
" Waktu memang tidak mungkin dapat di ulang, andai saja aku tidak menuruti hawa nafsu mungkin kehancuran ini tidak akan pernah terjadi padaku, apa yang aku miliki dulu perlahan menjauh aku sendirian sekarang, tidak ada tempat untuk mengeluh. Tuhan apa yang harus aku lakukan?" keluh Dea dalam hati.
Tring…tring…
Dering ponsel Dea berbunyi, saat ini dia sudah pulang dari rumah sakit. Mengobati beberapa luka di tubuhnya yang sudah mulai mengering.
Ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama si pemanggil " Dea, di mana kau? Aku ke rumah sakit tapi kata suster kamu sudah pulang. Aku sangat membutuhkanmu sekarang."
Dea mengerutkan dahinya.
" Dea, saat ini aku terlilit hutang dengan rentenir jika sampai sore ini aku tidak juga membayarnya aku akan di habisi, untuk kali ini tolong bantulah aku. Aku akan melakukan apapun yang kamu suruh please??" Suara itu memohon dengan serius.
" BETAPA TIDAK TAHU DIRINYA KAU MENGEMIS BANTUAN PADAKU, SETELAH APA YANG TELAH KAU LAKUKAN! " bentaknya penuh emosi. "ITU MASALAHMU DAN AKU TIDAK PEDULI DASAR KEP*RAT!!"
Pyaar!!
Dea membanting ponsel ponselnya hingga hancur, ia begitu emosi dengan lelaki yang baru saja meneleponnya. Nafasnya naik turun menahan amarah, rasanya ia ingin melihat kematian lelaki menjijikkan itu.
Ia tidak menyesali telah merusak ponselnya, ponsel tadi ia ibaratkan Rico, ia ingin sekali membanting Lelaki itu hingga hancur berkeping-keping.
Di sisi lain, Rico semakin frustasi karena jam terus bergulir, jika sampai sore nanti ia belum juga mendapatkan uang maka tamatlah riwayatnya.
" Oh..Shiit!!" umpatnya dengan menonjok bantal.
Ponselnya berkedip, ada satu notifikasi pesan ia pun membacanya " jangan lupa waktumu tinggal 3 jam lagi!"
Cetar ⚡⚡⚡
"Perincian hutangmu, sebulan yang lalu ambil dana 5 juta + bunga menjadi 7,5 juta,"
" Selang 2 Minggu minta tambahan lagi 5 juta dengan bunga menjadi 7'5 juta,"
"Total keseluruhan menjadi 14 juta lalu telat sehari menjadi 15 juta!!"
Jiwanya terhenyak, ketika membaca pesan perincian seluruh hutang yang harus di bayarnya, mana mungkin Rico bisa mendapatkan uang 15 juta dalam waktu kurang dari 3 jam, rasanya Rico ingin menggali lubang kematiannya sendiri saja.
__ADS_1
Rico berjalan bagaikan orang linglung yang tak tentu arah, sambil menggenggam ponsel yang masih menampilkan perincian nominal uang yang harus di bayarnya.
Mau cari kemana uang sebesar itu? Dirinya yang sudah lama tidak bekerja begitu kesulitan mendapatkan uang. tabungan pun ia sudah tidak punya, apalagi aset. Ia harus minta tolong pada siapa? Sedangkan Dea baru saja dengan terang-terangan menolaknya.
Tidak mungkin juga ia mengemis minta bantuan kepada Arini, bisa-bisa harga diri dan martabatnya akan di injak-injak dan di remehkan oleh mantan istrinya beserta suaminya sekarang.
Haruskah Rico merendahkan harga dirinya saja demi mendapatkan uang untuk membayar hutang?.
Benar-benar berat beban hidup yang harus di pikulnya.
Hari berikutnya di kediaman Seto Permana.
Kehidupan Arini jauh lebih membahagiakan dari sebelumnya, ia mendapatkan cinta yang begitu besar dari Seto, ketika kita hidup dalam ikatan cinta, rasanya semuanya akan menjadi lebih indah. Apapun akan terlihat sempurna, yang terkisah dan yang terjadi dalam balutan cinta bersama orang yang di cintai akan rasanya hidup bagaikan di surga.
" Mas.. apa tidak sebaiknya hari ini kau libur saja? badanmu baru saja enakan loh.." tanya Arini Kepada Seto saat suaminya itu sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
" Badanku sudah sehat sayang..banyak pekerjaan di kantor, jika aku libur semuanya akan kacau." sahut Seto dengan lembut.
" Yang penting mas Seto jangan lupa makan lagi ya?" Arini memeluk tubuh Seto dari belakang dengan manja, Seto diam dan memandang bayangan Arini di cermin detik berikutnya ia tersenyum dan membalikkan badannya menghadap istrinya itu.
" Mas..?" Arini mendesah ia tidak tahan saat tangan Seto meraba semangkanya serta memainkan lidah ke telinganya.
Seto menghentikan aksinya, lalu berkata " aku akan melanjutkannya nanti malam, jadi persiapkanlah dirimu sayangku!"
Mendengar ucapan Seto, pipi Arini pun merona, jika sebelumnya ia khawatir selalu di mintai jatah oleh Seto, entah mengapa hari ini rasanya ia mulai ketagihan untuk hal itu, apalagi Seto selalu membuatnya merem melek serta serasa melayang dengan kenikmatan yang tiada Tara.
" Aku berangkat dulu sayang..jaga anak-anak kita, aku mencintaimu." Seto mengelus rambut Arini pelan, kemudian Arini mengantarkan Seto sampai ke pintu dengan menggendong Galang.
Setengah jam kemudian setelah kepergian Seto.
"Arini.." mendengar namanya di panggil, Arini yang sedang berada di ruang keluarga itupun menoleh ke sumber suara.
Ternyata itu adalah mami Septi, Arini pun segera bangkit dari duduknya untuk menyongsong mama mertuanya itu dalam pelukannya.
" Duduk Mi," Arini pun menyuruh mertuanya itu untuk duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tamu. Arini segera menyuruh pengasuh Alana untuk menyiapkan minuman dan beberapa kue untuk mertuanya.
__ADS_1
" Saya seneng banget mami datang, sudah lama sekali Rasanya mami nggak kesini." Kata Arini dengan gembira, Ny. Septi pun tersenyum ramah senyumannya sangat mirip dengan senyuman Seto, mungkin mitos memang ada benarnya jika anak lelaki cenderung lebih banyak mirip dengan mamanya.
" Mami kangen banget sama kalian, kebetulan mami hari ini tidak sibuk, jadi mami bisa mengunjungi kalian." ujar Ny. Septi.
" Di mana cucu-cucuku?" Ny. Septi terlihat celingukan mencari cucunya.
"Silahkan nyonya besar," kata pengasuh yang mengantarkan minuman dan kue yang di minta Arini tadi.
" Terimakasih mbak," ucap Arini dan mertuanya bersamaan.
Siang harinya di kantor, Seto sengaja membeli boneka harimau dengan ukuran besar untuk Alana, karena anaknya itu selalu bertanya keberadaan harimau di rumahnya untuk itu Seto memutuskan untuk membeli boneka ini agar putrinya itu tidak banyak bertanya lagi, ia akan memberikan alasan jika boneka harimau yang telah mengigit lehernya kala itu dan hari ini ia berhasil menangkapnya.
Seto senyam-senyum sendiri kala mengingat percakapannya dengan Alana, terlebih saat rasa ingin tahu putrinya itu sulit ia jawab.
" Bos, untuk apa kau membeli boneka?" tanya Bimo dengan polosnya.
" Huh… tentu saja untuk Alana, kau tahu, Diolah yang menyebabkan kekacauan ini!" ujar Seto.
"Dio? apa hubungannya dengan boneka harimau bos?"
"Dio mengatakan kepada Alana, warna merah di leherku waktu itu karena gigitan harimau betina."
setelah mendengar kata terakhir, Bimo pun tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya itu.
Seto yang semakin kesal karena Bimo mentertawakannya, meremparkan Boneka itu hingga mengenai asistennya itu seketika tawanya pun berhenti.
" masih mau tertawa?" Tanya Seto.
"tidak, aku sudah tidak ingin tertawa lagi," ucap Bimo sambil menahan tawanya.
tok...tok...tok....
bersambung..
jangan lupa like komen rate dan vote semua itu gratis kok 🥳
__ADS_1