Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 25.


__ADS_3

Seto meninggalkan kantornya begitu saja dengan senyuman yang sedari tadi tak lepas dari bibirnya. Bimo begitu polos membuatnya tertawa terbahak-bahak tak berhenti membayangkan eksepsi wajah asisten sekaligus sahabatnya tadi.


Mobil sport yang di kendarai Seto melenggang santai membelah jalanan kota x yang tidak begitu padat, ia berhenti di toko roti. Ia turun dari mobilnya pesona sang Casanova selalu menonjol membuat setiap wanita terpikat di buatnya.


Saat berhenti di kasir, ia memasang senyum yang mematikan bagi siapapun yang melihatnya, contohnya mbak kasir yang sedang menatap kagum wajah seorang lelaki yang berada di hadapannya kini.


"A..da, yang bis-a anu aku mas?" ucap mbak kasir itu belepotan, ia terlalu kagum dengan mahluk ciptaan Tuhan yang mempesona ini.


Seto terbahak, "bagaimana mbak?" 


Menyadari kekeliruannya berbicara mbak kasir itu segera menutup mulutnya, mengutuki kebodohannya yang telah gugup di depan pembeli.


"Maaf.. maksud saya, ada yang bisa di bantu mas?" jawab wanita itu kemudian dengan menahan malu.


Seto mengetuk-ngetuk meja kasir, Ia membuka kaca mata yang membingkai netra coklatnya. " Boleh lihat menu mbak?" ucap Seto dengan ramah.


Suara keramahan Seto membuat siapapun yang mendengar meleleh, bagaimana tidak, pria tampan, mapan, sexy, berkelas, tiada kecacatan sedikitpun jelas membuat setiap mata akan terpesona padanya.


Wanita itu menyodorkan menu, Seto menerimanya lalu membolak-balikkan daftar menu itu. Setelah beberapa saat ia mengatakan apa yang ingin dia beli.


"Mbak pesan kue Madeleines, black forest, hmm..apa lagi ya, satu lagi tres leches."  ucap Seto lalu menyodorkan kembali menunya kepada mbak kasir.


Wanita itu telah mencatat apa yang di pesan Seto, lalu ia pun berkata "Baik.. tunggu sebentar akan kami siapkan."


Seto mengangguk, ia kemudian menunggu sambil duduk di kursi yang telah di sediakan. Sedangkan ia menunggu wanita yang berada di dalam toko hampir seluruhnya membicarakan ketampanan Casanova itu, mulai ada yang mengahalu menjadi pacarnya, bahkan yang parah menjadi istrinya, sungguh konyol bukan.


Kurang lebih dua puluh menit pesanan Seto telah siap, lelaki itu mengeluarkan dompet dan mengambil kartu black card dan memberikannya, kartu itu diterima pegawai toko dan tak butuh waktu lama ia telah menyelesaikan pembayaran.


Sepeninggalan Seto, semua pegawai toko tak berhenti membicarakannya.


Mobil sport itu melenggang menuju rumah Arini, ya dirinya ingin mengunjungi rumah Baby see nya itu. Meninggalkan pekerjaan kantor dan menyerahkannya kepada Bimo tanpa ada  rasa penyesalan sedikitpun sungguh Cinta membutakan dirinya.

__ADS_1


Ia mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Arini, isi di dalamnya adalah mengajak bertemu dengan alasan merindukan Alana. Hatinya melonjak kegirangan saat balasan pesan Arini menyetujui permintaanya.


Ia kemudian mengatakan akan menjemput wanita itu beserta Alana namun wanita itu memintanya untuk bertemu di taman saja, tidak mungkin juga baginya bertamu di rumah Arini, nantinya akan menyusahkan wanita itu karena kebiasaan tetangga itu suka menggosip tanpa mengetahui kebenarannya. Itu yang di hindari Seto.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan. Sudah lima belas menit berlalu akhirnya ia telah sampai di taman tempatnya janjian dengan Arini. Cuaca yang tidak begitu terik dan terlihat sejuk itu seolah merestui keinginannya menjumpai wanita idamannya itu.


Seto turun dengan membawa beberapa tenteng plastik berisikan kue yang ia beli tadi di toko. Sosok Arini telah ia temukan, lelaki itu tersenyum kala melihat sang pujaan hati sedang bercengkrama dengan putrinya.


"Arini...," Seto berteriak memanggilnya, dengan melangkah menghampiri.


Arini menoleh ketika namanya di panggil seseorang, ia menyahuti dengan lambaian ketika menangkap sosok Seto yang berjalan ke arahnya.


Lelaki itu sedikit terengah ketika sampai di hadapan Arini, Seto menghampirinya dengan sedikit berlari karena ia sudah tidak sabar ingin lebih dekat dengan Arini. Sedangkan wanita di hadapannya tertawa kecil menanggapi kelakuan Seto.


"Hai om.." ucap Arini ia memperagakan seolah Alana yang sedang menyapanya.


Seto tersenyum, ia menaruh barang bawaannya di kursi di hadapannya, ia meraih Alana yang saat ini di gendongan Arini. "Putri kecil yang menggemaskan," ucap Seto dengan menciumi wajah Alana dengan gemas.


"Lah..kok malah nagis nak," ucap Arini mengambil alih Alana untuk ia gendong.


Seto ikut terkekeh, "lah..Alana ini tidak tau orang kangen kalau ketemu ya pasti gemas," 


"Terlebih pada mamamu Lan.. sungguh ingin rasanya aku menciumi mamamu dengan gemas seperti aku menciumimu tadi," ucap Seto dalam hati.


Lalu Seto tersadar akan kue yang ingin ia berikan kepada Arini, "oh..ya Rin. Ada kue buat kamu dan Alana," ucapnya seraya melirik ke arah kantong plastik itu.


"Oh..?" Jawabnya singkat.


"Hmm benar-benar ya manusia satu ini," gerutu Seto dalam hati.


"Rin..kalau suamimu melihat kita bertemu apa yang akan kamu katakan?"

__ADS_1


Seketika Arini terdiam, Seto baru saja memberi sebuah pertanyaan yang membuat Arini sulit menjawab. " Aku tidak akan mengatakan apa-apa." 


"Kamu.." ucapan Seto terputus, " sebenarnya aku masih penasaran kenapa pas malam-malam itu kamu menelfonku?" 


Arini refleks menatap Seto, ia terlihat cukup terkejut mendengar pertanyaan Seto, namun beberapa saat ia menjawab pertanyaan Seto.


"Lupa aku mas." 


Seto kemudian manggut-manggut, kini Alana sudah kembali ceria seperti tadi, putri kecil itu manatap Seto mengamati, Seto yang di tatap seperti itu hanya melambaikan tangan dan meraih Alana kembali.


Alana tertawa terbahak-bahak saat dagu Seto menggelitiki perut mungil gadis itu, Arini yang menyaksikan ikut tersenyum di buatnya, sungguh momen yang sama sekali tak pernah di dapatkan Alana dari papa kandungannya sendiri.


"Kau menyukai anak kecil mas..?" Pertanyaan Arini menghentikan kegiatannya.


Arini mengeser plastik yang di bawa Seto tadi, karena lelaki itu terlihat ingin duduk memangku putrinya. "Tentu.." jawab Seto kemudian.


"Kenapa tidak memutuskan untuk menikah mas? Kan..nanti memiliki keturunan." Arini mempertanyakan ini dengan polos tanpa menyadari bahwa Seto masih melajang karena mengharapkannya.


"Bisa di pikir kapan-kapan." jawab Seto seraya terbahak. Ia kembali menggelitiki Alana hingga bocah itu terlihat bahagia, gelak tawanya mengundang perhatian orang-orang di sana. Banyak yang ikut senang mendengar suara balita yang sedang tertawa karena ulah Seto, di pikiran mereka adalah ayah yang sedang gemas- gemasnya dengan sang buah hati.


"Calon sudah ada mas?" 


"Sudah. Saat ini aku sedang menunggunya untuk menjadi milikku." jawaban Seto membuat wanita itu seolah memahami akan jawaban yang di ucapkan.


"Semoga cepet nikah ya mas," doa Arini.


"Astaga..kalau aku kamu doakan cepet nikah.. berarti aku harus lebih giat mendekatimu dan mendoakan perceraianmu, siapa yang berdosa di sini coba?" ucap Seto dalam hati.


Seto hanya tersenyum kaku, Arini sungguh tidak peka. Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu bersama yang jelas di rumah Rico sedang terlihat marah karena tidak menemukan keberadaan Arini dan Alana.


Bersambung......

__ADS_1


sekedar mengingatkan jangan pelit, like komen dan vote 🥳🌹


__ADS_2