Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 89.


__ADS_3

Suara ketukan pintu dari luar kamar membuat kegiatan panas Seto mendadak terhenti, padahal saat ini lagi enak-enaknya dia seolah ia sedang menyedot air semangka yang sangat menyegarkan itu.


Tinggal beberapa detik saja pitonnya ingin menerobos menyusuri hutan rimba yang terlihat sudah lembab itu, dan hutan itu telah mengeluarkan sesuatu yang membuat penampilannya semakin menggiurkan.


Seto menggerutu kesal, bisa-bisanya seseorang di luar pintu mengganggu kesenangannya. 


Wajah Seto seketika mendatar. Ia beranjak dan membuka pintu kamarnya dengan tidak bersemangat.


Tok..tok..tok..


"Mami? .. sejak kapan mami datang.. dan mengapa tidak memberi tahu Seto?" Seto begitu terkejut, maminya tiba-tiba berkunjung di tengah malam seperti ini. Namun Seto masih menahan pintu agar maminya tidak melihat Arini yang saat ini sedang merapikan kembali penampilannya.


"Ngapain kamu tengah malam begini nggak pakai baju? Mami mendengar kabar dari Bimo kalau kamu tidak sehat, makannya Mami dari Bali langsung ke sini tadi.


Ya hampir setengah bulan ini maminya berada di Bali untuk memantau secara langsung anak perusahaan yang berada di pulau Dewata itu.


Seto masih terjaga, tidak sedikitpun melonggarkan pertahanannya, dalam hatinya ia mengutuki asistennya itu. Padahal kondisi badannya semenjak Arini hamil memang demikian, pasti Bimo dengan  berlebihan, telah mengatakan tentang keadaannya, hingga memprovokasi maminya menjadi khawatir dan mendadak pulang.


"Astaga..Bimo sedikit berlebihan Mam..Seto sehat dan tidak apa-apa, tadi siang cuma masuk angin biasa."


"Sudah tau masuk angin, malam-malam begini tidak pakai baju. Minggir, aku mau lihat Arini dan calon cucuku."


"Wait. Mam..! sebaiknya Mami ke kamar tamu dulu, nanti Seto dan Arini menyusul. Dan mami jangan ngeyel mau masuk, atau mami akan melihat sesuatu yang meresahkan !"


Bruuk..


Seto kembali menutup pintu kamarnya.


"Apa tadi dia bilang? dasar anak nakal,"  gumam Septi lalu melangkah ke kamar yang di maksud Seto.

__ADS_1


Dengan cepat, Seto dan Arini menghampiri Septi yang telah menunggu di kamar tamu, tetapi sesampainya di kamar itu, Seto tidak menemukan maminya, " kemana mami?" tanya Seto melirik ke arah istrinya itu yang sama bingungnya.


Setelah di cari-cari, akhirnya Seto menemukan maminya yang saat ini berada di kamar Alana, melihat putranya berdiri di ambang pintu, Septi lalu menghampirinya.


Sudah lama sekali rasanya mereka semua tidak berkumpul, semenjak Seto mengajak Arini berumah tangga, sejak itu pula Seto pindah dari rumah Maminya hingga waktu untuk bertemu maminya juga bisa di katakan jarang sekali.


Seto sangatlah sibuk mengurusi pekerjaan, yang selalu saja menyita waktunya, sedangkan Ny. Septi sama sibuknya ia harus memantau langsung Beberapa anak perusahaan mendiang suaminya itu.


Akhirnya Seto mengajak maminya untuk ke ruang keluarga, di ikuti Arini yang saat ini sedang menggandeng mertuanya itu.


"Mami Senang sekali, mendengar kabar kehamilan Arini. Dan mami sangat bangga, Bimo mengatakan kalau kamu sedang ada proyek bangun Mall To?" ujar Ny. Septi setelah berhasil mendudukkan tubuhnya ke sofa di ikuti dengan anak serta menantunya itu.


"Aku cuma ikut bantu Dana Mi, itu mall milik Dio, nanti kalau sudah jadi 50 persen hasil pendapatannya milik Seto, sekedar bantu Dio aja yang ingin memiliki usaha Mi." Seto menanggapi perkataan Maminya, menjelaskan agar maminya tahu apa yang sedang menjadi gagasannya saat ini.


"Itu tidak buruk, kalau bisa membantu teman tidak masalah, toh nanti akhirnya juga ada pemasukan."  Ny. Septi menimpali lagi.


"Belum sempat Arini cek, Mam. Kata mas Seto biar jadi kejutan aja nanti, sebenarnya Arini juga penasaran sih mam, cucu mami ini nantinya cewek apa cowok." jawab Arini dengan tersenyum lembut.


"Biar jadi kejutan aja gitu mam, siapa tau nanti dapat cucu cowok, kan udah punya tuh cucu cewek Alana," Seto ikut menyahuti


"Kalau cowok, pasti bandel dan menyebalkan seperti kamu To."  celetuk Ny.Septi membuat suasana malam ini makin meriah dengan canda tawa dari anak dan ibu itu.


"Biar nyebelin tapi kan ganteng dan keren Mi." Seto tertawa dan mendapatkan lemparan bantal dari maminya itu.


"Yowis. Udah malam juga sana kalian istirahat, Arini juga banyak-banyak istirahat, biar cucu Mami tumbuh sehat, toh kekhawatiran mami juga sudah hilang, alhamdullilah Seto sehat. Panik banget tadi pas di kabari Bimo." kata mami dengan mengelus perut Arini yang sedikit buncit itu.


Seto mengangguk, lalu ia menyuruh Arini untuk kembali ke kamar sendiri dulu, ia akan mengantarkan maminya ke kamar tamu sebentar, lalu mereka bertiga pun beranjak menuju kamar masing-masing.


Akhirnya malam ini Septi menginap di rumah putranya itu, setelah mengantarkan sang ibunda ke kamar, Seto segera berpamitan untuk kembali ke kamarnya sendiri, tentunya lelaki itu akan melanjutkan acara menjenguk anaknya itu yang tadi terhenti.

__ADS_1


Sementara itu di rumah Rico.


Rico sedang berada di kamarnya, sudah beberapa Minggu ini tidurnya tidak pernah nyenyak, itu hal yang lumrah di rasakan para manusia ketika tidak memiliki uang bukan?.


Rico membalikkan tubuhnya, menutupi seluruh badannya menggunakan selimut, malam-malam panjang begini tidurnya selalu kesepian.


Malam ini Rico merasakan dingin, tetapi ia juga tidak mungkin memakai atau meminjam selimut tetangga untuk menghangatkan tubuhnya kan?.


Rico mendesah, selain merasakan dingin ia juga merasa sangat tersiksa, seharusnya malam dingin seperti ini biasannya akan menjadi hangat kalau dirinya dapat bereksplorasi langsung ke hutan rimba dengan metode bercocok tanam. dan tak lupa menyedot es semangka yang menyegarkan.


Itu rasanya lebih hangat melebihi kehangatan selimut tetangga pastinya. Namun harapan tinggalah angan, yang memudar bersama kesepian yang merusak malam-malamnya.


Rico adalah lelaki dewasa dan normal, sudah pasti ia sangat tersiksa menyimpan benihnya terlalu lama dan tidak ia taman di hutan secara berkala.


Andai saja dirinya tidak egois, mungkin Clara tidak akan pergi meninggalkannya, lalu sekarang dirinya bisa apa?, jangankan mencari Clara, untuk makan sehari-hari dan beli rokok serta kuota saja dirinya kembang kempis, memang uang bukanlah segalanya, tetapi segalanya membutuhkan uang. 


Uang juga tidak di bawa mati, namun tidak ada uang rasanya pengen mati.


Rico sangat tersiksa, lalu dirinya beranjak ke kamar mandi, haruskah ia mengadu dan mengandalkan kekuatan sabun mandi malam ini?


Haruskah Rico setragis itu? Mana puas kalau hanya mengadu pada sabun mandi..


Tetapi bukankah Rico tidak memiliki pilihan lain? Dengan cepat ia meraih sabun mandi itu, ia akan mengeluarkan benihnya secara paksa, tidak ada hal yang dapat di lakukan Rico selain itu, semua itu karena kemiskinan kini mulai nyaman padanya.


Bersambung..


Wah.. siapapun tolong kasih pencerahan kepada mas Rico bahwa itu sesat 😳 wkwkkw


Ayo aku minta transferan semangat dengan cara like komen rate dan vote 🌹😘

__ADS_1


__ADS_2