Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 40.


__ADS_3

Arini masuk kedalam kamar setelah menyelesaikan semuanya. Ia merangkak naik ke atas ranjang, meraih selimut dan bersembunyi di dalamnya. Alana tak bergeming sedikitpun putri kecilnya itu terlihat nyaman tidur di balut selimut yang tebal karena memang cuaca sedari malam tadi sangatlah dingin.


Rico pun seperti biasa tidur di kamarnya, sudah menjadi hal lumrah bagi Arini. di balik selimut wanita itu memejamkan matanya namun tidak terlelap, beberapa pertimbangan sedang memenuhi otaknya. 


Semenjak mengetahui penghianatan suaminya, cinta untuk lelaki itu sedikit demi sedikit telah pudar. bukan karena adanya lelaki baru namun perasaan cinta untuk Rico memudar dengan sendirinya. Mungkin Arini lelah menjadikan gairah cintanya untuk suami terkikis.


Di mulai hari ini Arini ingin konsisten, ia tidak bisa egois menyembunyikan bahwa dirinya telah mendua jua. bukan untuk segera bersama dengan Seto itu mungkin di anggapnya bonus dari Tuhan jika memang dirinya dan Seto berjodoh. Ia tidak ingin terikat lagi pada Rico biarlah dia egois mengorbankan Alana, namun semakin lama ia diam semakin berat hari yang akan ia jalani.


Memang dari awal Arini sangat tidak mentolerir perselingkuhan, hubungannya dengan Seto bisa di katakan simbiosis mutualisme, di saat Arini membutuhkan Sandaran lelaki itu datang tanpa ia memintanya, begitu juga Seto ia membutuhkan Arini karena ia menginginkannya.


Arini juga jarang menangisi Rico lagi, tak akan lagi menangisi nasibnya dan meratapi rumah tangganya. Suatu kebodohan jika ia terlalu larut dalam nestapa dan tak mencoba bangkit dari derita.


Bukan perihal mudah menyembuhkan hati yang terkhianati. jika sekarang ia melakukan hal yang sama yaitu selingkuh itu di luar kendalinya bukan ada di niatannya. itulah pembeda Antara Rico dan dirinya.


Ia kemudian memejamkan mata, persoalan ini akan di bahas esok dengan Rico tentunya, ia harus bisa meminta kejelasan sejelas jelasnya.


Pagi harinya Arini telah berkutat di dapur, Alana juga sudah wangi, ia sudah memandikan putrinya itu. Kini sang buah hati seperti biasa di asuh oleh pengasuh yang di sewa harian oleh Arini.


Tak lama, Rico pun turun. Wajahnya tampak kusut dan penampilannya begitu berantakan.  penampilan Rico yang seperti ini seperti bujang lapuk yang tidak terurus, lelaki itu bahkan masih mengenakan pakaiannya yang semalam.


Entah mengapa Arini melihatnya biasa saja, tiada rasa cinta lagi di hatinya perasaan itu membeku dan tak respek lagi. suami yang dulu sangat ia kagumi kini berubah menjadi benci.


"Rin..hari ini aku tak bekerja, jadi aku menginap di sini untuk beberapa hari." ucap Rico dengan Santai. Ia berjalan melewati Arini yang saat ini sedang menumis sayuran hijau. 


Arini hanya diam tak menyahuti. Arah matanya bahkan tak sedikitpun melirik Rico. ia masih sibuk untuk menyelesaikan masakannya.


Rico menuju lemari es, ia mengambil gelas dan menuangkan air dingin dan meminumnya, matanya melirik Arini yang sedang sibuk dengan masakannya. Saat hendak menaruh gelas di wastafel dapur matanya tak sengaja menangkap gelas bekas kopi dan beberapa piring untuk menaruh cemilan.

__ADS_1


"Bekas kopi siapa ini?"  tanya lelaki itu dengan menenteng gelas kotor yang ia curigai.


Arini tak menjawab pertanyaan Rico, entah ia tak mendengarnya atau sengaja tak dengar.


"Rin.."


Arini masih serius menuangkan tumisanya ke piring.


"Rin!!" panggil Rico lagi dengan suara yang sedikit lebih keras.


"Hmm," Arini meletakkan masakannya ke meja. "Apa?" 


"Bekas gelas kopi siapa ini? kau kan tidak minum kopi." tanya Rico curiga.


"Oh..gelas bekas kopi mas Seto." Arini menata masakannya dan siap untuk di hidangkan.


Rico mendadak bingung, apa maksud ucapan Arini ia membiarkan lelaki lain masuk ke rumahnya saat dirinya tak berada di rumah. Kenapa tidak Clara tidak Arini seolah kompakan menyakiti hatinya.


Rico pun masih mematung, ia masih menunggu klarifikasi yang sekelasnya dari Arini. Ia menatap tajam Arini namun wanita itu sedikitpun takut seperti biasanya.


"Sebentar mumpung aku ingat," Arini duduk dan menatap Rico yang masih mematung di sana. Ia kemudian berdiri mengambil pena dan kertas, melihat itu Rico pun semakin bingung.


Arini sedikit tergesa untuk menyerahkannya, di dalam kertas itu telah ada tanda tangannya beserta materai. surat pernyataan dan perjanjian bahwa ia ingin mengakhiri rumah tangganya dengan Rico. Arini menyodorkan kertas itu. " Aku udah tanda tangani." ucap Arini dan kembali duduk.


Pena dan kertas itu telah berpindah tempat, Rico belum membukanya, " apa ini?" tanyanya dengan heran namun tak berniat membukanya.


"Aku ingin kita hidup masing-masing, tidak ada lagi dalam satu ikatan!" ucap Arini dengan menyendokkan nasi ke mulutnya.

__ADS_1


Rico terhenyak, jantungnya sedikit lebih bekerja keras dari sebelumnya. Ia membuka kertas yang di bingkai amplop itu. Meneliti setiap kata yang terkandung di dalamnya.


Ia mengernyitkan dahi, amplop itu memang tulisan tangan Arini namun secara tidak langsung Arini menguatnya dengan pernyataan dan perjanjian.


Dengan cepat Rico menutup amplop itu dan meremasnya. "Lelucon apa yang sedang kau tulis." ucap Rico.


"Besok aku akan mendatangi pengadilan agama untuk kejelasannya." ucap Arini santai  dan memasukkan nasi lagi kedalam mulutnya.


Rico menatap wajah Santai Arini, istrinya itu telah berubah, benar-benar berubah tiada sorot hormat dan cinta dari dalam matanya.


Ingin rasanya Rico marah, memaki dan membanting apapun yang ada di dekatnya. namun semua tak ia lakukan, ia hanya kembali melangkah menaiki tangga untuk kembali ke kamar. Lelaki itu ingin mandi membasahi tubuhnya yang di buat memanas atas permintaan Arini.


Rico sadar dirinyalah yang banyak berdosa pada Arini. walaupun awalnya rasa cinta untuk Arini biasa saja namun untuk sekarang ia tak ingin melepaskannya.


Rico menarik selimut di atas kasur, melepaskannya dan membuangnya asal, hatinya benar-benar kalut. Baru semalam ia meratapi kebohongan Clara yang menipunya tentang kehamilan, sekarang ia harus menerima kenyataan jika Arini ingin berpisah dengannya. Arini menyerah dan tak mentolerir penghianatannya. Ia berpikir Arini akan menerima lambat laun tapi ia salah mendeskripsikan.


Ia kemudian teringat akan nama seseorang yang baru di sebut tadi "Seto.. lelaki itu pasti yang telah meracuni pikiran Arini. Ya dia yang telah memperkeruh keadaan." 


"Aku harus menemuinya untuk memberikannya pelajaran." ucap Rico dengan kilatan mata kebencian.


Amarahnya menumpuk ia tidak bisa menerima jika Arini menggugatnya karena lelaki lain. "Hanya aku yang boleh memiliki Arini." ucapnya percaya diri.


"Ada Alana di antara kami, tidak mungkin kita pisah " ucap Rico dengan seringgai liciknya.


Sedangkan di lantai bawah Arini telah menyelesaikan sarapannya tanpa menunggu Rico. Ia hendak bersiap menemui Seto dan meminta bantuan pada lelaki itu. Bukan masalah sudah mendapatkan pengganti, jika hati sudah tidak srek lagi untuk apa di jalani. Itu akan menjadi racun yang akan membunuhnya secara perlahan jika ia tak segera mengambil keputusan.


namun Rico kembali turun dan menarik Arini secara kasar Lelaki itu ingin Arini sadar bahwa hanya dirinyalah yang berhak atas tubuhnya itu.

__ADS_1


Bersambung....


 


__ADS_2