
Sebelum membaca hanya ingin mengingatkan jangan lupa like komen dan vote agar aku makin giat update 🥳❤️
happy reading.....
Rico masuk ke dalam rumah, kakinya melangkah memasuki kamar, ia merebahkan diri di atas kasur hatinya begitu panas mengingat Arini dekat dengan pria lain. Untuk kesekian kalinya ia bertemu dengan lelaki itu dan setiap pertemuannya selalu menyulut emosinya.
"Sebenarnya siapa lelaki itu..lihat saja nanti jika berani macam-macam pada Arini akan aku habisi dia." gerutunya sambil mengusap wajah.
Hingga beberapa saat berlalu, suara pintu terbuka membuyarkan lamunan rico yang masih terlentang di atas kasur.
Clara membuka pintu, Rico menoleh dan menatap wajah istri mudanya itu. Matanya menelisik setiap gerakan Clara sejujurnya ia masih kesal dengan wanita itu.
"Yank.." panggilnya manja dan merangkak ke atas kasur.
"Hmm.."
"Aku, ingin..." ucapan Clara menggantung, ia menunduk dan terlihat ragu untuk berbicara, terlihat dari jemarinya yang saling meremas.
"Ingin apa katakanlah!" kata Rico penasaran.
"Ingin meminta maaf padamu, karena pergi tanpa sepengetahuan mu."
"Lupakanlah, aku membiarkanmu kali ini," ucap Rico dan segera memejamkan matanya.
Melihat Rico yang acuh padanya hati Clara begitu kesal, ia pun segera merebahkan dirinya di samping suaminya itu dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dalam hati wanita itu mengumpat Rico sangat menyebalkan.
Di tempat lain.
"Bos Se!" panggil Bimo yang baru saja masuk ke dalam ruangan pribadi milik Seto.
"Jangan memanggilku untuk berita yang tidak penting, aku sedang sibuk!"
"Ini penting Bos Se!"
"Ya sudah buruan ngomong!"
"Madunya Arini telah bermain serong dengan teman kerja Rico bos. suaminya Arini jika tahu bagaimana ya?" ucap Bimo penuh semangat, tetapi bukannya senang, Seto malah menjadi badmood. Membuat lelaki bertubuh sedikit gemuk itu bingung.
"Bisa nggak..panggil brengsek saja tanpa embel-embel suaminya Arini!"
Bimo gelagapan dan tampak bingung, " lah..kan memang Rico itu masih suaminya Arini, salahku di mana coba?"
__ADS_1
Mata Seto memancarkan api kecemburuan, namun Bimo tidak peka dan belum memahami maksud pembicaraan Seto.
"Sekali lagi kamu sebut bedebah itu suami Arini ku patahkan lehermu!"
"Lah kok ngamok.. kan memang kenyataannya Arini masih belum bercerai dan Rico itu suaminya." Bimo sama sekali tidak peka padahal bosnya sudah keliatan cemburu namun ia masih saja mengulang kata yang sama.
"Sepertinya kamu sudah bosan hidup ya?!" ucap Seto dengan tatapan tak bersahabat kepada Bimo, sehingga lelaki di hadapannya tersenyum getir.
"Hehe, Bos Se..., Mendadak perutku mules, pamit ke belakang dulu Bos Se permisi!" lalu tanpa menunggu jawaban dari Seto ia mengambil langkah seribu. Menghindari kemurkaan sang bos adalah jalan ninja baginya.
"Dasar bucin..lah kan emang Rico itu masih suaminya Arini, apa salahnya aku manggil lelaki itu suaminya lah kok Seto malah ngamook," batin Bimo.
Sedangkan di dalam kamar, raut wajah Seto yang tadinya ceria mendadak muram saat mendengar kata itu keluar dari mulut Bimo ia menatap tajam seolah jika Bimo tak segera pergi tadi tatapannya akan berubah menjadi belati yang siap mencabik-cabik tubuh Bimo.
"Bisa saja kan manggil dengan sebutan Rico kek, bedebah itu, kenapa harus pake sebutan suaminya Arini, Bimo memang minta di penggal kepalanya."
Lelaki itu malah tidak fokus akan berita utama yang di sampaikan Bimo, dirinya mendadak sebal saat asistennya itu menyebut kata suami di depannya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi harinya Seto mengunjungi kediaman Maminya. Dia ingin segera memberi tahu perihal kedekatannya dengan seorang wanita lelaki itu ingin menunjukkan foto dirinya yang memeluk pinggang Arini sebagi bukti agar maminya tidak menjodoh- jodohkannya lagi.
Seto keluar dari dalam mobil, dia lalu berjalan masuk ke dalam pintu rumah. Seperti biasa kedatangannya di sambut para pekerja di sana.
"Nyonya besar sedang berada di taman belakang" jawabnya.
"Hemm..." Seto berdehem menyahuti respon Jawaban dari pelayanan tadi. Dia melangkahkan kaki menuju taman belakang rumah.
"Mam..mami..," teriak Seto memanggil maminya.
Maminya yang sedang sibuk berkebun menoleh pada suara yang memanggil dirinya. Wanita paruh baya itu berdiri saat melihat putra kesayangannya berjalan mendekat ke arahnya.
Maminya merentangkan kedua tangan, hal itu membuat Seto begidik ngeri sejak kapan maminya semanis ini menyambut kedatangannya? dia mencoba berpikir positif siapa tahu Maminya memang merindukannya.
"Mami..jangan bersikap manis seperti ini. Sungguh ini membuatku ngeri!" ucap Seto.
"Ngapain kamu pulang, kamu sehat kan?" tanya wanita paruh baya itu.
"Astaga..anak tertampannya pulang, bukannya di sambut malah di tanya ngapain pulang ke rumah orang tuanya sendiri." gerutu Seto.
"Kenapa, kamu mau merayu Mami untuk apa?" tuduh Maminya.
__ADS_1
Seto menutup bibirnya, berusaha agar tidak tertawa. Maminya masih saja negatif thinking kepadanya. Seto memperhatikan raut wajah maminya yang waspada.
"Pikiran mami selalu negatif pada Seto, ayo..kita bicara di dalam, Seto ingin memperlihatkan sesuatu kepada mami," ucap Seto.
Maminya mengangguk, raut wajahnya masih tetap waspada hal apa yang ingin di sampaikan putranya itu. Mereka kemudian berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
Maminya memperhatikan tingkah putranya yang senyum-senyum sendiri, ia menjadi semakin waspada dan curiga akan tingkah putranya itu.
"Jangan menampilkan wajah tidak berdosamu itu. Mami geli melihatnya, apalagi yang ingin kamu tunjukkan awas saja membuat mami darah tinggi, ku pecat kau sebagai pewaris tunggal Pramana group." ucap maminya.
Seto mengusap belakang lehernya.
"Mami selalu saja berpikir negatif terhadap Seto. Sesekali percaya kek sama anaknya."
Wanita paruh baya itu melangkah masuk kedalam rumah, ia menuju wastafel dapur untuk mencuci tangan. Seto sudah duduk di ruang keluarga dirinya juga membawakan hadiah untuk menyenangkan hati maminya itu.
Maminya telah sampai di ruang keluarga, dia meyilangkan kedua kakinya, dan melipat tangannya di perut.
Seto menyodorkan Sebuah paper bag di hadapan maminya. Kemudian maminya membuka paper bag itu dan melihat dua parfum mahal di dalamnya.
Maminya mengambil kedua parfum itu di dalamnya, menghirupnya seulas senyuman terbit di bibir wanita paruh baya itu tandanya ia menyukai wangi parfum pemberian Seto.
" Wangi parfumnya, mami suka."
"Tentunya, Seto tahu mana wangi yang mami sukai,"
"Imbalan apa yang ingin kau dapatkan dari hadiahmu ini?" tanya maminya dengan masih menghirup aroma parfum tadi.
"Astaga..masih saja berpikiran negatif, sungguh mami menyebalkan," sungut Seto dalam hati.
"Kau tadi ingin menunjukkan apa?" tanya Maminya kemudian.
Seto tersenyum, ia memperlihatkan gambar dirinya dan Arini, "calon mantumu!" ucapnya penuh percaya diri.
Ada rasa tidak percaya dari raut wajah maminya. "Sudah kau selidiki, asal usul wanita ini?"
"Sudah dong,"
"Baiklah, akan aku tanyakan pada Bimo keseluruhannya mengenai informasi wanita ini!"
Seto mengumpat dalam hati, "mampus aku, sebelum mami menanyakan tentang Arini, aku harus lebih dulu meminta Bimo agar tidak mengatakan bahwa Arini masih istri orang. Bisa-bisa mami mengoceh sampai tujuh purnama nanti."
__ADS_1
Saat masih memikirkan itu, tiba-tiba ponsel Seto berdering membuat lelaki itu meminta ijin untuk mengangkatnya dan Maminya mengiyakan. Ia masih sibuk juga menghirup aroma parfum yang membuatnya candu.
Bersambung......