
Wanita ini benar-benar menantang emosiku!" batin Rico.
"Semua hanya fantasimu. bahkan kau masih memanfaatkan lukamu untuk menarik perhatian orang lain dan memprovokasinya seolah aku yang salah dalam segala hal!"
Mendengar ucapan Rico, Dea semakin tak mengerti arah pembicaraan lelaki di hadapannya kini.
" Rico, aku sungguh tidak memahami apa yang kau katakan, aku pikir kau datang dan akan meminta maaf padaku setelah apa yang terjadi? Tetapi kau malah menuduhku dengan segala omong kosong yang sama sekali tidak aku mengerti."
"Kamu manusia yang paling menjijikkan yang pernah aku temui. Pantas saja jika Arini menceraikan bajingan sampah sepertimu!" Maki Dea.
tepat pada saat itu kalimat terakhir dari Dea memprovokasi amarah Rico, ia kehilangan kesabaran dan menghimpit tubuh Dea ke dinding.
Yang terlihat sekarang, kaki wanita itu gemetar karena ketakutan.
" Mulut wanita ini tajam sekali, setiap kata yang ia keluarkan begitu menyinggung, apa dia tidak tahu aku bisa saja membunuhnya jika ucapannya semakin membuatku emosi?" batin Rico.
Rico pun teringat dengan malam itu, tepatnya delapan bulanan yang lalu. tatapannya berubah menjadi ambigu, dan tanpa sadar ia pun semakin menyakiti Dea.
"Tarik Kalimat terakhir yang kau katakan!" Seru Rico dengan nafasnya yang mulai naik turun.
Dea yang merasa benar pun mengabaikan rasa takutnya, ia merasa apa yang dirinya katakan tidak keliru dan itu sebuah kebenaran, Dea pun bungkam tidak berminat untuk menarik kembali ucapannya karena inilah mereka sekarang saling bertatapan dengan atmosfer yang panas.
Sekarang ini Rico menghimpit tubuh Dea, dengan posisi yang begitu ambigu.
" Kau yang mengatakan pada Seto kan, aku adalah ayah biologis dari anakmu yang telah gugur? Lalu kau memprovokasinya agar menyuruh beberapa orang untuk mencegat ku saat di jalan dan memukuliku?"
"Apa?" tanya Dea setelah mendengar penuturan Rico.
"Aku sama sekali tidak mengatakan apapun padanya, hubunganku dengannya tidak sebaik dulu, jadi mustahil rasanya aku dapat bicara panjang lebar apalagi bercerita tentang dirimu!" tegas Dea.
"Jangan berkilah."
"Rico. Seto adalah orang yang cukup mempunyai kekuatan di kota ini, jadi bukan masalah besar untuk mencari informasi tentang seseorang, itu adalah hal sepele baginya. jadi gunakanlah otakmu dengan baik untuk berpikir!"
Dea yang belum sepenuhnya pulih terlihat semakin pucat saat Rico semakin mendesaknya ke dinding, tubuhnya yang masih lemas membuatnya kehilangan kesadaran dan Dea benar-benar tidak tahan harus berdiri lebih lama seperti sekarang akhirnya ia segera terjatuh.
Rico mengangkat alisnya, ia pun terkejut saat melihat Dea mendadak pingsan dan hendak terjatuh dan dengan refleks ia pun menangkap tubuh wanita itu.
__ADS_1
Rico bingung harus bagaimana, seperti biasanya orang yang bingung daya ingatnya menjadi rendah, padahal jarak antara dia dengan sofa sangatlah dekat, tetapi lelaki itu merasa tidak melihatnya.
Merasa takut akan terjadi sesuatu, Rico tidak ada pilihan lain, ia meninggalkan tubuh Dea sesaat setelah meletakkannya di lantai dengan hati-hati. Ia berlari ke arah pintu lalu matanya menelisik mencari di mana mobil Dea berada.
Namun Rico lupa, Dea baru saja mengalami kecelakaan jadi sudah pasti mobilnya masih di kantor polisi. " Astaga. sudah pasti mobilnya masih jadi urusan polisi." lalu akhirnya ia memesan taksi detik berikutnya.
Tak selang berapa lama, Rico berhasil membawa Dea masuk ke dalam taksi dengan bantuan sopir. Ia mengatakan tujuannya lalu sopir taksi itu segera menuju ke rumah sakit.
Di lain tempat drama keluarga bahagia..
"Mama!"
Tiba-tiba putrinya itu memanggilnya membuat Arini refleks menoleh ke sumber suara.
"Apa malam ini akan ada halimau yang akan mengigit papa lagi? kata paman io kamal mama dan papa setiap malam ada halimau." kata Alana dengan mata besarnya.
"Apa? tidak. Om Dio hanya bercanda sayang, harimau tidak mungkin di kamar mama," Arini menjelaskan dengan raut wajah yang panik.
"Tapi kan lehel papa di gigit halimau ma, ayo. Ajak adik Galang bobok di kamarku bial tidak di gigit halimau." ajak Alana dengan wajah polosnya.
Alana menatap sang mama dengan serius, "Mama, apa halimau tidak menyukai papa? jadi dia mengigit papa?" setelah di jelaskan, bocah ini masih saja membahas harimau yang sebenarnya tidak ada.
"Mas?!" Arini mengalihkan pandangan ke Seto untuk meminta bantuan, ia pikir suaminya itu akan bisa menangani rasa ingin tahu putrinya sekarang, kemudian Seto meliriknya dan berkata.
"Sayang sini!" ucap Seto ia menyuruh Alana duduk di pangkuannya.
Saat ini Seto sedang duduk di sofa kamar, memperhatikan ibu dan anak sedang membahas harimau, tanda merah di lehernya ternyata mengundang rasa ingin tahu yang begitu besar bagi putrinya itu.
Mendengar putrinya begitu penasaran tentang harimau jadi-jadian, Seto menjadi merasa bersalah karena menciptakan rasa penasaran untuk putrinya.
"Sayang.. harimau hanya tidak menyukai pria dewasa jadi harimau akan mengigit pria dewasa ketika malam hari, tapi tidak setiap hari."
"Apa?!"
Arini hampir tidak dapat mempercayai telinganya dan menatap Seto dengan ekspresi yang sangat terkejut.
"Mengapa halimau hanya tidak menyukai plia dewasa ?"
__ADS_1
Seto meletakkan Alana dari pangkuannya, lalu ia berdiri dan berkata " kamu terlalu muda untuk mengerti." jawab Seto.
"Ayo papa antar ke kamarmu, dan membacakan beberapa dongeng untukmu."
"...." Arini hanya bisa diam dan memilih fokus menidurkan Galang.
"Ok papa."
Setelah sampai di kamar Alana, gadis kecil itu menyeret Seto ke tempat tidur yang tidak begitu luas.
Seto hanya ingin putrinya itu berhenti bertanya tentang harimau, jadi ia menjelaskan seperti itu berharap putrinya paham dan tidak membahas harimau lagi.
"Papa, lehel papa masih melah apakah ini sakit?" tanya Alana dengan wajah polosnya.
Seto saat ini sedang berbaring di tempat tidur bersama Alana, putrinya menusuk tanda merah di lehernya dengan jarinya.
"Tidak. Ini tidak sakit kok." Seto menyentuh lehernya dengan tangannya dan menyangkal " cepat bobok, papa akan membacakan dongeng untukmu." pernyataan Alana bertubi-tubi membuat Seto menjadi frustasi.
"Papa, aku akan tidul sekalang." janji bocah itu dan segera memejamkan matanya.
Tetapi mata itu terbuka lagi, saat Arini tiba-tiba masuk untuk menyusul ayah dan anak itu setelah Galang tertidur.
"Mama !"
Alana memanggilnya setelah melihat dirinya masuk, dan melambaikan tangan padanya. Ia menyuruh Seto untuk tidur di tengah dan ia segera berguling ke sisi paling kiri melintasi Seto, seperti bola.
" Bagaimana bisa papa seorang pria malah tidur di tengah?" Seto ingin menghentikannya.
"Papa, apa papa lupa? Halimau tidak menyukai plia dewasa, jadi aku dan mama akan melindungi papa bial tidak di gigit lagi" Kemudian menatap sang mama, ".ya, kan, ma?"
Seto segera membungus dirinya dengan selimut, rupanya drama harimau belum juga usai, untuk kedepannya rasanya ia akan meminta harimau untuk memakannya saja sampai habis.
Bersambung.......
jangan lupa like komen rate dan vote para readers setia mas Seto.
__ADS_1