Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 113.


__ADS_3

Setelah bunyi tabrakan yang cukup keras, membuat kerumunan dan juga kemacetan di jalan itu, kurang lebih dua belas menit suara gaduh dari sirene ambulance membuat kerumunan itu memberikan jalan. 


Dan para medis darurat segera bergegas membantu Dea yang terluka serta mengangkatnya ke tandu.


Ambulance melaju kencang menuju rumah sakit dan Dea di bawa ke unit gawat darurat.


Salah seorang dokter berkata kepada suster setelah memberikan pertolongan pertama untuk Dea,  " tolong hubungi keluarganya, untuk datang dan menandatangani surat."


"Baik."


Berita kecelakaan Dea telah masuk di berita utama,  Rico yang baru mengetahuinya dari layar ponsel mendadak panik, padahal satu jam yang lalu ia berdebat dengan wanita yang ada dalam berita sekarang.


Sementara Dio, beserta Seto para bisnisman muda yang selalu update berita itu dengan cepat mengetahui berita kecelakaan tentang Dea, Dio terkejut sedangkan Seto dan Bimo belum dapat melihat secara langsung kondisi Dea karena saat ini masih acara pernikahan Bimo, tidak mungkin para tamu dan relasinya di tinggal begitu saja.


Sementara Dio, lelaki itu bergegas menuju rumah sakit setelah membicarakan dan berpamitan kepada Seto dan Bimo.


Sesampainya di rumah sakit, Dio berjalan ke arah resepsionis ia bertanya tentang korban kecelakaan yang baru saja masuk ke rumah sakit ini, suster mengatakan setelah di lakukannya pemeriksaan, kini Dea masih di ruang UGD karena dokter masih menunggu persetujuan dari pihak keluarga pasien untuk melakukan operasi.


Dio mengikuti staf medis dan kini ia telah sampai di depan ruangan, tepat pada saat itu dokter keluar lantas Dio pun bergegas bertanya " Dokter bagaimana keadaannya?" 


" Akankah dia baik-baik saja?" Dio sangat cemas.


"Situasi sekarang, belum dapat di ketahui sampai seluruh tubuhnya di periksa, apakah anda suaminya?"


"Dia akan menjalani operasi nanti untuk pengeluaran janin. untuk itu saya menunggu persetujuan dari keluarga pasien untuk menandantangani surat, kami tidak dapat melakukan operasi tanpa persetujuan pihak keluarga pasien karena ini sudah prosedur rumah sakit." 


"A-apa? janin? Jadi pasien sedang dalam keadaan hamil?" 


"Benar pak? Apakah anda bukan suaminya? Oh..maaf, tadi saya mengira anda suaminya."


"S-saya, temannya dok."


"Lakukan saja operasi itu dok, saya yang akan bertanda tangan."


"Mohon maaf, kami tidak dapat melakukan operasi kepada pasien hanya dengan tanda tangan anda, karena itu tidak akan berlaku untuk kasus ini."

__ADS_1


"Baik." 


Dio menelepon Seto dengan ponselnya, mengabarkan apa yang baru saja di dengarnya, setelah itu ia menunggu di luar ruang unit gawat darurat.


Dea segera di bawa untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut, Dio mengikutinya sepanjang jalan dan tidak mempunyai waktu untuk memikirkan mengapa Dea dalam kondisi hamil dan siapa suaminya.


Untuk waktu yang lama, kata-kata dokter menggema di pikirannya. Dio membeku sembari memegang kuat ponselnya, memikirkan ini Dio merasakan sakit. Namun ia hanya dapat memendamnya saja dalam hati, lalu ia kembali duduk di kursi tunggu sembari menunggu kedatangan Seto.


Dio merasa, tidak ada gunanya ia memikirkan siapa suami dari Dea sekarang, yang terpenting adalah keselamatan wanita itu. Selain ia tidak tahu siapa suaminya dan bagaimana ia dapat menghubunginya, ia Lebih memilih Seto untuk ia ajak rundingan perihal Dea, yang mereka tahu Dea selama ini tidak memiliki keluarga.


"Apakah Dea baik-baik saja?" tanya Seto yang baru saja tiba.


Dio berdiri dari duduknya, "seperti yang aku katakan di telepon tadi, Dea membutuhkan tanda tangan dari keluarga untuk tindakan operasi pengeluaran janin." 


Seto berpikir keras, setelah kejadian itu ia tidak menyangka Dea telah hamil, dan parahnya lagi ia tidak mengetahui siapa suaminya. 


Meskipun janin yang di kandung Dea harus meninggal dan di keluarkan. Seto sedikit lega setidaknya wanita itu masih ada harapan untuk hidup. 


Sejak beberapa bulan yang lalu Dea meminta padanya untuk tahu keberadaan Dio dan Seto menolaknya, setelah itu ia tidak pernah mendapatkan telepon lagi dari wanita itu, atau bertemu dengannya secara langsung untuk itu ia begitu terkejut saat mendengar kabar Dea hamil bahkan usia kandungannya sudah enam bulan.


Setelah Seto bertanda tangan dan bertanggung jawab untuk operasi Dea, dokter pun segera melakukan tugasnya. karena Seto adalah orang yang terkenal di kota ini jadi dokter tidak ada keraguan jika Seto yang bertanggung jawab untuk bertanda tangan.


Beberapa jam telah berlalu keesokan harinya.


Seto merasa begitu lelah, jadi setelah tinggal di kamar perawatan Dea sebentar, Seto berpamitan kepada Dio untuk pulang.


Operasi berjalan dengan lancar, saat ini Dea juga sudah melewati masa kritisnya. Dio menemani Dea dan memberikan bubur yang di berikan oleh rumah sakit. seperti biasanya orang sakit memiliki nafsu makan yang buruk, jadi Dea hanya makan sedikit tetapi setelah makan dia mendapatkan energi.


Setelah itu dia tertidur lagi karena efek obat.


Dio Belum bertanya apapun kepada Dea, wanita itu juga belum mengatakan apapun ia hanya memiliki tatapan kosong jadi Dio mengubur rasa ingin tahunya itu demi kestabilan kesehatan Dea.


Dokter juga belum memberi tahu hasil pemeriksaan terkini, setelah Dea tertidur lelaki itu bermaksud untuk duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan.


"Dio..?" Dea membuka matanya dengan wajah yang masih pucat.

__ADS_1


Dio menjawab dan memaksakan senyum " jangan terlalu keras untuk berbicara, sebaiknya kau tidurlah." 


"A-aku.."


"Kamu istirahat lah, aku akan pulang sebentar untuk mandi dan mengganti bajuku." Dio berkata sembari mengusap-usap bajunya. Itu hanya alasan baginya untuk keluar dan tidak terlalu banyak bicara, tapi Dea tidak melarangnya dia mengangguk dan membiarkannya pulang.


Dio telah pulang untuk sementara waktu, Dea menyadari ada jarak yang membuat Dio tidak dapat berbicara banyak lagi padanya. Sebenarnya tadi ia ingin berbicara lebih banyak padanya tetapi Dea hanya mampu berbaring di ranjang dan tidak dapat mencegah kepergiannya terlebih dia tidak bisa bergerak.


Telepon di sampingnya berbunyi, namun itu bukanlah ponselnya. Melainkan itu milik Dio.


Sudah berulang kali ia mengabaikannya, tetapi teleponnya tetap saja berdering, kemudian dia berjuang untuk meraih telepon dan melihat layar, cahaya di matanya menjadi redup tiba-tiba.


Nama yang tertera " wanita itu".


Siapa wanita ini? Apakah dia pacar Dio? Atau dia adalah wanita yang akan menjadi istrinya?.


Merasa hatinya sakit, Dea dengan hati-hati menyentuh tombol penjawab detik berikutnya telepon telah terhubung.


"Halo kak, kamu di mana?" 


"Hei kak..kenapa kakak diam saja?" 


"Apakah kamu pacarnya? Aku bukan Dio." jawab Dea.


Di ujung lain, penelpon itu menjadi kosong, berkedip dengan mata yang sipit untuk waktu yang lama. Lalu berkata " jadi..ini siapa?" 


"Aku Dea, teman Dio."


"Lalu kak Dio dimana?" 


Belum sempat Dea menjawab, seseorang telah berdiri di ambang pintu kamar rawatnya. Dea sangat terkejut lalu..


Bersambung.....


jangan lupa dukungannya biar aku makin semangat update 🌹

__ADS_1


__ADS_2