Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 119.


__ADS_3

Akhirnya mobil yang di tumpangi Dio berhenti di sebuah apartemen yang tidak begitu besar, namun Tiara yakin unit apartemen ini untuk kalangan menengah keatas.


Dio segera turun dari mobil, Tiara pun segera turun dan bertanya- tanya dalam hati. Merasa gadis yang di bawanya kebingungan Dio pun bersuara.


" Tiara..kita ke apartemenku sebentar, ada beberapa berkas yang ingin aku ambil kamu tidak apa-apa kan? Mau ikut masuk atau menunggu di mobil?" 


"Ikut masuk ajalah kak, takut aku sendirian di sini." jawab Tiara.


"Ayo!" Dio pun mengajak Tiara masuk dan mengandeng tangannya, Tiara yang di perlakukan seperti ini membuat jantungnya berdetak kencang, Ia seketika gugup namun sekuat tenaga Tiara berusaha menyembunyikannya.


Sesampainya di tempat tujuan, Dio segera masuk dan menyuruh Tiara duduk di sofa, gadis itu pun menurut, lalu Dio berpamitan untuk ke ruang kerjanya untuk mengambil berkas tadi yang nantinya akan ia serahkan kepada Seto.


Setelah beberapa saat Dio kembali dengan wajah yang mendadak berubah menjadi lesu, Tiara yang memperhatikannya pun segera bertanya " kenapa kak?" 


" Nggak apa-apa, " Dio duduk di sebelah Tiara sambil membaca berkas yang ada di tangannya.


"Tiara?" panggil Dio namun tak mengalihkan pandangannya, ia masih fokus menatap kertas yang sedikit tebal itu.


"Iya, kak." jawab Tiara, ia menoleh kepada Dio.


"Kamu mau jadi pacarku? tanya Dio lagi dan tak mengalihkan pandangannya.


"Apa kak?" 


" Kamu mau jadi pacarku nggak, Tiara?" 


Tiara terpegun, memandang Dio yang malah menatap kertas di tangannya ketimbang dia. Padahal jelas ia dengar pernyataan itu di tujukan padanya.


" Nggak mau." 


Dio segera mengalihkan pandangannya, ia menoleh kepada Tiara yang baru saja memberikan suara penolakan.


" Giliran di tawarin, malah nolak. Aneh."  ucap Dio.


Dio bangkit dari duduknya, mengulurkan satu tangannya ke depan muka Tiara. "Aku antar kamu pulang sekarang, ya!" 


Tiara meraih uluran tangan itu meskipun ragu, sebuah senyuman Ia umbar demi menutupi rasa bingungnya, baru saja Dio menawarkan untuk menjadi pacar tetapi seolah ucapan Dio begitu sepele, seperti sekarang ia malah mengajak Tiara pulang seolah dirinya bukanlah orang yang bersangkutan dalam ucapan tadi.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Tiara memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang di ucapkan Dio tadi. " Kak, kenapa kakak tiba-tiba ngajak jadian, alasan kakak suka sama aku apa?" Tiara menyudutkan Dio dengan pertanyaan.


" Karena kamu cantik, mungkin?" 


"Hah, cuma karena itu?" tuntut Tiara tak puas.


"Hmm, pinter cantik, cantik em pinter…"


" Horor kamu kak, aneh." 


Dio terkekeh.


"Nggak ada alasan apapun Ra, biar juga nggak ada satu alasan pun buat aku benci sama kamu."


Tiara terpegun, begitu menghangatkan hati namun begitu ganjil.


"Cie.. bisa gombal juga kek buaya-buaya pada umumnya."  tukas Tiara.


" Ternyata benar , wanita itu makhluk yang susah di pahami giliran di seriusin malah bilang gombal hadeh pusing pantat ayam." 


Tiara terkikik, melihat Kalimat Dio barusan seolah lelaki itu sangat frustasi akan maunya wanita. Tiara mengangkat kedua bahunya membuat Dio menoleh dan menatapnya gemas.


Dio mendesah berat.


" Maksudnya nggak peka gimana?" kening Dio mengkerut tajam.


" Pikir aja sendiri ! " Tiara tak acuh.


Dio tiba- tiba menghentikan mobilnya, membuat Tiara seketika bingung. dan menatap Dio dengan penuh penasaran.


" Loh,. Kenapa berhenti lagi kak. Itu jalan sampai rumahku tinggal berapa meter lagi." Tiara mengingatkan.


Tiara mendadak limbung, saat wajah Dio tiba-tiba mendekat sangat dekat dengan wajahnya hingga ia merasakan sesuatu aneh menyentuh bibirnya. Ia terperanjat saat merasakan sesuatu yang dingin dan lembut di bibirnya,  sebuah sentuhan manis yang berlangsung lama. Membuat matanya spontan terpejam menyisakan gelap.


Keesokannya.


"Sayang, kita harus ke rumah Bos Seto hari ini. ada beberapa pekerjaan yang akan di bahas di sana, maksudku mengajakmu setelah kita menikah kau belum mengucapkan terimakasih secara langsung pada keluarga Bos Seto, mengingat Ia telah banyak membantu dan mendanai pernikahan kita." ucap Bimo, seraya mengeringkan rambut dengan handuk kecil, karena lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Iya..kemarikan, biar aku bantu mengeringkan rambutmu." Hana mengambil alih handuk yang di pegang oleh Bimo, dan membantu laki-laki yang kini telah menjadi suaminya selama sebulan ini, untuk mengeringkan rambutnya yang sudah sedikit panjang. Bimo memandang wajah Hana sambil tersenyum.


" Kenapa kau tersenyum?" Hana bertanya dan sejenak mengehentikan aktivitasnya.


" Tidak apa-apa, ternyata menikah itu menyenangkan. Malam hari berbagai kehangatan, Paginya bangun yang di lihat wajah cantik istri, Kalau tau bakal seenak ini dari dulu saja aku menikahimu," pujinya sambil mencium wajah Hana yang kini bersemu merah.


" sudah. Cepat pakai pakaianmu." Hana mencoba menghindar, saat Bimo hendak melakukan lebih dari apa yang di lakukan saat ini.


"Apa kita tidak bisa melakukannya lagi sebentar?" rayu Bimo seraya meraba dada istrinya itu.


" Apa semalam belum cukup? bahkan kau melakukannya sampai tiga kali. sudahlah kita bisa melakukannya lain kali, sekarang cepat pakai pakaianmu setelah itu kita sarapan nenek sudah menunggu kita." ucap Hana yang sedikit sewot kepada Bimo, suaminya ini benar-benar mesum sekali.


"Baiklah, aku membiarkanmu kali ini." jawab Bimo lalu memakai baju yang telah di siapkan oleh Hana.


Di sisi lain.


"Lepas dulu mas, aku mau nyiapin sarapan dulu."  Arini mencoba melepaskan diri saat Seto sangat erat memeluknya.


"Itu mudah, tetapi ada yang ingin bertemu denganmu di kamar, cepat dia sudah tidak sabar." bisik Seto lalu mengigit pelan telinga Arini.


Wajah Arini merona, jika Seto sudah mengatakan demikian itu artinya ada udang di balik rengginang. ada sesuatu yang meminta di puaskan.


"Ayo sayang," Seto menarik tangan Arini untuk mengikutinya ke kamar, sementara Galang dan Alana tengah di urus oleh pengasuh masing-masing, jadi Seto tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bermain di atas ranjang, entah mengapa tubuh Arini selalu membuatnya candu.


"Mas..aku sangat lelah hari ini, dan ini hampir jam tujuh aku harus menyiapkan sarapan untukmu dan Alana sayang." Arini mencoba memberikan pengertian.


" Itu mudah saja, kau tidak perlu berusaha terlalu keras. biar aku saja yang melayanimu, karena semalam kau telah melayaniku." Seto langsung melaksanakan aksinya sebelum Arini menjawab.


Tidak bisa di pungkiri, Arini selalu menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Seto. Bahkan hampir setiap hari dirinya di jamah namun rasanya Arini tidak bosan karena Seto sangatlah pandai membuatnya menggila di ranjang.


"Akkhhh...mas," desah Arini saat Seto dengan cepat membuatnya melayang.


" Uuhh.. sayang, aku lepaskan saja jika kau tidak mampu lagi menahannya." 


Arini hanya bisa memejamkan matanya, saat sentuhan dan hentakan Seto semakin membuatnya meleguh kenikmatan. Seolah Seto tidak memiliki rasa bosan, Seto akan selalu mencumbunya sepanjang malam saat Galang sudah terlelap. Arini mengakui beruntungnya ia di miliki oleh Seto.


Bersambung....

__ADS_1


maaf ya baru bisa update beberapa hari ini pinggang author sakit, minta doanya biar ginjal author sehat dan jangan lupa berikan dukungan untukku dengan cara like komen rate dan vote 🥰🌹


__ADS_2