pikirannya.
"Kenapa aku jadi begini, ya? Apa aku sudah menjadi bucin istri orang, bahkan di pikiranku mengharapkan Arini segera bercerai dari suaminya."
"Seto, kamu ini laknat, istri orang kok mau di rebut," maki Seto pada dirinya sendiri.
Tangannya mengulur, meraih iPhone miliknya di saku celana, ia membuka daftar kontak di ponselnya, menatap dalam nama wanita cantik yang telah mengusik hatinya.
Baby Se. Namanya Arini bukan baby Se yang artinya sayangnya Seto.
"Biar sajalah, lagian pula tidak ada yang tahu, aku simpan nomor Arini dengan panggilan begini."
Merasa konyol pada dirinya sendiri, Seto meletakkan ponselnya di atas nakas, tapi belum genap satu menit ia kembali meraih benda pipih itu dan mengetikkan sebuah pesan.
__ADS_1
["Rin..aku kangen nih sama Alana, tanggung jawab dong." ] ~Seto.
"Padahal kangen juga sama mamanya, oh sialan." decak Seto.
Sambil menekan simbol enter di ponsel, menarik nafas panjang, ia ragu jika nanti pesannya ini membuat Arini ilfil.
Namun ia tetap mengirimkan pesan itu, Seto melirik jam di tangannya, " sudah sore, mana mungkin Arini stand by memegang ponselnya, pasti Alana juga sudah bangun."
Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja,. Ia begitu gelisah hanya menunggu Arini membalas pesannya membuatnya gundah gulana.
Menunggu itu menyebalkan, Seto yang selama ini tidak pernah menggunakan kata menunggu dalam hidupnya, kini ia baru merasakannya, tetapi entah mengapa dengan Arini ia merasa berbeda, menunggu balasan pesan saja sudah membuat jantungnya berdetak kencang.
Tring! Ponsel Seto berbunyi, notifikasi pesan masuk, secepat kilat Seto menyambar benda menyebalkan yang sejak tadi ia tunggu berbunyi itu.
"[Astaga mas..Alana harus bertanggung jawab bagaimana?"] ~Baby Se dengan emot tersipu.
"Hadeh baby Se..kamu nggak peka banget, aku minta tanggung jawab untuk mengobati rindu. Ya caranya dengan ketemu." gumam Seto dengan helaan nafas panjang.
[" Bisa saja mas Seto ini, nanti aku sampaikan kepada Alana, Sekarang dia masih bobok,"]~ Baby Se.
[" Katakan pada Alana, jangan membuatku menunggu terlalu lama untuk bertemu, aku bisa mati nanti jika Alana tak segera bertemu denganku."]~ Seto dengan emot tertawa.
Saling berkirim pesan saja membuat Seto lega, ia meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, sepertinya ia akan tidur nyenyak malam ini, hatinya bak bunga yang bermekaran, padahal cuma berkirim pesan sungguh ini hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Seto sangat bahagia, tentu ia tak akan melewatkan momen bahagianya begitu saja, ia kembali mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa pesan kepada Bimo, malam ini ia akan merayakannya.
Sedangkan di rumah, Arini merebahkan tubuhnya di samping Alana, ia tersenyum juga membaca ulang pesannya dengan Seto tadi, ia kemudian memeluk Alana, mengecup puncak kepalanya beberapa kali, ia membuka YouTube menonton drakor agar ia tidak mengantuk, hari masih sore, pamali bagi Arini untuk tidur.
Saat masih fokus menonton, panggilan telepon membuat ia sedikit kaget, "Mas Rico?" Arini menggeser tombol hijau dan segera suara di seberang sana terdengar.
"Paketnya sudah datang Rin? Itu sebagai permintaan maafku, oh ya..aku tidak pulang malam ini, tapi aku janji pagi-pagi sekali aku sudah ada di rumah."
"Hmm," Jawab Arini acuh, wanita itu masih enggan berbicara dengan Rico, jelas saja karena Arini masih merasa kesal.
__ADS_1
"Rin..,"
" Batreku habis mas," Kemudian Arini menekan tombol merah, pertanda ia mengakhiri panggilan itu.
Ia terpaksa berdusta kepada Rico, ia sangat kesal, rasanya ia ingin memaki suaminya itu, matanya menatap kotak kecil yang tadi ia letakkan di atas meja. Ia beranjak mendekati benda itu.
Setelah berhasil membukanya, Arini justru merasa semakin benci dengan Rico, untuk apa ia memberikan kalung permata, kalau hati suaminya itu sudah terbagi.
Merasa tidak berminat dengan hadiah yang di kirimkan Rico, Arini kembali meletakkannya, ia mendengus kesal Rico telah membuat suasana hatinya yang sudah sedikit membaik menjadi hancur lagi. Rasa sesak bahkan masih menggerogoti hatinya, tamparan Rico tadi bahkan juga masih terasa.
Sedangkan kejadian sebenarnya, setelah rico menatap foto dirinya bersama Arini dan Alana tadi, ada rasa penyesalan karena telah menampar pipi istrinya itu. Rico berpikir wanita menyukai barang mewah seperti kalung contohnya, untuk itu ia memesan Kalung lewat onlen shop, berharap istri pertamanya itu mau memaafkannya dan melupakan semua yang telah terjadi.
Ia memilih jasa kurir agar Clara tidak tahu, jika dirinya telah memberikan kalung untuk Arini. Tentu saja wanita itu akan berteriak padanya jika nanti dia tahu, kalau Rico tidak membelikan kalung untuknya.
Saat ini lelaki itu hendak bersiap pulang ke rumah Clara, ia tak ingin wanita itu membuat masalah kepada Arini, Rico sudah memprediksi jika dirinya pulang ke rumah Arini wanita itu akan berulah, untuk menghindari itu, Rico memilih jalan aman yaitu dengan tidur bersama istri mudanya itu.
Bukannya apa, ia tidak ingin saja Arini semakin marah, karena terusik akan Clara.
Sedangkan di sana Arini berada dalam dekapan kekecewaan, di sini Rico sedang ingin meneguk manisnya pergulatan.
Rico sepertinya melupakan, bahwa karma itu berlaku.
Bersambung....
Hayo siapa yang kesel sama mas Rico?
Siapa yang author juluki papa gadungan?
Tulis jawaban di kolom komentar ya..!
Like, komen dan vote ya ❤️
__ADS_1