Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 65.


__ADS_3

Clara segera berlari mendekati Rico, ia memegang lengan suaminya itu yang hendak pergi, Clara masih terisak, dirinya tidak mau di ceraikan oleh Rico. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa suaminya itu, karena kini Clara benar-benar telah menjatuhkan hatinya untuk Rico.


Air matanya bercucuran, nafasnya sesak, lutut Clara goyah, ia terduduk dan memegangi kaki Rico, dan berlutut memohon agar tak menceraikannya.


Rico menggeleng, kemudian ia menarik Clara agar berdiri dari posisinya. 


"Jangan ceraikan aku mas, aku mohon." ucap Clara seraya memeluk tubuh suaminya itu.


"Ok, aku akan coba kasih kesempatan untuk kamu." 


Satu bulan kemudian..


"Bukannya kamu berangkat kerja jam delapan mas?"  tanya Clara saat menata keperluan yang akan di bawa Rico, kini lelaki itu terlihat mengambil handuk dan berjalan masuk ke kamar mandi.


"Jam setengah sembilan." jawabnya singkat tidak sepanjang dulu saat badai itu belum melanda. namun Clara mencoba memahami itu, sudah tidak di ceraikan saja ia sudah bersyukur.


Rico keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada, sedangkan pinggangnya hanya di lilitkan handuk. Kemudian Clara berjalan keluar untuk meninggalkan kamar, menunggu Rico selesai mengganti baju, begitulah rutinitas Clara satu bulan terakhir ini.


Kalau di pikir memang aneh, padahal Clara adalah istrinya namun begitulah permintaan Rico, Clara hanya bisa pasrah menuruti keinginan suaminya daripada bertengkar nanti.


Selesai bersiap, Rico pun keluar dirinya menuruni anak tangga dengan membawa tas yang telah di siapkan Clara tadi, "mas..kata temenku ada dokter yang dapat memberikan solusi tentang masalahku mas."


"Kita bahas nanti aja ya, aku udah telat soalnya." kata Rico seolah menghindari topik yang di utarakan Clara baru saja, Clara hanya dapat mengangguk, ia mengantarkan suaminya sampai ke pintu rumah kemudian Rico berpamitan untuk berangkat.


"Mas.. cepet pulang ya," 


Rico hanya mengangguk, kemudian mobil itupun melaju, melewati gerbang rumah mereka.


Clara menghembuskan nafas berat dan menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari tangannya.


Waktu pun terus bergulir, tak terasa magrib pun menjelang, Clara berniat mengirimkan pesan untuk Rico.

__ADS_1


"Mas..belum selesai kerjanya.. Kok belum sampai rumah?" ~Clara.


"Mendadak lembur, aku nggak bisa pastiin pulangnya jam berapa, nggak usah di tunggu!"~Rico.


Rasa sedih seketika menyelimuti hati Clara, begini kah  rasanya mengemis cinta, akankah rumah tangga seperti ini mampu bertahan? Clara menarik nafasnya, ia akan mencoba bertahan walaupun itu rasanya sakit.


"Aku akan tetep nungguin kamu pulang mas."~ Clara.


Pesan itu telah terkirim dan tanda centang biru pun nampak, artinya Rico sudah  membaca pesan itu, namun tidak ada balasan darinya. Clara menidurkan dirinya di sofa ruang keluarga menunggu kepulangan Rico, tanpa ia sadari beginilah Arini dulu, namun sekarang posisinya berbalik padanya.


Clara menunggu Rico sambil merenung sejenak tentang keturunan. Karena lelah menunggu akhirnya Clara pun tertidur di sofa, paginya ia terbangun namun sudah tertidur di ranjang, mungkin semalam Rico yang membopongnya untuk di tidurkan di kamar.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Ah..sayang.."


Clara menutup mulutnya, takut jika suaranya terdengar di telinga orang, tetangganya mungkin. 


Clara benar-benar tidak tahan lagi, ia memegang apa saja yang dapat ia genggam.


Nafas Clara terengah, ia memejamkan matanya, ia telah mendapatkan pelepasannya.


Selama kurang lebih satu menit, Clara tidak bergeming, ia tetap berada di posisinya sekarang.


Tubuh Clara lemas, ia berusaha bangun dari bath up, yang tidak terisi air itu, ia menatap tangannya yang basah tersiram air karena kerja kerasnya sendiri.


Clara mencuci tangannya, ia mengubah posisinya menjadi duduk di dalam bath up, ia mengacak rambutnya frustasi, bagaimana ini bisa ia lakukan, dirinya memiliki suami, namun hanya untuk memenuhi nafkah batinnya, ia harus melakukannya sendiri, sungguh Clara bisa gila kalau terus-terusan begini.


Clara begitu emosi, ia mengusap kasar wajahnya, dan kakinya menendang kosong ke sembarang arah.


Clara sejenak berpikir, dulu yang terpenting adalah Rico memberikan uang, atau nafkah lahir saja tidak masalah baginya, namun sekarang ia benar-benar berbalik, ia mencintai lelaki itu, Rico sama sekali tidak menyentuhnya membuat ia harus bermain sendiri untuk memuaskan gejolak hasratnya.

__ADS_1


Biar bagaimanapun, Clara adalah wanita normal walaupun mandul, bisa saja dirinya melakukan itu dengan pria lain, seperti yang di dilakukannya dulu, namun itu berbeda sekarang ia mencintai Rico, akan menambah masalah nantinya jika hal tersebut di ulang dan ketahuan.


Kemudian Clara memutuskan untuk mandi dengan cepat, setelah selesai ia menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


Sebenarnya terbesit dalam benaknya, mengapa Rico tidak menyentuhnya semenjak perceraiannya dengan Arini?  dan kenapa Rico dapat menahan n*fsu **** nya selama berbulan-bulan begitu?.


Biasanya..


Seperti yang Clara ketahui, lelaki tidak akan kuat menahan gejolaknya, hampir setiap hari memikirkan tentang ****, biasanya hal semacam itu tidak bisa di lewati begitu saja, bahkan ada beberapa lelaki yang tidak tersalurkan hasratnya dengan istri memilih menyalurkannya dengan wanita lain.


Clara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tidak mungkin Rico menuntaskannya dengan wanita lain, tapi tidak mungkin juga Rico mampu menahannya sekuat itu, dia adalah laki-laki normal. Namun Clara berpikir bisa saja, Rico melakukan hal yang sama dengannya tadi, memuaskan diri sendiri.


Clara mematut dirinya di cermin, mungkinkah dirinya tidak menarik lagi, mungkinkah bodynya tidak membuat Rico bergairah lagi? Tapi itu tidak mungkin, melihat tubuhnya yang masih kencang dan seksoy bahkan dua gundukan kenyal miliknya masih padat dan besar.


Lalu apa masalahnya Rico tidak menyentuhnya? mungkinkah ada wanita idaman lain?..( hanya author yang tahu)


Berbeda halnya dengan Rico dan Clara, pasangan Arini dan Seto selama satu bulan ini sedang meneguk manisnya berumah tangga.


"Alana sudah bobok?" 


"Ia mas, kayaknya Alana kecapekan seharian tadi dia nggak bobok siang."


"Hmm..sayang bagaimana dengan bagian ini!" Seto menempelkan pitonnya yang sudah bangun, memeluk Arini dari belakang. hampir satu Minggu mereka tidak bercinta karena Arini datang bulan.


"Aku..capek mas, aku mau bobok," Arini berusaha menghindar dan menjauh dari Seto, memang datang bulanya telah selesai, namun Arini tidak ingin melakukannya sekarang, namun Seto tidak membiarkan itu, ia menangkap tubuh Arini dan menciuminya dari belakang.


"Ehm..mas, apa yang kamu lakukan?!"


"Melakukan yang seharusnya di lakukan suami, ketika istrinya selesai halangan." jawab Seto seenaknya, mulutnya sibuk mengigit kecil telinga Arini, yang seketika membuat tubuhnya meremang.


Malam itu Seto tak membiarkan pitonnya merana lagi, karena telah menunggu satu minggu untuk ke hutan rimba mencari makan, akhirnya malam ini di habiskan dengan bercinta, pergulatan mereka berlangsung cukup panas dan begitu bergelora. Seto menuntaskan hasratnya yang sudah selama satu Minggu ini tidak terpenuhi. Menjelang dini hari Seto kembali meminta jatah, entah tubuh Arini begitu candu baginya, hanya mencium aromanya saja sudah membuat pitonnya bergelora.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2