
sebelum baca jangan lupa aku minta uang parkir dengan cara like komen rate dan vote ya agar aku makin giat update 🌹❤️🥰
happy reading...
Semuanya hanya tentang waktu, di mana waktu bertemu, waktu mengenal dan waktu pendekatan hingga timbul rasa mencintai. tidak tahu akan hari esok, walaupun Berawal dari pertemuan tidak sengaja, merasa kasian dan membutuhkan hingga berkolaborasi membentuk suatu hubungan hanya bermodal mencoba, jalani saja, hingga akhirnya Seto jatuh dalam perasaan cinta. Perasaan yang tidak pernah merasuki dalam hatinya. Mencintainya tanpa peduli status hanya perasaan cinta, yang ia tahu hanyalah cinta.
Perasaan yang sedetik saja mampu mengalahkan akal pikirannya. Karena cinta hadir karena takdir dan melekat dalam pikir, tidak akan pernah tahu pada siapa jatuhnya hati yang pasti cinta adalah sesuatu yang mampu merubah segalanya. Itulah gambaran hati dari seorang Seto.
"Sebelumnya aku selalu menghilangkan kata menunggu dalam kamus hidupku. Kini seolah berbalik kata menunggu harus aku tulis dengan huruf kapital dan aku garis bawahi.. Menyebalkan."
Bimo tertawa kecil, beginilah wujud Casanova berubah jadi mas bucin. dirinya yang selalu membuat menunggu kini berbanding terbalik bosnya itu harus menunggu dengan kesabaran yang naik turun seperti imannya.
"Dea saja menunggumu bos, kenapa kamu malah merepotkan diri menunggu Arini?" kata Bimo.
"Karena aku lebih suka tantangan," jawab Seto dengan menyulut rokok dan menghisapnya.
Saat ini mereka telah sampai di ruangan kantornya, setelah menerima telepon dari Dea lelaki itu memutuskan untuk menuju kantornya karena Dea mengatakan akan berkunjung. tujuan Seto sebenernya ingin menemui Arini tadi namun karena Dea mendesak membuat Seto tidak mempunyai pilihan.
"Bim..urus kesepakatan kerja dengan Dio, jangan lupa target kita harus sesuai rencana." kata Seto dengan melihat jam di tangannya.
Bimo pun mengangguk dan segera mengerjakan tugasnya. asisten andalan Seto itu selalu gerak cepat buktinya sekarang berkas itu telah terkirim ke Dio. dan Bimo menulis semua perinciannya disana. tentunya lelaki itu mengharapkan agar Dio bergerak cepat juga seperti dirinya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di belahan bumi lain setelah mengakhiri aktivitas panasnya. Rico sudah selesai mandi, ini adalah akhir pekan tetapi memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia akan menandatangani kontrak kerja baru esok.
Dirinya mendapatkan kabar tadi, jika ada seseorang yang membutuhkan jasanya untuk membangun mall di kota B. jika peluang itu berhasil jatuh padanya sudah pasti penghasilannya akan semakin bertambah tentunya semakin banyak pula jatah yang akan di berikan untuk Clara.
"Mas Rico.." Panggil Clara.
"Kenapa sayang?".
Clara menatap suaminya yang telah berpakaian rapi, beberapa barang yang di perlukan Rico juga telah di siapkan.
"Kamu yakin mau berangkat kerja sekarang?"
"Yakin dong sayang.. apalagi aku baru saja mendapat kabar ada seseorang yang ingin mengajakku kerja sama dan membutuhkan jasaku."
__ADS_1
"Lalu proyekmu yang sekarang bagaimana? apa bisa kamu tinggal jika nanti kontrak baru kamu dapatkan."
Rico mengangguk pelan, "tentu saja itu hal yang mudah, sudah kamu tidak perlu memikirkannya." jelas Rico.
Selepas menyelesaikan mengemasi barangnya, Rico segera meninggalkan rumah Clara. Ia mengecup sekilas kening Clara dan kemudian berlalu dari sana.
Di kantor Seto.
"Aku sungguh tidak nyaman sekali," ucap Dea saat menjatuhkan tubuhnya di sofa ruangan Seto.
"Sepertinya dia memang sengaja." kata Dea lagi Seto hanya diam dan memperhatikan kelanjutannya.
"Kenapa kau tidak buat kuis tebakan sekalian." seru Seto yang kesal karena Dea berkata tanpa ia tahu apa yang wanita itu bicarakan.
Dea tersenyum kecil, tidak biasanya Seto gampang kesal begini sebelumnya lelaki itu akan menanggapi setiap ucapannya dengan candaan namun Dea merasa ada yang berubah kali ini.
"Apa kau menyuruhku?" tanya Dea pura-pura bodoh.
"Tidak aku sedang menyuruh tembok." Seru Seto dengan menyilangkan kedua kakinya.
Kedua mata Dea sedang memperhatikan sekitar seolah mencari sesuatu.
"Apa kau haus?" tanya Seto.
"Kalau aku tidak haus untuk apa aku bertanya!" seru Dea.
Seto tertawa kemudian ia mengatakan pada Bimo untuk meminta minuman pada office boy. Bimo pun mengiyakan dan segera menghubungi office boy itu.
"Seto..Dio sungguh menyebalkan!" sambung Dea lagi.
Tak selang berapa lama minuman itu tiba, Seto menyodorkan minuman itu di hadapan Dea namun ia mengambilnya kembali dan menukarkan dengan miliknya.
"Minumlah." kata Seto.
"Apa kau mencampurkan sesuatu kedalam minuman ini? Kenapa kau menukarnya?" tanya Dea dengan menatap curiga ke wajah Seto.
"Hanya sedikit racun." sahut Seto dan seketika Dea membulatkan matanya.
__ADS_1
"Ada-ada saja kau ini. Katanlah apa tujuanmu?" ucap Seto.
"Dio mengatakan, jika kau telah memiliki kekasih? Apa benar itu membuatku tidak nyaman dan sama seperti biasanya Dio itu kan tukang membual."
Ada rasa tidak enak hati jika Seto mengatakan kalau perkataan Dio benar adanya. Seto tahu Dea sudah lama menunggu dirinya pastinya gadis di hadapannya kini akan kecewa dan patah hati jika ia membenarkan apa yang baru saja menjadi pertanyaannya.
Seto tampak berpikir sebentar, meminum air di hadapannya dan mulai menjawab pertanyaan Dea. " Aku kan memang selalu memiliki banyak pacar. Apa kau melupakan itu?" jawab Seto berkilah.
"Sesekali pandanglah Dio. dia menginginkanmu sejak lama," sambung Seto lagi.
Dea memutar bola matanya malas, "mending jomblo daripada sama dia. Menyebalkan." ucap Dea dengan menggidikkan bahunya.
"Apa kau tahu Se.. bagaimana aku bisa mencintai yang lain. Jika namamu telah terpatri dalam hatiku, cukup aku mencintaimu dalam diam bisa selalu dekat denganmu saja bisa membuatku bahagia" kata Dea dalam hati.
Bimo menghampiri mereka berdua, ia membisikkan sesuatu ke telinga Seto. " Target sudah masuk jebakan."
Seto tersenyum, sepertinya jalannya akan mulus ponsel di saku celananya saat ini bergetar namun belum sempat dirinya mengangkatnya panggilan itu telah terputus, namun di susul dengan satu notifikasi pesan yang membuat senyuman di wajah sang Casanova itu semakin sumringah.
Tentunya mata Dea sedari tadi tak luput memperhatikan tingkah Seto. Dirinya begitu penasaran akan apa yang baru saja Bimo bisikkan, dan siapa yang mengirimkan pesan untuk lelaki yang telah lama di kaguminya itu.
["Aku tadi tidak mengangkatnya karena masih ada suamiku di rumah, maaf mas."]~ Arini.
Seto mulai mengetikkan pesan untuk membalasnya karena terlalu bahagia mendapatkan kabar dari pacarnya itu, ia mengabaikan Dea yang sedari tadi memperhatikannya hal itu tentu di sadari Bimo bosnya yang sedang jatuh cinta dan seorang wanita menyedihkan mengharapkan lelaki yang tidak pernah bisa mencintainya. ia hanya bisa menggelengkan kepala.
Kedua mata Dea terpusat di kedua tangan Seto yang sedang mengetik di ponselnya. Rasanya tatapan itu menelisik mencoba menembus rasa ingin tahunya.
"Maaf sepertinya aku mengganggu kalian," Dea memandang Seto. lalu mengalihkannya ke Bimo. Kedua matanya begitu gemar memandang Seto.
"Tidak. Kau tidak menggangu, Seperti biasa aku sibuk dengan berbagai jadwal pekerjaan." saut Seto dengan tangan yang masih sibuk mengetik pesan di ponselnya.
["Nggak papa sayang..kamu kapan senggang nanti bisa ketemu? ada hal yang ingin aku sampaikan!"]~Seto.
"Ya sudah aku kembali ke toko dulu, jangan lupa menelfonku nanti Se.." Kata Dea seraya beranjak dari duduknya.
Seto mengangguk, "Bim..antarkan Dea sampai ke lobby!"
"Oke." Saut Bimo kemudian mereka berdua keluar dari ruangan.
__ADS_1
Bersambung.....
itulah cinta sulit di tebak dan tidak akan tahu jatuh pada siapa!.