
Rico tampak mengerutkan kening, sepertinya dia cukup tidak puas dengan pertemuan malam ini, apalagi setelah percakapannya dengan Aji tadi di telepon yang membuat dirinya harus menahan amarah agar tidak gegabah memaki Clara hingga mengakibatkan wanita ini pergi nantinya.
Rico semakin tidak terlihat bahagia saat mendengar ucapan Clara " Aku rasa, sudah benar kita tinggal terpisah, aku dan kau harus memiliki tempat tinggal sendiri-sendiri, selain itu aku memikirkan inilah yang terbaik untuk saat sekarang."
Clara benar-benar telah memikirkannya, bahkan di setiap pengucapan kalimat yang ia lontarkan terdengar lancar dan penuh keyakinan. Dia tidak ingin terikat dengan lelaki ini lagi, perasaannya kini tidak sama lagi, ia sudah bisa legowo menerima semuanya.
Clara tidak sepenuhnya terikat dengan Rico, ia tidak ingin mengandalkan Rico lagi. Dia takut jika kembali akan kecewa dan terluka seperti beberapa waktu sebelumnya. Dan pastinya itu akan membuatnya menjadi semakin membenci Rico.
"Apanya yang baik?" Rico menatap Clara dan diam sejenak. Lalu berkata "aku ingin kamu tetap bersamaku, walaupun aku sekarang telah tau skandal dirimu bersama Aji."
Raut wajah Clara mendadak terkejut, apa yang baru saja di ucapkan Rico barusan? Ia sudah mengetahui skandalnya dengan Aji? Apakah lelaki sialan itu telah membeberkan segalanya? Pertanyaan itu seketika memenuhi otak Clara.
Rico mendinginkan wajahnya saat Clara beberapa kali terlihat ragu-ragu menatapnya "Apa yang kamu tatap?"
Clara tertawa, "Tidak apa-apa, aku rasa kau mengetahuinya atau tidak, bukan menjadi masalah lagi kan, toh.. dirimu juga sama bejatnya seperti ku."
Wajah Rico benar-benar mendukung, memang Rico telah mengkhianati Clara, tetapi jika di ingat skandalnya dengan Aji itu lebih dulu ketimbang kebusukannya terbongkar kemarin, lalu mengapa wanita ini merasa tidak bersalah sama sekali?.
"Kau mengajakku ketemu, malam ini hanya untuk memberi tahu hal ini?" Clara melirik Rico pada saat ini, " sebenarnya tidak perlu ada yang kita bahas, untuk di pertimbangkan lagi mas, bukankah lebih baik jika kau bebas aku pun bebas kita tidak sama-sama terikat, jadi jika kita melakukan hal hubungan badan dengan orang lain tidak akan ada drama hati tersakiti kan..?"
"Aku tidak memahami jalan pikiranmu." Rico berkata dengan nada kecewa, dia merasa wanita ini benar-benar membingungkan dan membuatnya sangat kesal.
Mata Rico yang dalam menatap mata Clara, dan ambisi yang ada di dalam lubuk hatinya tidak bisa di patahkan begini saja, dia membungkuk dan mencium bibir Clara dengan tiba-tiba.
Posisi mereka ada di rumah sekarang, jadi mau melakukan apapun rasanya bebas bukan, siapa yang akan melarangnya toh, ini di rumahnya sendiri.
Clara tiba-tiba mengerti, dalam hidupnya dirinya juga sama brengseknya seperti Rico, sama-sama bisa dan mau mereguk kenikmatan dari yang lain, hanya untuk menuruti hawa *****.
"Jika kau berpikiran untuk pergi dariku lagi, seharusnya itu menjadi pertimbangan besar dalam hidupmu. Hanya aku. Cuma aku yang pantas memilikimu." Ucap Rico setelah ciuman mereka selesai.
__ADS_1
"Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri," Clara masih bersikeras, ia tidak mau pertahanan yang ia bangun di runtuhkan begitu saja.
"Jadi kau tetap pada keinginan dan pendirianmu sendiri? Rico sangat tidak senang dengan jawaban Clara.
Clara mengangguk dengan jujur, "tentu saja, aku berhak melakukan apa saja untuk hidupku sendiri, terlebih kita hanya nikah siri, tidak perlu perceraian ke pengadilan seperti Arini dulu."
Rico sangat marah dan menunduk.
Clara menyadari perubahan raut wajah Rico, sebenarnya ia sedikit takut, kalau-kalau nanti Rico melakukan hal yang tidak semestinya ketika marah, bisa saja kan.. lelaki ini kalap dan menghajarnya. Ia memberanikan diri untuk menatap wajah yang sedang suram itu, benar saja Rico sangatlah marah padanya, terlihat mata itu penuh dengan kilatan emosi.
Clara menghilangkan rasa takutnya dengan meminum sampanye yang berada di meja, ia tidak bisa menahan untuk tidak bertanya kepada Rico, " kau marah sama aku?"
Rico mengangkat kepalanya untuk menatap sosok yang baru saja memberikan pertanyaan, dengan lantang dan tegas serta aura dingin yang di tampilkan ia pun menjawab hanya satu kata yaitu "tidak."
Menurut Rico, wanita ini benar-benar tidak bisa introspeksi diri, sudah benar dirinya mau menerimanya dengan lapang dada, setelah skandalnya dengan Aji terbongkar, masih saja Clara bersikukuh pada pendiriannya meminta pisah, wanita yang sangat bodoh. Semakin banyak Rico berpikir semakin kesal dia.
Saat ini juga Rico merasa mengantuk, namun rasa kantuknya dan depresi akibat kehilangan pekerjaan serta belum menemukan gantinya pun hilang tidak melekat dalam benaknya lagi, semua ini karena Clara, sulit sekali membujuk wanita ini untuk menurut.
Bahkan akhir-akhir ini Rico sangat sulit makan dan selalu mengantuk karena efek obat, bahkan tidur sendirian terasa sangatlah buruk, ia menginginkan seseorang untuk membelainya sebelum terlelap.
"Kita memang seharusnya sudah terbiasa untuk tidak membutuhkan satu sama lain," Clara tiba-tiba bersuara.
Rico benar-benar di buat pusing akan pernyataan Clara barusan, ingin rasanya ia membuang wanita ini kelaut, sungguh menyebalkan.
"Ayo kita ke dokter besok." ucap Rico.
" Apa? Memangnya kesehatanmu belum pulih? Sepertinya sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya." jawab Clara wanita itu mendadak bingung dengan ajakan Rico barusan.
"Aku rasa kamu yang sakit!"
__ADS_1
"Aku?" Clara bertanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri, " aku merasa baik-baik saja." sambungnya kemudian.
"Otakmu yang sakit. Aku sudah memberikan dan mau menerima segala yang telah terjadi antara kita, kamu malah sok-sokan nolak."
"Apa? Hahaha" Clara tertawa.
"Otakmu benar-benar rusak sekarang," Rico semakin kesal.
"Setiap individu memiliki hak masing-masing, dan kau tidak berhak menentukan jalan hidupku!" Clara berkata dengan nada santai namun membuat Rico semakin kalut dan pusing.
"Jadi, kau tetap pada pendirianmu?"
"Ya." Jawab Clara mantap.
Wajah Rico kembali suram, kemudian Rico mengangkat tangannya dan menampar pipi mulus Clara, wanita itu terkejut, sangat sakit rasanya dan tentu saja dirinya tidak terima di perlakukan seperti ini. Clara sangat kesal dan muak dengan sikap Rico yang seperti ini.
"Kenapa kamu menamparku!" tanya Clara dengan nada tidak terimanya.
"Siapa yang membantah dan membuat masalah di sini?
"Walaupun kau pukuli aku hingga sekarat pun pendirian dan niatku tidak akan pernah aku rubah. Aku menyesal telah kembali lagi padamu, lelaki b*jingan !"
Rico sangat marah, ia tidak bisa menerima apa yang baru saja Clara lontarkan barusan, gelas dan botol sampanye yang berada di hadapannya pun ia banting hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring, beberapa beling berserakan Rico benar-benar marah dan sangat marah.
"To-tolong, le-lepasi-sin ak-u ma-s" ucap Clara dengan nada yang tersengal-sengal.
Bersambung....
wah apa yang di lakukan Rico ya.. sampai clara tersengal-sengal begitu? Bantu Jawab di kolom komentar dong
__ADS_1
jangan lupa like dan vote komen ya 🌹🥰