Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 57.


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Bimo telah mempersiapkan rencana untuk mempertemukan semuanya dalam satu acara. acara kali ini bertemakan syukuran atas pembangunan mall yang sudah berjalan hampir dua bulan dan terbilang lancar itu.


Arini telah di beritahu oleh Seto, bahwa dirinya akan di ajak untuk menghadiri sebuah acara kantor.


dengan semangat wanita mempersiapkan diri, Arini menyunggingkan senyuman manis, ketika semuanya telah selesai. Untuk terakhir kalinya Arini mematut ulang tampilan dirinya di depan cermin.


Arini mengambil tas berwarna perak. dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Ia masih menunggu suaminya itu yang masih di dalam kamar mandi. Ia kemudian melangkah keluar untuk mengecek putrinya di kamar sebelah.


"Bobok ya mbak?" tanya Arini kepada pengasuh Alana.


Karena tak ingin membuat Alana bangun, pengasuh itu tersenyum dan mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan nyonya rumahnya itu.


Kemudian Arini menghampiri putrinya dan memberikan kecupan singkat di pipi bulat Alana. "titip ya mbak, saya dan pak Seto mau keluar dulu, ada acara." 


"Iya buk," jawab pengasuh itu dengan tersenyum.


Arini kembali lagi ke dalam kamar, Arini melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamar. Nampak Seto yang terlihat semakin tampan dengan setelan formalnya. Kemeja warna hitam dengan lengannya yang di gulung sampai siku, mata Arini begitu takjub karena ketampanan Seto begitu meningkat.


Tak berbeda dengan Arini, saat menoleh ke pintu mata Seto di manjakan dengan penampilan Arini yang berbeda dari biasanya. Arini yang terlihat memukau malah membuat Seto tidak rela untuk membawanya ke acara syukuran proyek tersebut.


Jelas saja nanti dirinya akan cemburu, jika sampai Rico memandangi kecantikan istrinya saat ini, bagaimana juga jika kolega yang lain mengangumi kecantikan Arini? sungguh meresahkan.


Langit sudah mulai menghitam dengan di hiasi gemerlap bintang, Seto dengan segera mengajak Arini untuk berangkat tak butuh waktu lama mereka telah sampai ke tempat tujuan.


Seto menggenggam erat jari Arini, seolah ingin memberi tahu, jika wanita yang berada di sampingnya ini adalah miliknya seorang.


Sesekali rekan bisnis menyelami Seto, dan berbasa-basi dengannya sebagai bentuk formalitas.


"Apa kabar pak Rico?" Sapa Seto dengan menyalami lelaki itu yang saat ini bersama istrinya. hal itu jelas membuat Rico dan Clara kaget bukan kepalang, kok Arini dan Seto bisa juga menghadiri acara ini.


Namun senyuman di wajah Arini yang sedari tadi ia tampilkan, kini mulai pudar, Arini benar-benar tidak percaya akan semua ini.

__ADS_1


Bagitu juga dengan Clara, wajah yang dari rumah telah di make up dengan tebal itu, berubah pucat pasi, Clara begitu syok Arini terlihat lebih cantik darinya, pasti Rico akan jelalatan nanti melihatnya.


"Pak Rico, ini investor dari perusahaan saya, namanya pak Seto Permana dan istrinya Bu Arini Kemala." kata Dio mengenalkan tamunya tersebut, lelaki itu sedikit menahan tawa dia sangat profesional bukan memerankan akting ini. sebenarnya acara ini telah di rencanakan olehnya dengan Bimo, tentu saja atas perintah Seto.


Rico masih terdiam, ia membiarkan tangan Seto menggantung, tanpa ia menjabat balik tangan Seto itu.


Rico kemudian sadar, "dan..pak Seto, ini istri saya," Lanjut Rico mencoba bersikap profesional dengan memperkenalkan balik lalu ia menjabat tangan Seto.


Rico tersenyum, tangannya hendak menyalami Arini, menyalami tangan mantan istrinya yang sangat di rindukannya itu.


Seto masih memperhatikan, Arini menoleh ke arah suaminya, kemudian Seto mengangguk sebagai jawaban.


Arini menarik nafas dalam,  mengumpulkan segenap tekad ia begitu muak melihat wajah Rico yang masih saja tersenyum dengannya. 


Arini berdecih, mengejek dalam hati. Pria ini lucu sekali, bisa-bisanya dia tersenyum begitu kepadanya, sedangkan di sampingnya ada sang istri yang sedari tadi cemberut. melihat wajah Clara sungguh Arini semakin muak, wajah pelakor ini begitu menganggu pemandangannya.


Clara menatap Arini dengan tatapan tajam, seolah Arini adalah musuh yang patut di benci.


Tentunya pemandangan itu tak luput dari mata elang Seto. Ia masih mengamati segalanya dengan metode tenang, kalem, kuasai.


Tangan Clara tampak mengepal erat, rahangnya mengeras dan bibirnya juga tampak membentuk satu garis lurus, menahan emosi yang di tahannya sekuat tenaga agar tidak meluap.


Dua orang yang semakin lama di lihat semakin tampak memuakkan.


"Sayang.." Seto merangkul pinggang Arini dengan lembut kemudian ia membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu.


"Kau di sini bosnya sekarang, jadi boleh saja kau tidak menjabat tangannya," bisik Seto di telinga istrinya.


Arini tersenyum pongah, alih-alih menjabat tangan yang dari tadi seolah, tidak lelah terulur menunggu jabatan tangan darinya, malah melipat tangannya di depan dada.


Arini hanya menatap tangan Rico tanpa ekspresi sama sekali.

__ADS_1


Dia tidak Sudi menjabat tangan mantan suaminya tersebut, persetan dan bodo amat lah toh suaminya yang menjadi investor di perusahaan ini dan telah memberikan opsi boleh melakukan apapun sesuai keinginannya.


"Aku nggak mau jabat tangan itu Mas," kata Arini datar dengan sorot mata yang tajam.


Hal itu seketika membuat senyuman terukir di bibir indah Seto, ternyata istrinya itu sangatlah konsisten.


Arini semakin menatap lurus ke arah Rico, mata bertemu mata menatapnya dengan rasa bencinya yang begitu membara, bahkan Rico dapat merasakan atmosfer dari mantan istrinya benar-benar telah membencinya.


"Memangnya kenapa sayang?" tanya Seto dengan lembut kepada istrinya itu, dirinya juga seperti Dio sedang melakoni acting drama pertemuan mantan.


"Aku takut Anj*ng di sebelahnya marah mas, dan aku jijik sama tuan pemelihara anj*ng!" ucap Arini dengan sarkastik.


Seto menyerngit saat istrinya itu tak bergeming. dan tak menjawab pertanyaannya itu.


"sayang..hei, kok kamu ngelamun sih?" kata Seto sambil memeluk pelan pinggang Arini, ia berkata demikian dengan berbisik.


"Iya, iya ada apa mas?" kata Arini sambil mengerjapkan kedua matanya ketika kesadarannya sudah kembali pulih.


Ternyata tadi Arini sedang membayangkan memaki Rico dan Clara.


Tentu saja Arini tidak akan melakukan hal itu kepada Rico, itu akan mempermalukan suaminya karena memiliki istri yang sikapnya tidak berkelas. Ia akan memakai cara lain yang lebih berkelas dan elegan.


Arini memberikan senyuman kepada Rico, senyuman yang seolah-olah Arini baru pertama kali melihat dan berkenalan dengan Rico.


Kemudian Arini menjabat tangan Rico yang sedari tadi menggantung, dengan berkata " saya arini kemala, istri dari pak Seto Permana, senang bertemu dengan anda pak Rico."


Mungkin kalian menganggap Arini gila, tapi inilah jurus ninjanya, ia akan membuat Rico yang sekarang merasa amat menyesal, karena dulu ia telah menyia-nyiakan dirinya dan menelantarkan Alana.


Setelah itu dia juga menyalami Clara, namun entah sedari tadi wanita itu masih saja betah memasang wajah muramnya,  dengan tatapan mata yang melotot seolah ingin lepas dari tempatnya.


Clara seolah waspada dan melihat Arini sebagai ancaman , yang akan merebut Rico darinya padahal itu kebalikannya Clara lah yang merebut Rico dulu darinya.

__ADS_1


Bersambung…


banyakin like komen rate dan vote ya


__ADS_2