Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 106.


__ADS_3

Lima hari telah berlalu, setelah gagal nikah karena kekasihnya memutuskannya secara sepihak dengan alasan lelaki itu tidak mau menerima kenyataan tentang penyakitnya,  Clara berusaha untuk tegar ia menyadari sepenuhnya ini adalah dosa di masalalu. 


Clara pergi ke dapur untuk merebus obat herbal. Ia hanya dapat melakukan ini untuk meringankan penyakitnya.


Ketika dia sibuk telepon berdering, nama "Rico" muncul di layar. Dia bingung untuk sementara waktu lalu ia memutuskan untuk tidak mengangkatnya.


Sudah beberapa saat panggilan itu berhenti dan kini ponselnya kembali berdering nama sang pemanggil pun sama, Clara hanya menghela nafas lalu mengangkatnya.


"Halo."


"Kamu ada dimana? Aku akan menemuimu sekarang. Berikan alamatmu, aku akan datang dan mengajakmu makan siang."  suara Rico datang dari sisi lain, bahkan nada bicaranya terdengar sangat begitu peduli berbeda dari biasanya.


Namun itu bukan waktu yang tepat untuk mengatakan alamat tinggalnya sekarang. Clara merasa ia tidak pantas dan rasa percaya dirinya turun drastis. " Aku sangat sibuk hari ini, jadi aku tidak bisa memenuhi ajakanmu."


"Kamu sedang tidak sehat, memangnya kamu sibuk apa?" 


"Aku bukan orang pengangguran." suara Clara agak kesal, tapi kemudian dia menguatkan diri " Aku merasa diriku sehat dan aku memiliki pekerjaan lain."


"Kamu memiliki pekerjaan lain? Hmm jagalah kesehatanmu."


"Ya. Maaf jika tadi aku terdengar nyolot."


Rico tertawa "kamu sedang dalam mood yang buruk, bukan? jadi aku mencoba menghiburmu makannya aku berniat mengajakmu makan siang tadi,"


"Dimana kamu? biarkan aku menjemputmu aku memiliki cukup uang untuk menyenangkanmu hari ini."


"Yang benar saja? kau menyewa mobil?"


"Kalau kau tidak menyukainya, kita bisa bertemu langsung ke tempat,"


"Tidak, maksudku kau cukup punya uang untuk menyewa mobil? Tapi aku sibuk akhir-akhir ini, jadi aku tidak dapat memenuhi ajakanmu." Dia tidak ada rasa benci lagi pada Rico, tetapi karena penyakitnya sekarang membuatnya minder dan sebisa mungkin menghindari pertemuan.


"Lalu bisamu kapan?" 


"Aku tidak tahu, mungkin seminggu kemudian."


"Ok. Seminggu lagi kita ketemu." ucap Rico tanpa keraguan sedikitpun.

__ADS_1


Clara berpikir dirinya akan jauh lebih baik dalam waktu seminggu, walaupun penyakit yang di deritanya tidak hilang, setidaknya daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dari hari ini bukan?  "Baik seminggu lagi kita bertemu." 


Setelah menyelesaikan kata-katanya, Clara berbalik dan menemukan lelaki yang membatalkan pernikahan dengannya sedang berdiri dengan bersedekap dada.


Dia terkejut.


"Ngapain kamu kesini?" 


"Apa??" suara Rico bingung, mendengar pertanyaan Clara.


"Tidak. Bukan kamu, ok aku sibuk sekarang. Kita akan bertemu satu Minggu lagi."


Setelah mengatakan itu, Clara menutup telepon dengan tergesa-gesa tanpa mendengar Rico menjawabnya.


Dalam beberapa hari terakhir, Clara mencoba menjaga jarak darinya agar rasa sakit di hatinya berkurang, tapi sekarang rasa sakit itu mendadak kambuh dan terasa semakin perih.


Lelaki itu mendekat, hingga dia dapat melihat dengan jelas wajah Clara yang begitu pucat.


Clara membuang mukanya, ia tidak sanggup menatap wajah lelaki yang beberapa hari terakhir menciptakan rasa sakit yang luar biasa di hatinya itu.


"Untuk apa kamu kesini? jika ingin memastikan aku sudah mati apa belum..ya. aku masih sehat dan belum mati untuk saat ini." kata Clara begitu ketus.


Lelaki itu hanya menatap, memperhatikan Clara dari atas hingga bawah dan dari bawah hingga ke atas begitu seterusnya dan dia berkata " sebaiknya jangan berlebihan dalam menilai orang, belum tentu apa yang kamu katakan tadi adalah kebenaran."


"Cih.." Clara berdecih, ia muak dengan omong kosong pria ini.


"Aku baru saja mendengar kau berbicara di telepon, kau sangat sibuk dan memiliki kerjaan baru? Kau lupa dengan kesehatanmu?" 


"Huh.." Clara berusaha setenang mungkin, " bukankah lebih baik mengurusi hidup masing-masing daripada merepotkan diri ingin tahu urusan orang lain?" 


"Jangan marah, aku datang kesini baik-baik aku minta maaf dan aku sangat khawatir tentangmu." 


"Saya rasa, Saya sudah tidak memiliki keterikatan lagi dengan anda. Jadi apapun yang saya lakukan itu bukan lagi menjadi urusan anda, jika tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, bisakah anda pulang karena anda sangat mengganggu waktu istirahat saya." Clara berbicara dengan bahasa baku, ia sangat kesal namun ia berusaha setenang mungkin.


Lelaki itu meliriknya, ia ingin berkata lagi namun saat melihat Clara acuh tak acuh, ia menjadi diam.


Dia berkata " maaf jika mengganggu, ok aku pulang sekarang, dan untuk masalalu kita aku minta maaf."

__ADS_1


"Aku sudah melupakannya, jadi di masa depan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!" 


Setelah itu, pria itu berbalik badan dan meninggalkan rumah Clara.


Sementara itu di hadapan nenek Hana.


"Cinta?" sahut nenek Hana nyeleneh.


Bimo meneguk salivanya, " iya. Nek..saya mencintai Hana."


Bimo bisa merasakan saat ini bahwa tangannya berkeringat dan gemetar. Setelah mengajak makan siang Hana, Bimo meminta ijin kepada Seto untuk kembali ke kantor sedikit telat, setelah Seto mengijinkan, awalnya Bimo telah menyatakan cinta kepada Hana, dan gadis itu akan menerima cintanya jikalau neneknya juga merestui.


Untuk itu Bimo memberanikan diri untuk berterus terang kepada nenek Hana, dan saat ini situasinya Bimo sedang berhadapan dengan wanita tua itu.


"Apa kau tidak tahu, cucuku sudah memiliki calon suami?" 


Bimo tidak terkejut, karena ia telah mengetahui kenyataannya. Lalu nenek Hana bangkit dan berkata " carilah wanita lain, karena Hana telah memiliki calon suami."


Entah darimana Bimo mendapatkan keberanian itu, ia sedikit menaikkan nada suaranya "apa nenek pernah bertanya kepada Hana, siapa lelaki yang di inginkannya untuk dia jadikan suami?" 


"Saya tidak perlu menanyakan hal itu kepada Hana, karena sudah pasti dia akan menyetujuinya."


"What??" 


Bimo mendelik tajam, ia merasa saat ini emosinya sudah di ubun-ubun. Masa bodo tentang tata Krama dan sopan santun, ia tidak peduli lantas Bimo pun berdiri dan berkata " orang tua yang baik, adalah orang tua yang selalu mementingkan keinginan anak, bukan keinginannya!" 


Nenek Hana mengkerutkan kening, lalu berkata " kamu itu siapa? Beraninya mengurui saya?" 


 Bimo tidak pernah setegang ini dalam hidupnya, ia mengatur nafas mencoba menetralisir amarahnya. " Maaf jika saya bersikap tidak sopan. Tapi saya datang kesini dengan niatan baik, saya mencintai cucu anda dan berniat meminangnya, jika anda ingin mengetahui isi hati cucu anda yang sebenarnya, dari awal ia sangat tidak menyukai perjodohan tetapi demi menghormati anda, Hana rela mengesampingkan hatinya dan menerima perjodohan itu."


"Pintu masih di tempat yang sama silahkan keluar!!" 


"Baik. Saya permisi, selamat siang." Bimo pun segera keluar, ia di kejar oleh Hana sesampainya di depan pintu Hana meminta maaf atas sikap neneknya, namun Bimo mengatakan dirinya baik-baik saja, itu hal yang lumrah.


"Yang terpenting sekarang adalah aku tahu Han, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." ucapnya seraya menyibakkan rambut Hana ke belakang telinga.


Tiba-tiba...

__ADS_1


Bersambung....


jangan lupa vote dan like ya gengs biar cerita ini tetap berlanjut 🌹


__ADS_2