Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 110.


__ADS_3

Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba seseorang memanggilnya membuat langkah Rico yang sedari tadi mondar-mandir pun terhenti sejenak, ia membalikkan badan untuk melihat ke sumber suara.


Dada Dea bergemuruh, antara bingung, takut, dan canggung bercampur menjadi satu saat dengan sengaja ia memanggil ayah biologis dari anak yang di kandungnya saat ini.


"Hai... Rico." Dea menyapa dengan canggung, saat kini tubuhnya tepat berada di depan lelaki itu, semua kata yang telah ia rancang sedari semalam mendadak buyar, setelah bertemu dengan orangnya langsung.


"Dea? sedang apa kamu di sini?" 


"Ah..anu." menyebalkan memang, semua kata yang telah ia persiapkan malah mendadak hilang dari ingatan, antara bingung dan malu untuk memberi tahu kehamilannya, walaupun ia tidak akan meminta tanggung jawab ia hanya ingin memberitahu saja, bahwa Rico adalah ayah biologis dari anaknya.


Rico masih menatap bingung ke arah Dea, ia menaikkan alisnya dan menunggu jawaban dari wanita yang saat ini terlihat kebingungan itu. " Sedang apa kau di sini? Apa kau sengaja mencari ku?" tebak Rico.


"Ya. Memang aku sedang mencarimu." celetuk Dea.


" Ada apa kau mencariku? apa kau ingin mengajakku untuk merecoki rumah tangga Arini dan Seto lagi?" 


"Tidak. Aku sudah tidak ingin melakukannya."


"Lalu?" 


"Rico.."


"Hmm..." Rico semakin di buat penasaran, karena sedari tadi Dea belum mengatakan tujuannya itu, "eh.. memangnya kau sedang menunggu siapa?" tanya Dea berbasa-basi, ia menatap ruang operasi yang lampu indikatornya masih menyala itu.


"Aku bingung menyebutnya apa?" 


"Kenapa bisa begitu?" Dea bertanya, lalu ia melihat kursi tunggu segera ia mendudukkan dirinya di atas kursi besi itu, Rico yang melihat lalu mengikutinya, dengan duduk di samping Dea.


"Dia istriku..tapi siri, lalu dia meninggalkanku karena aku telah mengkhianatinya, rumit sekali jika aku menceritakannya lebih jauh." 


"Apa? Lalu sekarang dia sedang sakit apa?" 


"Kanker serviks." Kata Rico lalu ia menatap Dea lagi " kau belum mengatakan apa tujuanmu menemuiku." 


"Aku hamil anakmu!" setelah mengatakan itu, Dea memalingkan wajahnya, namun ada perasaan lega setelah ia mengatakannya kepada Rico.


Mendengar pernyataan Dea, wajah Rico menjadi serius, ia begitu terkejut dan menatap Dea dengan tatapan tajam.


"Yang benar saja? Aku hanya melakukannya sekali tidak mungkin membuatmu hamil."

__ADS_1


"...."  Dea kesal.


"Lalu? Kau mau meminta pertanggung jawabanku?" tebak Rico, ternyata tujuan wanita ini menemuinya untuk mengatakan kehamilannya, pantas saja Dea sangat terlihat bingung sedari tadi.


"Tidak akan!" 


"Lalu? untuk apa kau menemuiku..dan memberitahukan kehamilanmu padaku kalau tidak mau minta tanggung jawab?"


"Aku hanya ingin memberitahumu saja tidak lebih, karena setelah melahirkan anak ini aku akan menyerahkannya padamu."


"Tidak!" Rico menolaknya dengan lantang tanpa ragu sedikitpun.


"Apa??" 


"Apa kau gila? Kehidupanku saat ini sangat sulit, di tambah untuk mengurus seorang bayi kau sengaja ingin membuatku semakin susah."  Rico sangat marah saat mengatakannya.


"Kau yang gila! Ini adalah darah dagingmu, jangan mau enaknya saja dong giliran di suruh ngerawat anak ngeluh. Kamu pikir aku mau dalam perutku ada anak seperti ini apalagi dari pria brengsek sepertimu." Dea tak kalah kesalnya, jelas-jelas ia bisa seperti ini karena kejadian mengaduk semen yang lalu bersamanya.


"gugurkan saja anak itu!" 


"Apa???" 


"Dokter.. bagaimana keadaan pasien ?" 


"Anda..?"


"Saya keluarganya." jawab Rico cepat.


"Mari ikut saya pak, akan saya jelaskan di ruangan saya." Rico mengangguk, ia mengikuti langkah dokter, Dea yang di tinggalkan begitu saja merasa kesal, ia pun juga tidak sudi jika harus menunggu lelaki brengsek itu, Dea memilih untuk meninggalkan rumah sakit itu walaupun dalam rasa ketidakpuasan atas tanggapan dan jawaban dari Rico ia akan menemuinya di lain hari.


Malam harinya...


Seto baru saja pulang dari kantor, kedatangannya di sambut hangat oleh Arini yang menggendong Galang, serta Alana yang tengah asyik bermain Barbie di ruang tengah.


Setelah beberapa saat, Seto memberikan kecupan singkat untuk anak dan istrinya, tak lupa ia juga menghampiri Alana dan mengusap lembut puncak kepala anaknya itu serta memberikan ciuman singkat juga, rasanya Seto adalah lelaki paling beruntung karena di anugerahi istri dan kedua anak yang komplit yaitu laki-laki dan perempuan, walaupun Alana bukanlah darah dagingnya, rasa cinta dan kasih sayang pada gadis itu sama besarnya seperti ia mencintai Galang putra kandungannya.


Menikmati secangkir teh dengan di temani anak istri membuat rasa lelah karena seharian bekerja  seketika lenyap, Seto seolah mendapatkan transferan energi secara alami.


Seto tidak pernah menyembunyikan apapun dari Arini, seperti saat ini ia menceritakan tentang apa yang ia alami di kantor tadi.

__ADS_1


"Mah..apa kau tahu aku bertemu siapa hari ini?" tanya Seto pada istrinya.


"Tidak tahu mas..kan aku di rumah." jawaban polos Arini membuat Seto tertawa.


"Astaga..bukan seperti itu."


"Hehe...iya, memangnya siapa yang kau temui mas?" tanya Arini antusias seraya menepuk-nepuk pelan pantat Galang.


"Dea.."


"Hah... terus?"


Belum sempat Seto memberikan jawabannya, Galang yang berada di gendongan Arini mendadak menangis, dengan cepat Arini meminta ijin untuk menidurkan anaknya terlebih dahulu, sementara Alana ia di pasrahkan kepada pengasuh seperti biasanya.


Setengah jam berlalu kini Seto telah memakai pakaian tidurnya, setelah ia membersihkan diri tadi, Arini juga terlihat sudah berhasil menidurkan Galang.


" Lihatlah Galang sangat tampan sekali saat tertidur sama seperti dirimu mas." puji Arini. Seto tersenyum, lalu dengan rasa percaya diri yang semakin tinggi Seto menjawab. "Tentu saja siapa dulu papanya."


Arini menggelengkan kepalanya, melihat suaminya yang terlalu percaya diri rasanya ia menyesal telah memuji suaminya itu.


"Sayang..kemarikan.. biar aku letakkan Galang di atas baby box."  


Seto dengan hati-hati memindahkan anaknya itu dari kasur, Ia meletakkan putra kecilnya itu dengan hati-hati supaya tidak terbangun. Lalu ia merangkak kembali ke tempat tidur menghampiri istrinya.


"Galang telah merebut semua yang sebelumnya menjadi milikku." Seto melirik Arini, meletakkan kepalanya di atas dada wanita itu dengan sangat manja.


"Astaga..kau cemburu dengan putramu sendiri."


"Tidak, mana ada aku cemburu. Tapi sekarang aku tidak bisa menyesap ini." ucap Seto seraya menunjuk dua gundukan kenyal yang kini terlihat lebih besar karena Arini menyusui.


" Astaga..papa yang tidak mau mengalah dengan anak, Galang masih kecil dia sangat membutuhkan ini daripada kamu mas," Arini tertawa.


"ssttt...jangan keras-keras nanti Galang bangun,"


Arini sadar, lalu ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, "oh ya, tadi soal Dea gimana ceritanya mas?" 


"Oh..jadi begini..." 


Bersambung.....

__ADS_1


jangan lupa like komen rate dan vote


__ADS_2