
Sedangkan di rumah pengantin baru, Alana telah terlelap setengah jam yang lalu, mungkin gadis kecil merasa capek karena sejak pagi ia hanya tertidur di gendongan.
Kamar Alana letaknya di sebelah kamar Arini dan Seto, Alana tidur dengan pengasuh yang telah di tunjuk oleh Seto. di kamar Arini masih mencerna kata-kata Seto di meja makan tadi.
"Mas. lalu aku harus membayar semua ini?" tanya Arini yang saat ini duduk di pinggiran ranjang.
Seto yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengangguk, itu membuat Arini semakin bingung. "Baiklah aku akan mencicilnya." ucap Arini dengan nada lemas.
"Tentu saja." ucapnya pelan, namun penuh kepastian. Tatapan mata Seto mendamba bibir tipis Arini yang menjadi target utamanya.
"Ka-kalau begitu, biar aku urus saja Alana sendiri mas tidak perlu menyewa pengasuh, dan untuk biaya hidup Alana semua biar aku sendiri yang mencarinya." Arini hendak melangkah keluar dari kamar tersebut namun secepat kilat Seto menahan tangannya.
"Aku tidak menyuruhmu membayarnya menggunakan uang, dan kenapa pemikiranmu sangatlah jauh?" Seto mengulurkan wajahnya lebih mendekat sehingga menyisakan sedikit celah.
"La-lalu?" perasaan Arini mulai tidak tenang saat tangan Seto mulai menurun dan menyentuh pinggangnya.
"Ma-mas Seto." mata Arini di buat membulat saat Seto membenamkan ciuman singkat di bibirnya secara tiba-tiba.
Setelah itu Arini hanya diam, ia baru mengerti arti membayar yang di maksud Seto adalah ciuman.
"Mas. maaf aku..,"
"Sudah paham sayang?" Seto memotong Kalimat Arini.
"Iya mas aku sudah paham."
"Anak pintar," goda Seto.
Seto mengusap-usap kepala Arini, membuat Arini memberikan cubitan kecil di perut Seto.
"Sudah lunas kan drama pembayaran ini?" tanya Arini.
Seto menaruh jarinya di dagu seolah berpikir, "gimana ya?"
"Ada lagi mas?"
"Udah ah, nggak usah bahas ini lagi bobok yuk.."ajak Seto mengalihkan pembicaraan di balik ajakannya ada niat dan maksud terselubung.
"Masih jam berapa ini mas, aku belum ngantuk loh." kata Arini.
Tiba-tiba Seto mendorong pelan tubuh Arini hingga tubuhnya terlentang di atas tempat tidur, Seto berada di atas Arini, lutut dan badannya di buat menopang badannya agar tidak terlalu dekat dengan Arini.
Arini terlihat bingung, ia menelan ludah beberapa kali, mengedipkan matanya berkali-kali, kedua tangannya yang berada di samping pinggangnya terlihat sedikit gemetar.
__ADS_1
Jantungnya berdetak lebih kencang, saat Seto semakin mendekatkan wajahnya pada Arini.
"Aku bisa bikin kamu cepat bobok, bahkan lebih nyenyak dari biasanya." bisik Seto di telinga Arini jari-jari Seto dengan pelan menyentuh kancing baju tidur Arini.
Arini memejamkan mata, dan menutup mulutnya rapat-rapat, ia merasa tengang hingga nafasnya tertahan. Ia merasakan Seto mencium keningnya dengan lembut dan itu menambah ketegangan baginya.
Seto membuka kancing pertama baju tidur Arini. " Kau mau aku berhenti apa aku lanjut?" tanya Seto.
Arini membuka matanya, ia terhipnotis melihat wajah Seto dari dekat, bibirnya seolah kelu tidak mau berkata apapun.
Seto tak bisa menunggu Jawaban Arini, ia semakin mendekatkan wajahnya dengan istrinya, hingga akhirnya Seto mencium Arini dengan lembut, membuat Arini menutup matanya lagi karena menikmati sentuhan bibir dari Seto.
"Sayang..kamu bisa menghentikanku kapan saja, sesuai keinginmu," bisik Seto, Arini tak bereaksi, ciuman itu ia lanjutkan dengan tangan kanannya yang masih sibuk membuka kancing baju Arini. sedangkan siku kirinya di buat menyangga badannya agar tak menindih Arini.
Perlahan ciuman Seto turun ke leher jenjang Arini.
"Emmmhh."
Arini Mendesah pelan, saat Seto berhasil memberikan tanda kepemilikan tepat di lekukan lehernya.
Suara ******* Arini membuat Seto lebih bergairah menjelajahi tubuh Arini.
Tak terasa kancing baju Arini telah lepas semua, hingga Seto dapat melihat dua gundukan kenyal yang masih terbungkus oleh bra berwarna hitam.
Seto menarik pelan wajah Arini, agar menatapnya. " Kenapa sayang?" Seto bertanya sangat pelan.
"Malu mas." jawab Arini ia tak berani memandang wajah suaminya itu.
Seto tersenyum, ia meraih kedua tangan Arini dan mengalungkan di lehernya, ia menikmati wajah istrinya yang merona itu karena merasa malu.
"Jangan tegang, nikmati saja." bisik Seto ia kembali mencium Arini, ia memperdalam ciuman itu, hingga kini Arini pun membalas ciumannya. tangan kanannya memegang leher dan tengkuk belakang Arini, mendongakkan kepala Arini agar ia lebih leluasa Menciumnya.
Jari-jari tangan Arini juga mulai meremas rambut dan tengkuk Seto. Lelaki itu merasa Arini sudah mulai rileks ia menurunkan tangannya menyentuh dua gunung kembar Arini.
Seto meremas lembut dada Arini hingga wanita itu kembali mendesah "emmhh."
Seto kembali mencium leher Arini, membuat Arini merintih pelan, tangannya mulai menyentuh perut Arini membuat Arini terkejut dan menahan nafas, karena tegang.
Tangan Seto kembali lagi ke atas hingga ia menemukan dua gundukan empuk yang masih terbalut itu.
"Argh.." desah Arini pelan, membuat Seto semakin bergairah dan mencium bibir Arini lagi.
Seto menghentikan aktivitasnya, membuat mata Arini terbuka dan menatap Seto, Seto ingin membuka penutup dua gundukan Arini namun wanita itu menahannya.
__ADS_1
" Kamu ingin aku berhenti?" tanya Seto.
Arini mengatur nafasnya, sambil berbaring ia membuka bra nya, wajah Arini memerah ketika Seto memandangi tubuhnya, kini bra hitam telah terlepas dari tempatnya.
Seto membuka juga kaosnya, menindih badan Arini, kini ia bisa merasakan kehangatan dan kelembutan kulit Arini.
Melihat dua gunung kembar Arini yang telah terbebas dari kekangan, Seto tak membiarkannya begitu saja. Ia langsung meremas lembut dua bongkaha Arini. bibirnya dengan lembut turun ke leher hingga akhirnya mengulum p*t*ng Arini.
"Ahgh," Arini mendesah lebih keras.
"Mmmhhmm," Arini meremas rambut Seto, seolah ia menginginkan Seto lebih lama bermain di sana.
Kini Seto mulai membuka kedua paha Arini, ia sedikit lebih berusaha karena Arini kembali menahannya.
"Kamu ingin aku menyudahinya?" tanya Seto.
Arini menggeleng, wajahnya pun menjadi merah seperti kepiting rebus, karena ia merasakan malu.
Seto tersenyum, ia kembali mencium bibir Arini dan menyentuh dua gundukan kenyal itu lagi.
*******-******* yang lolos dari bibir Arini membuat gejolak Seto kian memanas, ia tak mampu menahannya lagi, sedangkan piton yang masih terbungkus itu seolah memberontak ingin lolos dari kekangan.
"Haah!!" Arini memejamkan mata. Saat Seto telah melepaskan celananya memperlihatkan sesuatu yang sudah mengeras.
"Biarkan aku melakukannya sayang," ucapnya dengan membuka celana Arini.
Arini merasakan tubuh Seto menindihnya, ia melihat wajah Seto semakin dekat dengannya.
"Ini akan membuatmu seutuhnya menjadi milikku, aku tidak akan membiarkanmu di miliki oleh orang lain!" kata Seto.
Arini tak bersuara, ia hanya mengangguk mantap sebagai jawaban.
"Emmbhh," Arini menahan rasa sakit.
Seto memberikan kecupan di kening Arini.
"Arrgghhhh!!"
Arini melihat Seto tersenyum lembut, dan Arini membalasnya kini ia merelakan segalanya untuk Seto yang kini berstatus sebagai suaminya.
Bersambung……
hayoook wkkwkwk pada polos nggak pikirannya .
__ADS_1
berikan dukungan untukku dengan cara like komen rate dan vote ya gengs 🥳