Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 48.


__ADS_3

Malam ini di lalui dengan penuh kebahagiaan, Seto menunggu reaksi Arini ketika memakan kue yang di dalamnya ada cincinnya itu. hati lelaki gagah itu dag dig dug, tak pernah ia merasakan sebelumnya perasaan ini.


Kemudian Arini terkejut, karena kue yang ia makan seperti ada sesuatu yang begitu keras, ia segera mengeluarkan benda keras itu dari mulutnya, Seto tersenyum penasaran, bagaimana reaksi Arini?.


"Mas ini sebuah cincin? punya siapa?" tanya Arini dengan polosnya.


Seto sedikit bengong, bagaimana Arini bisa sepolos ini? "Coba pakai..pas tidak?" perintah Seto.


Arini mengernyit. "Pakai?" Seto kemudian mengangguk.


"Sini aku bantu," ucap Seto meraih cincin itu.


Dengan sedikit gugup Seto memakaikan ke jari Arini, "cantik." satu kata yang lolos dari bibir pria itu.


"Arini..dengan segenap ketulusan di hati, seluas langit dan sedalam samudera, sekuat ledakan bom menghancurkan gedung, maukah kau menikah denganku?" Seto begitu payah saat menyampaikan perasaannya kepada Arini.


Wanita itu sedikit melongo, jika ini adalah lamaran mengapa tidak bisa romantis? namun wanita itu hanya tersenyum, Seto sudah berusaha keras setidaknya.


"Kenapa kau hanya diam?" tanya Seto yang sedikit cemas takut jika di tolak Arini.


"Kau tadi sedang melamarku?" tanya Arini.


Dengan cepat Seto mengangguk, " payah." kata Seto dalam hati.


"Apa kau siap menerima Alana sebagai putrimu? jika nanti kita berumah tangga dan memiliki anak dari pernikahan kita apakah Alana masih kau sayangi?" tanya Arini begitu Serius.


"Pasti sayang, aku menginginkanmu begitu juga dengan Alana, apapun tentang kamu akan aku terima." ucap Seto bersungguh-sungguh.


"Aku mau." kata Arini sesaat kemudian.


Hati Seto melonjak kegirangan, ia dengan refleks berdiri dan menghampiri Arini memeluk erat wanita itu hingga Arini merasakan sesak.


"Lebih erat lagi, kau akan meremukkan tubuhku mas." ucap Arini dengan tersenyum, Seto melepaskan pelukan itu "maaf sayang..aku tidak bisa menahannya," ucap Seto dengan menciumi pipi puncak kepala Arini.

__ADS_1


Dari ujung sana Bimo memperhatikan dengan sedikit kesal, pasalnya ia harus melihat keuwuan bosnya itu. " Tuhan begitu tidak adil padaku, aku juga good looking kenapa tidak kau berikan satu jodoh untukku?" gumam Bimo meratapi nasibnya.


Seto sedikit melirik ke arah Bimo, menyadari itu Bimo segera mengalihkan pandangannya, "sial pasti dia sengaja ingin Mengejekku." ucap Bimo dengan meminum kopinya.


Pagi harinya, Rico tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan yang sedang ia pimpin, pikirannya selalu tertuju kepada Arini yang telah resmi menjadi mantan istri. 


"Maaf pak Rico ada apa dengan anda?" tanya salah satu wakil mandornya.


Rico kaget dengan pertanyaan wakilnya itu sedetik kemudian ia menjawab "ah.. sepertinya aku sedang tidak enak badan, tolong awasi para pekerja dulu." ucap Rico seenaknya.


Padahal ini adalah proyek baru, jadi masih sepenuhnya tanggung jawab Rico sebagai kepala Mandor. 


Semua pekerja memandang ke Rico, tidak biasanya mandornya demikian, mereka merasa Rico tidak niat mengambil proyek besar ini buktinya bosnya itu tidak bisa profesional.


"Kenapa kalian menatapku demikian? kalian ini cuma kuli jadi terserah aku mau gimana!" ucap Rico seenak jidatnya.


Wakil mandornya itu mendekat ke arah Rico dan membisikkan sesuatu, "pak.. proyek ini secara tidak langsung di awasi pak Dio lewat cctv. Jadi kalau bapak tidak disini maka proyek besar ini bisa saja di batalkan." ucap wakil mandornya dengan setengah berbisik.


Rico lupa jika ia kasar dengan para pekerja bisa saja mereka jadi marah dan tidak mau bekerja dengannya lagi, dan hal itu akan menyulitkan dirinya sendiri nantinya. 


Semua pekerja mengangguk dan mereka melanjutkan pekerjaannya masing-masing dengan semestinya.


Sedangkan di lain tempat, Arini masih berada di butik. Nyonya Atmojo memandang ke arah Arini yang telah di anggap seperti anaknya itu dengan terenyuh. Arini semalam telah memberikan kabar gembira bahwa ia telah di lamar oleh Seto. Rencananya Minggu depan orang tua Seto akan berkunjung ke rumah Atmojo Untuk membahas mengenai tanggal pernikahan.


"Nak..sudah sore sayang, mari kita  pulang?"  ucap nyonya Atmojo dengan tersenyum.


"Iya Bun.." semenjak tinggal di rumahnya Arini di minta untuk memanggilnya bunda.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang dengan beriringan. semua karyawan menatap kagum Arini, wanita itu terkenal dengan sifat baik dan tegasnya, sifat ngemong ke para junior dengan sabar dan iklas itu yang menjadikan kesan plus bagi Arini.


Kurang lebih tiga puluh menit mereka telah sampai di pekarangan rumah dengan selamat,  Alana yang sedari tadi di gendong bunda Atmojo tidur dengan terlelap. 


"Rin..bawa Alana untuk istirahat di kamar, sekalian kamu juga, jangan capek-capek dan ngoyo dalam bekerja." ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Arini mengangguk, " bunda juga ya?" ucapnya dengan sopan.


Kemudian Arini berpamitan untuk naik ke lantai atas terlebih dahulu, menidurkan Alana di kasur dan dirinya ingin segera membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur.  untuk urusan makan malam nyonya Atmojo selalu menyiapkan bukannya arini tak pernah membantu, tapi nyonya Atmojo sendiri yang melarang.


Kehidupan Arini setelah berpisah dari Rico semakin membaik, dirinya bagaikan burung yang terlepas dari sangkarnya, bebas dan lepas tiada beban yang di deritanya.


Kehadiran cinta tulus dari Seto adalah anugerah Tuhan yang tak pernah ia duga, Arini selalu berucap syukur atas nikmat Tuhan yang tiada Tara baginya. Bayang-bayang akan masa kelamnya dengan Rico seakan terhapus sudah, Seto mengobati laranya, menyembuhkan luka hatinya dengan cinta yang begitu besar.


Namun saat masih mandi, Alana tiba-tiba terbangun dan menangis, Arini dengan secepat kilat menghampiri putrinya itu dengan mengenakan jubah mandinya. "Sayang..kenapa menangis?" ucap Arini saat menenangkan putrinya itu.


"Alana haus?" Arini meraih botol susu yang berada di atas nakas setelah itu putrinya terlelap kembali, ternyata Alana menangis karena haus.


Di kediaman Seto. lelaki itu sedang berbicara serius kepada Maminya, ia mengatakan bahwa ingin menikahi Arini, Seto telah menceritakan semuanya tanpa terkecuali perihal calon istrinya itu. 


"Asalkan kau benar-benar serius, mami merestui." 


"Serius mi?" tanya Seto memastikan.


Maminya itu mengangguk, bagi wanita paruh baya itu, ia telah lama menanti kehadiran seorang cucu dari putra semata wayangnya itu. tidak perduli status sosial, yang pasti baginya wanita itu sigle dan tidak terikat status dengan siapapun.


"Terimakasih mamiku sayang.." ucap Seto dengan menciumi Maminya itu 


"Sudahlah aku geli melihat tingkahmu yang seperti sekarang ini." 


Seto terkekeh, ia bersyukur Maminya tidak mempermasalahkan status dari Arini janda beranak satu.


"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku." gumam Seto yang sudah tidak sabar.


Tentu saja di otak laki-laki itu ada mesum mesumnya sedikit.


Bimo yang menyimak dari kejauhan hanya bisa mengeleng " aku jomblo bisa apa?" ucapnya meratapi nasib.


Bersambung....

__ADS_1


maaf baru bisa update author sibuk bingitz..


yok semangati aku dengan cara like komen rate dan vote 🥳


__ADS_2