Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 79.


__ADS_3

"Saya rasa kontrak kerjasama ini bisa kita akhiri saat ini juga pak Rico." ucap Dio, dengan menata kembali dasinya yang masih rapi, di temani Bimo yang menatap ke arah Rico dengan senyuman palsunya.


Rico menyerngit memandang ke arah Dio, lalu beralih menatap ke arah Bimo. Kalimat yang baru saja di ucapkan Dio sangat padat dan jelas, walaupun ia sebenarnya sudah tau akan terjadi hal seperti ini,namun tetap saja ia tidak mampu menutupi rasa tidak percayanya.


"Apa-apaan..."


"Kali ini saya sebagai perwakilan dari Donatur terbesar proyek ini, pak Seto Permana ingin menyampaikan..bahwa beliau menginginkan kinerja mandor yang baru. Biar bagaimanapun proyek ini sepenuhnya di Danai oleh beliau jadi, kami hanya menjalankan tugas dan perintahnya." Kali ini Bimo ikut menimpali.


Rico mendengus keras, " Sangat tidak profesional sekali atasan anda!" 


"Saya rasa ucapan anda barusan, bisa anda tujukan pada diri anda sendiri pak Rico! Anda tentunya masih menyadari bukan..apa yang telah anda perbuat hingga menyebabkan hal ini terjadi?" Bimo menjawabnya dengan sarkas dan tepat sasaran, jelas saja terlihat wajah Rico merah padam menahan amarahnya. Bimo selalu berkata sesuai fakta. Dan lawan bicaranya selalu saja kalah telak.


"Saya rasa proyek ini memang tidak pantas untuk saya tangani, terlebih saya merasa tidak cocok untuk menyelesaikannya. Tidak biasanya juga saya menangani proyek sekecil ini." balas Rico dengan sombongnya.


Bimo hanya tersenyum mengejek, manusia di hadapannya kali ini memanglah menyebalkan sekaligus tidak tahu diri. Sudah jelas kalah tetapi masih saja berlagak sombong di hadapannya. 


Dio menghembuskan nafas panjang, sepertinya akan ada drama mulut pedas Bimo siang ini.


Dio tersenyum lalu mengucapkan pemikirannya.


"Baiklah pak Rico, ini adalah sisa uang anda selama menangani proyek kecil ini. Untuk gaji para pekerja sudah di urus oleh bapak Bimo, jadi anda tidak perlu bersusah payah lagi mengurusnya."  ucap Dio, dengan menyodorkan amplop coklat yang berisi uang itu.


Rico berusaha terlihat setenang mungkin, lalu ia meraih amplop itu dan pergi dari sana, tanpa mengucapkan sepatah katapun. hal itu membuat Bimo tertawa senang dalam hatinya, dalam hati lelaki itu mengumpati Rico tiada habisnya.

__ADS_1


Lalu saat hendak melangkahkan kakinya keluar ruangan, Rico berbalik dan berkata "baiklah aku mengaku kalah, tapi di kesempatan lain jangan harap anda mendapatkan mandor pintar seperti saya." 


Rico menuju kantin untuk menyelesaikan sisa pembayaran makan yang beberapa saat lalu belum ia bayar, melihat kedatangan Rico beberapa pekerja yang tadinya membicarakannya memilih berjingkat membawa makanannya ke meja lain, ia takut jika obrolannya dengan Pak Aji di dengar oleh mandornya itu. Namun ada beberapa yang masih tertarik dengan ocehan Aji yang terus-menerus mengupas tentang kemalangan Rico dalam berumah tangga. sungguh obrolan yang tidak bermanfaat.


Waktu terus bergulir tak terasa sepuluh hari tepatnya Rico menganggur, tidak seperti biasanya yang sangat mudah sekali ia mendapatkan tawaran pembangunan sudah beberapa kali ia bertanya kepada sahabat dan hasilnya nihil semuanya telah menggunakan mandor lain sebagai pengatur proyek.


Hubungannya dengan Clara pun tidak menemui titik terang, beberapa pesan dan panggilan telah ia tujukan kepada wanita itu namun tetap saja sama tidak ada balasan darinya.


Namun tiba-tiba satu notifikasi pesan mengangetkan dirinya. " Mas, aku rasa kita sudah bisa memulai hidup tanpa harus saling mencampuri urusan satu sama lain, aku membebaskanmu, jadi aku harap keputusanku ini tidak perlu kau perdebatkan lagi." 


Rico terdiam sejenak, ia dengan seksama mentelaah setiap kata dan kalimat yang di kirimkan oleh Clara.


Sebenarnya Clara di sana sangat terluka, mencintai seseorang itu sangat melelahkan dan menyakitkan. Namun setidaknya dengan membebaskan diri dari belenggu Rico, ia dapat menghirup udara bebas, toh.. pernikahannya hanyalah siri, jadi tidak perlu sibuk dan ribet mengurusnya di pengadilan agama.


Namun seperti dugaannya, keinginannya tidak semudah itu, Rico pun membalas dan membantah permintaan Clara Lewat pesan tadi.


Namun rasa kantuk mengganggunya sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak tidur, ia harus menyelesaikan semuanya sekarang, beberapa menit yang lalu ia telah meminum obat. Itulah penyebab rasa kantuk Rico saat ini.


Senyum cerah tersungging, ia membuka amplop coklat yang telah sepuluh hari lalu ia abaikan dan sengaja tidak di bukanya itu. Ia berharap dengan uang ini Clara akan luluh lagi padanya. Biasanya hal demikian selalu ia gunakan, untuk membujuk Clara ketika wanita itu sedang marah.


Ia membuka amplop yang cukup tebal itu, matanya cukup berbinar kala melihat dua gepok uang rupiah pecahan seratus ribuan. 


"aku rasa ini cukup untuk meluluhkan hati Clara lagi. Mana bisa wanita itu menolak melihat uang yang menggiurkan ini." 

__ADS_1


Rico menghitung dan membelai uang di tangan lembar demi lembar, penuh dengan ambisi. Malam ini tidak akan ia sia-siakan untuk membujuk wanita itu, jangan harap Clara dapat lepas darinya.


"Aku memang berambisi mendapatkan Arini kembali, namun sejengkal tanah pun tak akan ku biarkan Clara melangkahkan kaki pergi dariku." Rico tertawa senang, biar bagaimanapun ia tetap menginginkan Clara berada di sisinya, apapun itu dia tidak peduli.


Tidak ada air, debu pun jadi, itulah yang tertanam di otak Rico sekarang. Ingin mendapatkan Arini kembali rasanya sangat sulit ibarat memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai, Arini telah memiliki pawang sekarang, apalagi pawangnya itu sangat berkuasa, ia harus menggunakan strategi yang matang untuk melawan Seto.


Tak ingin memikirkan Arini terlalu dalam, Sekarang yang masih bisa di raih adalah Clara, jadi dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membujuk wanitanya itu.


Untuk itu, ia harus memiliki uang yang banyak agar wanita itu tidak lepas darinya, Clara hanya bisa di jinakkan oleh uang, uang dan uang, serta kemewahan materi. 


"Aku harus membelikan baju Clara yang bagus dan seksoy, hmm..kalung model terbaru juga."  gumamnya bersemangat.


Ponselnya tiba-tiba berdering, hal itu membuyarkan acara pemujaan uang yang sedang ia pikirkan untuk membelikan sesuatu untuk Clara tadi, dia sangat kesal lantaran angannya terbuyarkan.


"Ngapain Aji telpon? ada hal penting apa sehingga membuat manusia menyebalkan satu ini menghubungiku?" gumam Rico seraya melihat nama pemanggil dalam layar ponselnya.


Di selimuti rasa penasaran serta malas, akhirnya Rico pun mengangkat panggilan itu, dengan wajah muram yang tentu saja tidak dapat di lihat lawan bicaranya, Rico pun menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya untuk mendengarkan apa yang hendak di ucapkan si pemanggil.


"Ada pa Ji..? lama nih nggak nongkrong bareng." sapa Rico ramah yang terbungkus penuh rasa imitasi, ia sebenarnya hanya berbasa-basi saja untuk menyahuti sapaan halo dari aji tadi. 


Bersambung.....


sedikit curhat ya..

__ADS_1


aku tuh sedikit heran sama pembaca yang hanya baca part akhir tanpa melihat dan memahami alur cerita dari bab awal lalu bisa menyimpulkan cerita tidak menarik. memang itu adalah hak setiap individu untuk menyampaikan apa yang di rasakan, namun alangkah baiknya jika menghargai karya para author yang telah bersusah payah memberikan dan menyuguhkan cerita versi mereka masing-masing. saya hanya ingin mengatakan membuat cerita itu tidak mudah kadang menyesuaikan suasana dan kondisi real itu sering kali kontroversi.


ah sudahlah..wkwkkw maafkan aku yang sedikit kecewa oleh salah satu pembaca. dan memang aku harus banyak menyadari dan memperbaiki karyaku yang remahan ini semangatin aku dong bagi kalian yang suka dengan karya ini seperti biasa LIKE..KOMEN RATE DAN VOTE 🌹🥰


__ADS_2