
"sayang..bangun. hey, tidak biasanya kamu malas seperti ini. Apa kamu sakit?" Seto menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. tidak seperti biasanya Arini bangun terlambat seperti ini.
Mata Arini perlahan terbuka, penglihatannya buram seolah ada kabut yang menutupi matanya. Tubuhnya pun terasa lemas dan tak bertenaga, sebenarnya ada apa dengan tubuhnya ini?.
"Sayang. Bangun," lagi-lagi Seto mencoba membangunkan istrinya itu yang mulai menutup matanya lagi.
Jam tujuh pagi seperti ini biasanya, Arini sudah wangi dan sudah memandikan Alana, pagi ini bahkan Alana telah di mandikan oleh pengasuh, sarapan yang biasanya telah di hidangkannya juga telah di siapkan oleh pelayan. Seto sangat heran dengan kelakuan Arini pagi ini.
Merasa takut Arini demam, Seto pun menyentuh keningnya, namun tidak terasa panas sama sekali itu tandanya Arini baik-baik saja.
"Jam berapa sekarang mas, kok kamu udah rapi banget." tanya Arini dengan masih memeluk guling sambil menatap ke arah suaminya.
"Sudah jam tujuh lebih Sekarang, aku ada pertemuan pagi, apa kamu kurang sehat hari ini? Ayo kita ke dokter dulu." Ajak Seto sambil memegang kening Arini untuk mengecek ulang suhu badannya.
Seketika Arini mendadak panik mendengar pernyataan suaminya, "apa..? Jam tujuh lebih, astaga..Alana belum aku mandikan, dan aku belum menyiapkan sarapan untukmu mas." Arini pun beranjak ia sangat panik karena kesiangan seperti ini.
"Aduh.." tiba-tiba kepala Arini mendadak pusing dan pandangannya pun menjadi berputar-putar, ia terhuyung ke belakang dengan sigap Seto menangkap tubuh Arini yang hendak jatuh itu.
"Sepertinya memang benar, kamu sedang tidak sehat sayang."
"Entahlah mas, kepalaku sangat pusing, dan badanku sangat lemas."
Hal itu membuat Seto menjadi sangat khawatir, ia mendudukkan Arini dan memberikannya segelas air putih, agar Arini kembali segar.
Seto berjalan ke arah lemari dan mengambil jaket tebal, "kita ke rumah sakit ya, kamu butuh di periksa." ucap Seto dengan menyodorkan jaket yang ia ambil tadi.
Arini segera menolak " palingan cuma masuk angin mas, tidak apa-apa jangan khawatir, oh ya..katanya mas ada pertemuan pagi tadi?"
"Janji itu tidak penting, yang penting kesehatanmu, ayo..kita ke rumah sakit." Seto menarik tangannya, dan Arini menolaknya lagi.
"Aku bilang nggak apa-apa mas, ini cuma masuk angin, di buat istirahat bentar juga sembuh, ini hal kecil jadi kamu jangan terlalu khawatir begitu."
__ADS_1
Arini sangat keras kepala, Seto yang sudah memahami karakter istrinya itu yang ketika mengatakan tidak mau di bujuk seperti apapun hasilnya akan sia-sia, jadi Seto menyerah saja.
Padahal wajah Arini sedikit pucat, hal itu yang membuat Seto khawatir.
Seto menghela nafas panjang, "ya sudah aku akan menyuruh Bimo untuk menghubungi dokter, agar memeriksamu di rumah saja, toh lagi pandemi juga. Lebih baik tetap di rumah."
Seto juga menyuruh pelayanan untuk menyiapkan sarapan di bawa ke kamarnya, ia ingin sarapan dengan Arini di kamar saja, agar wanita itu tidak turun ke bawah, Seto sangat memanjakan Arini.
Setelah semuanya selesai, Seto pun berkata " aku berangkat dulu ya, kamu baik-baik di rumah, kalau masih pusing biarin Alana sama mbak pengasuh dulu, atau kamu bisa menyuruh mbak pengasuh untuk membawa Alana ke kamar ini," Seto mencium kening, pipi dan bibir Arini lalu berlalu meninggalkannya.
Tapi, tangannya di tarik oleh Arini.
"Ada apa?"
"Aku mencintaimu."
"Ada apa dengannya, tidak biasanya Arini begini," batin Seto.
"Iya. Mas," jawab Arini dengan tersenyum.
Lalu Seto melangkah keluar kamar, dan tak lupa menutup pintunya.
Sedangkan Clara saat ini dirinya masih merasa ketakutan, semalam tadi begitu mendebarkan ia sangat bersyukur dapat lolos dari Rico sialan itu.
Clara kembali mengingat kejadian semalam, Setelah ia terbebas dari cekikan Rico, ia berusaha lari dari lelaki itu, namun sial, karena ia minum sampaye mengakibatkan keseimbangannya begitu terganggu, kepalanya pusing, hal itu membuat Rico dengan mudah menangkapnya kembali.
Merasa tidak terima dengan penolakan Clara, lelaki itu mencoba untuk melecehkan istri sirinya sendiri.
"B*jingan kamu Rico sialan!" umpat Clara saat bajunya berhasil di robek oleh Rico. kilatan marah dan ***** yang menyala-nyala terlihat jelas di manik hitam lelaki itu.
Clara sekuat tenaga memberontak, ia tidak Sudi melayani ***** lelaki keparat itu, karena Clara tidak menurut, Rico pun dengan kasar mendorong tubuh Clara hingga ia terjatuh ke atas sofa dengan keras.
__ADS_1
"Jangan munafik, Clara. bukankah kau selalu mengila saat aku gagahi?!" ucap Rico dengan memandang nyalang melecehkan, tubuh Clara yang terlihat seksoy itu.
Rico mencoba menggagahi Clara, namun dengan cepat Clara menendang dua biji nangka milik Rico, hingga lelaki itu merasakan kesakitan yang luar biasa di bawah sana.
Rico seketika menjauhkan tubuhnya dari Clara, "brengsek, wanita sialan!" kesempatan ini di gunakan Clara untuk segera kabur, dengan memakai jaket Rico yang tergeletak di lantai, Clara lari sekencang-kencangnya untuk keluar dari rumah itu.
Saat ini Clara sedang menyesap rokok dengan mengingat kejadian semalam, dirinya tak menyangka Rico akan sebrutal itu. Clara menyudahi acara merokoknya, saat memeriksa dua bungkus rokok filter di meja sudah habis tak bersisa.
Di hotel yang cukup sederhana, saat ini Clara menginap, jaraknya cukup jauh, kemungkinan kecil Rico akan menemukannya disini, selain jaraknya yang cukup jauh, hotel yang sederhana seperti ini tidak pernah ia singgahi, jadi Clara berpikir Rico tidak akan menemukannya, lelaki itu sudah pasti menebak dirinya menginap di hotel mewah seperti biasanya.
"B*jingan!" umpat Clara yang tidak berhenti mengingat kejadian semalam.
Sementara itu, Arini saat ini sedang di periksa dokter yang telah di katakan Seto tadi pagi, dokter itu sangat serius memeriksa keadaan Arini, kemudian dokter wanita itupun bertanya. " Apa bulan ini ibu sudah menstruasi?"
Arini sedikit terbengong, lalu mencoba mengingat, "sepertinya bulan ini saya telat menstruasi, tetapi biasanya juga demikian karena menstruasi saya tidak bisa di patokkan dengan tanggal." jawab Arini.
"Begitu ya Bu, untuk memastikan dugaan saya benar, alangkah baiknya Bu Arini datang ke rumah sakit untuk melakukan USG, untuk memperjelas semuanya."
"Memangnya penyakit saya apa dok, jangan membuat saya takut, katakan saja sekarang." Arini sedikit cemas jika penyakitnya adalah penyakit serius, terlebih Alana masih kecil, Arini sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Ah..bukan maksud saya membuat ibu Arini cemas seperti ini, maksud saya kemungkinan ibu Arini hamil, apakah ibu Arini tidak menyadari gejala seperti ini bisa di rasakan oleh wanita yang sedang hamil muda?"
Mata Arini terbelalak, "A-apa? Hamil?" Arini sangat tercengang dengan penuturan dokter barusan, sungguh ini kabar yang luar biasa.
"Apa benar saya hamil dok?" Arini bertanya lagi, perasaannya menari-nari riang, kabar ini terlalu membahagiakan untuknya.
Dokter menganggukkan kepalanya, dan membersekan alat medis, lalu ia menyerahkan vitamin dan meminta Arini untuk memeriksakan lebih lanjut ke rumah sakit nanti.
Tiba-tiba..
Bersambung....
__ADS_1
jangan lupa vote ya biar aku makin semangat update dan like serta komen 🥰🌹