
Malam telah larut, saat Seto sampai di kediamannya. Perjalanannya terhambat tadi karena jalanan luar kota sangat macet, hingga membuat dirinya sampai di rumah tengah malam begini.
Seperti biasa, Arini selalu menunggu kedatangan Seto. Ia merasa tidak tenang jika suaminya itu belum datang dan masuk kedalam kamar bersamanya.
"Belum tidur mah?" Seto melihat jam di tangannya, sudah hampir jam setengah dua belas.
"Aku menunggumu mas," jawab Arini sembari mengambil jas yang berada di tangan Seto.
"Lain kali tidak perlu begini mah, tidurlah jika memang sudah mengantuk kasian juga anak kita yang dalam perutmu ini." Seto mengelus perut Arini, kemudian memberikan kecupan di wajah dan puncak kepalanya. Setelah itu ia duduk di sofa melonggarkan dasinya yang ketat.
Arini dapat merasakan kasih sayang yang di berikan kepadanya, dan itu membuatnya merasa beruntung di cintai dan di miliki Seto.
Jika pulang hampir larut begini, Arini tidak membuatkan Seto kopi, ia hanya akan menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, dan setelahnya mereka akan tidur bersama.
Begitu pula dengan Bimo, ia sampai di apartemen pada saat jam menunjukkan tengah malam.
Namun saat ia hendak merebahkan tubuhnya, ponselnya yang berada di saku celana membuat ia menunda niatnya, lalu tangannya bergerak meraih benda pipih yang saat ini masih terus bergetar.
"Haloo," telepon itu tersambung dan ternyata Dea yang saat ini memanggilnya, wanita itu memutuskan untuk berbicara lebih dulu. Bimo hanya terdiam di sini sejenak, namun di sana Dea hanya dapat mendengarkan nafas beratnya. hanya mendengarkan nafas berat Bimo, Dea dapat memahami lelaki ini sangat terganggu dengan panggilannya dan Dea merasakan sakit di hatinya. sebelum ia mengakui perasaannya terhadap Seto hubungannya dengan Bimo baik-baik saja, namun setelah ia berusaha memaksakan perasaannya, Bimo seketika menjaga jarak dan seolah menganggapnya musuh.
Dea pikir tidak salah jika Bimo bersikap demikian, toh..ia juga yang salah, namun baru-baru ini rasa sakit itu kembali terasa kembali setelah mati rasa.
"Ingin bertanya tentang Bos Seto?" Bimo akhirnya angkat bicara.
"...ya." Dea menjawab.
Bimo merasakan kali ini suara dan auranya, terdengar seperti Dea yang sebelumnya. Tapi ketika memikirkannya, ia wajib waspada, apalagi wanita ini telah bekerja sama dengan Rico.
"Jangan mencari tahu lebih jauh tentang bos Seto. Lebih baik tidak tahu daripada tahu itu akan membuat hatimu sakit dan hancur lagi, bahkan hari-harimu akan menjadi lebih buruk dari apa yang telah kamu rencanakan." suara Bimo terdengar sinis.
__ADS_1
"Ah..bukan itu maksudku, aku hanya ingin meminta maaf." Dea akhirnya angkat bicara.
Bimo terdiam sesaat, mencerna kata yang baru saja ia dengar, lalu setelah itu ia akhirnya menjawab " aku hanya bisa mengatakan ya. Karena setiap manusia pasti mempunyai sisi khilafnya."
"Terimakasih, aku juga akan meminta maaf kepada Seto secara langsung."
"Akan jauh lebih baik, jika kamu lakukan dengan sungguh-sungguh." lalu tanpa menunggu jawaban Dea, Bimo mengakhiri obrolan itu.
Ia sangat penat hari ini, lalu ia berjalan ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah air shower.
"Sudah lama rasanya, aku tidak melihat senyuman itu." gumam Bimo pada dirinya sendiri sembari memejamkan mata di bawah guyuran air shower.
"Haish..apa yang baru saja aku pikirkan." Bimo menarik rambutnya ke belakang, seulas senyum nampak di wajahnya.
Ia segera menyelesaikan mandinya, badannya cukup rileks sekarang dan kembali segar, lalu dengan cepat ia berjalan ke lemari mengambil celana pendek dan memakainya, sedangkan tubuhnya ia biarkan polosan.
Namun angannya masih melayang tentang Hana, wanita yang sudah lama jauh darinya, wanita yang dulu selalu tersenyum dan ramah kepada siapa saja. Tetapi sangat terasa jauh dari jangkauan dan hatinya sangat sulit ia sentuh.
Bimo tidak pernah menyangka, ia malah terjatuh di dalam rasa penasarannya, ia begitu mengangumi sosok Hana yang sampai sekarang rasa cintanya hanya mampu ia pendam sendiri.
Padahal Hana adalah gadis sederhana, di banding dengan wanita yang beberapa kali menemani tidur Bimo saat nakal dulu, itu tidak ada apa-apanya, inilah yang di namakan cinta tidak peduli bagaimana orangnya, karena cinta tidak bisa di jelaskan kalau hati yang telah berbicara.
Bimo masih senyum-senyum sendiri mengingat kenangan masa sekolah bersama wanita itu, begitu indah dan manis.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur tidak ada habisnya memikirkan tentang wanita itu." gumam Bimo lalu memejamkan matanya.
Bimo tidak tahu saja, saat ini yang sedang ia pikirkan juga sedang memikirkannya, pertemuannya tadi siang membuat Hana kembali memandang foto masa sekolah saat bersama Bimo.
Pagi harinya..
__ADS_1
Seto bangun dari tidur nyenyaknya, kemeja hitamnya berantakan dan sedikit terbuka memperlihatkan otot-otot dadanya yang seksi.
Wajah Arini memerah, dan tanpa sadar sangat mengagumi keindahan yang ada di hadapannya. Seto menyadari itu dan tampaknya ia tidak akan membiarkan Arini beranjak dari ranjang ini dengan mudah, Seto tersenyum dan ia merasa akan bermain-main dalam situasi ini. Lalu ia bergerak hingga membuat posisi tubuh Arini berada di bawah Kungkungannya.
"Apa yang akan mas Seto lakukan?" Arini seketika merasa gugup, karena perlakuan mendadak dari Seto mengejutkannya.
"Coba tebak apa yang akan aku lakukan?" Seto tidak menjawab dan malah bertanya balik, matanya menatap Arini dengan pandangan nakal. Ia akan menggoda istrinya pagi ini.
Detak jantung Arini semakin kencang, padahal berada di bawah Kungkungannya Seto seperti ini bukanlah hal yang baru, namun berada sedekat dan seintim ini dengannya, masih saja membuat hatinya deg- degan.
Arini menutup matanya, "Haha! Kenapa malah menutup mata sih sayang?, Hmm..aku menjadi sedikit kecewa."
Arini semakin di buat salah tingkah oleh Seto, adegan ini bagaikan seekor kelinci yang siap di jadikan santapan oleh singa yang sangat liar dan buas.
Kemudian Seto bergerak turun, Arini dengan segera membuka mata, lalu ia melihat Seto yang masih saja meledeknya, " Mah, siapin satu set baju yang bagus buat pertemuan nanti, aku mandi dulu." Seto memberikan kode dengan dagunya menuju ruang ganti.
Ketika Seto selesai berbicara, ia segera menuju kamar mandi. Arini kini bernafas lega, di goda seperti tadi rasanya jantungnya mau copot apalagi sampai piton suaminya minta jatah, bisa-bisa ia akan di buat kesusahan berjalan pagi ini.
"Mah..dasi yang pernah kamu belikan, yang jadi kado saat ulang tahunku itu loh..aku akan memakainya." suara Seto datang dari kamar mandi.
Arini menyahuti ya, Arini mendadak malu ketika ia mengingat kejadian tak terlupakan saat memberikan dasi ini sebagai hadiah.
Namun saat menuju ke ruang ganti, langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat ponsel Seto berkedip dengan samar ia melihat nama Dea.
"Ada apa lagi Dea menelfon suamiku sepagi ini?"
Kemudian...
Bersambung...
__ADS_1
cuma minta like komen rate dan vote 🥰