Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 59.


__ADS_3

Setelah beberapa waktu Arini hendak di ajak Seto pulang, " gimana udah bosen ya, kita pulang sekarang saja?"  ajak Seto sambil memegang bahu istrinya dari samping.


Arini menganggukkan kepala, namun tiba-tiba saja ia merasa ingin buang air kecil, " tapi bentar mas, aku ke toilet dulu, pengen buang air kecil." 


Seto menganggukkan kepala, sepertinya Arini memang sudah tidak mampu menahannya. " Perlu aku antar nggak?"  tanya Seto.


"Nggak usah mas," tolak Arini halus hanya sekedar ke kamar mandi untuk apa di temani, pikir wanita itu.


"Nanti kalau di culik orang gimana?" goda Seto, Arini hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan suaminya.


"Ada-ada saja kau ini mas, bentar doang, nggak ada sepuluh menit kok,"


Seto tersenyum, kemudian dia mengangguk, Seto tahu Arini adalah tipikal wanita mandiri jadi sangat mustahil baginya hanya sekedar ke kamar mandi minta di anterin.


"Nanti kalau lama aku susul ya haha, aku mau nyalami temen-temen dulu, sekalian mau pamit sama Dio kalau kita pulang cepet."  ucap Seto.


Arini menganggukkan kepala, kemudian ia berjalan mengayunkan kakinya menuju toilet.


Arini memasuki salah satu bilik toilet, dan melaksanakan niatannya, setelah itu ia ingin membasuh mukanya yang terasa amat gerah itu padahal riasannya tidak tebal, karena jarang bermake up mungkin, jadinya terasa gerah.


Setelah itu Arini menghembuskan nafasnya pelan, rasanya amat lelah dirinya tidak menyangka akan di pertemukan dengan mantan suami dalam momen seperti ini. Arini menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangannya yang ia regangkan


Ketika dirinya hendak melangkah keluar, tiba -tiba suara bising dari luar menghentikan langkahnya, " Dasar sialan banget, bikin emosi saja."  kata seseorang, dan Arini tahu suara tersebut suara Clara.


Arini sedikit terkejut, sangat sial sekali harus terjebak di kamar mandi seperti ini, karena ada Clara.


"Benar-benar mantan madu sialan. Bikin kesel aja!" 


Tak henti-hentinya, Clara bersumpah serapah dari tadi,  dengan rasa penasaran yang menyeruak dalam hati,  Arini bergerak pelan membuka sedikit pintu bilik toilet, hingga dirinya dapat melihat clara dari dalam sini.


Clara meletakkan tasnya di tempat yang tersedia di sebelahnya dengan kasar.


Clara mengibaskan tangan di depan wajahnya, seolah ia merasakan kepanasan karena terbakar emosinya sendiri. Wanita itu terlihat mencuci tangannya, dengan mulut yang sedari tadi tidak berhenti mengomel.


Setelah mencuci tangannya, Clara mengambil tas dan membukanya, terlihat dia mengambil lipstik berwarna merah yang ia oleskan ke bibir berulang-ulang. Wanita itu juga memperbaiki riasannya, padahal bedak di wajahnya sudah tebal, masih saja di tambahi bedak lagi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Arini melihat Clara keluar dari kamar mandi, setelah itu dirinya juga memutuskan untuk pergi dari sana, ia membuka pintu toilet dan keluar untuk menghampiri Seto lagi.


Arini memijit pelipisnya, tiba-tiba ia merasakan pusing sekali, mungkin dirinya kecapekan, capek hati dan capek menghadapi mereka semua. Merasa semakin pusing, Arini mencari nomor Seto dari ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya itu.


" Halo sayang." suara barito dari seberang sana terdengar di telinga Arini.


"Halo mas, kamu lagi di mana mas?" 


"Aku masih di ruang utama sayang, masih ngobrol sama Dio, kenapa ada masalah, kah?" 


Terdengar nada khawatir dari Seto, mengapa juga Arini malah menelfon dan tak segera kembali jika niatnya ke kamar mandi telah selesai.


Arini tersenyum mendengar kekhawatiran dari suaminya itu.


"Nggak apa-apa mas, cuma mau pastikan saja, biar nanti gampang nyari kamunya, aku pengen cepet pulang, kasian Alana udah lama kita tinggal." 


Embusan berat terdengar di telinga Seto, benar juga kata Arini, mereka terlalu lama meninggalkan Alana, tahu begini cepat-cepat tadi dirinya mengajak sang istri pulang.


"Mas, capek, kangen Alana juga." lanjut Arini.


Arini mengatakan iya, kemudian mereka mengakhiri panggilan tersebut.


Arini berjalan gontai keluar dari kamar mandi ini, nampak sepi di koridor yang menghubungkan antara kamar mandi yang terletak di ujung sana dengan ruang utama acara.


Hembusan angin seolah menusuk kulit tangannya yang tak terbungkus kain itu, kalau sampai dirinya bertemu lagi dengan Clara untuk yang ke tiga kalinya, berati malam ini dirinya benar-benar sial.


"Aduh sakit." pekik Arini saat seseorang tiba-tiba menarik lengannya dengan kasar dari arah belakang oleh seseorang. setelah itu dirinya di himpit di dinding koridor yang terasa dingin ini.


"Ngapain kamu, lepasin aku nggak!" kata Arini sangat sebal, dirinya sekuat tenaga memberontak namun kedua bahunya di tahan oleh orang tersebut agar posisinya tetap sama menempel pada tembok.


"Bagaimana kabarmu sayang?" tanyanya sok basa-basi seperti orang yang tidak punya dosa.


Arini sangat berharap Seto berada di sini sekarang, tangannya yang bebas ia gunakan untuk melepaskan diri, ia mencoba menggeliat, bagaimanapun caranya ia harus terbebas dengan segera.


"Lepasin aku, brengsek!" 

__ADS_1


Rico menatap mata wanita yang saat ini membuatnya tergila-gila itu, dia tersenyum, wajah Arini yang galak seperti ini malah membuatnya begitu candu.


Sepertinya Rico jatuh cinta terlambat kepada mantan istrinya itu.


Tidak apa cinta terlambat, siapa tahu Arini masih mencintainya, pernikahannya dengan Seto hanya pelampiasan saja, mungkin saja Arini mau memberikannya kesempatan kedua, sungguh pikiran Rico sangat narsis sekali. Dirinya begitu terobsesi kepada Arini sekarang.


Rico tersenyum menyeringai, sorot mata Rico seperti lelaki yang kelaparan, Arini begitu takut jika Rico akan melecehkannya lagi. bahkan dirinya rela membuntuti Arini hingga ke toilet, Rico benar-benar sudah tidak waras!.


"Lepaskan aku! Aku bakal teriak sekarang kalau kamu nggak segera melepaskanku!" kata Arini dengan menatap tajam Rico, ia mengancam Rico agar lelaki itu melepaskannya. Namun lelaki itu, tidak bergeming sama sekali, malah Rico semakin mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Arini.


"Teriak aja, biar semua orang tahu, terutama suamimu, aku akan mengatakan padanya jika kita memang sengaja janjian di sini." bisiknya pelan membuat Arini begitu terkejut.


"Sialan.lepasin! teriak Arini, tangannya yang bebas ia gunakan untuk memukul-mukul bahu Rico, namun ia kalah tenaga.


Arini berharap Seto menghampirinya ke sini, karena sampai sekarang dirinya belum juga ke ruang utama acara, kalau tidak Seto siapapun boleh asalkan dapat menolongnya dari manusia kurang ajar seperti Rico.


"Arini.." tangan Rico berusaha menyentuh pipi mantan istrinya itu, namun secepat kilat Arini menoleh ke samping menghindari Rico.


"Lepasin aku, brengsek!" teriak Arini dengan memukul-mukul dada Rico.


"Arini, kita rujuk yuk, kamu tinggalin Seto, demi anak kita Alana."


Mendengar hal tersebut, membuat pandangan Arini yang tadinya menatap ke samping kini berpindah lurus menatap Rico, apakah telinganya tidak salah mendengar, baru saja Rico mengatakan ingin rujuk, dan meminta dirinya meninggalkan Seto?.


Arini ternyata tidak salah mendengar, saat terdiam tadi Rico mengulangi permintaannya, Arini hendak membuka mulutnya, ingin memaki Rico namun ia urungkan kata-kata yang hendak ia ucapkan ia telan mentah-mentah lagi.


Egois sekali lelaki ini, apa mungkin cintanya dengan clara telah luntur? hingga dirinya mengharapkan Arini kembali.


Tiba-tiba saja Rico terasa susah menelan ludah saat kata-kata yang keluar dari mulut Arini sangat tajam.


Brakkk!!


Bersambung….


maaf ya baru update ayo jangan pelit like komen rate dan vote ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2