
Rico masih berdiri di samping Arini, sedangkan wanita itu masih memunggunginya, "Rin..aku ingin kita berkumpul besok, kita sudahi perang dingin ini, Clara positif hamil, aku ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan untuknya."
"Lakukanlah semaumu!" ucap Arini.
Rico menatap punggung istrinya itu, dirinya ingin menanyakan perihal kedekatan dirinya dan pria tadi, dan mengapa mereka berdua tadi berfoto bersama terlihat begitu mesra." Rin..siapa laki-laki itu?"
Arini tahu maksud pertanyaan Rico." Hanya seorang teman yang merindukan Alana."
Rico tersenyum getir, " kamu seorang istri. Tidak seharusnya kamu mengajak pria lain masuk ke dalam rumah tanpa ijin dariku."
Arini terkekeh mendengarnya, Rico seolah tak sadar akan yang ia ucapkan. " Setidaknya aku tidak menyembunyikan sesuatu yang tau-tau bakal menjadi bom waktu, tidak seperti dirimu diam-diam nikah lagi, tidak tahu di untung!"
"Aku tidak pernah membayangkan pernikahan kita seperti ini, aku hanya mengharapkan keikhlasan hatimu, aku berharap kamu dapat menerima aku yang beristri lagi," tutur Rico.
"Kurang iklas apa lagi aku, mas. Aku sudah menerima semua kekasaranmu selama ini, kau menginginkan aku yang selalu mengalah?" Arini berbalik menatap tajam wajah Rico. " Otakmu dimana, pernah nggak buat memikirkan aku, bagaimana aku, pernah nggak kamu bertanya apakah aku baik-baik saja?"
Arini beranjak dari tidurnya, ia berjalan keluar kamar. Rico ikut menyusul Arini mengikuti istrinya itu yang menuju ke dapur, Rico meraih tangan Arini ia ingin berbicara lagi.
"Rin..maafkan atas semua kesalahanku yang telah menyakiti hatimu. Tapi aku mohon kamu jangan bermain api."
"Hahaha bermain api katamu." Arini tertawa mendengarnya. " Aku bukan penghianat seperti dirimu, jikapun aku menginginkan pria lain menjadi kekasihku, akan ku pastikan kita sudah tidak memiliki ikatan lagi," ucap Arini dengan suara meninggi.
Plaakk!
Seto menampar pipi Arini, lelaki itu sangat geram akan ucapan istrinya itu, "cukup!" kata Rico. "Apa kamu sadar suaramu meninggi padaku dimana sopan santun mu sebagai istri?"
Arini mengepalkan tangannya, " aku sadar bahkan sangat menyadarinya, aku ingin kita segera berpisah!"
Rico meraih bahu istrinya, " Rin ..apa kamu tidak kasihan kepada Alana?"
Arini menepis kedua tangan Rico, dengan geram ia menunjuk wajah Rico " kamu...kamu yang tidak kasihan kepada Alana, kamulah yang mengkhianati diriku begitu juga Alana."
__ADS_1
Rico mengusap wajahnya kasar, " Rin.. sebagai suami aku berhak bertindak tegas kepadamu, terlebih kamu telah keterlaluan membawa pria lain masuk tanpa ijin dariku, kali ini aku memaafkan kamu,"
Setelah mengatakan itu Rico melangkah menuju pintu keluar. baru hendak memutar kenop pintu Arini berteriak di belakangnya.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan menyesal pada akhirnya," pekik Arini.
Rico tak memperdulikan teriakan Arini dirinya berlalu dari sana meninggalkan Arini dengan sejuta kekesalan di dadanya.
Selama ini Arini sudah cukup mengalah padanya, namun Rico tak berperasaan selalu memintanya memahami, dan mengerti, jelas saja hal itu semakin menyakitkan bagi Arini dan menciptakan kerenggangan hubungan di antara suami istri itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sesampainya di gedung perkantoran, Seto lekas masuk ke ruangannya, di sana ada bapak direktur gadungan yaitu Bimo. Bimo menduduki kursi itu juga karena ulahnya. Bimo sempat kaget dengan kedatangan Seto yang tiba-tiba itu.
"Bos Se… Ketuk pintu dulu kalau masuk," ucap Bimo kaget.
"Ini kantor punyaku, terserah aku mau masuk kantor tanpa mengetuk pintu," sahut Seto seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa dalam ruangan itu.
Bimo yang memperhatikan itu hanya berdecak dalam hati, dirinya sudah bisa menebak apa yang sedang membuat bosnya bahagia itu, "dasar bucin." kata Bimo dalam batin.
Seto menyengir. " Bim..Tidak lama lagi Arini kayaknya bakal minta cerai sama suaminya. Bim buat supaya mereka segera bercerai!"
Bimo menggeleng, untuk kali ini dirinya sedikit tidak setuju dengan apa yang di ucapkan bosnya barusan. Sahabat sekaligus bosnya ini sudah terlalu berambisi merusak rumah tangga orang.
Seto melirik Bimo yang menampilkan ekspresi wajah tidak setuju. " Kenapa? Apa aku salah? Walaupun kau mengatakan aku salah tidak akan diriku mundur!"
"Bos Se..sang Casanova pujaan semua wanita. Untuk saat ini biarkan semua mengalir seperti air, Arini lambat laun juga akan mengambil keputusan, jadi jangan sampai julukan pebinor di cap ke diri bos Se." Bimo memberikan pendapat untuk bosnya itu.
Bimo mengingatkan Seto supaya tidak terlalu berambisi, ia hanya menyayangkan jika gelar sang Casanova berganti nama dengan pebinor walaupun kenyataannya memang benar Seto sedang merencanakan menjadi pebinor. Bimo mempertimbangkan konsekuensi belakangnya bisa saja nanti Rico akan memutar balikkan fakta, meskipun saat itu rumah tangga Arini dan suaminya memang tidak baik-baik saja.
"Terus…apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Seto.
__ADS_1
"Tenang, kalem, kuasai bos Se. Jangan sampai dirimu di tuduh sebagai penyebab retaknya rumah tangga mereka," ujar Bimo.
"Aku sudah tidak sabar," Seto tampak berpikir. "Kita habisi saja suami Arini itu." ucap Seto.
" Terlalu berlebihan itu Bos. Bos Se..kalau kita menghabisi nyawa suami Arini, jalanmu seterusnya akan banyak masalah. Sudahlah..apa yang Bos Se cemaskan? bukankah apapun yang Bos Se inginkan akan Bos Se dapatkan?!" tutur Bimo.
Seto menghela nafas, ia bangkit dari sofa dan kembali ke mejanya. Bimo hanya bisa membatin sahabatnya itu telah berubah, dirinya sudah tidak bermain wanita, tapi malah tergila-gila pada istri orang.
"Apa yang kau pikirkan direktur gadungan? kembali ke tempatmu!" ucap Seto dengan menahan senyum saat mengusir Bimo.
" Bedebah!" ucap Bimo pelan namun suaranya masih terdengar oleh Seto.
"Siapa yang bedebah?"
Bimo terlihat pucat, "sialan..kenapa harus denger sih." kata Bimo dalam hati. " Tidak bos apakah kau tidak menyuruhku mengintai Arini?"
Seto menggeleng dan Bimo kembali fokus pada tugasnya, lelaki itu berjalan menuju mejanya yang satu ruangan dengan Seto itu. Mereka terlihat fokus pada tugasnya masing-masing.
Sementara itu Clara yang telah berbohong kepada Rico sedang mencoba berpikir bagaimana agar kebohongannya tidak terbongkar, wanita itu sudah sampai di rumahnya, ia juga telah mengabari kepada Rico dirinya tidak jadi menginap di rumah temannya. Setelah pergulatan panasnya dengan pria yang sekaligus rekan kerja Rico tadi Clara tak berhenti cemas, apalagi Rico terlihat marah dan curiga kepadanya tadi.
Saat ini mobil Rico telah sampai di rumah Clara, wanita itu segera membuka pintu dan menyambut kedatangan suaminya, ia merentangkan kedua tangannya menyambut Rico kedalam pelukan.
"Sayang..maafkan aku," ucap Clara manja.
Rico hanya diam, melepaskan pelukan Clara dan berjalan acuh musik kedalam rumah.
Saat punggung Rico telah lenyap dari pandangan Clara mengumpat, " Sialan! Bisa-bisanya dia mengacuhkanku."
Kemudian wanita itu ikut menyusul masuk ke dalam rumah.
Bersambung……
__ADS_1
cuma sekedar mengingatkan aku minta uang parkir dengan cara like komen dan vote ya gengs 🥳❤️