Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 49.


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu keluarga Permana telah tiba. Hari ini dengan di dampingi sang mami dan Bimo Seto datang ke rumah Atmojo untuk melakukan lamaran.


Di luar perkiraan Arini dan ayahnya, ini adalah kedua kali keluarganya menerima lamaran. Berbeda dari lamarannya dengan Rico dulu, keluarga Seto membawa beberapa seserahan yang luar biasa.


Mereka mengira karena Arini sudah janda, jadi tidak ada seserahan, hanya pertemuan dan menentukan hari pernikahan saja, mangkanya keluarga Atmojo tidak begitu banyak persiapan. Sederhana dalam artian.


Acara berlangsung cukup singkat, tidak banyak bertele-tele, keluarga Seto langsung bicara pada intinya. Menurut Septi Permana, jika keduanya sudah sama-sama mau untuk apa menunda lama, akhirnya di putuskan pernikahan Arini dan Seto di lakukan tiga hari lagi. namun Arini meminta tidak akan ada pesta, ia ingin menikah secara sederhana saja, yang penting sah di mata agama dan hukum.


Dan keluarga Seto menyetujuinya, walaupun keinginan Seto tidak demikian, namun demi Arini ia akan menurut saja.


Tentu saja hal ini akan di lakukan secara hati-hati, jangan sampai Rico tahu itu akan menggagalkan rencana yang sudah di susun.


Rico sedang duduk di dalam kantor, lebih tepatnya ruangan yang biasa di gunakan untuk dirinya mengawasi dan mendata pekerjanya. 


"Sayang.." tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan Clara, yang berpakaian cukup minim.


Setelah makan tadi, Rico langsung kembali ke ruangannya. Baru saja mendudukkan diri di kursi ruangan itu, kemudian Clara datang dengan mengenakan rok mini dan baju atasan yang menunjukkan belahan dada yang cukup lebar, tentu saja itu membuat isi yang di balik cup bra itu seolah mencuat keluar, gunung kembar Clara yang begitu besar dan bulat seolah ingin terbebas dari sana karena wadahnya tidak kuat menampung isinya. bentuk tubuh Clara memang bagus, bisa di bilang sangat bangus hingga ia selalu berpakaian minim untuk memperlihatkan kemolekan tubuhnya.


"Ah..sayang," Rico tersenyum ke arah Clara sambil merapikan foto dan kenangan tentang Arini yang ia pegang.


"Sibuk sayang?" Clara mendekati Rico dan duduk di pangkuannya.


Ia mencium bibir Rico terlebih dahulu, kemudian lelaki itu membalasnya. Mereka saling berbelit lidah dan bertukar saliva dalam durasi yang cukup lama. Clara selalu menservis Rico dengan baik, walaupun akhir-akhir ini Rico menolak saat dirinya di servis lebih.


"Ini apa?" tanya Clara saat ada sebuah amplop yang cukup tebal di meja Rico, usai mereka berciuman panas.


"Tidak apa-apa, hanya beberapa data pekerja yang belum aku gaji. Tidak ada yang penting, jadi jangan bertanya lagi." ucap Rico dusta.


"Aku tidak percaya, aku mau membukanya."


"Clara!" Rico menggelengkan kepalanya dan berteriak memanggil nama istrinya itu.


 Lalu Clara turun dari pangkuan Rico, "aku sebagai istrimu berhak mengetahui apapun, jika memang ini soal pekerja apa salahnya jika aku melihat toh, aku hanya sekedar ingin tahu saja, tapi kenapa kamu seolah takut." 


Ucapan Clara sedikit sadis, ia juga cukup kesal akan sikap suaminya itu. Clara merasa terabaikan, hal itu membuatnya begitu muak dengan Rico yang sekarang.


"Sudahlah, jangan bikin aku makin pusing." ucap Rico dengan memijit pelipisnya.


"Sayang aku ingin melakukannya denganmu nanti malam." ucap Clara dengan meraba dada bidang Rico dengan gerakan sensualnya.

__ADS_1


"Aku ada urusan dengan pak Dio, ada beberapa hal yang harus aku bahas dengannya nanti malam, jadi aku mungkin tidak pulang malam nanti." ucap Rico dusta, sebenarnya ia ingin mencari tahu lagi keberadaan Arini sekarang, ia ingin memastikan mantan istrinya itu masih sendirian dalam artian belum menikah lagi.


"Sayang..kita sudah jarang melakukannya, apa kau tidak ingin menanam benihmu di rahimku? rengek Clara.


"Lain kali yank..aku janji!" ucap Rico.


"Janji loh mas,"


"Ya." Rico mengangguk.


"Kalau begitu aku pergi." ucap Clara dan mencium bibir Rico sekilas.


"Kemana?" tanya Rico dengan mengernyitkan dahi.


"Menghabiskan uangmu, shopping, nyalon," Clara menunjukkan ATM milik Rico itu, sambil kembali ia menutup pintu ruangan suaminya.


Rico hanya menggeleng dan menarik nafasnya kasar, " begitu boros, bisanya ngabisin uang saja." 


Rico menyimpan foto-foto itu, di tempat yang lebih aman, tentu saja dirinya tidak mau jika Clara menemukannya dan mengetahuinya.


Di ruangan bernuansa serba putih, Seto sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Ya. yang akan menikah, begitu mudah dan fasih meledek jomblo sepertiku." ucap Bimo dengan bahasa yang tidak formal kepada Seto.


"Aku memang tidak memiliki kekasih, tapi aku pandai dalam bercinta."  Bimo tertawa sambil melangkah meninggalkan Seto dengan membawa kembali berkas yang telah di tanda tangani bosnya itu.


"Bedebah." ucap Seto sambil menggelengkan kepalanya ia juga tertawa lepas, tawa yang jarang di lihat orang lain kecuali Bimo.


Malam ini Arini sedang mengoleskan krim malam di wajahnya.


Tiba-tiba ponsel Arini berdering, ia meliriknya ingin mengetahui siapa yang menelfonnya.


"Sayang..aku sudah tidak sabar tiga hari lagi aku akan.." ucap Seto setelah panggilannya di angkat Arini ucapannya terputus sengaja menggoda calon istrinya itu.


Setelah mengatakan itu, Seto mengalihkan panggilannya menjadi vidio call, ia sangat tidak sabar ingin melihat wajah Arini.


Arini tersenyum saat wajah calon suaminya terpampang jelas di layar, " apa mas?" tanya Arini sedikit malu, melihat wajah Seto di layar yang begitu tampan dan bertelanjang dada.


"Kenapa tidak memakai baju?" tanya Arini lagi.

__ADS_1


"Pemanasan." 


"apa mas?" 


"Eh..maksud aku kepanasan," jawab Seto dengan tertawa. 


Wajah Arini tersipu malu, memang melihat lelaki bertelanjang dada bukanlah hal pertama baginya, namun tetap saja bentuk tubuh Seto membuatnya olah raga jantung, begitu seksoy itulah kata yang menggambarkan untuk calon suaminya itu.


"Kau sedang apa sayang?" tanya Seto dengan memperhatikan Arini yang menyentuh pipinya.


"Memakai krim malam." 


Seto mengangguk, "Dimana Alana?" 


"di bawa bunda, bobok di kamarnya,"  namun panggilan itu tiba-tiba terputus karena batre Arini lowbat. 


Seto mencoba menghubungi lagi, namun nomor Arini sudah tidak aktif. "Ah.. pasti Batrenya habis." gumam Seto.


"Bos.." ucap Bimo yang mengagetkan Seto.


Seto mengerutkan keningnya, melihat ekspresi wajah Bimo yang begitu panik membuatnya sedikit bingung.


"Rico telah mengetahui keberadaan Arini."


Seto masih diam tak menyahuti pernyataan dari Bimo. Membuat lelaki itu bernafas berat karena bosnya biasa saja.


"Aku tahu ini akan terjadi." 


Bimo diam, apa maksud dari perkataan bos-nya itu.


Seto menyodorkan sebuah data di ponselnya, sedetik kemudian Bimo manggut-manggut.


"payah kau." ucap Seto mengejek Bimo yang masih berdiri disana.


"Kenapa aku bisa kalah cepat dari bos Se ya?" gumam Bimo yang masih tak percaya.


bersambung....


hayo mas Bimo kalah cepat yuk dukung mas Seto dengan cara like komen rate dan vote 🥳

__ADS_1


__ADS_2