Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 104.


__ADS_3

Hana berjalan menuju ruang tamu, ia meletakkan cangkir yang berisi kopi serta beberapa cemilan di atas meja, lalu ia mengatakan kepada Bimo akan menemui tamu yang saat ini masih mengetuk pintunya.


Setelah beberapa saat akhirnya Hana kembali, lalu berkata " hanya tetangga sebelah memberikan mangga hasil panen," ujar Hana sambil mendudukkan tubuhnya di seberang sofa yang di duduki oleh Bimo. hingga kini mereka berdua duduk saling berhadapan.


"Em.., Hana aku kemari ingin memberikan ini untukmu." Bimo menyodorkan kotak kalung perak  yang dulu Hana inginkan saat masih SMA dulu.


"Apa ini?" Hana menerimanya, dan membuka kotak itu hingga terlihat sebuah kalung di dalamnya.


"Kalung?" gumam Hana.


Bimo mengangguk, terlihat Hana menyukai pemberian Bimo, lalu wanita itu mengucapkan terimakasih dan kemudian menyimpannya " Apa kau sudah sarapan Bim?" tanya Hana.


"Ehm.. belum, setelah dari sini aku akan mampir sebentar ke restoran untuk mencari sarapan," ujar Bimo.


"Ini sudah siang, mau sarapan bareng nggak? Kebetulan aku tadi habis selesai masak sambal goreng kentang. Ayo sarapan bersama." Ajak Hana.


"Wah, terimakasih ajakannya. tidak usah Han, aku nanti menghabiskan nasimu haha." 


"Haha, konyol ayo.." 


"Baiklah." 


Hana tersenyum, karena Bimo mau menerima ajakannya, Bimo berjalan mengikuti Hana yang sedang berjalan mendahuluinya menuju dapur. Sesampainya di sana Hana menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Bimo untuk duduk sementara ia akan menyiapkan lauk untuk di hidangkan mendapatkan perlakuan seperti itu Bimo merasa di perhatikan dan membayangkan di layani oleh seorang istri. (Angan-angan jomblo memang berbahaya 🤣)


"Terimakasih." kata Bimo 


"Bentar ya Bim, aku tinggal ke kamar sebentar."


Bimo mengiyakan, lalu Hana berlalu dari dapur untuk menuju ke kamarnya.


Sembari menunggu Hana kembali, Bimo memperhatikan sekitar ia dari tadi tidak melihat maupun mendengar suara neneknya, kemana wanita paruh baya yang selama ini tinggal bersama Hana? Bimo akan menanyakan nanti kalau Hana sudah kembali.


Tak lama kemudian, Hana datang menghampirinya rambutnya yang tadinya di ikat kini tergerai bebas hingga menampakkan wajah nan ayu wanita itu. Membuat perhatian Bimo seketika teralihkan olehnya.


"Maaf lama ya Bim, ayo kita makan." 


"Oh. Ok ayo." Kemudian mereka menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, mereka berdua pun menikmati makanannya masing-masing di iringi obrolan ringan di sela-sela makannya.


"Kau yang memasak ini semua Han?" 

__ADS_1


"Iya memangnya kenapa? Tidak enak ya..?" 


"Sangat enak." puji Bimo.


Hana tersenyum akan pujian itu, lalu mereka berdua menghabiskan makanannya.


Setelah itu mereka berdua kembali ke ruang tamu, Bimo merasa sangat kenyang masakan Hana benar-benar membuatnya ketagihan hingga ia menghabiskan nasi yang tadi Hana siapkan untuknya.


" Hari ini apa kau sibuk Han?" tanya Bimo.


"Tidak, semua pekerjaan rumahku sudah selesai semua." 


"ah. Lupa..nenekmu kemana Han? Kok aku dari tadi nggak lihat."


"Oh nenek? Di rumah cucu angkatnya." 


"Cucu angkat?" Bimo mengulangi perkataan Hana.


"Iya..em. ceritanya panjang, lain kali saja aku ceritanya." kata Hana dengan tersenyum.


"Sebenarnya hari ini aku sangat bosan Han, apa kau bisa menemaniku hanya untuk sekedar jalan-jalan?" tanya Bimo suaranya terdengar mengecil, takut jika Hana menolak ajakannya.


"Jalan-jalan?" 


"Tentu saja aku mau," ucap Hana penuh semangat, membuat Bimo sangat senang mendengarnya, kemudian mereka berdua bergegas untuk menuju mobil Bimo, setelah itu mereka melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah Hana.


Sementara itu Rico seperti orang gila, saat memikirkan Clara yang akan menikah besok. Apalagi Dea yang ia harapkan bisa menjadi partner kini hilang seperti di telan alam sama sekali tidak ada kabar.


Rico merana memikirkan ini semua, semakin hari ia semakin kurus selain tidak makan ia juga sangat kesulitan keuangan hingga hanya sekedar untuk membeli mie instan saja atau telur ia tidak mampu.


Ia berniat akan menjual rumahnya itu dan akan mengontrak di kontrakan petak yang sederhana agar ia dapat melanjutkan hidup. Tetapi pikirannya semakin hari semakin tidak waras satu persatu apa yang ia miliki lenyap.


Dia kembali ke pikirannya, lalu dia menyentuh perutnya yang melilit perih itu karena ia belum makan dua hari ini. Bahkan badannya saja sekarang panas.


Melihat rumahnya yang kosong, Rico semakin sengsara hatinya juga merasakan kesepian. Ia merasa saat ini kehancuran benar-benar telah berpihak padanya, semuanya sia-sia ia menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan untuk mengambil minum, berusaha untuk tidak memikirkannya.


Rico mengulurkan tangannya untuk menuangkan air, tanpa sengaja tangannya mendadak gemetaran dan menjatuhkan gelasnya ke lantai hingga pecahannya mengenai kaki.


Rico meringis kesakitan saat pecahan beling itu tidak sengaja terinjak dan membuat  kakinya berdarah, ia mencoba mengeluarkannya sesekali ia meringis saat beling itu perlahan ia cabut dengan hati-hati.

__ADS_1


Dengan kaki pincang, Rico berusaha berjalan mengambil kotak P3K, tentu saja darahnya menetes hingga mengotori lantai putih itu.


Setelah mengobati lukanya, Rico duduk di kursi dengan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya, bibirnya juga kering dan wajahnya terlihat sangat pucat, jika malaikat Martina melihat Rico saat ini sudah pasti nyawanya akan di cabut.


Braakk


Rico melemparkan kotak P3K itu hingga isinya berserakan dimana-mana. ingin sekali rasanya Rico lepas dari kemiskinan ini, rahangnya mengeras saat mengingat Arini yang kini jauh lebih enak darinya.


Deg...


Jiwa Rico langsung meremuk hancur, saat mengingat ia di usir dari kediaman Arini secara tidak hormat tempo hari. Ia merasa harga dirinya di injak-injak, karena kesialan nasibnya sekarang, membuat ia tak berdaya untuk membalasnya.


"Aku sangat membenci Seto." ucap Rico berapi-api.


Rico berteriak frustasi, emosinya semakin tidak terkendali hingga pandangannya mulai buram saat ia kehabisan tenaga untuk berteriak marah-marah, tubuhnya berangsur lemas dan ia pun terjatuh pingsan di lantai.


Di lain tempat, Bimo dan hana sedang menikmati keindahan kota, mereka mengobrol di iringi candaan di sela-sela obrolannya, tak jarang Hana di buat tertawa oleh laki-laki yang sebenarnya selalu menempati relung hatinya itu.


Suara dering ponsel Bimo berbunyi, sejenak obrolan mereka pun terhenti. Bimo mengambil ponselnya yang berada di saku celana, terlihat ada satu panggilan masuk dari Seto.


 "Bos Se."


"Hana sebentar, bosku menelepon." Hana mengiyakan, lalu Bimo mengangkat panggilan dari bosnya itu, tanpa berpindah dari tempat duduknya.


"Halo bos?" 


"Bim, kau dimana?" tanyanya.


" Sedang di luar bersama temanku, ada apa Bos?" 


"Bisakah kau ke rumahku sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bahas padamu." ucapan Seto membuat Bimo terdiam, dan saling bertukar pandang dengan Hana.


"Bim.."


"Bisa di tunda dulu nggak bos? Kau sedang mengganggu acara kencanku saja menyebalkan." ucap Bimo seraya berbisik agar Hana tidak mendengarnya.


Lalu Bimo mematikan panggilan itu, ia akan mengatasi ceramah Seto nanti yang terpenting sekarang adalah dirinya dapat kencan dengan sang pujaan hati.


Bersambung......

__ADS_1


wkwkwk jangan sampai malaikat Martina melihat Rico yang sekarat saat ini bisa-bisa di cabut tuh nyawa wwkwkw..


cie yang lagi kencan..ayo dukung dong dengan cara like komen rate dan vote 🥰🌹


__ADS_2