
aku hari ini update dua chapter, semoga kalian suka ya dan mau memberikan like komen rate dan vote buat karyaku ini
happy reading 😘
Melihat seseorang itu menghajar Rico dengan membabi buta Arini berteriak, darah yang telah mengalir dari wajah Rico membasahi keramik putih. Tubuh Arini mengeluarkan keringat dingin namun matanya yang sedari tadi terpejam kini terbuka lebar. Seseorang yang menyelamatkan tadi membangunkannya, ternyata semua yang di alami Arini tadi hanyalah mimpi, mimpi yang begitu jelas dan terasa nyata.
Seto menatap wanita yang kini merasakan ketakutan itu, Arini masih mengatur nafasnya "Aku di sini sayang.. tenanglah." ucap Seto menenangkan istrinya yang ketakutan itu.
Arini melayangkan pandangan ke sekelilingnya, ia meneliti benarkah ia di tempat yang aman sekarang, ia benar-benar takut akan mimpinya tadi yang begitu terasa nyata.
Tetap saja Arini merasakan perasaan takut, walaupun di saat ini memang benar Arini berada di ruangan yang begitu luas, dia sedang berbaring di ranjang besar yang beberapa bulan ini ia tempati bersama suami barunya. Ia juga melihat barang yang semestinya TV LED berukuran besar, di sudut ruangan juga ia dapat melihat ruangan yang sering ia gunakan untuk bersantai bersama Seto. Ia seketika sadar ia berada di kamarnya sekarang.
Ia mengingat-ingat kejadian di alam mimpinya, dia bertemu dengan Rico dan mengalami kekerasan dan pemaksaan lagi, sebelumnya ia di datangi dua orang preman yang datang untuk menculiknya. hingga ia berusaha memberontak dengan tenaga yang ia miliki.
Arini di bangunkan Seto, saat wanita itu berteriak minta tolong dalam keadaan mata terpejam, Seto begitu penasaran apa yang membuat Arini ketakutan, apa mimpinya begitu seram?.
Seto menarik nafas panjang, "sayang..kamu kenapa? mimpi apa kamu sampai keringat dingin begini."
Arini mengeratkan pelukannya, ia benar-benar takut akan mimpinya tadi, "sudah jika kamu belum siap cerita, nggak apa-apa." ucap Seto dengan mengusap punggung wanitanya.
Seto menghapus air mata Arini, wanita itu tersenyum padanya, seolah mengisyaratkan bahwa ia merasa lebih baik, rasa gugupnya sedikit menguap.
Seto mengeratkan pelukannya dan menciumi kening Arini, "nggak apa-apa kalau kamu belum bisa cerita, aku siap nunggu cerita kamu."
Arini tersenyum tipis dan mengangguk.
Beberapa saat kemudian Arini turun dari ranjang, ia menuju ke kamar Alana, Seto sedang mandi sekarang, makannya Arini keluar untuk menemui putrinya itu.
Melihat Alana masih terlelap, hati Arini menghangat, ia mencium pipi bulat itu kemudian mengusap lembut kepalanya, cukup lama Arini menatap gadis kecilnya itu dengan tarikan nafas yang terasa sesak, kata-kata Rico dalam mimpi terngiang-ngiang di otaknya.
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, Arini tahu itu Seto, ia sudah hafal aroma tubuh suaminya itu.
Mbak pengasuh yang melihat kedatangan tuannya segera tersenyum kikuk, ia pun berpamitan untuk keluar saat di rasa kehadirannya dalam ruangan itu akan menjadi obat nyamuk, dan pastinya ia akan iri melihat kemesraan kedua majikannya itu.
__ADS_1
"Loh kok belum bersiap mas, udah jam berapa ini, emangnya nggak kerja?" kata Arini.
Seto membalikkan badan Arini agar menatapnya, lelaki itu menggeleng, "untuk hari ini aku pengen nemenin kamu aja di rumah."
Arini tersenyum, ia lalu mencubit hidung mancung suaminya, " sejak kapan kalender hari ini mendadak berubah warna menjadi merah?"
Seto tertawa kecil, " kenapa?" tanya Seto.
"Sana kerja cari uang yang banyak," Arini mendorong tubuh Seto agar keluar dari kamar Alana, namun tubuh suaminya itu sama sekali tak bergeming padahal ia sudah mendorongnya dengan kuat.
"Berani ya sekarang sama aku..?" ucap Seto dengan mengusap rambut panjangnya dan sesekali mengecup rambut Arini.
Seto mendongakkan wajah Arini, ia menatap hangat Arini hingga wanita itu tersipu malu. "Emangnya kenapa kalau aku nggak berangkat kerja?"
"Nggak papa sih mas..em, aneh aja kalau kamu di rumah di jam ngantor seperti ini." kata Arini.
"Aneh gimana?" tanya Seto lagi ia masih menatap mata Arini sambil senyum-senyum sendiri.
"Biasanya kan emang mas Seto di jam sekarang udah nggak ada di rumah, apalagi mas Seto udah nggak bolehin aku kerja di butik bunda Atmojo, semenjak itu aku terbiasa di rumah bersama Alana dan para mbak-mbak pengasuh, aneh aja kalau ada mas Seto di antara kami." jawab Arini.
"Hah?" Arini mendongakkan kepalanya, mencoba meminta Seto mengulangi kata-kata barusan yang di ucapkannya.
Seto tertawa mendengarnya, "walaupun di luaran sana banyak yang menggilaiku, justru aku malah gila padamu, hanya padamu seorang." ucap Seto dengan memeluk tubuh Arini.
"Hmm..bapak Seto Permana yang terhormat, bisakah anda melepaskan pelukan ini, saya berkeringat karena tadi belum mandi." kata Arini ikut menggoda suaminya.
"Aku lagi nggak ada kerjaan loh, bisa tuh bantu-bantu gosok punggung Bu Arini Kemala, apalagi mandiin Bu Arini nggak di gaji juga nggak papa deh, aku iklas." ucap Seto dengan menahan senyum.
"Apaan sih mas," Arini tersipu malu, "tuh jaga Alana, dasar bapak direktur yang mesum!" Arini meninggalkan Seto dengan sigap, ia takut di terkam oleh suaminya yang super mesum itu.
Di lain tempat.
Hari ini Rico akan melakukan penerbangan ke luar kota, sudah sejak pagi Clara cekatan mempersiapkan segalanya yang di butuhkan Rico, lelaki itu muncul dari arah belakang dan memeluk Clara, wanita itu tersenyum, aroma tubuh Rico sudah seperti aroma saat lelaki itu jatuh cinta padanya dulu, aroma ini membuatnya Dejavu, karena saat itu Rico jatuh dalam pelukannya.
__ADS_1
Setelah itu Rico duduk di tepian ranjang dan memakai bajunya.
Clara meliriknya dari samping, sangat tampan, dan wangi, rambutnya yang acak-acakan menambah kesan seksoy pada lelaki ini, namun tunggu sebentar suaminya mengapa menjadi lebih tampan begini, seperti orang yang sedang jatuh cinta?.
Clara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia mengusir pikiran negatif yang sedang bergelayut di otaknya. tidak mungkin Rico berpaling darinya kan?.
Beberapa percakapan di antara mereka pun terjadi, hingga dengan berat hati Clara akhirnya melepaskan kepergian suaminya itu, "jangan lama-lama ya mas perginya." ucap Clara manja.
"Iya sayang..aku janji." balas Rico dan kini mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga, menuju ke pintu depan.
Entah mengapa terbersit pikiran tidak rela melepas kepergian Rico, apalagi penampilan Rico yang berubah menambah kecurigaan di hati Clara semakin menjadi. Rico tersenyum kemudian mencium kening Clara dengan lembut.
Tangan kanannya melepaskan koper dan Rico menyentuh dagu Clara, wanita itu memejamkan mata saat bibir mereka bersentuhan, Clara sangat menikmatinya apalagi sudah lama ia tak merasakannya.
Hingga waktu terus bergulir malam pun tiba, saat sedang menonton televisi, ponsel Clara berkedip ada satu notifikasi pesan dari nomor baru. Ia pikir Rico tadi memberikannya kabar nyatanya bukan, itu pesan dari orang lain.
085296xxxxxx " Clara ini aku mas Aji.
Ternyata yang mengiriminya pesan adalah Aji, rekan kerja Rico yang pernah merasai tubuhnya dulu saat ia meminta lelaki itu untuk mencari tahu tentang Arini.
"Ya ada apa?" Clara mengirimkan pesan balik.
"Sebelumnya aku mau tanya sama kamu, emang sekarang udah nggak sama Rico lagi kamu? udah cerai ya?
Nafas Clara berembus cepat, tanpa basa-basi Clara langsung menelpon nomor Aji tadi, tanpa mengucapkan salam atau halo, karena Clara di selimuti emosi ia langsung tho the poin.
"maksud kamu apa mas?"
"Duh..bukan gitu Cla..aku ngeliat.." ucap Aji terpotong
"Apa? Lihat apa?" tanya Clara yang sudah tidak sabar.
"Barusan aku lihat, em..anu.. suamimu di hotel kencana, Cla."
__ADS_1
Mata Clara membulat seketika, seolah kecurigaannya akhir-akhir ini terjawab sudah, lalu pamit ke luar kota itu hanya sekedar alasan? Lalu sebenarnya...
Bersambung...