
Mendengar panggilan dari suaminya, Arini segera menoleh lalu berbalik menghampiri Seto yang saat ini berjalan dengan menggandeng Alana, seperti biasa lelaki itu akan turun dengan membawa serta Alana, untuk menunggu di meja makan. Menanti hidangan siap, dengan mengajak bercengkrama putrinya itu.
"Mas. Bu Dea berkunjung, katanya mas Seto sudah tau kalau Bu Dea pulang kemarin." kata Arini seraya mengambil alih Alana, dari tangan suaminya lalu berlalu dari sana.
"Sedang apa kau kemari?" tanya Seto seraya menyerngitkan dahinya.
Seto menatap kesal ke arah Dea, yang saat ini masih berada di ambang pintu. Dea yang melihat Seto hendak menghampirinya, ia pun hendak melangkah dan memasang senyuman paling manis menurutnya.
"Aku kemari ingin menemuimu, hari ini kan ulang tahunku To, kamu lupa ya. Aku juga mau ucapin selamat untuk kalian berdua secara langsung, dan ini.. aku membawakan sup iga kesukaanmu, ini masakan aku sendiri loh." kata Dea, dengan menyerahkan rantang susun kepada Seto.
"Oh. Selamat ulang tahun, dan makasih buat ucapan selamatnya. dan untuk makanannya, Arini sudah membuatkanku sarapan, bawa pulang saja sup igamu itu, atau kalau nggak taruh saja di situ biar nanti aku kasihin ke Simba, kebetulan Bimo memelihara a*j*ng!" ujar Seto sinis.
"Seto..aku udah susah payah buatin sup iga buat kamu, malah kamu tidak menghargainya." ucap Dea bersedih.
"Yang sok-sokan bikin sup iga siapa? ada ucapan gitu aku minta sama kamu buat masak? lagian aku sudah menikah, sudah pasti segala kebutuhan perut di penuhi oleh istriku. Kalaupun aku pengen makan sup iga, aku bakalan nyuruh Arini bukan yang lain." Jawab Seto sinis, ia pun berlalu untuk kedapur menyusul istri dan anaknya, namun Dea yang muka tembok, malah mengikuti Seto dengan membawa rantang susun tadi.
Arini terlihat sedang menyusun makanan yang baru saja matang ke meja makan, sedangkan Alana duduk dengan mengunyah buah apel yang telah di potong-potong kecil, hingga memudahkan gadis kecil itu untuk melahapnya. Seto duduk dan menatap Arini, sejenak pasangan suami istri itu beradu pandang, kemudian perhatian Arini teralih menatap Dea yang baru saja masuk ke dapur dengan membawa rantang susun dengan senyuman tidak tahu dirinya.
"Kebetulan ada Bu Dea, ayo sarapan bareng Bu." Arini yang tidak memiliki sifat suuzon kepada Dea, mengajak wanita itu untuk makan bersama.
"Tidak usah Mah, si Dea juga mau pamit pulang." saut Seto dengan mengerutkan kening.
"Belum loh, aku belum mau pamitan." Kata Dea menyangkal ucapan Seto baru saja.
"Bim cepet kesini!" ucap Seto di sambungan telepon, ia muak menghadapi wanita tidak tahu malu seperti Dea.
__ADS_1
"Mari Bu Dea, kita makan bareng." ajak Arini dan mempersilahkan Dea untuk duduk.
"Oh iya. Ini sup iga kesukaan mas Seto, tolong bantu di hidangkan ya Rin. Biar di makan mas Seto mumpung masih anget."
"Nggak usah mah. Biarin sup itu dalam tempatnya, sudah sini cepetan siapin masakanmu tadi, aku sudah tidak sabar ingin memakannya, pasti lezat seperti biasanya." ucap Seto dengan senyum manisnya, berbeda sekali saat ia berbicara dengan Dea. dulunya Seto juga demikian pada Dea, namun semenjak wanita ini mengungkapkan perasaannya, Seto langsung berubah.
"Tapi mas, itu Bu Dea dah masakin buat ma.."
" Sejak kapan aku suka mengulangi perkatannku?" tukas Seto dengan tatapan memerintah Arini, bahkan terlihat sekali urat-urat di dahinya bermunculan di sana. Karena menahan rasa geramnya terhadap Arini yang tidak memahami suasana hatinya. Mendapatkan tatapan itu, Arini segera menyiapkan sarapan untuk Seto.
Setelah selesai sarapan, Seto mengambil tissue untuk mengelap bibirnya yang basah, tepat pada saat itu Bimo datang. Ia beranjak dari meja makan, kemudian, ia pergi ke kamar untuk mengambil tas kerja miliknya. Setelah ia mengambil tasnya, ia berkata kepada Bimo yang telah menunggunya di ruang tamu di sertai Arini yang menggandeng Alana, serta Dea juga menunggunya di sana.
Insting Bimo seketika memahami, suasana hati bosnya pasti memburuk pagi ini, lalu suara Dea menghentikan langkah kaki Seto.
Seto melihat Bimo, lelaki yang sudah hafal sifat bosnya itu seketika paham akan kode-kode virtual yang di berikan oleh Seto, bahkan seolah memiliki telepati yang kuat, Bimo selalu paham apa yang di kehendaki bosnya itu.
"Bu Dea yang terhormat, itu taksi kan banyak, kami ini buru-buru mau kerja, jangan berlagak manja kepada suami orang, apalagi sengaja di hadapan istri pak direktur, ini akan berdampak buruk untuk Bu Dea sendiri nantinya." kata Bimo dengan lancarnya.
Seto melanjutkan kembali langkah kakinya, ia menuju ke mobil yang telah di siapkan Bimo, setelah sebelumnya berpamitan dengan anak istri, Seto sesegera mungkin menyuruh Bimo untuk melajukan mobilnya menuju kantor.
Dea sangat kesal akan ucapan Bimo, pria menyebalkan itu selalu saja ikut campur dalam urusannya dan menjadi kerikil hambatan yang selalu menggagalkan apa yang telah ia persiapkan sebelumnya.
Kemudian Arini hendak mengajak Dea untuk berbicara, namun wanita itu malah pergi ngeloyor, tanpa berpamitan kepada nyonya rumah itu.
Setelah kepergian Dea, Arini kembali ke dapur untuk membersihkan meja dan membereskan piring kotor yang masih tergeletak berserakan di sana. Namun kini Arini sedikit lega, rupanya suaminya tidak berubah, ia mengakui keberadaannya, dan bersikap dengan semestinya, rasa cemas dan gundah Arini yang memikirkan hal negatif tentang Seto sirna sudah, ia seratus persen percaya kepada lelaki yang saat ini menjadi imamnya.
__ADS_1
Sementara itu, sesampainya di kantor suasana hati Seto sangatlah buruk, beberapa karyawan menyapanya namun lelaki nan rupawan itu mengabaikannya dan fokus menuju ke ruangan.
"Bim, sepertinya Dea akan mengaggu kesenanganku dengan Arini."
"Itu bukan menjadi masalah besar Bos, tinggal katakan apa yang kau inginkan semua itu akan aku bereskan." ucap Bimo seraya membuka pintu ruangan.
"... sepertinya kepergiannya ke luar negeri tidak mengajarkan dia bagaimana bersikap dengan lelaki yang telah beristri." Seto mengatakan itu cahaya dimatanya redup.
Bimo menjawabnya dengan serius, " aku rasa yang kau ucapkan benar, kepergiannya ke luar negeri malah menambah wanita itu tidak tahu diri."
"Darimana Dea tahu alamat rumahku? Kemarin aku saat bertemu dengannya tanpa sengaja tidak mengatakan apapun."
"Sepertinya ada seseorang yang sedang bermain api denganmu Bos, tugas kita tinggal siramkan bensin lalu kita lihat siapa yang makin terbakar nantinya."
Seto menatap Bimo, lalu tanpa berucap apapun Bimo memahami apa yang di inginkan Seto.
"Sepertinya lelaki itu tidak kapok, tugas kita hanya memberinya kejutan bos, aku akan mempersiapkan kejutan itu."
Seto mengangguk, Bimo memang selalu bisa ia andalkan.
Bersambung....
wah apa yang akan di lakukan mas Bim ya hmmmm
ayo bantu mas Bimo dengan cara like komen rate dan vote ya ❤️
__ADS_1