
Langkah kaki pun terdengar memasuki kamar, buru-buru Clara memakai handuk dengan model kimono itu, jantungnya berdetak kencang, dan dengan rasa ragu Clara mengigit bibir bawahnya.
Clara pun meragu, "apakah aku harus melakukan ini?" gumamnya dalam hati dengan melihat ulang tubuhnya.
Kemudian Clara berpikir sejenak, setelah ini pasti kan suaminya akan masuk kamar untuk mandi, dan setelah itu akan masuk ke dalam ruang rahasianya.
Dan benar saja, Rico masuk ke dalam kamar, saat ia menutup pintu, ia sedikit tertegun melihat Clara yang duduk di tepi ranjang, Rico pun heran, penampilan Clara sudah fresh lagi bahkan tidak terlihat kalau wanita itu habis menangis.
Namun Rico mengabaikan itu, ia segera masuk ke kamar mandi. sedangkan Clara jantungnya berdetak kencang, haruskah ia melakukan semua ini? wanita itu benar-benar ragu.
Beberapa saat kemudian, terlihat Rico yang sudah segar setelah keluar dari kamar mandi, Rico hanya melilitkan handuk di pinggangnya, bau shampoo Cherry yang di gunakan Rico membuat Indra penciuman Clara terusik, membangkitkan gairahnya.
Melihat Rico yang berjalan ke arah lemari untuk mengambil bajunya, Clara pun berjalan mendekati, dengan langkah ragu wanita itu tetap melanjutkan niatnya.
Kemudian Clara menarik handuk kimono yang ia pakai, hingga terjatuh ke lantai, dengan tubuh polosnya sekarang, Clara memeluk tubuh Rico dari belakang, menempelkan dua gundukan kenyal dengan sedikit di tekannya.
Rico sangat kaget, dengan apa yang terjadi saat ini, namun tubuhnya hanya kaku tanpa melakukan pergerakan apapun.
Clara mengusap dada bidang milik Rico dari belakang, sudah lama rasanya Clara tak merasakan miliknya di jamah oleh suaminya itu hingga membuatnya kini menggila.
Clara mengecup punggung Rico, kemudian tangannya meraba ke bawah hanya mengusap perutnya saja sudah membuat Clara bangkit gairahnya, ia membayangkan Rico menindihnya di ranjang dengan hentakan kejantanannya yang selalu membuatnya berteriak.
Tangan Clara hendak menyentuh handuk putih yang melilit pinggang suaminya, jika handuk itu terlepas sudah pasti yang di bawah sana akan terlihat jelas.
"Mas, aku pengen banget.." ucap Clara dengan menyandarkan keningnya di punggung Rico, namun sama seperti tadi Rico tidak ada respon, ia masih bungkam dan bisu.
Tangan Clara semakin ke bawah, hingga ia melewati pusar Rico, lelaki itu terlihat tegang, detak jantung Rico mulai menegang dari belakang, dengan nafas yang terlihat memburu cepat.
__ADS_1
Tubuh Clara menempel dengan erat, hingga kedua bola kenyalnya tertekan di punggung telanjang Rico.
Clara menciumi punggung Rico, hatinya agak melonjak kegirangan saat melihat tubuh Rico merespon setiap sentuhannya. lalu selama ini mengapa Rico mengabaikannya? padahal suaminya ini masih begitu normal menerima setiap sentuhan darinya.
Jari nakal Clara mulai menyusup ke dalam handuk putih yang melilit di pinggang Rico, Clara masih menciumi punggungnya dengan sedikit menyesap berusaha memberikan tanda merah di sana.
Clara benar-benar gila, sudah lama dirinya tak merasakan hubungan biologis dengan Rico, biasanya lelaki itu yang selalu meminta jatah, tapi sekarang dirinya yang seolah mengemis meminta di jamah, jangan sampai Clara kalap dan memaksa Rico melakukannya.
Namun tidak sesuai harapan, Rico memegang tangan Clara yang hendak menyusup ke bawah itu dan menyingkirkannya. buru-buru ia mengambil kaos dalam lemari dan memakainya.
"Aku capek Cla, aku nggak bisa turuti mau kamu untuk sekarang, maaf." ucap Rico lalu tangannya terulur mengambil celana dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi, mungkin lelaki itu ingin memakainya di sana.
Bak di sambar petir, tubuh Clara seketika kaku, penolakan dari Rico benar-benar menghancurkan hatinya. Melebihi dari terluka, ia begitu malu, dirinya sudah merendahkan diri seperti j*l*ng hanya ingin meminta nafkah batin, namun Rico malah menolaknya.
"B*j*Ngan!" teriak Clara dalam hati.
Sedangkan semua lelaki berlutut ingin merasai tubuhnya, mendambakan kehangatannya, sedangkan Rico malah seenaknya jidatnya menolak, lelaki yang tidak tahu di untung, itulah yang ada di dalam hati Clara sekarang.
Clara mengusap wajahnya dengan kasar, bahkan sekarang tubuhnya masih polos tanpa sehelai benangpun, namun pandangan Rico tidak terlihat lapar sama sekali padanya. Clara benar-benar frustasi.
Dengan gerakan kasar, Clara mengambil handuk kimono yang ia lepaskan tadi untuk ia pakai, setelah itu ia duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan nafasnya menguap, dengan emosi yang memburu.
"Kamu boleh minta apa saja, tapi selain hubungan di ranjang." ucap Rico yang tidak memikirkan sama sekali perasaan Clara.
"Kamu gila mas..aku ini istrimu, aku butuh semuanya itu darimu." teriak Clara.
Rico mengusap rambutnya ke belakang. tak menjawab pertanyaan Clara lalu dia memutuskan untuk keluar dari kamar, meninggal Clara dalam suasana hati yang tidak bisa di lukiskan kekecewaannya.
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu.
"Demikian presentasi dari saya, mungkin ada tanggapan lain?" seorang manager dengan gugup menyudahi presentasinya, dengan was-was melirik ke arah Seto, yang tampak acuh tak acuh padanya. Kemudian manager itu melirik Bimo untuk meminta saran.
"Ehem..Bos Se, presentasinya sudah selesai."
"Lakukan saja, yang menurutmu bagus," Seto menjawab asal matanya masih tidak teralihkan menatap ponselnya, melihat demikian Bimo segera paham, kalau bosnya tidak mau di ganggu, untuk itu ia mengambil alih untuk memimpin rapat pagi ini.
Seto menatap Arini dari layar ponselnya, wanita itu sedang menyuapkan makanan ke mulut putrinya. menggendongnya dengan penuh kasih sayang, membelai rambut gadis mungil itu, dengan sesekali mencubit pipi bulatnya yang mengemaskan. melihat perlakuan Arini pada anaknya, Seto tersenyum sungguh Arini sangat keibuan.
Beberapa hari yang lalu, Seto menyuruh Seseorang untuk memasang CCTV, ke seluruh sudut rumahnya dan di sambungkan ke ponselnya kecuali kamar utama, tujuannya agar Seto dapat memantau langsung kegiatan Arini dan Alana tentunya.
Seto ingat, Alana suka dengan benda empuk, gadis itu juga suka boneka Barbie harusnya ia membelikannya?. walaupun Alana hanya bisa memegangnya kemudian memukul-mukulnya karena Alana belum mengerti cara memainkannya.
"Apa jadwalku selanjutnya?"
"Setelah rapat, Bos Se harus menghadiri pertemuan dengan klien di kafe, untuk membahas kerjasama dengan produk yang akan ditawarkan, sehabis itu bos Se, harus (BLA.. BLA..BLA., artinya jadwal Seto sangat padat).
"Skip aja deh, jadwal yang nggak perlu."
"lah Bos Se, udah beberapa kali kita membatalkan pertemuan ini, mana bisa di cancel." ucap Bimo memberanikan diri untuk menyanggah.
Seto menghela nafas, jika harus mengikuti semua jadwal, sudah bisa di pastikan malam ini dirinya akan pulang larut, padahal ia sudah sangat merindukan Arini dan Putri kecilnya.
Akhirnya Seto melilih menuntaskan semua jadwal, dia akan terlihat tidak profesional jika harus membatalkan berkali-kali jadwal yang sudah di rencanakan. Namun tiba-tiba..
Bersambung…
__ADS_1
jangan lupa vote rekomendasi
like komen rate ya agar aku makin semangat update 🥳