
Rico merasa tertekan, ketika berhadapan dengan Seto Secara langsung seperti ini, ia merasa tidak nyaman, apalagi kondisinya dirinya sangat lemah itu sangat menyulitkannya untuk menghajar Seto.
"Seharusnya sebagai lelaki kau memiliki rasa malu mengemis kepada seorang wanita!"
Tampaknya Seto memperingatkannya, dan bertindak tahu diri, Seto tipikal orang yang tidak suka melihat lelaki memanfaatkan keadaan, ia merasa risih dengan lelaki semacam Rico.
"Diam! Memangnya kau siapa bisa mengertakku?".
Seto menyunggingkan senyum, " fisikmu terlihat kuat, tetapi pikiranmu begitu dangkal!"
"Bajingan!" Rico memelototinya.
"Rico, kau terlihat sangat kesal sekali denganku, lalu apakah kau berniat mengajakku berduel di lain kesempatan?"
"Keluar!!"
Kedua orang ini sedang berdebat satu sama lain, sementara Dea yang menguping di balik pintu merasa bingung. Pada awalnya, Dea bingung mengapa Seto mendatangi Rico, lalu memintanya untuk keluar dan menyisakan mereka berdua dalam ruangan, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?.
Di dalam ruangan, atmosfer semakin panas, Rico sangat murka dengan setiap kata pedas yang keluar dari mulut Seto. " Rico, tadinya tujuanku ke sini ingin mengajak putriku menemuimu, namun setelah ini aku semakin yakin akan mengurungkannya!"
"Apa??"
"Dia putriku, jangan kau menghalang-halangi!" Rico semakin kesal.
Seto pun melangkah keluar, ia melihat Dea yang terlihat gelagapan karena kepergok sedang menguntit. Seto melihat sekilas lalu meninggalkannya.
Seminggu kemudian.
"Cucuku tersayang akan tinggal di kamar yang sudah Oma sediakan," nyonya Septi tersenyum dan memberikan potongan buah ke Alana.
"Kamar Oma berada di sebelah kamar Alana, apakah Alana mau tidur bersama Oma malam ini?" tanya Septi seraya memasukkan potongan buah terakhir ke mulut Alana.
"Oke Oma, Lana akan tidul belsama Oma."
Kemudian Septi membungkuk dan berkata, " cepat beri Oma, ciuman!"
Alana adalah anak yang sigap, jadi tanpa pikir panjang ia memberikan Septi sebuah ciuman.
Seto menyaksikan semua kejadian manis ini, sangat tak berdaya dan tak mampu berkata-kata, jika mereka terus seperti ini, Alana akan di manjakan oleh neneknya, malam ini kebetulan Seto mengajak Alana menginap di rumah maminya itupun atas permintaan Maminya. sebenarnya maminya juga meminta Galang juga menginap, namun pagi tadi Galang baru selesai di imunisasi jadi badannya agak sedikit meriang, Seto pun akhirnya hanya membawa Alana daripada tidak sama sekali.
Sungguh keluarga yang bahagia dengan kehadiran malaikat kecil.
pagi berikutnya setelah dari rumah mami Septi.
__ADS_1
" Sepertinya hari ini aku tidak akan lama, aku hanya menemui beberapa client, untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaan milik mami yang ada di Bali," tutur Seto.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar mas," ujar Arini.
Sesampainya di kantor, Seto di suguhi pemandangan yang membuat moodnya memburuk, Dea telah berdiri di pintu masuk dan terlihat celingukan.
"Seto.." Panggil Dea.
"Ada apa? aku sangat sibuk dan tidak memiliki waktu banyak, katakanlah ada apa?" ucap Seto tanpa menatap ke arah wanita yang kini tengah sibuk memandanginya.
"Mengapa sampai sekarang kau masih saja membenciku?!" suara Dea merendah, namun Seto hanya diam saja.
"Kesalahan besar apa Se yang telah aku perbuat sehingga begitu sulit bagimu memafkanku?" Dea memandang ke arah Seto yang sedang fokus menatap layar ponselnya.
" Aku merasa tidak pernah membencimu, hanya saja kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, jadi jangan membahas hal yang tidak penting" tutur Seto.
" Aku sampai sekarang merasa hancur See..apa kau tahu, aku bersusah payah melupakanmu, hingga terjadilah kekhilafanku dengan Rico."
" Dulu kau bilang akan selalu ada untukku, namun setelah aku menyatakan cintaku padamu, seolah ungkapanku adalah sebuah kutukan, kau sama sekali tidak memberiku kesempatan, kau seolah jijik kepadaku, apa aku semenjijikan itu di matamu See?" Seto hanya melirik kearah Dea, yang saat ini suaranya terdengar semakin memberat, namun Seto acuh tak acuh.
"Apa yang Arini lakukan, hingga ia bisa merebut hatimu See?"
"Apa yang membuatmu mau menikahinya See, apa kau sangat mencintai Arini?"
"katakan See!!"
" Aku rasa aku tidak perlu memberi alasan apapun padamu, Dea, suatu saat kau akan mengerti jika kau benar-benar menemukan jodohmu!"
Dea pun tertawa mendengar perkataan Seto " kenapa ada yang salah?" tanya Seto dengan alisnya yang menyerngit.
Mungkin terasa aneh bagi Seto, melihat tawa Dea yang tidak biasa.
"Sepertinya aku harus segera masuk," ucap Seto seraya merapikan dasinya.
"Oh ya. Kau baru saja sembuh dari terluka, dan seharusnya orang yang baru sembuh tidak seharusnya berkeliaran!"
"Apa?!".
Di sepanjang perjalanan, Dea merasa kesal dan mengomel ia tak henti-hentinya menjelek-jelekkan Seto.
Awalanya ia pikir akan bisa berbicara secara intens seperti dulu kepada Seto, namun setelah menyadari semuanya kini ia paham Seto benar-benar telah berubah karena Arini.
Dea merasa frustasi dengan semua permasalahan yang ia alami. hatinya terasa hampa, ia tidak tahu lagi bagaimana menjalani kehidupannya nanti.
__ADS_1
Di malam hari.
Setelah menempatkan Alana ke tempat tidur di kamarnya sendiri, Arini segera kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di ranjang, Galang putranya pun sudah terlelap.
Tapi sudah jam 9 lebih Seto belum juga kembali.
Ketika Arini sedang memikirkan itu, beberapa sinar cahaya menembus jendela. Arini segera bangkit dan berjalan ke arah jendela tanpa alas kaki, baru saja di pikiran, suaminya itu telah kembali.
Arini bergegas keluar dari kamarnya, dan di setengah perjalanan menuruni tangga, Arini berpapasan dengan Seto yang juga sedang menaiki anak tangga.
Seto mengangkat kepalanya sedikit, melihat ke mata Arini yang terlihat khawatir.
"Sayang..kau belum tidur?" Seto lebih dulu menyapanya. dan semakin intens menatap Arini.
Karena tergesa-gesa, Arini keluar dari kamar tanpa menggunakan alas kaki, ia pun tersenyum " aku menunggumu."
Beberapa saat kemudian, Seto pun telah selesai mandi, Arini baru saja masuk ke kamar dengan membawa secangkir kopi panas di tangannya, " minum ini mas...!" kehangatan tiba-tiba saja menyebar kedalam hatinya.
"Apakah mas sangat lelah?" arini melihat wajah Seto begitu lesu.
"Hemm," kawannya singkat.
" Kenapa kau belum tidur sayang..?" Seto bertanya lagi, dan mengancingkan piyamanya.
"Aku tidak bisa tidur, aku sengaja menunggumu." ucap Arini namun terdengar menggoda di telinga Seto.
"Apa kau menungguku untuk menidurkanmu?" selidik Seto.
Arini merasa lucu " apaan sih mas.." ia pun menepuk pundak suaminya.
"Apa aku benar?" tanya Seto seraya menyipitkan matanya, senyumannya pun terlihat menggoda, saat bersama Arini rasanya Seto menjadi dirinya sendiri.
"Kemarilah!" titah Seto seraya menepuk sofa kosong di sebelahnya, ia pun menyeruput sejenak kopi yang telah di siapkan Arini tadi.
"Arini pun menurut, ia duduk lalu Seto merebahkan menyandarkan kepalanya di paha Arini, "sayang..hari ini aku sangat lelah, apa kau bisa memberikanku sedikit pijatan?"
"Tentu saja, bagian mana yang mau di pijat mas?"
tiba-tiba..
Bersambung....
like komen rate dan vote ya ❤️.
__ADS_1