
Melihat sikap Seto yang menjadi dingin, Arini menjadi bingung apakah perkataannya barusan itu sangat salah? Kemudian Seto merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tanpa melihat ke arah Arini. Sekarang Arini mengerti Seto saat ini sedang marah padanya.
Tapi bukankah tadi dia sudah mengatakan kalau tidak mendapatkan ijin dia tidak akan melakukannya? Lalu di mana letak kesalahannya?.
Arini tidak tahan di diamkan, jadi dia memulai untuk membuka suara " mas.. kamu marah? Coba di telaah ucapanku..!"
Seto mengangkat pandangannya untuk menatap Arini, dan hanya berkata dengan dingin " Tidak!"
Arini tidak ingin menyulut emosi Seto, jadi dia memilih untuk diam. Yang tidak Arini pahami, secara tidak langsung ia telah membuat Seto merasa cemburu karena hanya di kabari Dea bahwa mantan suaminya itu sedang di rumah sakit ia berinisiatif untuk menjenguknya.
Mungkin ini terlihat sepele, namun rasa cemburu cepat menyebar dalam hati Seto saat Arini masih saja ada rasa peduli.
Seto mengkerutkan keningnya dan berkata " lakukan apapun yang kamu inginkan, bawalah Alana menemui ayahnya. Arini jika saja aku tidak mengijinkanmu aku akan terlihat sebagai ayah sambung yang begitu kejam kepada Alana bukan?"
Hati Arini tersentak, tidak biasanya Seto memanggilnya dengan sebutan nama seperti sekarang.
"Huh.." Seto mendesah, lalu ia bangkit dan masuk kedalam kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, " huh.. membuat jengkel saja!" Ia bergumam di depan cermin kamar mandi, " kata orang, lelaki itu manusia yang tidak peka, tapi ternyata mereka itu salah, wanitalah yang tidak peka!!"
Seto membasuh mukanya, lalu mengelapnya dengan handuk yang tergantung di samping cermin, setelah itu ia pun melangkah keluar untuk kembali ke ranjang.
"Mas Seto marah? hanya karena permintaanku tadi..tentang mas Rico?" pertanyaan dari wanita yang tidak peka itu membuat Seto semakin kesal. Ia mengangkat dagunya, matanya yang dingin kini dengan jelas memandang istrinya.
"Iya, aku marah karena masih saja kau begitu perhatian kepada Rico, walaupun ia ayah biologis Alana aku masih saja merasa tidak suka akan hal itu!" seru Seto. " Aku tidak ingin kau mengulang wisata masalalu nantinya."
"Jujur saja aku selalu tidak suka, milikku masih perhatian dengan yang lain, jika memang di butuhkan Alana menemui ayahnya, aku yang akan mengantarkannya, kau tetap di rumah jaga anak kita Galang, atau kecuali memang kau yang ingin bertemu dengannya?"
"Mas Seto…"
__ADS_1
"Tidurlah, aku tidak ingin ucapanmu akan mengubah suasana hatiku menjadi lebih buruk!"
Arini memejamkan singkat matanya, di ikuti decakan kecil nyaris tak terdengar, bingung harus berkata apa lagi supaya Seto tidak salah paham.
"Tadi kan aku hanya mengutarakan apa yang ingin aku bicarakan, kalaupun mas tidak mengijinkan aku pun tidak akan melakukannya. Aku sepenuhnya sadar batasanku." Arini memeluk suaminya, ia mengelus dada bidang yang di tumbuhi bulu itu untuk meredamkan emosi Seto.
Benar saja, elusan yang Arini berikan di dadanya membuat jiwanya yang sedari tadi berteriak seketika melunak, wanita yang memeluknya saat ini adalah kelemahannya yang tidak dapat ia hindari.
" Aku sama sekali tidak bermaksud menemui mas Rico hanya semata-mata demi aku, aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan tadi, lebih tepatnya aku meminta pendapat," Seto mempertajam pendengarannya, pun tatapannya. Tidak ada kebohongan di manik mata hitam Arini saat mengatakan itu, ucapannya terdengar serius dan bersungguh-sungguh.
" Maaf..aku tadi hanya cemburu," Seto mengelus rambut Arini dan menciumi puncak kepalanya. Ia merasa bersalah.
"Sayang..aku bukannya tidak mempercayaimu," Seto masih menciumi puncak kepala Arini, " aku hanya tidak ingin kau menemuinya," kemudian hening.
Suara pengasuh Alana dan ketukan pintu tiba-tiba membelah keheningan di kamarnya, Seto beranjak membuka pintu dan membukanya lebar-lebar.
"Ada apa mbak?"
" Papa.." Alana tiba-tiba saja muncul saat tubuh kecilnya berhasil menerobos tubuh pengasuhnya yang menghalangi jalan pintu.
Setelah menyuruh pengasuh Alana kembali ke kamar, Seto pun kembali menutup pintu kamarnya, lalu menggendong Alana dan membawanya ke ranjang.
"Kenapa putri papa yang cantik, belum tidur?" tanya Seto dengan mengelus pipi bulat Alana.
Alana mendengarnya, " papa, aku ingin tidul dengan papa malam ini. Apa boleh?"
"Untuk putri papa apa yang tidak boleh, ayo berbaringlah, papa akan menemanimu."
Hampir satu jam sudah Seto menidurkan putrinya itu, melihat Arini yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah buang air kecil, ia pun beranjak dari ranjang dengan begitu pelan agar tak membangunkan Alana yang kini tengah terlelap.
__ADS_1
Ia mencegah Arini untuk kembali ke ranjang, Seto menarik tangan istrinya itu untuk masuk ke ruang kerjanya yang kebetulan bersebelahan dengan kamarnya hanya terhalang pintu saja. Setelah itu Seto pun menutup pintunya dan menguncinya rapat-rapat.
"Kenapa mas membawa aku kesini? dan kenapa pintunya malah di kunci?" tanya Arini dengan begitu heran. Seto berbalik menghadap Arini yang semula ia punggungi, kini Arini sudah tahu akan maksud suaminya mengajaknya ke ruangan ini, tatapan mata Seto penuh maksud dan mendamba, tatapan yang menandakan bahwa sesuatu yang berada di balik celana ingin masuk ke sangkarnya.
"Kamu boboknya nanti saja," Seto berjalan mendekat.
"Tapi, Alana…Gal.." ciuman singkat tiba-tiba mendarat di bibir Arini, saat Seto berhasil meraih pinggang Arini dan melingkarkan tangannya. Arini pun membalas ciumannya.
"Jangan melakukannya disini mas.." Arini mengurungkan niat Seto yang hendak membuka kancing piyamanya, hal itu membuat Seto mengakhiri ciuman di antara mereka yang kian memanas.
"Di kamar ada putri kita, kita tidak bisa melakukannya di sana." bisiknya di telinga Arini, hembusan nafas Seto yang menerpa telinganya, seolah menggelitik hingga membangkitkan sensualitas yang makin membara.
"Emmm..," Seto kembali menciumnya, memagutnya dengan lembut, namun rakus dan tidak membiarkannya mengering.
Seto selalu bisa memancing gairahnya, hingga Arini meremang dan ingin melakukan lebih dari ini, begitu juga Seto ia sudah tidak dapat menahan sesuatu yang sudah mendesak ingin keluar karena ukurannya berubah menjadi besar dan mengeras.
Seto menggiring tubuh Arini hingga wanita itu terjatuh di atas sofa. Lalu ia pun berbisik " Sayang..puaskan aku malam ini," tangan Seto menyibakkan rambut Arini yang menutupi sebagian dahinya, pipi Arini memerah mendengar permintaan suaminya itu.
Bara api seolah membakar tubuh keduanya, yang kian memanas, saat bunyi slup membuat piton Seto terbenam sempurna dalam gua kenikmatan. Percintaan seperti malam ini yang begitu berbeda dari malam-malam sebelumnya membuat kesan tersendiri bagi kedua insan yang sedang mengemakan lagu ah..ah..ria.
🌹🌹🌹🌹🌹
Malam semakin larut, hawa dingin menusuk kulit wanita yg sedang melihat pemandangan dari jendela kamarnya. Ia termenung, memikirkan nasibnya kedepannya.
Setelah pertemuannya dengan Dio tadi siang, kini Dea tercenung sendirian di dalam kamarnya. Cukup lama Dea terdiam hanyut dalam lamunan, matanya yang berwarna hitam seperti mata kucing menatap ke sembarang arah. Sesuatu mengganggu pikirannya, apalagi kalau bukan pemikiran tentang Dio.
Setelah melihat kedekatan antara Dio dan wanita ABG tadi, pemikirannya seolah tersadar, bahwa Dio tidak bisa lagi seperti dulu.
bersambung...
__ADS_1
ada yang tau lagu ah ah ria ? wkkwkwkwk
jangan lupa like komen rate dan vote biar kalian tahu kelanjutannya.