
"bagian mana yang mau di pijat mas..?" setelah menyelesaikan kata-katanya, Seto menatap dalam-dalam ke matanya.
Arini berkedip.
Apa maksud tatapan Seto saat ini, jangan bilang ada sesuatu yang ingin di puaskan?.
Detik berikutnya Arini ikut menatapnya dan mengulang pertanyaannya " mas..bagian mana yang mau di pijat?"
"Anu."
"Apa??"
"Jangan macam-macam mas, aku sedang datang bulan. Jangan meminta sesuatu yang saat ini sulit aku berikan," gerutu Arini.
Seto merasa syok," apa? datang bulan?" mendengar ini dia mendadak sakit kepala, ia mengkerutkan kening, dan menatap Arini dengan ragu.
Arini menjawabnya dengan yakin, " baru saja tadi sore bocornya."
Seto benar-benar merasa lemas, wajahnya berubah datar seolah malam ini Seto begitu nelangsa, karena Pitonnya di larang masuk ke hutan.
Seto bangkit dan mengangkat kepalanya dari pangkuan Arini dengan wajah cemberut, " aku ingin tidur awal malam ini, ayo kita tidur."
Arini terkekeh, "ayo sayang,"
Untuk waktu yang lama bulu mata Seto terlihat gelisah.
Siang harinya
Seorang gadis sedang terbengong, saat Dio menyatakan perasaan suka padanya, Tiara juga merasakan jantungnya berdetak lebih kencang saat bersama lelaki yang ditaksirnya itu.
"Kakak serius? Apa alasan kakak yang selalu mengatakan usia kita berbeda itu sudah tidak berlaku lagi?"
"Maafkan aku yang selama ini selalu beralasan seperti itu, tapi sungguh aku menyukaimu Tiara, kamu yang berhak memutuskan sekarang, aku sadar usia kita tidak sebanding aku yang berumur 28 tahun dan kamu berusia 18 tahun, terkadang aku begitu minder merasa terlalu tua untukmu." ucapnya tersenyum lalu meminum jusnya.
Deg.. jantung Tiara berdetak lebih cepat saat Dio mengakui perasaannya.
__ADS_1
" Entah kenapa berdekatan dengan kak Dio selalu memiliki kebahagiaan tersendiri di relung hatiku, terlepas dari umur kita yang memang berbeda 10 tahun, aku merasa aman dan nyaman bila berdekatan dengan kak Dio, aku menyayanginya entah sejak kapan, semenjak pertemuan pertama dia telah berhasil mengalihkan duniaku!" batin Tiara.
"Kak Dio.. sebenarnya aku takut untuk melanjutkan keinginanku berpacaran denganmu, aku takut jika kita berpacaran suatu saat kita akan bertengkar dan menjadi berjarak, jika berteman tapi mesra seperti ini kalaupun kita bertengkar itu pasti tidak akan lama karena tidak ada tuntutan hubungan antara kita," ucapnya sambil menatap Dio.
Mendengar ungkapan Tiara yang begitu blak-blakan menyuarakan perasaannya membuat Dio tersenyum senang, setidaknya wanita di hadapannya ini berbicara apa adanya.
"Gadis ini sungguh berbeda, dia tidak memaksakan perasaan." batin Dio.
" Benar, terkadang berpacaran tidak selalu membuat kit bahagia, terkadang ada hubungan yang malah mejadi beban, menyakiti dan menuntut, lebih baik jika memang sudah waktunya langsung ke inti tujuan hidup," ucap Dio.
"Inti tujuan hidup? Maksud kak Dio menikah?" tanya Tiara.
Dio mengangguk, "wait Ra..! kakak akan Membayar dulu makanannya." ucapnya.
"Eh..aku ke toilet dulu deh kak kalau gitu,"
"Ok, nanti langsung ke parkiran ya, kakak tunggu di sana,"
Tiara hanya mengangguk isyarat memberikan jawaban, sesampainya di toilet, Tiara berdiri di depan wastafel dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Tiara lalu merapikan rambutnya menggunakan sisir yang ia ambil dari tasnya, setelah itu ia bergegas menuju parkiran untuk menemui Dio yang saat ini sedang menunggunya.
Sesampainya di parkiran, Tiara segera masuk ke mobil Dio saat hendak memakai sabuk pengaman ia pun menoleh ke arah Dio yang tiba-tiba bertanya " Ra, kamu suka bunga nggak?"
"Enggak." jawabannya singkat.
Tiara terkekeh melihat wajah datar Dio, "kak..kok mendadak lesu..Kenapa?" ia menyenggol lengan Dio.
"Bingung saja Ra.. niatnya mau so sweet buat kamu, eh..malah kamunya nggak suka bunga, bingung aku mau ngapain lagi," ucap Dio.
Ponsel Dio berdering, Tiara segera melirik ke sumber suara, lalu dia memberitahu Dio jika ada panggilan masuk di ponselnya " Tuh kak..ada yang telepon,"
Dio memicingkan matanya, ke arah ponsel yang sedang berkedip itu, berpikir sebentar dia akan menjawabnya.
Wajah Dio menjadi muram, lalu ia meleparkan ponselnya kembali ke dashboard mobil.
__ADS_1
"nggak di angkat kak? telepon dari siapa?" Tiara bertanya dengan memutar sedikit tubuhnya menghadap Dio.
Dio tidak menjawabnya dan menambah laju mobilnya, wajahnya mendadak dingin dan muram.
Tiara merasa ada yang janggal dengan Dio, siapa sebenarnya yang menghubunginya? Mengapa mendadak Dio merasa kesal?.
"Kak Dio?" Tiara mencoba memanggil kembali Dio yang kini terlihat malah melamun, namun lelaki itu hanya bungkam seolah moodnya benar-benar berantakan sekarang.
Tiba-tiba guncangan di lengan Dio membuat lelaki itu kembali tersadar dari lamunannya, ia menggerutu kesal mengapa dia selalu merusak moodnya, tidak siang tidak malam dia selalu mengganggunya.
"Kakak??" wajah Dio yang kesal seketika berubah saat sadar akan panggilan dari wanita yang berada di sampingnya.
"Aku akan mengantarmu pulang, maaf tadi yang telepon setan!" ucap Dio.
Jarum jam terus berputar, tak terasa sang matahari akan tenggelam dan di gantikan oleh bulan, Dio telah kembali ke apartemen setelah mengantarkan Tiara beberapa jam yang lalu. Deru ponsel terus menggema di ruangan itu, hingga mengusik Dio yang tengah menikmati segelas sampanye yang baru saja ia tuang.
Dio melihat nama si pemanggil, ia mengabaikannya, namun sepertinya si pemanggil tidak mudah menyerah, deru ponsel pun menggema kembali setelah tadi sempat berhenti.
Ratusan pertanyaan yang kini bersarang di otaknya, apa yang di inginkan si pemanggil? bukankah sudah jelas dan tegas ia mengatakannya bahwa tidak ada keterikatan lagi di antara mereka?.
Ponselnya lagi-lagi berdering, dan itu masih sama panggilan dari Dea, Dio hanya melihat layar ponselnya sambil meneguk sampanye terakhir, ia merasa sangat malas untuk sekedar berbasa-basi dengan wanita masalalunya itu.
Dio masih terus bergeming, ponselnya yang terus membunyikan nada dering tak ada niatan ia sentuh sedikitpun. Ketika panggilan telepon berhenti ia segera meraih ponselnya dan menonaktifkannya.
Setelah mematikan daya ponselnya, Dio meraih rokok yang berada di atas meja, ia mengapit rokok di sela bibirnya, dan menyulutkan api di ujung rokok, asap putih langsung mengepul di udara saat Dio mulai menghisapnya.
Pria yang pernah patah hati ini sejenak mengingat masa bersama Dea dulu, sambil tersenyum kecewa, ia mengambil fotonya bersama Dea yang berada di dalam laci dan mengeluarkannya dari bingkai foto.
Ia merobeknya lalu membuangnya ke tong sampah, " Aku dulu mencintaimu setinggi langit, namun kau tak merasakan!"
"Kamu terlalu!!"
Pyaar!!
Bersambung....
__ADS_1
jangan lupa para readers tercinta yang baik hati dan tidak sombong dukungan kalian like komen rate dan vote sangat berarti bagi saya jadi yang masih menunggu kelanjutannya usahain vote ya ❤️!