
Clara memberikan obat kepada Rico , " yang harus kamu lakukan sekarang adalah introspeksi diri, ingat Arini sudah memiliki kehidupan baru, dia bukan milikmu lagi, jika kamu bersikeras untuk mengusiknya, aku tidak akan menghentikanmu, namun aku tidak sudi lagi mengobati lukamu ini!" ya setelah pulang dari salon tadi Clara sampai di rumah dan sangat terkejut melihat keadaan Rico yang berantakan.
Rico menatap obat di telapak tangan Clara dan mengambilnya dengan tenang. kemudian ia meminumnya.
Obatnya sangat kuat, setelah beberapa saat ia sedikit mengantuk.
" sudah jangan merawat ku, lihat aku sudah baik sekarang," Clara hanya menatap wajah Rico dengan acuh, ia sangat sebal dengan lelaki di hadapannya ini. kemudian Clara berkata " duduk, aku akan mengukur tubuhmu dengan termometer!"
"Tidak perlu.." bibir Rico terlihat kering, ia meletakkan tangannya di pinggiran ranjang, lalu ia berkata dengan jujur " sebaiknya aku pergi keluar mencari hotel, kau pasti sangat muak denganku."
Clara hanya diam, sebenarnya memang iya, dirinya sangat muak dengan Rico, tapi ia tidak setega itu, toh saat ini status mereka masih suami istri.
"Hmm bukan begitu yang ku mau." kemudian Clara pergi dari kamar itu.
Rico tidak ingin menyusahkan Clara, ataupun menggangunya, jadi dia mengambil barang-barangnya dan pergi keluar tanpa mengatakan apapun lagi.
Di sisi lain, suasana dalam ruangan kerja mendingin dalam sekejap, dan suasana ini sangat sulit bagi Bimo untuk bernafas.
Pada status sosial media Rico, terlihat ia mengunggah foto Arini berbaring pada pelukan Rico, dan dengan caption merindukan kamu yang selalu menjadi milikku. walaupun Seto sadar itu foto lama tapi caption itu yang membakar hatinya.
"Lalu..apa kita harus benar-benar menghancurkan Rico sekarang? agar dia tidak mempunyai nyali untuk mendekati istrimu Bos?" Bimo tidak tahu apa yang dia pikirkan, dan bertanya dengan rasa takut untuk beberapa saat, ia sendiri yang memberikan informasi status itu sungguh ia lupa hal itu dapat memicu kemarahan bosnya.
"Siapa dia, hingga aku harus merasa bersaing dengannya, semua orang pun dapat menilai dia manusia yang lebih buruk dariku!" Seto menjawabnya dengan dingin, ia melemparkan ponsel kembali ke Bimo. "Kembali fokus ke kerjaan jangan pedulikan dia!"
Bimo menangkap ponselnya, dan kembali ke kursinya dengan keraguan.
"Lain di mulut, lain di hati." ia mengumpati Seto dalam batinnya.
Sedangkan setelah kepergian Rico secara diam-diam, saat ini Clara berada di ruangan yang sangat gelap, ia berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam.
Aroma parfum Rico masih tercium oleh hidungnya, padahal lelaki itu meninggalkan kamar ini sudah cukup lama.
__ADS_1
Semakin Clara mengingatnya, semakin sakit hatinya.
Dia masih saja mengharapkan Arini sangat serakah sekali, setelah berbaring cukup lama ia mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas kemudian ia menelepon.
"Clara, aku tidak pamit denganmu, aku sekarang sudah sampai di hotel jangan cemaskan aku. aku hanya tidak ingin kamu khawatir" begitu kata Rico setelah ia menjawab telepon.
"Aku sudah memutuskan, hiduplah sesukamu, jalan yang kau pilih itu menjadi hakmu, aku tidak akan melarangnya lagi apa yang akan kamu lakukan." kata-kata Clara begitu tegas, hingga membuat Rico tak percaya, ia pikir wanita ini akan menangis mengharapkannya untuk pulang. setelah jeda beberapa saat Clara melanjutkan " Aku siap kau ceraikan!"
"Siap ku ceraikan?" Rico bergetar mendengar kalimat Clara barusan, dengan tidak percaya ia mencoba mencari ketegasan " apa kau yakin dengan ucapanmu, aku mengatakannya saat sedang emosi kemarin, aku hanya meminta waktu sendiri dulu, tidak bermaksud ingin berpisah denganmu."
Pada akhirnya suara Rico menjadi lebih tajam dan sedikit keras.
Clara mengigit kukunya dengan santai, "jangan berteriak padaku, kemarin kau sendiri yang memintanya."
Clara berhenti dan mendudukkan dirinya, suaranya menjadi lebih dalam dan lebih rendah, " aku sebelumnya tidak benar-benar mencintaimu, hingga akhirnya aku jatuh hati beneran, tapi kamu patahkan dengan entengnya, sekarang aku mengetahui bahwa cinta itu adalah suatu kesia-siaan!"
Jelas saja ucapan Clara menyulut amarahnya, " aku minta maaf, jika membuatku marah, curahkan saja semua kemarahanmu padaku, aku tidak benar-benar menginginkan perpisahan ini."
Kemudian Rico menghela nafas ketika layar ponselnya sudah menjadi gelap, Clara telah mengakhiri panggilannya.
Saat ini Seto telah berada di kamarnya bersama Arini, suasana hatinya sudah membaik, sepertinya Arini sudah memahaminya sekarang.
"Aku tidak akan marah lagi, jika kamu menurut dan tidak membelanya lagi," saat ini Seto mencium bibirnya, dan berbisik di tengah-tengah ciumannya, "sayang kamu harus ingat ini."
Kali ini Arini memahaminya dengan jelas, namun sudah terlambat untuk menjawabnya, saat ini ciuman itu memanas. Arini tidak malu-malu lagi, dia di cium hingga terengah-engah dan merasa lelah.
Tidak tahu berapa lama, hingga mereka mengakhirinya.
Lengan Arini menggantung di leher Seto, mata Arini terlihat terdesak, dirinya tidak terkendali. Keinginan di bawah mata Seto terlihat sangat jelas, dan Arini merasa terbakar, sangat berbahaya.
"Aku, aku akan mengecek Alana dulu," Arini menjilat bibirnya yang sedikit bengkak, dia berbisik, dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu. Ia buru-buru keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Setelah itu, beberapa saat kemudian Arini kembali ke kamar, ia melihat Seto sudah terbaring di ranjang, ia pikir lelaki itu sudah tidur, saat ia merangkak naik, tangan kekar itu bergerak membuat jantungnya seolah ingin melompat.
"Maaf, gerakan ku membangunkanmu ya mas?" ucapnya kikuk.
Arini kembali turun, ia merapikan selimut yang terlihat terjuntai ke lantai itu, dirinya tadi ingin merapikan namun Seto tiba-tiba datang dan menciumnya.
Melihat itu, Seto segera turun, ia memberikan jalan agar Arini menyelesaikan semuanya, namun itu hanya sebuah modus, saat Arini membungkuk, tubuh tinggi itu menekannya dengan berat, dan tangan kekarnya menyentuh pantat dan memukulnya dengan gerakan gemas.
"Kau sengaja menggodaku ya?"
"Ma-mana ada, aku hanya ingin merapikan selimut."
"Hmm sepertinya alasanmu begitu biasa."
"Alasan apa mas, bukan alasan."
Kemudian tangan itu beralih ke dua gundukan kenyal, meremasnya pelan hingga leguhan itu tidak sadar keluar dari bibir tipis Arini.
Entah bagaimana saat ini keadaan mereka sudah terbaring di ranjang, dengan posisi Seto menindihnya, tak ingin berlama-lama Seto segera melepaskan kain yang membungkus tubuh Arini dengan gerakan tidak sabaran, malam ini tidak akan ia biarkan pitonnya merana, "mas, kemarin kan sudah."
"Memangnya ada jadwal cuti untuk soal yang satu ini?
Arini menggeleng hingga tak terasa tubuhnya benar-benar di masuki oleh sesuatu yang selalu membuatnya menggila di setiap hentakan-hentakannya.
Bersambung…
Kalau kau tak suka mengapa tak kau katakan?
jangan kau berlari semasih dalam pelukan!
-Dosa kau anggap madu.
__ADS_1
jangan lupa like like komen rate dan vote 🌹