Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 125.


__ADS_3

Pada siang harinya, setelah mendapatkan jatah dadakan tanpa ia memintanya seperti biasa, Seto terlihat seperti orang yang paling bahagia, ia tersenyum teringat akan ganasnya Arini pagi tadi, ia masih mengapit rokoknya dan belum membakarnya. 


Seto sangat merasa puas dengan servis mendadak dari Arini, hal seperti inilah yang menambah semangat dalam bekerja.


Tanpa Seto sadari Bimo sedari tadi memperhatikannya, menatapnya dengan heran karena Bimo melihat Seto seperti orang yang kejatuhan Bintang, bahagia serasa dunia hanya miliknya.


Di rumah sakit.


Rico bangun dengan kepala yang terasa berat, ketika dia melihat sekeliling ia menyadari saat ini dirinya sedang di rawat di rumah sakit, ia mencoba mengingat apa yang terjadi dan ya.. setelah dia mengingatnya badannya mendadak sakit, ia mendapatkan pukulan di mana-mana, bahkan kakinya patah.


Ia melihat sekeliling, tiada satupun sanak saudara yang menemani maupun menjenguknya, saat seperti inilah dirinya baru merasakan, di dunia ini ia telah benar-benar kehilangan harta yang paling berharga.


"Alana..papa merindukanmu," gumamnya dengan air mata yang menetes di sudut matanya.


Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun tidak bisa, rasanya bak ada jutaan ton batu yang menimpa kakinya, hingga yang Rico rasakan begitu berat dan sakit.


Ia menoleh secara perlahan ke meja yang berada di samping bangsalnya, ia melihat segelas air, rasanya tenggorokannya begitu kering, namun ia hanya bisa memikirkannya karena Rico tidak dapat mengambil gelas yang berada di depan matanya itu.


hingga karena terlalu keras berpikir, kepalanya semakin sakit dan Rico pun tak sadarkan diri lagi.


Di lantai bawah di gedung apartemen yang Dio tempati.


Dea menatap Dio dengan berlinangan air mata, " apa sedikitpun rasa cinta yang dulu untukku telah tiada?" Katakan!!" 


" Maafkan aku, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya anggap saja di antara kita tidak pernah terjadi apapun, dan mari kita bersikap layaknya seorang teman."


" Apa wanita ABG tadi pacarmu? Itu konyol sekali, kalian berbeda generasi, apa kamu tidak berpikiran begitu??"  Dea memegang lengan Dio seolah-olah ia ingin menyadarkannya.


Dio menarik tangannya dan berkata, " Dea, sepertinya kau terlalu jauh ikut campur dalam urusan orang lain, sebenarnya aku tidak ingin berkata kasar begini padamu, tetapi setelah apa yang terjadi, nyatanya dirimu tidak pernah berubah!"


"Dio, kamu salah paham tentangku.." Dea mencoba menyakinkan Dio.

__ADS_1


"Dea, maaf aku sangat lelah kita bisa bicara lagi lain kali," ucap Dio dan langsung meninggalkan Dea masuk ke dalam apartemen mengabaikan wanita itu yang berteriak memanggil namanya.


Dengan langkah lebar, Dio menuju ruangan dengan rasa lelah, ia menghela nafas sebelum tangannya memencet beberapa digit nomor pada tombol password pintu.


Ceklek.


Dio menyunggingkan senyumnya, membalas senyuman tipis gadis cantik yang duduk di sofa apartemen yang kebetulan menghadap langsung ke arah pintu.


Sebenarnya naluri lelaki Dio bangkit, saat melihat Tiara  yang begitu terlihat cantik mengenakan baju santai seperti ini, Dio memilih berjalan santai dan duduk di seberang gadis itu, ia berusaha menghindari hal-hal yang mungkin saja menggoyahkan imannya, walaupun Tiara tidak pernah menggoda, tetapi senyumannya mampu membuat mabuk kepayang.


"Udah pergi mbaknya kak?" Tanya Tiara yang kepo akan Dea tadi.


"Mmm, udah kali..tadi aku tinggalin di depan soalnya."  jawab Dio meragu, membuat Tiara mengerutkan kening, Dio menatap dalam mata Tiara, membuat gadis itu salah tingkah.


" Kak..beneran nggak apa-apa aku disini sampai nanti sore mama pulang dari luar kota malam soalnya? atau aku pulang aja ya kak..?"


"Terserah Tiara saja, mau disini kakak temani kalau mau pulang kakak antar sampai rumah." jawab Dio seraya menyalakan satu batang rokok yang baru saja di ambilnya.


"Kak..tadi itu yang mantan kakak kan..?" Meliriktakut-takut ke arah Dio, lelaki itu tengah menyesap rokoknya dalam-dalam lalu membuang asapnya ke udara, namun pandangannya begitu ambigu menatap Tiara, membuat gadis itu semakin salah tingkah.


Merasa tidak mendapatkan Jawaban, Tiara takut pertanyaannya barusan menyinggung Dio, "ma-maaf kak..?"  ucap Tiara.


"Iya..tadi mantan kakak." akhirnya Dio menjawab.


Dio masih saja memperhatikan Tiara, dari jarak dekat seperti ini, gadis ini begitu cantik walaupun wajahnya tanpa riasan make up. Seperti kata pepatah jika wanita dan lelaki berduaan ketiganya adalah jurig alias setan.


Respon tubuhnya mengkhianati pikirannya, Dio selalu berpikiran Tiara hanyalah gadis ABG yang masih labil, begitu njomplang dengan dirinya, namun saat berdekatan seperti sekarang ia telah di khianati sendiri oleh pikirannya.


Waktu bersama Dea, walaupun atas dasar cinta berdekatan dengan wanita masa lalunya itu ia tidak pernah merasakan gejolak seperti sekarang, ia harus terus berusaha menahan sesuatu yang mulai mengeras dalam celananya, sesuatu yang siap untuk menerobos berpetualang ke dalam goa kenikmatan.


Dio berpindah duduk di samping wanita itu, tanpa aba-aba ia langsung menarik Tiara ke pangkuannya,  Tiara tidak di berikan kesempatan untuk berontak, karena Dio telah membungkam mulutnya dengan bibir manisnya. Menyesapnya dan mengabsen setiap deretan gigi Tiara.

__ADS_1


Alih-alih menghindar, Tiara malah tak berdaya setiap berhadapan dengan lelaki pujaan hatinya ini, mereka menukar saliva dengan mata saling terpejam, menikmati setiap pertemuan bibir mereka.


"Argh..sial, kenapa wanita ini seolah menggodaku, mengapa dia tidak memukuliku dan memberontak? Seolah gadis ini siap aku makan saat ini juga!" batin Dio merasa tersiksa dengan kelakuan Tiara.


" Maafkan aku kak, aku tidak kuasa menolakmu!" teriak Tiara dalam hati.


Dio mengeram tertahan, ia tidak ingin melebihi batasan dari yang semestinya, karena yang berada di dalam celananya semakin memberontak untuk di bebaskan, ia lepaskan tautan bibirnya paksa, menurunkan Tiara dengan pelan dan berlalu ke kamar mandi.


"Argghh....hosh..huh...Ahhhh.." nafas Dio memburu saat ia berhasil mengeluarkan bisa cacing Alaskanya di kamar mandi.


Setelahnya Dio pun menyiram cairan putih itu hingga hanyut ke dalam lubang, " papa..papa.. selamatkan kami," Dio pun bermonolog sendiri dan terkekeh, " sialan, menyesal aku menyentuh tubuh Tiara, rupanya kalau aku tidak kuat iman bisa-bisa aku membobol gawang yang masih tersegel."


Dio pun segera keluar setelah merapikan kembali celananya, " lapar nggak?" tanya Dio yang tiba-tiba sudah di samping Tiara.


"Kakak, tadi kebelet pipis ya?" tanya Tiara dengan wajah polosnya.


" Hahaha..iya pipis yang bisa bikin kembung 9 bulan!" 


Pipi Tiara merona, ia mengerti maksud pernyataan Dio.


"Apa??" tanya Dio dengan memicingkan matanya.


"Hehehe, maaf kak tadi aku tidak bisa menolakmu."


"Kita cari makan dulu yok Ra..di kafe Deket apartemen sini aja!" ajak Dio dan langsung di setujui Tiara.


Namun tanpa terduga, saat mereka telah sampai di mobil Dio, ternyata Dea belum juga pergi ia sengaja menunggu Dio di samping mobil lelaki itu.


Bersambung.....


halo pembaca setia istrimu Adalah Pilihanku... maaf ya baru bisa update author sibuk bingitz...jadi karena author udah update kasih semangat dengan cara like komen rate dan vote ya janji deh bakal rutin update kalau di like dan di vote 🤭🤗

__ADS_1


 


__ADS_2