
Seminggu telah berlalu, kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan Arini dan Seto yang kini telah di perbolehkan untuk membawa pulang putranya tersebut. Kehadiran Gilang, membuat suasana rumah semakin hangat apalagi alana terlihat senang sekali dengan bayi.
Walaupun usia Alana masih terbilang kecil, namun gadis itu memiliki kepandaian yang terbilang melebihi di atas usianya. Contohnya sekarang ia telah mengerti jika di suruh Arini untuk mengambilkan bedak, anak pertamanya itu pun dapat melakukan apa yang Arini perintahkan.
Di tempat lain.
Sesuai janjinya, seminggu yang lalu. Rico yang sudah berjanji kepada Clara untuk mengajak bertemu wanita itu kini tengah bersiap-siap. Namun harapan Clara tidak sesuai ekspektasi, ia yang mengira kondisi badannya akan lebih baik, nyatanya berbanding terbalik badannya kian hari kian memburuk bahkan membuatnya tidak kuat berjalan lagi, karena sel kanker sudah menggerogoti tulang belakangnya.
Clara hanya bisa pasrah, karena ia menyadari atas dosa apa yang selama ini ia perbuat, namun keadaan sakit yang membuat ia tidak berdaya seperti ini jelas membuatnya terpukul.
Mungkin umurnya tidak akan lama lagi, Clara harus menyiapkan mental dalam menghadapi karma yang telah di berikan oleh author.
Di sisi lain.
Hana sedang mengetuk pintu kamar neneknya. Setelah mendapat ijin Hana pun masuk, neneknya terlihat baru saja mendudukkan diri di atas kasur yang berukuran kecil di kamarnya itu.
"Ada apa lagi Han?" Tanya nenek sambil menoleh ke arah cucunya.
"Bagaimana nek?" tanya Hana setelah beberapa hari yang lalu ia mengatakan isi hati yang sebenarnya mengenai dirinya yang menyukai Bimo sejak lama. dan meminta restu kepada neneknya agar membatalkan perjodohannya dengan Angga karena ia tidak mencintai lelaki itu, ia hanya menganggapnya saudara laki-lakinya saja tidak lebih.
Wanita tua itu menghela nafas, menepuk kasur yang kosong agar Hana duduk di sana. Hana pun menurut dan kini ia memijat kaki neneknya itu.
Wanita itu mengusap puncak kepala Hana, memberikan senyuman lalu menganggukkan kepala.
"Apa ini tandanya nenek setuju?" tanya Hana memastikan.
"Iya, tapi ingatlah. Yakinkan dulu apakah Bimo memiliki tanggung jawab! jangan seperti ayahmu, sekarang pergilah dan temui dia, dan yakinkan hatimu seyakin-yakinnya." penuturan dari mulut neneknya, membuat Hana mendapatkan asupan semangat, ia melebarkan senyumnya lalu menciumi pipi keriput neneknya itu.
"Terimakasih banyak nenek, Hana sangat mencintaimu." untuk pertama kalinya, nenek baru melihat cucunya sebahagia itu, Hana meninggalkan kamar neneknya dan segera masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk menghubungi kekasih hatinya itu.
__ADS_1
Dalam Vidio call, Hana tersenyum di dalam layar, membuat Bimo merasa bahagia dan heran di buatnya, ia pun begitu penasaran " ada apa? Kau terlihat bahagia hari ini?"
"Tentu saja, aku tidak dapat melukiskan rasa bahagiaku saat ini." jawab Hana dengan senyuman yang tak luntur sedari tadi.
"Apa kau tahu apa yang membuatku bahagia?" tanya Hana
"Aku terlahir sebagai manusia biasa, bukan anak indigo jadi aku tidak bisa menebak apa yang membuatmu bahagia sekarang." jawaban Bimo membuat Hana tertawa, pacarnya ini begitu kocak dalam menjawab.
"Dua hari yang lalu, aku telah meminta kepada nenek, agar tidak menjodohkan ku lagi." penuturan dari Hana, membuat Bimo mendadak dalam mode serius.
"Lalu, baru saja nenek berkata. Ia merestui hubungan kita, asalkan kamu memiliki rasa tanggung jawab dan tidak seperti ayahku yang meninggalkan mendiang ibu di saat aku masih kecil."
Wajah Bimo di balik layar berbinar-binar, bahkan mata lelaki itu terlihat berkaca-kaca, andaikan saja saat ini Hana mengatakannya secara langsung, sudah pasti wanita itu akan di hujani ciuman olehnya.
Hening sejenak membuat keduanya saling beradu pandang di layar ponsel, lalu Bimo berkata "Aku akan segera datang ke rumah, dan mengucapkan terimakasih kepada nenek, serta akan membicarakan hari pertunangan kita."
"Iya. Aku menunggumu. Tapi kamu serius dan tidak bercanda kan Bim?"
"Tapi apa kau benar-benar bisa meyakinkan nenek, aku tahu beliau masih meragu padamu."
"Untuk masalah nenek, itu bukan hal sulit, karena syarat yang di ajukan nenek aku telah memilikinya."
"Baiklah. Aku percaya padamu."
"Aku mencintaimu Hana."
"Aku pun juga mencintaimu Bimo."
(Yang jomblo skip, wkwkkw si bucin lagi lewat).
__ADS_1
Hari semakin sore, setelah pertemuannya batal, mendadak Rico mendapatkan kabar bahwa Clara masuk ke rumah sakit karena keadaannya semakin kritis. Lelaki itu sedikit merasakan kegelisahan di hatinya, biar bagaimanapun Clara adalah sosok wanita yang pernah ia kejar, ia cintai namun berakhir dengan ia sia-siakan.
Semenjak mendengar kabar wanita itu sakit, Rico berubah ia menjadi simpatik kepadanya. Contohnya sekarang ia sedang menuju ke rumah sakit di mana wanita itu di rawat, tujuannya tak lain ingin memberikan semangat kepada Clara, walaupun Rico tahu kemungkinan wanita itu untuk bertahan hidup sangatlah kecil.
🌹🌹🌹🌹🌹
Keesokan harinya tepat jam tujuh malam, sesuai janji Bimo datang ke rumah Hana untuk meminta restu secara langsung kepada neneknya, ia juga akan meyakinkan bahwa niatannya untuk menjalin hubungan dengan cucunya tidaklah main-main.
Setelah berbincang dan berbicara banyak hal akhirnya di putuskan seminggu lagi Hana dan Bimo akan bertunangan, lalu Bimo menanyakan perihal Angga, dan nenek menjawab bahwa lelaki itu kembali meneruskan studinya ke negara sakura.
Lelaki itu juga menuturkan turut bahagia, jika Hana bahagia ia dengan lapang dada mempersilahkan Hana untuk memilih calonnya sendiri sesuai kriteria yang wanita itu inginkan. Angga menyadari hubungan bisa di jalin jika di antara kedua belah pihak memiliki kemauan dan kesepakatan, jika hanya salah satunya itu akan berakhir dengan buruk.
Pada dasarnya cinta itu adalah ia yang tidak mengharapkan perubahan untuk ia mengikuti atau menurut, jika cinta seperti itu..itu bukanlah cinta tapi sebuah perjanjian.
setelah di rasa selesai, Bimo berpamitan dan sesampainya di apartemen ia menelepon sahabat sekaligus bos-nya.
Kabar kebahagiaan Bimo telah sampai di telinga Seto, lelaki itu berkata jika seluruh biaya pernikahannya akan di danai oleh Seto, sebagai bentuk rasa terimakasihnya selama ini karena Bimo telah mengabdi kepadanya dengan baik.
Dio juga telah di beritahu akan kabar bahagia ini, namun lelaki itu hanya bisa mengucapkan selamat melalui sambungan telepon, karena saat ini ia sedang berada di negara Paman Sam untuk mengurus beberapa bisnis barunya.
Ia berjanji pada saat Bimo menikah nanti, ia akan mengusahakan untuk pulang, "kau kapan menikah?" ledek Bimo.
"Pertanyaan yang begitu menyebalkan." Jawab Dio di balik telepon.
"Jangan sampai sabun mandi menjadi pelampiasan, memang tidak begitu buruk tapi lebih baik jika pada tempatnya." Ledek Bimo lagi.
"Bedebah!" Dio pun terbahak-bahak mendengar ejekan Bimo.
Di sisi lain, Rico sedang menunggu di ruang operasi, ia sebagai penanggungjawab atas Clara, mengingat Clara tidak memiliki siapapun lagi, lelaki itu harap-harap cemas ia pun mondar-mandir seperti setrikaan, tiba-tiba ada yang memanggilnya dan itu membuatnya begitu terkesiap.
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa like komen rate dan vote agar aku makin giat update 🌹