
Merasa kesal dengan apa yang telah di lakukan Dea dulu, Dio mengutuknya tanpa rasa menyesal.
Semakin Dio memikirkannya, semakin ia teringat akan kenangan pahit yang melukai hatinya, ia semakin marah, dan mengumpat tanpa henti.
Raut wajah Dio saat ini sangat suram, ia masih terus mengutuki masalalunya, hanya beberapa detik semua kenangan bersama Dea telah ia lenyapkan.
"Oke, menjadi lelaki baik nyatanya tidak selalu mendapatkan keberuntungan, mulai saat ini wanita itu akan tahu bagaimana seorang lelaki baik berubah menjadi seorang bajingan!"
Semakin keras berpikir, Dio semakin merasa marah, nada suaranya penuh dengan emosi, sebenarnya beberapa terakhir ini Dea selalu mengganggunya, itu yang membuat Dio merasa tidak senang.
Dia baru menyadari benar kata orang-orang masalalu itu memang menjengkelkan!.
Dia kembali duduk di sofa, tangannya kembali meraih alkohol yang berada di atas meja, dia menenggaknya beberapa kali dan ketika habis ia kembali menuangkannya ke dalam gelas, sudah menjadi hal wajar bagi Dio ketika sedang pusing seperti ini ia akan menghabiskan waktu dengan meminum sampanye.
Dio tidak bisa menahan diri lagi untuk bersikap baik dengan wanita masalalunya itu, selama ini ia telah menyembunyikan perasaan sakitnya yang luar biasa, bahkan luka yang di torehkan Dea, sampai membuat Dio tidak mempercayai lagi akan sebuah komitmen.
Dio kembali meneguk sampanye, ia benar-benar bosan melihat tingkah Dea yang akhir-akhir ini merecokinya.
"Baiklah. Karena dia telah berusaha keras untuk mendapatkanku kembali bagaimana kalau aku hadiahi wanita itu sesuatu?" gumamnya dengan tersenyum jahat.
Bagi sekelompok orang yang sedang jatuh cinta, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi.
Namun bagi seorang seperti Dio cinta adalah kecemasan, masalah dan kesengsaraan.
Tepat satu bulan berlalu..
Hari ini Rico sudah kembali bekerja, bagaimana dia tidak mau terpuruk selamanya dalam kemiskinan.
Saat jam makan siang, ia pun beristirahat di kantin, ia hanya memesan minuman tidak berniat untuk makan, ia mengotak-atik ponselnya dan melihat berita yang sedang viral di medsos.
Seorang pengusaha muda yang sedang naik daun setelah kelahiran putranya, rejeki anak !
"Arini semakin cantik saja, Rin..aku merindukanmu," lirih Rico, tatapan matanya tampak sayu melihat gambar yang terpampang di layar ponselnya.
Wajah serius Rico kini berubah menjadi gelagapan saat melihat siapa yang datang, sudah pasti setelah ini curhat dong mah akan di dengarkannya.
__ADS_1
"Apa kau tidak memiliki malu?" suara itu tiba-tiba saja menghujamnya, seolah ia telah kepergok maling. Tatapan seseorang itu mengintimidasi dari ujung rambut sampai ujung kaki Rico.
"Pekerjaanmu sekarang, belum ada apa-apanya, jangankan melawan Seto di harapkan saja rasanya tidak pantas!" ujar seseorang itu lagi, kata-katanya tenang namun ada racun di dalamnya yang dapat membuat darah Rico mendidih.
Rico menyunggingkan senyum terpaksa, "lalu apa bedanya denganmu?"
"Seharusnya kata-kata yang baru saja kamu lontarkan tadi bukan hanya untukku lebih tepatnya untuk dirimu sendiri, jangankan bersanding dengan Seto, membayangkan saja rasanya dia tidak Sudi!" timpal Rico lagi tak mau kalah.
Ucapan Rico benar-benar menyulut emosi Dea, namun wanita itu berusaha untuk tenang, " setidaknya aku bisa melakukan apapun dengan membayar orang untuk melakukan keinginanku."
"Lantas.. apakah usahamu sampai sekarang membuahkan has..?"
"Itu urusanku!" potong Dea. Ia mengepalkan tangannya, dan menatap tajam ke arah Rico.
Namun di saat bersamaan, mata Dea tak sengaja menangkap sosok yang ia kenali, hati Dea begitu panas melihat Dio yang terlihat ketawa bahagia bersama Tiara.
Melihat Dio yang tersenyum manis kepada gadis muda itu dan begitu mesra membuatnya tersadar akan posisinya di banding wanita muda yang kini sedang bersama mantan kekasihnya itu.
Dengan perasaan yang berkecamuk ia pun meninggalkan Rico tanpa permisi, Rico yang tak memahami perubahan sikap Dea hanya mengira wanita itu kesal setelah berdebat dengannya. Rico pun tak ada niatan untuk memanggil wanita itu, ia juga masih merasa kesal dengan mulut pedasnya.
Saat ini Dea masih bisa memandang jelas kemesraan antara Dio dan Tiara, karena ia hanya berpindah tempat dan sedikit menjauh agar Dio maupun Rico tidak menyadari keberadaannya.
"Harusnya aku yang di sana!" gumam Dea sambil meremas majalah yang ia gunakan untuk menutupi pandangannya. Ia membayangkan bertukar posisi dengan Tiara, ia ingin merasakan perhatian Dio seperti itu lagi.
Kini Tiara menyuapi Dio, dan tiap suapan itu terlihat bagai sayatan bagi Dea, bagaimana tidak, Dio tak melepaskan senyumannya saat memandangi dan berbicara dengan Tiara, bahkan tangannya sedari tadi menggenggam tangan wanita itu, senyuman manis yang dulu pernah di tujukan padanya kini berpindah posisi untuk gadis lain.
Jadi apakah ini alasan Dio tidak menerima panggilannya?.
Semakin lama menyaksikan drama romantis dari mantan kekasihnya itu, perasaan Dea semakin teriris, ia pun tak kuat dan memilih meninggalkan kafe itu agar tak semakin sakit hati.
Usai makan siang di kafe, Dio dan Tiara kembali ke apartemen, ada beberapa berkas yang ingin Dio ambil untuk ia serahkan kepada Seto sebelum nanti mengantarkan Tiara pulang.
"Aku ambil berkasnya dulu ya..?" ucap Dio saat mereka berhasil sampai di parkiran apartemen.
"Oke kak," jawab Tiara dengan meminum es bobanya yang tadi ia beli saat di perjalanan menuju apartemen.
__ADS_1
Kling pesan masuk ke ponsel Dio.
Dio..bisakah kamu menemuiku sekarang, aku sedang sakit~ Dea.
Nggak bisa aku sedang sibuk, sakit ke dokterlah!~ Dio.
Kamu sibuk apa memangnya Di?~ Dea.
Sibuk pacaran nih~ Dio.
"Drama terooosss!" kesal Dio setelah berhasil memasukkan berkas ke dalam tas.
Usai mengantarkan Tiara pulang, selain ia akan lanjut bekerja, Tiara harus pulang karena ada acara keluarga.
"Kabar-kabar aja ya Ra..kakak berangkat ngantor lagi." pamit Dio.
Tiara hanya mengangguk tersenyum, lalu membungkuk setelahnya ciuman pun Dio daratkan di pipi Tiara, kemudian Dio kembali menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor Seto.
Malam harinya..
"Buka mulut!!" perintah Arini yang langsung di turuti oleh Seto, yang menegakkan posisinya hingga duduk bersandar. Arini langsung mendekatkan dadanya ke wajah suaminya.
Hisap!!" bisik Arini dan jelas saja langsung di turuti oleh Seto.
Arini hanya meleguh pelan dengan erangan-erangan lembut yang keluar dari mulutnya. Seto terus saja menghisap semangka Arini dan sesekali memainkannya dan tanpa ia sadari ada sesuatu yang mengalir dari semangka Arini.
"Semangkanya banyak air,"
Arini kembali ingin mengancingkan piyamanya, " jangan aku suka!" ucap Seto yang melihat arini akan menutupi semangkanya.
"Nanti bangun, aku nggak bisa loh aku datang bulan lagi mas.."
"Biar aku yang ngurus, kamu tiduran aja!" perintah dan Arini pun menurut.
Selanjutnya...
__ADS_1
Bersambung....
bantu like komen rate dan vote dong biar semangat nih 🤭