
"Aku rasa kau harus mengecek ulang Bim..!"
Seto masih mengenakan jubah mandinya, rambutnya pun masih basah setelah baru saja selesai dari mandi. Ia pun menghadap ke arah jendela yang di buka tirainya, seraya melihat langit yang mulai menghitam dengan di hiasi ribuan bintang.
Seolah banyak manusia yang tidak di berikan rasa ngantuk walaupun badan begitu letih, seperti dirinya malam ini yang masih di sibukkan dengan kerjaan yang seolah tiada habisnya.
"Tentunya sebelum berita ini sampai di Bos Se, aku sudah memastikannya terlebih dahulu" sahut Bimo di seberang telepon.
Seto menganggukkan kepala, "Baiklah Bim..aku percaya padamu. Besok jangan lupa siapkan segala sesuatunya!" Seto memberikan perintah, tanpa perlu menjelaskan secara ditail Seto yakin Bimo paham akan maksudnya.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan asistennya, Seto masih berdiri menatap langit dengan pandangan mengembara. Sementara Arini masih pura-pura terlelap setelah memuaskan cacing Alaska milik suaminya tadi.
Seto mengambil sebatang rokok, menghimpitnya di antara jari, setelahnya ia bakar kemudian ia sesap.
Masih di posisi yang sama, Seto masih memandangi semua keindahan pada malam ini.
Arini memperhatikannya, ia pun tidak bisa menebak apa yang sedang di pikirkan suaminya itu.
"Sayang..apa ada sesuatu yang.." Arini bertanya tapi segera terhenti.
Seto menoleh dan menjawab Arini dengan suara yang dalam, " Semuanya baik-baik saja!"
Kemudian Seto pun melanjutkan ucapannya dengan dingin, " Aku pikir beberapa terakhir ini Rico telah berusaha begitu keras untuk mengusikmu, bagaimana kalau kita menghadiahi sesuatu pada keparat itu?"
"Sayang…jangan terlalu memikirkan itu,"
Melihat raut wajah Seto yang berubah, Arini tidak berani bertanya lagi, jadi ia memilih bersandar pada sisi kepala ranjang dan memilih untuk berpura-pura acuh.
Wajah Seto yang tampan tercermin di jendela kamar, saat sesekali Arini meliriknya diam-diam.
Tanpa Arini sadari Seto pun ikut memperhatikan Arini, ia melihat eksepsi tidak suka di wajah istrinya itu, dan senyum tipis segera terulas di wajahnya.
"Kenapa kamu mendadak diam?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.
Arini segera menarik selimut, mencoba menghapus rasa kesal yang terlukis di wajahnya, dia tahu kalau ia meneruskan eksepsinya sekarang itu akan berbuntut pada pertanyaan yang nantinya akan menyulitkannya.
Bagaimanapun, semua ucapan Seto tadi tidak lebih dari rasa protektif kepadanya, bersamaan dengan itu, Seto beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri ranjang.
__ADS_1
Tangannya yang kokoh mengangkat tubuh Arini dan menggesernya untuk memberikan ruang untuknya merebahkan diri, namun ucapan Seto tadi masih terngiang di benak Arini.
Benak Arini penuh dengan pertanyaan, bercampur dengan kutukan diam-diam untuk mantan suaminya, karenanya Seto kembali menjadi sosok yang pemikir dan sulit ditebak itu sangat menyebalkan.
Seto mengatur suhu di kamarnya dengan setelan suhu yang begitu rendah, kalau saja tubuh Arini tidak di tutupi oleh selimut tebal yang ia tarik tadi, mungkin badannya akan mengigil kedinginan, sedangkan tubuh Seto yang memeluknya erat dari belakang di akui Arini mampu memberikannya kehangatan yang melebihi dari apapun.
Padahal ranjang kamarnya begitu besar, namun Seto memeluknya sangat erat seolah mereka harus berbagi tempat untuk berbaring, bahkan ranjangnya sangat muat untuk di isi oleh tiga orang tanpa bersentuhan.
Hati Arini berdegup kencang, Seto memeluknya dengan erat seolah Arini adalah guling yang sangat empuk, malam ini hanya dengan memeluk sang istri hati Seto pun terasa damai.
Pagi harinya di kantor.
"Hmm.." Bimo menatapnya, tampak bingung.
Hal itu membuat Seto mengerutkan kening, Ia sangat tidak puas dengan tanggapan Bimo yang lambat, Bimo terkejut karena melihat raut wajah bosnya yang berubah menjadi tersenyum.
"Apa Bos Se salah makan hari ini?"
Seperti biasa, Seto tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bimo, ia memilih acuh dan memfokuskan perhatiannya dengan mata yang terus melekat pada ponsel di tangannya.
Sebenarnya Bimo sudah hafal dengan sikap bosnya yang demikian, yang terlihat tidak peduli, namun jika memang tidak peduli ia tidak akan memintanya untuk menyelidiki bukan?.
Seto mendongak dan mengangkat alisnya penasaran. Seperti biasa juga Bimo mendadak berkeringat dingin dan itu nampak jelas di dahinya." Bos Se benar-benar ingin mendengarnya?"
"katakan selagi aku masih berkata baik padamu,"
"Tapi janji dulu Bos Se jangan marah…Rico beberapa hari datang menemuiku, mengatakan akan memberikan upah yang begitu menarik untuk menculik Lana, tentu saja aku segera menolaknya, tetapi setelah aku selidiki beberapa hari ini dia telah bekerja sama dengan seseorang yang tentunya sangat Bos kenal!"
"Apa maksudmu?" Seto tampaknya tidak mengerti, matanya menatap dingin pada Bimo begitupun dengan nada suaranya juga tak kalah dingin " Ulangi perkataan mu!"
Rasanya Bimo begitu menyesal telah berkata jujur, ia merasakan tidak karuan di hatinya, detik berikutnya Bimo pun mengulangi perkataannya yang tadi "
Rico beberapa hari datang menemuiku, mengatakan akan memberikan upah yang begitu menarik untuk menculik Lana, tentu saja aku segera menolaknya, tetapi setelah aku selidiki beberapa hari ini dia telah bekerja sama dengan seseorang yang tentunya sangat Bos kenal!"
Detik berikutnya suara yang begitu nyaring pun terdengar " Gedubrak," benda yang di pandangi Seto tadi kini di lemparkannya ke samping dan menghantam dinding, tiba-tiba oksigen di dalam ruangan seolah menipis.
Emosi yang di tampilkan Seto sukses membuat Bimo gemetar ketakutan, tidak seperti biasanya, kali ini Seto benar-benar begitu murka.
__ADS_1
"Bos Se marah besar, matilah aku…"
"Kau ingin berbicara tentang apa lagi? tanya Seto saat melihat mulut Bimo hendak berucap, suaranya terdengar dalam dan menusuk, membuat Bimo menyesal karena ketahuan akan berbicara.
" Sebenarnya..Dea juga ada di balik semua ini bos, dia juga yang telah mendanai Rico saat ini!"
"Bimo!!"
Suara Seto tegas dan dalam, nampaknya ucapan Bimo barusan berhasil memancing rasa ingin tahu bosnya itu semakin menjadi.
"Pelan-pelan, ceritakan semuanya sesuai urutan, aku tidak ingin kau melewatkan satu bagian dari cerita yang kau ketahui!"
" Baik bos.."
Sore harinya Seto pulang, Arini membelalakkan matanya, buku yang ia sedang ia pegang seketika ia letakkan di atas meja di hadapannya.
"Mas, kertas apa yang kamu bawa?"
"Undangan,"
"Undangan apa?"
"Pesta di rumah kita nanti,"
"Pesta? Bukankah di keluarga kita tidak ada yang berulang tahun? Dan hari jadi pernikahan kita juga sudah terlewati mas,"
Arini mengerutkan kening, ia menghitung jumlah kertas undangan itu yang lebih dari 50 orang.
"Aku benar-benar tidak mengerti mas,"
"Sebaiknya buatkan suamimu ini kopi terlebih dahulu, sebelum kamu memaksaku untuk menjelaskannya sayang,"
"Ahh...baiklah mas, tunggu sebentar,"
Melihat Arini yang masuk ke dapur, Seto menyunggingkan senyum, kali ini ia akan mengadakan pesta yang pastinya tidak akan pernah di lupakan oleh Rico dan Dea.
Bersambung......
__ADS_1
halo agak lemes nih bestiii lama nggak up karena pendukung IAP nggak vote hehehe janji deh bakal rutin update asal bantu vote ya dan like 🤗