Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 56.


__ADS_3

Hari telah berganti, pagi sekali Arini sudah bangun, sinar matahari belum menyinari bumi, langit juga masih tampak gelap. badannya terasa sakit ketika ia gerakkan. Jam digital di meja lampu tidur masih menunjukkan pukul empat pagi.


Seto sudah tidak berada di sampingnya, "kemana mas Seto sepagi ini?" batin Arini dengan perlahan ia turun dari ranjang.


"Putri kecilku apakah lelap malam tadi?" gumam Arini ia mengikat rambutnya secara asal dan keluar dari kamar untuk menuju kamar Putrinya.


Saat membuka pintu, bersamaan dengan itu Seto ingin masuk ke dalam kamar. "loh mau kemana sayang?" tanya Seto.


"Mau lihat Alana mas, rewel apa tidak ya?" jawab Arini dengan melangkah keluar kamar.


"Mas sendiri dari mana?" tanya Arini balik.


"Dari depan, niatnya mau joging tapi nggak jadi."


"Oh.." jawab Arini manggut-manggut. 


"Ya sudah aku ijin ke kamar Alana dulu ya mas?" 


Seto mengangguk, kemudian Arini melangkahkan kakinya menuju kamar sang buah hati.


Siang harinya.


Seto pamit keluar sebentar ke kantornya, bukannya Seto tidak ingin menghabiskan waktu bersama Arini dan Alana, namun Bimo baru saja menelfonnya. Awalnya Seto menolak dirinya adalah pengantin baru, sangat enggan baginya membahas pekerjaan di saat seperti sekarang. Namun ada satu hal yang menarik perhatian Seto, yaitu tentang Mantan suami istrinya, yang saat ini katanya sedang gencar-gencarnya mencari tahu tentang Arini.


Setelah berpamitan kepada Arini dan Alana, Seto melangkah keluar dan menaiki mobilnya menuju kantor. tak lupa sebelumnya, ia memberikan kecupan manis untuk putri kecilnya itu.


Selepas kepergian Seto, ponsel Arini berdering private number menghubunginya, "siapa?" tanya Arini dalam hati.


Panggilan itu di abaikan olehnya, hingga di dering yang ke sepuluh Arini dengan malas menjawabnya. " Halo. siapa ya?" 


"Halo." jawab suara pria di seberang sana saat suara Arini terdengar di telinganya.


Kini giliran Arini terdiam, Arini sangat familiar dengan suara lelaki di seberang sana itu.


"Ha-halo?" ulang suara lelaki di seberang sana karena belum ada balasan dari wanita yang di teleponnya yaitu Arini.


Itu suara Rico, mantan suaminya yang beberapa hari lalu hampir melecehkan dirinya, darimana dia tahu nomornya Sekarang, sungguh sangat meresahkan.

__ADS_1


"Ya. ha-halo."  Arini menelan ludahnya sejenak, rasanya jantungnya berdegup kencang sekali, nafasnya tercekat, tapi ia harus berani.


Rico tersenyum senang, akhirnya Arini mau menerima telepon darinya.


"Arini apa kabar, bagaimana kabar anak kita?" ucap Rico dengan tersenyum, walaupun Arini tidak dapat melihatnya, tapi Arini bisa merasakan jika lawan bicaranya itu sedang bahagia.


"Baik, kami semua baik." jawab Arini tidak bernafsu sama sekali. Arini ingin meminta Rico tho the poin, ia ingin segera mengakhiri ini semua. Dia malas sekali berhubungan lagi dengan Rico, mendengar suaranya saja sudah mengingatkan dirinya kembali akan semua luka batin dan fisik yang lelaki itu torehkan padanya.


"Alana sekarang lagi apa?" tanya Rico dengan suara yang begitu lembut berbeda dari biasanya.


"Ngapain kamu telepon aku? buat apa juga kamu nanyain Alana?" kata Arini menyela pertanyaan tidak penting Rico, dirinya malas berbasa-basi, apalagi say halo dengan mantan suaminya itu.


"A-aku." kata Rico terputus sejenak, ia tidak menyangka kalau Arini akan seketus ini dengannya. Bahkan setelah perceraiannya Arini tidak meminta nafkah padanya untuk sang buah hati.


"Aku cuma mau ngasih jajan Alana, selama ini kan aku belum kasih jajan buat dia." jawab Rico pelan.


Arini tertawa dalam hati tidak percaya, nafkah, jajan, untuk Alana? yang benar saja!


"Apa kamu bilang tadi? jajan buat Alana? untuk apa sekarang kamu ingat memberikannya, maaf uang darimu tidak pernah aku harapkan sama sekali." kata Arini terlihat tegas saat menyampaikannya seolah mewakili rasa kecewa yang berkecamuk dalam hatinya. sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Rico tidak percaya Arini dapat se frontal ini kepada dirinya. 


"Pokonya kamu sudah nggak usah capek-capek mikirin jajan buat Alana, atau sibuk mau nafkahi Alana,  aku nggak mau kamu ganggu hidup aku lagi!" kata Arini menyela perkataan Rico yang belum selesai dan memutuskan panggilan itu secara sepihak.


"Halo..halo!! Rico melihat layar ponselnya yang telah menggelap karena panggilan itu sudah terputus.


Rico kembali menghubungi nomor Arini tetapi nomor itu sudah tidak aktif lagi.


Arini menatap dalam diam layar ponselnya yang telah menggelap karena ia telah menonaktifkannya, ia begitu tidak menyangka kalau Rico akan tahu nomornya.


Rico berkali-kali menghubungi nomor Arini, namun tetap saja nomor itu tidak aktif.


"Argghh sial!!" teriak Rico.


Rico berteriak frustasi, ia membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping, hingga membuat Clara yang mendengarnya segera menghampiri Rico yang kini terlihat murka.


"kamu kenapa mas?" tanya Clara memegang pundak suaminya itu, ia terkejut melihat ponsel Rico yang telah hancur berantakan.

__ADS_1


Rico mengusap wajahnya dengan kasar, nafasnya memburu karena emosi.


"Mas kamu kenapa?" Clara mengulangi pertanyaannya.


Rico tak menjawab, ia malah menepis tangan Clara yang menyentuh pundaknya itu, lalu meninggalkan Clara begitu saja keluar dari rumah dan menaiki mobilnya. Sekali lagi sikap Rico yang seperti ini membuat hati Clara terasa sakit seperti inikah rasanya di abaikan, ia memegangi dadanya rasanya begitu sesak dan menusuk.


Clara melihat sekitar ruangan, terlihat berantakan sekali, Clara masih bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat Rico semarah ini hingga ia membanting ponselnya.


Andai saja saat di tanya tadi Rico menjawab, ia tidak akan se penasaran ini, namun Rico berubah ia benar-benar telah mengabaikannya.


Di dalam mobil, Rico memukul stir beberapa kali, kenapa Arini begitu sombong kepadanya, Arini tidak lembut seperti dulu, Rico sangat geram akan sikap Arini yang seperti tadi.


Andai saja waktu bisa di putar..


Dan Rico sangat menginginkan Arini kembali.


Sedangkan Seto ia telah sampai di kantor, kini ia telah duduk di kursi kebesarannya dengan kedua kakinya yang menyilang. Ia menatap Bimo dengan intens, tatapan matanya berusaha meminta jawaban dari asistennya tersebut.


"Bagaimana menurutmu?" 


"Menurutku, kita pecat saja si Rico bos, agar kondisi keuangannya menurun dan tidak bisa menggangu Bu Arini lagi, atau nanti dia akan mencari alasan dengan embel-embel Alana." 


"No. Aku tidak setuju."


"Kenapa Bos?" 


"Biar bagaimanapun dia tetap ayah biologis Alana, aku tidak mau di anggap rendah dengan menghalanginya berkomunikasi dengan putrinya, hanya saja jangan sampai dia menyentuh atau mengusik istriku saja, itu sudah aman baginya!"


"Oke. Bos, lalu bagaimana jika dia menggunakan Alana sebagai modus atau sebagai alat agar bisa berkomunikasi dengan Bu Arini?" 


" Seperti yang aku katakan tempo hari, Tuhan menciptakan tangan selain untuk bergandengan adalah untuk baku hantam!" 


"Benar Bos."


"Jangan lupa tetap awasi pergerakan Rico, jangan sampai dia melewati batasannya." 


Bimo mengangguk, itulah alasannya ia menukarkan mobil tadi, karena saat ini dirinya merangkap sebagai detektif gadungan.

__ADS_1


Bersambung…


aku udah update dua chapter ayo berikan aku semangat buat update bab selanjutnya dengan cara like komen rate dan vote.


__ADS_2