Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 121.


__ADS_3

Di tengah lamunan singkatnya Dea tersadar, bahwasanya masalalu akan tetap menjadi masalalu.


Pasti semuanya tak akan kembali seperti dahulu.


Setelah kepergian Rico, kini yang tersisa di ruangan ini hanyalah dirinya dan Dio. terlihat Dio tengah sibuk dengan ponselnya, dan sesekali senyuman mengembang di wajah mantan kekasihnya itu.


"Apa kau sibuk besok?" tiba-tiba Dea memecah keheningan saat Dio masih fokus dengan ponselnya.


Dio sedikit mengalihkan pandangannya, ia mengangguk tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Dea.


"Maaf, telah merepotkanmu." ucap Dea lagi.


Namun lagi-lagi Dio acuh, dan masih berkutat dengan ponselnya, Dea di buat penasaran setengah mati karena sedari tadi yang ia perhatikan Dio selalu senyum-senyum sendiri. seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Dio menyudahi bermain dengan ponselnya, ia memasukkannya ke dalam saku celana " bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan menatap lembut ke mata Dea.


"Aku sudah baikan, besok aku sudah boleh pulang Di.." 


Malam harinya.


" Belum tidur mah?" Seto bertanya sambil melirik Arini di ranjang, suaranya yang dalam terdengar ambigu di malam hari.


Arini paham maksud dari pertanyaan Seto, dia tidak berani menatap Seto secara langsung " aku sudah mengantuk, aku rasa aku akan tidur sekarang," 


Arini berkata dengan pura-pura memejamkan matanya dan menguap, Seto tersenyum ia mengetahui istrinya ini sedang berpura-pura, dia tidak dapat mengabaikan tubuh Arini yang terbalut piyama tipis, itu sangat menggodanya.


Arini terkejut, saat tangan besar itu secara sengaja meraba b*k*ngnya, Arini membuka matanya, menatap Seto dengan rasa malu dan hati-hati.


"Tidak mau?" Seto tersenyum, sorot matanya begitu menghujam.


" Aku mengantuk sekali mas, bisakah malam ini kita langsung tidur?" 


Seto terkekeh, " Aku hanya memakan mie tadi, jadi aku tidak bisa memakanmu untuk saat ini"  


"Oh.. seharusnya aku tidak memasak mie tadi, mas sendiri tadi kan yang minta?" 


"Iya,"


Seto menyipitkan matanya, matanya ambigu dan berbahaya, " sekarang aku menyesal hanya memakan mie, jadi malam ini aku tidak bisa memakanmu secara langsung."

__ADS_1


"Mas…?" pekik Arini seraya tersenyum, ia menepuk lengan Seto pelan.


"Aku belum ke kamar Lana, bisa minta tolong mas, cek ke kamarnya apakah putri kita sudah tidur? takutnya anak itu rewel karena giginya tumbuh lagi."


"Oke," Seto pun segera menuju kamar putrinya.


Sesampainya di sana, kekhawatiran Arini benar adanya, Alana masih terjaga dengan merengek kesakitan.


Setelah mengintruksikan pengasuh untuk meninggalkan dirinya dan Alana, kini Seto merangkak naik ke ranjang ia mengelus pipi putrinya, " biar papa puk-puk, setidaknya ini akan mengurangi rasa sakit gigimu." 


"Papa, apa gigiku akan beltambah?" 


"Itu benar, jadi Alana akan semakin kuat mengigit daging."


"Tidurlah, agar gigimu cepat tumbuh dan Alana tidak akan merasakan sakit lagi!"


Dua alis cantik Alana berkerut, lalu memprotes papanya dengan kesal " papa, aku tidak ingin tumbuh gigi, ini lasanya sakit."


"Papa, kakak pengasuh belkata, jika gigiku mulai tumbuh belalti aku sudah mulai dewasa, lalu apakah aku bisa mendapatkan adik bayi lagi jika aku sudah semakin dewasa?" tanya Alana lagi.


Saat ini di tempat tidur, Seto di temani oleh anak yang cerewet. Dia tidak bisa membuat Alana berhenti untuk bertanya memang di usia seperti sekarang rasa ingin tahu anaknya ini begitu besar.


"Baik papa," kepala kecil Alana mengangguk, " papa jangan pelgi dulu sampai Lana bobok,"


" Cepat tidurlah, papa akan menemanimu." ucap Seto seraya memberikan kecupan singkat di puncak kepala anaknya.


Pagi harinya hampir jam setengah delapan.


Mobil Dio berhenti di tepi jalan, ia segera turun dan mendekati seorang gadis untuk di antaranya ke sekolah. " Tiara, ayo kakak antar!" 


"Kakak, Tolong jangan bersikap baik seperti ini itu akan menyulitkanku untuk menjauh darimu." ucap Tiara sedikit bergetar, air matanya berjatuhan secara perlahan. Malam kemarin baru saja bibirnya di cium oleh Dio, ia bahkan masih bisa merasakan kehangatan itu, angin sepoi-sepoi yang sejuk datang, rambut Tiara di tiup angin dan memperlihatkan leher Tiara yang putih.


Dio tak tega melihat gadis di hadapannya menangis, dan mencoba untuk mengusap air matanya. Tapi tangannya malah di tepis oleh Tiara.


" Tiara dengar..bukan maksud kakak mempermainkan hatimu. Kakak hanya merasa tidak pantas karena perbandingan umur kita yang terlalu jauh, apa kau mengerti maksud kakak?" 


Suaranya serendah nafas yang di hembuskan. Tiara sering mendengar alasan Dio barusan, lalu apa arti ciumannya malam itu? Dan ajakannya jadian apa hanya bualan?.


" Aku tidak akan...aku tidak akan jatuh cinta pada kakak lagi, aku tidak akan mengharapkan seorang pria yang takut untuk melihat masa depan dan selalu terpuruk di masa lalu!"  kata Tiara dengan nada rendah.

__ADS_1


Kata barusan di gunakan untuk menyindir Dio. tetapi lebih terdengar bergumam untuk memperingatkan dirinya sendiri.


Sebenarnya apa yang di ucapkan Tiara begitu tepat menghujam di jantung Dio, apa yang gadis ini katakan benar adanya, Dirinya Memang terlihat seperti pecundang.


 " Kalau begitu aku ingin mencobanya!" kata Dio.


Dio berkata dan langsung menarik tangan Tiara masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Dio menyerang Tiara dengan ciuman di bibir, ciuman Dio arogan dan antusias. Pria ini seharusnya tidak melakukan ini, dia masih tenggelam dalam masa lalu, Dio sangat egois, untuk menariknya dalam jurang kesakitan.


" Apa pendapat kakak tentang aku?" Tiara berkata suaranya bergetar dan marah, " aku harus mencintaimu sendirian ini lucu kan?" 


Dio mengerutkan keningnya dan tidak mengatakan apa-apa, ia lalu menancap gas untuk mengantarkan gadis di sampingnya ke sekolah.


Dio masih terdiam, sampai pada akhirnya dia angkat bicara.


" Aku hanya manusia biasa, selama beberapa terkahir bersamamu aku sedikit merasakan kedamaian, rasa sesak yang aku rasakan dulu perlahan menghilang, namun banyak pertimbangan jika aku menyanggupi permintaanmu untuk kita berpacaran, kau dan aku sangat jauh berbeda, aku terlalu tua untukmu."


Untuk kesekian kalinya, Dio mengatakan alasan yang selalu sama, Tiara merasa muak mendengarnya.


" Aku sangat puas dengan kejujuran kakak, tapi cinta tidak di patokkan dengan umur kak, apa kakak tahu itu?"


" Tiara, kau tidak memahami pemikiran pria!"


" Kakak juga tidak memahami pemikiran wanita!" 


"Apa???" Dio terbelalak karena Tiara balik mengatainya.


" jangan membuatku semakin gemas, bisa-bisa aku tidak membawamu ke sekolah malah kakak ajak balik ke apartemen!"


" Jangan merusak generasi bangsa!"  Kata Tiara acuh.


"Wanita memang banyak bicara," Dio kehabisan kata untuk membuat Tiara mengerti.


" Lelaki juga banyak tingkah!" Tiara tak mau kalah.


Sepanjang perjalanan mereka akhirnya berdebat, Tiara juga tak mau kalah dengan Dio, sedangkan Dio semakin gemas dengan Tiara.


Tiba-tiba...


Bersambung......

__ADS_1


minta Vote like komen dong biar author semakin gila update 🥳


__ADS_2