Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 55.


__ADS_3

Ponsel Rico berdering, lalu ia mengangkatnya " Co, ini kan udah mantan istri ngapain kamu nyuruh aku buat cari tahu apapun tentang dia? Lalu kalau masih cinta ngapain cerai bos?"  suara di seberang telepon membuat kuping Rico seketika memanas.


Kejelekan Tomi adalah bicara tidak menggunakan otak, terlalu frontal dalam menyampaikan sesuatu, yang bukan urusannya malah di pertanyakan.


"Co, dia juga cantik sih tapi, kok bisa cerai nggak kuat kau ma.."


"Banyak omong kau ini, tugasmu ngerjain apa yang aku suruh atau gak usah ku transfer saja gajinya." ucap Rico dingin dan mematikan itu.


"Eh, tidak Co, tadi aku cuma becanda jangan di pot-"  belum sempat Tomi menyelesaikan perkataannya, Rico yang sudah terlanjur sensi itu segera mengakhiri panggilan secara sepihak.


Rico merasa pusing akan semuanya, ia mengusap rambutnya ke belakang dengan sorot mata frustasinya.


"Aku nggak rela Rin, kamu nikah sama orang lain, apapun itu kau adalah ibu dari anakku seharusnya hanya aku yang boleh memilikimu." 


"Mungkin aku terlambat menyadarinya, aku emang jahat sama kamu tapi aku pengen kamu jadi milik aku lagi, apapun caranya."


Clara yang berada di lantai bawah merasa penasaran, mengapa suaminya sekarang mengacuhkannya dan memilih menyendiri di ruangan yang sama sekali tidak boleh di jamahnya.


Akhirnya Clara sampai di depan pintu ruangan rahasia itu, ia menguping karena begitu penasarannya, samar-samar ia mendengar suara Rico di dalam sana.


Clara mengerutkan kening, tampaknya Rico sangat serius sekali dalam ucapannya.


Tiba-tiba, Rico membuka pintu ruangan itu secara mendadak membuat Clara begitu kaget di buatnya.


"Ma- mas kamu ngapain ngomong sendiri di ruangan, siapa yang kamu tele-" ucapan Clara terhenti saat ia menangkap pigura besar yang menampilkan gambar Arini yang di balut kebaya pengantin dengan Rico yang memeluknya, di dalam ruangan tersebut.


Menyadari itu, Rico buru-buru menutup pintunya kembali.


Clara mengerutkan kening, untuk apa Rico masih menyimpan foto itu, malah fotonya tak di pajang di sana.


"Ngapain kamu disini?"  tanya Rico dengan nada yang begitu dingin.


Clara gelagapan, jangan sampai Rico tahu jika dirinya sengaja ke kemari untuk memantau suaminya itu. Ia menggigit bibir bawahnya, bingung mau menjawab apa.

__ADS_1


"Nggak kok, tadi mau manggil mas Rico, mau aku ajak makan bareng," kilah Clara.


Rico tak menjawab, ia mengunci ruangan itu agar tak seorangpun yang dapat masuk selain dirinya. 


Yang membuat Clara begitu penasaran, mengapa Rico seolah takut sekali jika sampai ia menjamah masuk ke dalam ruangan ini, apa sebenarnya rahasia yang berada di dalamnya hati Clara begitu penasaran di buatnya.


Rico menggulung lengan kemejanya, ia berlalu begitu saja meninggalkan Clara yang masih mematung di depan ruangan itu.


Melihat Rico yang meninggalkannya, Clara bersumpah akan membuka ruangan ini nanti kalau Rico tidak berada di rumah. Karena Clara begitu penasaran.


Namun Clara semakin di acuhkan begini semakin tidak terima, ia mengejar Rico yang menuruni anak tangga lalu sesampainya di bawah ia menarik tangan suaminya itu.


"Mas aku mau bicara,"


"Apa?" jawab Rico dengan malas.


"Emang kenapa aku nggak boleh masuk ke dalam ruangan itu, ada apa sebenarnya?" ucap clara sambil menunjuk pintu yang ada di lantai atas.


"Bukan urusan kamu!" jawab Rico singkat, padat, dan menusuk.


"Banyak omong!" jawab Rico dengan mata yang sudah melotot.


Rico kembali meninggalkan Clara, lelaki itu sangat muak berada di dekat istrinya itu, ia bergerak lagi menaiki anak tangga sebegitu acuhnya Rico sekarang pada clara. Clara merasa dia di abaikan Rico mentah-mentah.


Kekesalan di hati Clara begitu luar biasa, ia mengepalkan tangannya begitu tidak terima atas perlakuan Rico yang semakin hari semakin menjadi-jadi.


Sekarang dia bertanya dalam hati, mungkinkah cinta Rico telah luntur? Benarkah ia istrinya sekarang?.


Dirinya yang dulu di puja olehnya, sekarang bak tebu yang habis manis sepah di buang, Ia memiliki raga suaminya namun tidak dengan hatinya, kalau tahu cinta sesakit ini lebih baik ia menjadi Clara yang seperti dulu saja. Namun hatinya terlanjur jatuh, apa hendak di kata.


Impian Clara seolah terpatahkan, sikap Rico yang demikian meluluh lantakkan hatinya.


Di ajak bicara saja jarang, apalagi hubungan biologis, padahal dulunya setiap hari Rico selalu mendambakan sentuhannya. Sekarang bahkan ia jarang di Sentuh sama sekali, dia benar-benar tidak di anggap istri oleh Rico.

__ADS_1


Dengan kesal ia membanting vas bunga yang berada di atas meja.


Pyaar!!


"Sialan!" 


Sedangkan di rumah Seto, ia telah mengakhiri pergulatan panasnya, walaupun istrinya janda tapi rasanya tak kalah jauh dengan gadis pada umumnya, ia tersenyum betapa ganasnya ia terhadap tubuh sang istri, ia mengingat kembali dengan tersenyum betapa nikmatnya tubuh Arini.


"Ah, baru aja selesai masa mau nambah," Seto mengelengkan kepalanya seraya melihat piton yang sudah sedikit menggelembung.


Arini masih di kamar mandi, tadinya Seto ingin ikut mandi bersama, namun Arini menolak, Arini tahu Seto belum puas dengannya, namun karena tubuhnya sudah terasa remuk ia dengan lembut memberi pengertian kepada suaminya itu.


Biarpun ini bukan hal yang pertama baginya, sensasi yang di rasakan bersama Seto begitu luar biasa, Seto sangat lincah membuatnya menggila di bawah Kungkungannya.


Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, mengetikkan beberapa pesan untuk Bimo isi pesan itu adalah..


"Awasi pergerakan Rico, jangan sampai dia tahu rumahku yang sekarang!" ~Seto.


Namun Bimo tidak seperti biasanya, asistennya itu tidak membalas pesannya, ia kemudian menekan tombol hijau dan menelfonnya.


Sudah beberapa detik namun panggilan itu tidak tersambung, "kemana manusia bedebah ini?" gumam Seto heran.


Kemudian ia melemparkan ponselnya ke atas kasur, ia merebahkan tubuhnya, istrinya itu belum juga keluar dari kamar mandi, Seto kembali mengigat adegan tadi saat ia menghimpit tubuh Arini dengan ketat.


Gejolak birahi ketika dekat dengan Arini sangat sulit ia kendalikan, ia menekan kejantanannya pada tubuh Arini dengan lembut.


"Akhhh." Arini terkesiap dengan serangan dadakan yang ia lakukan. Semakin lama ia melahap bibir Arini secara rakus, menjelajahi setiap rongga di mulutnya. Menyesap dan mereguk manisnya.


Sedikit demi sedikit Arini menjadi goyah, ia mulai hanyut dan mengikuti permainannya. Istrinya mengikuti arus, hingga pelepasan keduanya di lakukan secara bersamaan.


Seto mengingat dengan jelas dengan sekali hentakan kejantanannya menghujam tubuh Arini dengan dalam.


hanya membayangkannya saja sudah membuat sesuatu yang di bawah sana mengeras.

__ADS_1


Bersambung….


jika kalian menyukai karyaku berikan aku like komen rate dan vote agar aku makin giat update!


__ADS_2