Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 120.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian. Seto baru saja mandi setelah pergulatan panasnya, rambutnya yang kecoklatan masih sedikit basah. Dia mengenakan kemeja putih yang begitu pas dengan tubuhnya, Seto terlihat selalu seksoy setelah mandi.


Dia tampak sangat polos.


Arini berjalan ke arahnya, meletakkan secangkir kopi serta beberapa cemilan yang Ia buat tadi sebelum di eksekusi Seto ke ranjang. Arini hendak berkata namun ragu-ragu " mas, apa tidak sebaiknya aku KB?" 


"No," Seto meletakkan cangkir kopi ke atas meja setelah beberapa saat menyeruputnya.kopi buatan Arini memang sangat enak, jadi Ia selalu menyukainya.


Mendengar Seto tidak menyetujui usulannya, Arini menjadi sedikit risau, bagaimanapun Galang masih sangat kecil dan Seto selalu saja minta jatah kepadanya, takutnya nanti kebobolan dan memiliki anak lagi untuk saat ini sangatlah merepotkan.


Bukannya Arini bermaksud menolak rejeki anak dari Tuhan, jika memang nantinya Ia akan hamil lagi, namun seperti ibu-ibu pada umunya mengurus dua anak sangatlah merepotkan ya walaupun di Bantu pengasuh, tetaplah Arini tidak siap jika memiliki anak lagi dalam waktu dekat ini.


Mengatakan itu, Seto menyadari jika jawabannya membuat Arini mendadak diam, " maksudku biar aku saja yang menggunakan k*n*om, kau masih menyusui Galang, aku tidak mau asi mu terpengaruh."


"Ah, iya mas," Arini memperhatikan Seto dengan serius, tiba-tiba kata-katanya  membuatnya agak bingung.


Seto kembali menyeruput kopinya, gerakannya sangat elegan.


Dia menatapnya, " baiklah, jika kau merasa tidak nyaman aku tidak akan melakukannya."


Arini menggelengkan kepalanya, " tidak, bukan seperti itu mas,"


Dia meletakkan cangkir dan berkata, " haha, kau terlalu serius sekali sayang… aku tau apa yang aku lakukan, jadi tetaplah tenang, dan tidak perlu risau berlebihan."


"Aku hanya tidak ingin kasih sayang Galang dan Alana terbagi lagi nantinya," 


"Begitu?" 


Seto mengangkat alisnya, rupanya istrinya ini begitu cemas, tatapannya tiba-tiba menjadi murung.


Seto hanya bisa menahan senyum, biar bagaimanapun dia adalah laki-laki normal, jadi sulit baginya jika harus menahan untuk tidak mengeluarkan kecebong. 


" Kalau begitu kau saja yang KB mas?" 


Seto mengangguk setuju, "yah.., itu ide yang bagus. Aku saja yang menggunakan alat kontrasepsi." 


Arini sedikit mendapatkan angin segar lalu ia menatap Seto lega, setidaknya dia tidak akan cemas lagi karena biar bagaimanapun ia tidak mungkin menolak ajakan olahraga panas suaminya itu.

__ADS_1


"Baik, pergilah untuk menemui anak-anakmu, Galang pasti sudah haus, ingin meminum asimu." titah Seto dengan mengelus pipi istrinya.


Seto hendak turun ke lantai bawah, sebentar lagi Bimo datang, jadi sebagai tuan rumah yang baik, dia akan menyambutnya.


Sebelum keluar dari kamar dia bergumam, " sebenarnya mengeluarkan kecebong dengan di bungkus k*n*om tidak begitu menyenangkan, tapi tidak apa, daripada mengeluarkannya di luar atau tidak mengeluarkannya sama sekali itu jauh lebih buruk." 


Lalu ia melangkah kaluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.


Sesampainya di bawah, Seto duduk di sofa gaya Eropa, mengambil satu batang rokok dan membakarnya dengan kakinya yang tumpang tindih.


Dia melihat jarum di tangannya sambil merenung.


🌹🌹🌹🌹🌹


jam sepuluh di rumah sakit.


" untuk apa kamu kemari? Apa kamu belum puas telah membuat hidupku semakin berantakan seperti ini?" 


" tolong jangan salah paham." ucap Rico.


Dea tersenyum sengit, ia memandang wajah Rico dengan tatapan tak ramah. Ia sangat muak melihat sosok manusia menjijikkan di hadapannya saat ini, bahkan jika ia memiliki kekuatan yang lebih dari sekarang ingin rasanya dia menendang Rico hingga keluar ruangan rawatnya.


" Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Rico dengan nada lembut.


Karena sudah terlanjur memercik api, Dea tersenyum kecut lalu memalingkan wajahnya. dan memberikan penolakan kepada Rico secara terang-terangan.


"Apa pedulimu?" teriak Dea yang sudah sangat kesal.


Kemarahan yang selama ini Dea pendam, seketika memuncak begitu saja. Mengingat ia kehilangan calon anaknya serta tidak di akuinya kalau itu benihnya Rico.


Dea sudah sangat geram, ia berusaha mengambil teh panas di atas nakas lalu menyiramkannya ke dada Rico. kebetulan setelah teh di antarkan oleh office boy rumah sakit, selang berapa detik Rico datang.


" Argghh Dea…kau gila?!" Pekik Rico saat suhu panas dari teh menyentuh kulit dadanya. seakan kulitnya seketika terbakar.


Tadinya Dea ingin menyiramkan teh di wajahnya, namun karena badannya belum sepenuhnya kuat jadi siramannya hanya kuat sampai dada. Tetapi tetap saja rasanya bagi Rico sangatlah menyakitkan.


Alhasil kekacauan baru saja di mulai saat seseorang tiba-tiba saja masuk dan membela Dea.

__ADS_1


"Dea??" 


Mata Dea terbuka lebar, saat Ia mengalihkan pandangannya dan melihat sosok Dio berdiri di ambang pintu ruangan rupanya Dio telah menyaksikan semuanya.


Perlahan Dio mendekati berjalan mendekati Dea, ia telah menyaksikan apa yang semuanya telah terjadi. Melihat leher Rico yang terkena siraman teh memerah, Dio hanya bisa tersenyum meremehkan.


" Sebagai lelaki, sedikit siraman teh seperti ini tidak terasa apa-apa. Pada kodratnya lelaki di ciptakan Tuhan lebih kuat daripada perempuan."  Kata Dio, ucapannya terdengar nasehat tetapi sebenarnya secara langsung ia menyindir Rico.


"Pa-pak Dio?" mulut Rico mendadak bungkam, menyadari dulunya ia pernah bekerja sama dengan lelaki ini.


Sejenak Dea melirik, ia langsung menyeringai setelah mendengar sindiran Dio kepada Rico. Ada rasa kepuasan tersendiri di dalam lubuk hatinya.


Dea tidak menyangka, Dio akan datang menemuinya setelah semalam ia merengek pada lelaki ini agar menjenguknya.


Seketika Dea tersadar,  kalau tidak seharusnya  Ia tidak mengharapkan lebih  dengan pria yang pernah ia sia-siakan.


Namun yang tidak di ketahui oleh Dea, hampir setiap hari Dio terpuruk akan luka yang Dea torehkan, bagaimanapun ia tidak dapat melupakan begitu saja terlebih cintanya yang dalam telah di sepelekan.


Bahkan Dea adalah wanita pertama yang mematahkan hatinya.


Memang tidak mudah, tetapi semenjak putus hari itu Dio mencoba untuk bersikap seolah dirinya bukanlah orang yang bersangkutan, ia akan mengubur dalam-dalam perasaannya.


Lalu Rico menyilangkan kedua tangannya, di depan dada sembari menatap Dio dengan tatapan sinis.


Dio yang ingin menoleh ke arah Dea, langsung mengurungkan niatnya kemudian ikut menatap Rico dengan atmosfer yang menakutkan.


Rasanya ia ingin mencekik leher lelaki di hadapannya, lelaki yang di anggap begitu menjijikkan. " Ku pikir kau tidak peduli lagi."  tanya Dio dingin.


" Hemp, peduli atau tidak itu juga bukan urusanmu!" Rico tak mau kalah ia berucap menyeringai ke arah Dio.


Namun saat ia mengucapkan kata pertama, tiba-tiba saja  Dio Memalingkan tatapannya dan mengabaikannya begitu saja seolah ia baru saja tidak bertanya.


" Lelaki ini, benar-benar!!" Rico kesal di buatnya.


"Memang bukan urusanku, dan aku juga tidak sudi mengurusi manusia tidak berfungsi sepertimu!" ucap Dio ketus.


"Kau!!"

__ADS_1


"Cukup Rico, silahkan keluar!!!!" teriak Dea.


Bersambung.....


__ADS_2