
Pagi ini seorang wanita dengan pakaian seragam sekolah tengah berada di dalam bus. Ia memilih duduk di kursi paling depan yang dekat dengan jendela. tidak seperti biasanya ia berani menoleh dan melihat-lihat pemandangan, kali ini seorang lelaki yang beberapa hari tidak menghubunginya tengah duduk di sampingnya.
Yang tidak di ketahui lelaki itu, gadis ini sedang menyembunyikan senyum riangnya agar seseorang yang duduk di sampingnya sekarang tidak mengetahuinya.
"Kamu, nggak mau tahu kenapa waktu itu teleponmu di angkat cewek Ra?" tanya Dio tiba-tiba.
Ya. Rupanya lelaki itu adalah Dio, yang sedari pagi tadi telah membuntutinya dan tanpa gadis itu ketahui Dio mengikutinya sampai naik bus seperti sekarang.
Gadis itu mengangguk pelan, ia mencoba untuk tidak gugup, dan memberikan diri untuk menatap Dio yang katanya ingin menjelaskan mengapa teleponnya kala itu di jawab seorang wanita.
"Nggak jadi, deh.."
Wajah Tiara berubah cemberut.
"Mending tadi nggak nanya kak," kesal Tiara.
Dio terkekeh. Kali ini Tiara tidak bisa sabar lagi, jadi Dio tidak dapat mengelak.
" Di kecewakan sama seorang wanita, lalu sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak terprovokasi apapun tentangnya. semenjak itu aku mutusin buat nggak mau punya komitmen apapun sama cewek agar aku tidak harus menjelaskan setiap apa yang telah terjadi dan kalaupun aku mau ngomong itu karena aku mau ngomong aja"
Tiara mengerutkan kening " serius kak, cowok sekeren kakak pernah ngerasain di gosting? tidak mungkin seorang lelaki tampan dan mempunyai pekerjaan seperti kakak di sia-siakan bukankah begitu?"
Dio tersenyum kecil, mungkin ceritanya bagi wanita ABG seperti Tiara hanyalah salah satu trik buaya darat yang ingin menjerat mangsanya.
"Aku cuma ingin mengatakan seperti apa yang telah aku alami. menurut sudut pandangku yang telah berubah." Dio memandang wajah Tiara lekat, tak berharap banyak akan nantinya gadis ABG yang telah menyatakan perasaan cinta padanya beberapa bulan yang lalu akan tetap terus peduli padanya dan menerima akan sikap dingin yang selalu Dio berikan.
Tiara memilih bungkam, meski cerita awalnya saja Dio menegaskan lagi tidak ingin memiliki komitmen dan tidak suka bercerita tentang dirinya. Seolah ia di peringatkan lagi agar tidak begitu larut dalam angannya untuk memiliki pacar seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya, ia harus bertahan. Mendengarkan semua cerita kejujuran dari Dio, barulah setelah itu ia akan mengambil sikap untuk pergi atau bertahan dengan cinta sendirian.
"Kamu ingat Mas Bimo? temen kakak yang agak sedikit gemuk itu?"
Tiara mengangguk tanpa ragu-ragu.
__ADS_1
"Dia tahu kisah tentang penghianatan cinta yang terjadi pada kakak, tapi dia juga mengkhianati kakak dengan nikah duluan tanpa nunggu kakak dapat jodoh dan terpuruk dalam kejombloan."
Alih-alih merasa sedih akan cerita Dio, Tiara malah merasa terhibur dengan penuturan khas Dio. kisah sedihnya ia kemas dengan baik, di bumbui dengan keluhan tidak berfaedahnya sehingga sedikit condong ke komedi daripada kemeloan, terka batin Tiara.
"Waktu malam itu, adalah malam pernikahan kak Bimo, awalnya tidak ada masalah, beberapa terkahir kepala kakak sering migrain, dan ada berita kecelakaan dan itu mantan kakak tadi, akhirnya kakak datang ke rumah sakit sekalian periksa."
Tiara tersenyum kecil, ia benar-benar tidak bisa membedakan apakah Dio sedang berkata jujur atau sedang mengajaknya ghibah.
"Maaf kak, bukanya Tiara mentertawakan kisah cinta kakak yang begitu tragis, tetapi cara kakak bercerita membuat Tiara nggak bisa untuk nggak ketawa." kilah Tiara yang masih saja tidak bisa berhenti tersenyum.
"Memang itu poinnya, kakak memang nggak mau Tiara menjadi iba, setelah dengerin cerita kakak." Dio menerangkan.
Bus terus melaju menembus hiruk pikuk kota, beberapa penumpang memperhatikan mereka berdua, pakaian Dio yang begitu mencolok dengan setelan jas kantoran, serta seorang gadis muda yang mengenakan pakaian seragam SMA, jelas saja mengundang perhatian. seperti yang lagi trend sekarang mereka mengira Dio adalah sugar Daddy dari gadis remaja itu.
Namun Dio tidak peduli, ia terus bercerita tentang kisah cintanya yang tragis namun di kemas menjadi sebuah lelucon hingga Tiara gagal untuk Melo.
Tiara terus cekikikan, " kak Bimo pernah berkata, padahal kakak kembar banget kayak Harsvardhan rane, ituloh pemeran Inder pada film Bollywood sanam teri kasam. Kisah cintanya memang tragis namun dia di tinggalkan dalam keadaan ceweknya mati dengan perasaan cinta yang besar, sedangkan kakak ditinggalkan dalam keadaan hati yang mati karena cinta beda perasaan."
"Hah..? Kembar Inder? " Tiara merasa geli, Membayangkan tubuh inder yang begitu atletis serta ****** yang begitu menawan, jika di bandingkan dengan Dio yang hanya memiliki kumis tipis-tipis serta berbadan lelaki Indonesia pada umumnya, Tiara tidak menemukan kemiripan sama sekali. Dan bisa-bisanya Dio di katakan mirip dengan artis Bollywood rasanya Tiara mendadak frustasi.
"Jenis kelamin, Ra."
Tiara tergelak.
"Itu mah, namanya sejenis kak, bukan mirip," protes Tiara.
Dio tak bisa menahan tawanya, ia terkekeh melihat Tiara yang tidak terima jika Dio di sandingkan dengan artis Bollywood itu, dan akhirnya keduanya pun terbahak.
"Kak Bimo bilang kembar, karena jenis kelamin kita samaan, dan kisah cintanya hampir mirip." jelas Dio lagi.
Tiara tak bisa berhenti tertawa, ia memegangi perutnya yang di buat kaku karena sedari tadi cekikikan. Yang tidak ia tahu, Dio memperhatikannya tak bergeming sedikitpun. Ia senang dapat menikmati tawa Tiara dalam kebekuan hatinya yang sulit untuk perduli lagi dengan siapapun. Ia juga senang Tiara mau mendengarkan kejujurannya dengan sabar.
__ADS_1
Tak lama kemudian, bus berhenti di depan sekolah Tiara. Dio ikut turun dan berkata.
"Ceritanya di lanjutin nanti ya Ra, kakak harus pergi ngantor dulu, dan kamu kan harus sekolah. Ok? Asalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tiara membiarkan matanya melihat sosok Dio yang menaiki taksi yang baru saja di hentikan, setelah itu Tiara masuk ke dalam sekolah untuk menuju kelas.
Sebuah tepukan mendarat di pundaknya, membuat Tiara menoleh spontan. Salah seorang temannya berjalan sejajar dengannya dan tersenyum simpul.
"Wah, ternyata itu sugar Daddy nya..? Cie.." goda temannya.
Tiara mencebik.
" Sembarangan."
Di tempat lain di jantung kota, pada saat ini Bimo mengetuk pintu dan kemudian segera masuk.
"Bos Se.." Bimo menatap Seto. Tatapan ini berartikan ada hal penting yang ingin di katakan Bimo.
"Bos, setelah aku menyelidiki kasus tentang Dea yang kau minta seminggu yang lalu, kini aku telah mengetahui ayah biologis dari janin yang di kandung Dea waktu itu."
Seto masih diam, ia masih mendengar dan menunggu Bimo menjelaskan ceritanya.
"Ternyata ayah biologisnya adalah Rico bos."
" Benar-benar manusia Dajjal itu." ucap Seto dingin dan sedikit tersenyum.
"Menurutmu pelajaran apa yang dapat menyadarkan lelaki Dajjal itu ? Ahli pencari informasi handal Bimo? Kau sendiri yang lebih tahu jawabannya.
"...." Bimo terdiam, Seto telah menambahkan ahli dalam kalimat untuknya. Berarti Seto mengandalkannya dalam kasus ini, jelas saja ini adalah beban lagi untuk Bimo rasanya ia ingin lenyap dan menggali lubang kematiannya saja saat ini.
__ADS_1
Bersambung.....
wah ternyata mas Dio punya gebetan ABG wkwkkwkw jangan lupa like komen rate dan vote.