
Bimo kemudian menarik tangan Dea setelah berada di pintu ia membukanya dan mendorong Dea untuk keluar, ya secara langsung Bimo mengusir Dea tanpa rasa hormat.
Ekspresi wajah Bimo sungguh menakutkan, itu membuat Dea baru tahu sisi lain dari seorang Bimo.
Di kediaman Atmojo.
Dret…dret..
Sebuah pesan masuk, Arini yang masih berkutat di depan laptopnya segera meraih ponsel yang berada di samping laptop itu. siapa yang mengirimkan pesan untuknya?
"Mas Seto," Arini sedikit terkejut " aku melupakan kalau mas Seto tadi sedang perjalanan kemari dan sampai sekarang belum sampai apakah ia sedang dalam kesusahan?" gumamnya.
Arini memeriksa pesan dari Seto.
"Apa ini?" kening Arini berkerut " sebuah tanda tanya besar setelah melihat foto yang di kirimkan Seto.
"Halo mas.. kenapa sampai sekarang belum sampai? lalu untuk apa kau mengirimkan foto mas Rico padaku?" ucap Arini di balik telefon.
"Mobilku mogok di sekitaran dekat dengan rumah om mu. Oh soal foto Rico, dia juga berada di kota ini."
"Di kota ini untuk apa? lalu bagaimana bisa kau mendapatkan fotonya?" tanya Arini penasaran.
Sedetik kemudian ia baru menyadari. "Apa mas? Tadi kamu bilang mobil kamu mogok di sekitaran sini?"
"Iya..Rico ada kontrak kerja dengan Dio sahabatku, dan akulah yang membiayai semua kebutuhan proyek nantinya. iya mogok dan sialnya tidak ada bengkel?"
"Rin.. pertemuan kita batal dulu ya, aku akan menyuruh Bimo untuk menjemputku, sudah larut kau istirahatlah, jangan terlalu over dalam bekerja." kata Seto menasehati Arini.
"Ok terimakasih mas atas perhatiannya, jaga dirimu, dah.." Arini pun memutuskan panggilan itu.
Seto terjeda sesaat disana, apa yang Bimo lakukan sekarang?.
"Ya, aku harus memberikan pelajaran nanti padanya." batin Seto.
Brukk
Seto kembali masuk kedalam mobil, menunggu Bimo menjemputnya, daripada menunggu di luar yang terasa dingin lebih baik menunggu di dalam mobil sambil menyenderkan punggungnya ke jok.
Ia mencoba menghubungi Bimo, setelah beberapa saat akhirnya Bimo menjawabnya dan segera lelaki itu bergegas menjemput bosnya.
Beberapa hari telah berlalu.
saat ini pukul 20:00 wib, Seto dengan jas kerjanya keluar dari perusahaan di ikuti sekretaris Bimo. Lelaki itu menyenderkan punggung mobil menunggu Bimo yang masih berjalan sedikit lamban darinya.
"Ck. Kenapa kau lamban sekali?" gerutu Seto yang sudah berdiri menuggu Bimo 10 detik.
"Hey..Bim, tidak bisakah kau cepat sedikit?!" teriak Seto ia terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Haish..padahal aku sudah di depan matanya, masih saja berteriak. Menjengkelkan!" batin Bimo.
"Ayo!" teriak Seto lagi, padahal Bimo sekarang sedang membuka pintu mobilnya.
"Bos, bagaimana jika Rico tahu, Arini juga di kota ini lalu pria brengsek itu akan menggangunya?" tanya Bimo sesaat setelah melajukan mobilnya.
"Tuhan menciptakan kedua tangan untuk baku baku hantam, jika hal itu terjadi boleh di coba, aku sendiri yang akan menghajarnya." kata Seto.
"Oh ya, kau apakan Dea? sampai dia kena mental dan memilih pergi ke luar negeri. aku dengar dari mami dia sengaja pindah ingin mencari suasana baru." tanya Seto.
Sebenarnya bos..Bimo pun akhirnya menceritakan kronologi saat dirinya berada satu kamar dengan wanita itu, mendengar ucapan Bimo, pak direktur itu tertawa terbahak-bahak, bisa-bisanya Bimo bikin mental Dea menjadi ciut.
"Kau memang bisa di andalkan." puji Seto dengan menepuk pundak Bimo.
"Perjodohanmu di batalkan bos?!"
Seto mengangguk dan tersenyum.
"Tunggu apa lagi, kalau begitu segera pinang Arini!" kata Bimo
Seto tak menjawab, lelaki itu sudah merencanakan sesuatu untuk kekasihnya itu. Beberapa hari terakhir telah merubah segalanya, satu persatu masalah yang menghadangnya berhasil di singkirkan terutama Dea ia memutuskan untuk pergi ke luar negeri karena tak tahan dengan mulut pedasnya Bimo.
Seto sangat bahagia, ia segera menelepon Arini untuk di ajaknya makan malam sekalian ia ingin melamar wanita itu. Ia tak ingin menunda lagi, penantian selama satu bulan ini cukup lama baginya.
Tangannya memegang benda pipih itu, kemudian mengulir nama Baby Se dan setelahnya ia tempelkan pada telinganya.
"Iya mas..ada apa?" tanya Arini di Balik telefon.
"Tidak ada hanya merindukanmu saja, Malam ini temani aku makan malam."
"Hahaha boleh mas."
"Sekarang kita makan di restoran dekat rumah om mu ya."
"Mas Seto mau makan di luar?"
"Ya, sekalian aku ingin mengajakmu pacaran, ketemu di restoran waktu itu ya." Seto sangat gemas ingin sekali memberi tahu bahwa ia akan melamar Arini nanti.
"Ok. baiklah mas,"
"Sampai ketemu nanti sayangku."
Panggilan pun berakhir.
Suasana di dalam mobil menjadi hening seketika.
"Dasar bucin.huh menggelikan, dari Casanova bisa jadi budak cinta." batin Bimo.
__ADS_1
Hari sudah malam, inilah yang Seto tunggu-tunggu. Ia sudah memesan satu restoran untuknya dan Arini saja.
di dalam kamarnya, Arini sedang sibuk memilih beberapa gaun yang cocok untuknya malam ini.
Warna merah di sangka cabe-cabean, warna kuning seperti yang mengambang di air, warna hijau kayak daun pisang, warna putih seperti Kunti.
Nah ini dia..gaun sederhana yang ia Rancang sendiri, berwarna biru muda dengan hiasan bunga dan mutiara. begitu simple tetapi kelihatan mewah.
"Astaga, Arini kau terlihat ya sedikit baik" gumam Arini mencoba percaya diri.
Arini bergegas masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. sebelumnya ia telah berpamitan kepada om Atmojo dan sang istri dia juga tidak lupa menitipkan Alana dengan sopan.
"Aku berangkat menuju ke restoran mas." Isi pesan Arini.
Ia kemudian menyimpan ponsel dan segera melajukan mobilnya menuju Restoran.
Sesampainya di restoran ia berjalan masuk mencari keberadaan Seto, ia sangat bingung mengapa restoran ini terlihat sepi dan tidak seperti biasanya. Penampakannya juga aneh banyak dekorasi hiasan seperti akan ada acara di sana.
Sedangkan Seto selama menunggu Arini senyuman di tidak pernah surut, lelaki itu belum menyadari keberadaan Arini yang telah sampai di tempat itu.
Walaupun tidak ada pengunjung lain, tapi suasananya tidak begitu sepi karena telinga Arini di sambut oleh alunan musik romantis begitu mendominasi restoran ini.
"Halo sayang kau masih di mana? tanya Seto dalam sambungan telepon.
"Lihatlah ke depan aku di sini." kata Arini dengan melambaikan tangannya saat mengetahui keberadaan pacarnya itu.
Seto tersenyum lebar, rasanya ia sudah gatal ingin melihat ekspresi wajah Arini ketika di lamarnya nanti.
Seto menyambut pujaan hatinya itu, Manarik kursi dan mempersilahkan Arini untuk duduk. perlakuan Seto sangat lembut membuat Arini salah tingkah di buatnya.
"Mas kenapa restorannya terlihat sepi, dan mengapa hanya ada kita?" tanya Arini setelah beberapa saat.
"Entah aku juga tidak tahu." ucap Seto berdusta dan menahan tawanya.
Pelayan datang menaruh kue yang di pesan Seto di dalamnya ada sebuah cincin berlian, ia sengaja menaruhnya disana tentu saja sebagai kejutan.
Beberapa detik kemudian Arini memakannya tiba-tiba....
Bersambung.....
halo pembaca istrimu Adalah Pilihanku tersayang.. terima telah mendukung IAP sampai di episode ini.
terimakasih komentar like dan vote yang di berikan.
terimakasih buat para heters yang telah mengatakan karyaku adalah sampah di sini saya mencoba menuangkan imajinasi jika tidak berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.🙏🏾
__ADS_1
untuk yang masih ingin tahu selanjutnya berikan dukungan like komen rate dan vote elepiyu 😘